Mencoba Mobil Ford

Ini adalah hari kedua dalam acara “Innovation for the Millions” yang diselenggarakan oleh Ford di Melbourne. Hari ini kami diajak ke You Yangs Proving Ground, yaitu tempat pengujian kendaraan buatan Ford. Hari ini kami menguji beberapa mobil di sirkuit yang ada di sana dan juga menguji akselerasi dari 0-100 km/jam. Sayangnya kami tidak diperkenankan untuk memotret. Handphone dan kamera disimpan di sana. Ini dapat dimengerti karena banyak hal yang sifatnya rahasia di sana.

Kami meninggalkan hotel cukup pagi, pukul 7:45. You Yangs berada di luar kota, sekitar 50 km dari Melbourne. Yang menarik adalah adanya kota (?) Little River di dekat You Yangs itu. Saya jadi ingat sebuah band yang namanya Little River Band. Wogh.

Acara dimulai dengan penjelasan mengenai fasilitas yang ada di sana dan apa yang mereka lakukan di sana, yaitu antara lain adalah pengujian kendaraan. Ada sekitar 2300 hektar tanah yang berisi sirkuit dan jalur-jalur yang didesain khusus untuk mengemulasikan kondisi jalan yang bervariasi di seluruh dunia. Pokoknya keren lah. Nanti akan saya ceritakan satu persatu setelah saya kembali ke Indonesia ya. Di sini sudah lewat tengah malam dan saya harus bangun pagi untuk kembali ke Indonesia.

Yang menarik bagi saya adalah saya mendapat kesempatan untuk menguji beberapa mobil di sirkuit. Ini pertama kalinya saya mengendarai mobil di sirkuit. Asyik bisa mencoba dengan kecepatan tinggi. hi hi hi. Rasanya seperti di acara TV Top Gears saja. Bahkan saya juga sempat mencoba menguji mobil dari 0 ke 100 km/jam. Percobaan pertama saya mendapatkan waktu 9,9 detik. Orang tercepat pagi ini adalah Aris, wartawan Kompas.com; 9,09 detik. Dia mendapatkan hadiah jaket! Ini pertama kalinya saya mencoba pengujian ini. Lebih susahnya lagi pengujian ini dilakukan dengan menggunakan mobil dengan transimis otomatis. Bagi saya, ini lebih susah lagi. Not bad.

Eh, kok malah jadi nulis lagi. Nanti saya sambung lagi.

Link terkait:


(mencoba memahami) Teknologi di Belakang Mobil Ford

Hari ini dan besok, saya diajak melihat teknologi di belakang pengembangan mobil Ford. Sebagai orang yang tertarik dengan teknologi, tentu saja saya tertarik. Terlebih lagi ada bagian dari teknologi yang ditampilkan terkait dengan teknologi informasi; virtual reality.Tempatnya juga menarik, Melbourne, Australia.

Pagi ini kami dijemput dari hotel dan dibawa ke Ford Asia Pacific Product Development Centre. Sesampainya di sana, kami harus menyerahkan handphone dan kamera harus didaftar. Maklum, di tempat itu banyak penelitian yang bersifat rahasia. Foto hanya boleh diambil di tempat-tempat tertentu saja. Wuih.

Acara pertama adalah presentasi tentang bagaimana mereka mendesain mobil. Untuk kasus ini mereka menampilkan konsep desain mobil Ford Everest, yaitu sebuah SUV. Presenter pertama, Steve Crosby (chief engineer, body) bercerita bahwa biasanya mereka tidak mengundang mereka. Kami adalah bagian dari group pertama yang diperkenalkan dengan proses ini. Proses pengembangan dilakukan secara global (Amerika, Eropa, dan Asia Pacific). Todd Wiling (design director) menceritakan fasilitas yang digunakan di Ford tadi.

Presenter kemudian tambah menarik. Max Tran, seorang desainer muda (umurnya kalau tidak salah 27 tahun! saya tanya langsung ke dia), menceritakan bagaimana mereka mendesain mobil Everest tersebut. Proses ini dimulai dari market & consumer requirement; dalam hal ini diinginkan mobil yang gagah perkasa (tough) tapi juga sophisticated. Setelah itu dibuat sketch-nya dan dilakukan proses review. Ada banyak (ratusan) sketch. Setelah dipilih, maka dibuatlah model dengan menggunakan clay (tanah liat?). Awalnya sih dibuat dengan menggunakan styrofoam dan ditambahkan tanah liat. Printer 3D juga digunakan untuk membuat hal yang detail, seperti misalnya spion. Pokoknya keren-lah melihat prosesnya.

Kemudian presentasi dilanjutkan oleh Minh Huynh (color & materials, designer). Diceritakan bagaimana proses mencari warna dan bahan yang pas untuk keinginan pengguna. Ini juga keren. (Foto-fotonya menyusul.) Hal yang menarik dari mereka adalah para desainer ini masih muda!

IMG_5759 notes 1000

Acara siangnya dilanjutkan dengan demonstrasi dari berbagai teknologi yang telah dikembangkan oleh Ford; seatbelt untuk penumpang di belakang yang bisa mengembang (inflatable, seperti airbag tapi beda), teknologi untuk membantu pengemudi dalam memarkirkan kendaraan, dan pemanfaatan virtual reality (VR) untuk mereview (dan mendesain) mobil dalam sebuah lingkungan yang disebut Ford Immersive Virtual Environment (FiVE). Yang ini ceritanya menyusul ya. Ini sudah hampir tengah malam dan besok harus bangun pagi sekali untuk melihat yang lainnya.

Terima kasih kepada Ford yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk memahami proses di belakang pengembangan mobil.


Pertama Kali Ke Australia

Mendarat. Pagi ini saya mendarat di Melbourne, Australia. Ini adalah pertama kalinya saya berada di Australia. Horeee.

Acara saya di Australia adalah melihat penelitian yang dilakukan oleh Ford. Betul, Ford yang pabrikan mobil itu. Mereka akan menunjukkan hasil riset terbaru mereka; dengan menggunakan virtual reality (Oculus Rift). Wah nampaknya seru. Semoga. Sementara ini saya menyesuaikan dulu dengan temperatur Melbourne yang dingin (10 derajat celcius).

Tadi belum sempat foto-foto di bandara Melbourne. Begitu sampai langsung digebah sama yang jemput untuk cepat-cepat ke mobil karena dia harus menjemput yang lain lagi. Jadi begitulah. Belum sempat foto-foto. Ihik. Bandaranya sendiri tidak terlalu modern dibandingkan bandara-bandara lain (seperti Singapura, misalnya). Tapi cukup baguslah.

Sekarang ngeblog dulu di hotel :)

IMG_5687 working desk 1000


17 Agustusan

Kayaknya 17 Agustusan kali ini tidak serame (meriah? gebyar?) sebelum-sebelumnya ya. Maksudnya, tidak ada parade atau lomba-lomba tarik tambang, panjat pinang, dan seterusnya. Mungkin ini hanya di daerah saya saja ya. Eh, memang tidak perlu heboh juga sih. Yang penting kita ingat dan kita memberi kontribusi kepada negara kita.

Sedang mikir, apa ya kontribusi yang sudah saya berikan kepada bangsa dan negara ini?


Tidak Mengejar Prestasi, Tapi Tetap Serius

Dalam berbagai hal, saya mengambil pendekatan untuk tidak mengejar prestasi. Wah, maksudnya bagaimana? Nanti saya malah disalahkan karena mengajari untuk tidak mengejar prestasi.

Saya ambil contoh saja ya. Ketika masih sekolah dahulu, saya tidak berusaha untuk menjadi juara kelas. Tujuan saya belajar bukan untuk menjadi juara kelas, tetapi untuk menguasai materi ilmu di kelas tersebut. Caranya adalah dengan melihat materi kelas tersebut dari kacamata lain sehingga menjadi menarik untuk dipelajari. To make it interesting to solve. Something like that. Maka saya tetap serius dalam belajar. Hasil juara itu hanya efek sampingan.

Ada orang yang berusaha agar mendapatkan prestasi, dalam artian mencari gelar juara. Mereka terlihat begitu ngotot, untuk mencari julukan atau gelarnya. Maka banyak (teman-temannya) yang merasa risi dan tidak respek kepada mereka. Mungkin ini juga karena teman-temannya terlihat menjadi seperti tidak mau berusaha sehingga dinilai jelek. he he he.

Itu contoh untuk di kelas ketika masih bersekolah. Dalam kegiatan sehari-hari – seperti dalam berolah raga, bermain musik, membaca, menulis, dan seterusnya – saya melakukan hal yang sama. Nulis blog ini, misalnya. Banyak orang yang membuat blog karena ingin terkenal (atau karena akan digunakan untuk ndompleng). Sementara saya ngeblog karena … ya, saya suka ngeblog. hi hi hi. Maka saya tetap menerapkan keseriusan saya. Hasilnya, blog ini menjadi banyak pengunjung dan terkenal. Lagi-lagi, itu efek sampingan, bukan tujuan.

Nah …


Lagu Kritik Sosial

Perhatikan lagu-lagu Indonesia saat ini. Perhatikan liriknya. Apa yang kita dapati? Kebanyakan liriknya bernuansa cinta. Bahkan lebih spesifik lagi, liriknya bertemaka “aku cinta aku”. hi hi hi. Ya, Anda tidak salah baca. Aku cinta aku. Narsis. hi hi hi.

Nampaknya lirik lagu yang bertemakan kritik sosial sudah hampir punah. Atau jangan-jangan memang sudah punah. Seniman sudah tergerus oleh jaman. Selling out. Menggadaikan diri kepada industri. Maka senimanpun tersingkirkan.

Barusan saya mendengarkan lagu ini, “Jesus He Knows Me” yang dibawakan oleh group Genesis. Lagu ini menceritakan komersialisasi agama. Ah, ternyata tidak hanya di Indonesia, di luar negeri pun sama saja. Agama sudah dikomersialisasikan. Ayat-ayat suci dijadikan pembenaran.

Kalau lagu seperti ini dibuat di Indonesia, mungkin artisnya bakalan digeruduk massa ya? Soalnya ini sangat menyindir “ustadz”. hi hi hi. Bagaimana menurut Anda?

Sebetulnya bukan tidak ada lagu-lagu yang berisi kritik sosial, tetapi langka. Apa lagu kesukaan Anda?


Lagu Super Lawas

Seperti yang sudah-sudah, tadi pagi kami buka lapak Insan Music Store di Bandung Car Free Day (CFD). Saya berdiri di pinggir jalan dengan mengalungi gitar. Pura-puranya ngamen gitu.

Untuk ketiga kalinya ada seorang tua yang datang ke tempat kami. Dia mengira saya menerima permintaan untuk menyanyikan lagu. Maka mulailah dia menyanyikan lagu super lawas. Kalau sebelumnya, yang diminta adalah lagu “Masiro ki Fujino”(?) maka kali ini adalah lagu “Saputangan Bandung Selatan”. Saya pernah mendengar kedua lagu tersebut ketika masih kecil. (SD?) Maka dengan terbata-bata saya mencoba menyanyikan lagu itu dengan mereka.

Ternyata ada pasar lagu super lawas untuk orang-orang seperti mereka. Mereka ingin mengenang masa lalu, ketika mereka masih muda atau masa perjuangan dahulu. Sayangnya lagu-lagu seperti itu tidak ada di toko dan tidak ada lagi orang yang memainkannya. Diputar di radio? Rasanya sangat jarang atau bahkan tidak pernah. Maka begitu ada yang menyanyikan lagu tersebut, mereka senang sekali. Ada rasa senang juga karena membuat mereka senang. They have contributed a lot to this country. The very least we can do is to make them happy. At least for a moment.

Jenis lagu yang dekat dengan lagu-lagu yang mereka sukai mungkin adalah keroncong. Hmmm


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.728 pengikut lainnya.