Perlukah Sekolah?

Topik yang sedang hangat saat ini adalah “apakah sekolah itu perlu?”. Ini dipicu dari beberapa contoh orang yang gagal sekolah (baca: dropout) tetapi sukses. Sebetulnya topik ini bukan topik baru. Sudah ada banyak bahasan. Berikut ini adalah opini saya.

Jawaban saya terhadap pertanyaan “apakah sekolah itu perlu” adalah YA. Bersekolah itu perlu. Dengan catatan bahwa yang bersekolah memang serius ingin bersekolah, bukan untuk sekedar mendapatkan selembar kertas ijazah. Banyak (kebanyakan?) mahasiswa yang saya temui pergi ke sekolah hanya karena (1) ingin mendapatkan selembar kertas itu atau (2) dari pada nganggur ya kuliah saja. Untuk yang seperti ini, menurut saya mau sekolah atau tidak sekolah menjadi tidak relevan. Kondisi ini, yang ngasal sekolah, itu nyata karena sebagai dosen sering saya temui fakta ini.

Mengapa bersekolah sampai tinggi itu penting? Mari kita ambil contoh. Kalau saya minta Anda untuk membangun sebuah garasi atau ruang tamu, saya yakin sebagian besar dari kita bisa. Tanpa sekolahanpun rasanya bisa. (Meskipun secara keilmuan tetap salah, tetapi secara kasat mata dapat ditunjukkan bahwa garasi atau ruang tamu itu bisa jadi.) Nah, sekarang saya minta Anda untuk membuat gedung 73 tingkat. he he he. Untuk yang ini yang membuat harus sekolahan.

Apakah lantas orang yang tidak sekolahan tidak bisa sukses? Oh bisa saja. Bahkan ada banyak contoh orang yang tidak sekolahan tetapi sukses. Hanya saja … yang sering dilupakan oleh orang … mereka harus bekerja 3, 4, 5 atau belasan kali lebih keras daripada kebanyakan orang. Saya ulangi lagi, MEREKA HARUS BEKERJA LEBIH KERAS untuk mencapai kesuksesan itu. Kebanyakan orang hanya melihat dari sisi hasilnya saja tanpa mau melihat betapa besarnya pengorbanan mereka untuk mencapai kesuksesan tersebut.

Kalau saya tanya kepada Anda, berapa jam sehari Anda tidur? Maukah Anda tidur kurang dari 5 jam setiap hari selama 5 tahun? Saya yakin sebagian besar akan mengatakan tidak. Berapa jam sehari Anda habiskan waktu untuk mendalami keahlian tertentu? Sudah berapa lama Anda menekuni hal itu? Orang yang tidak sekolahan, tetapi sudah menghabiskan setidaknya 10000 jam (atau 10 tahun) menekuni bidang tersebut, saya yakin dia lebih kompeten dibandingkan anak yang baru lulus kuliah. Maka jangan heran kalau ada orang yang dropout tetapi sukses dalam bidangnya. Ini wajar saja.

Tidak perlu lagi kita berdebat perlu sekolah atau tidak. Yang lebih penting lagi adalah mari kita berkarya dan memberi manfaat bagi umat manusia. 3.0


Menghubungkan Titik Titik

Dalam perjalanan pulang ke Bandung tadi, saya tidak dapat tidur di kereta api. Mungkin karena kebanyakan minum kopi? Entahlah. Saya putuskan untuk membaca saja. Akhirnya saya membaca buku “Creativity, Inc.” karangan Ed Catmul sambil mendengarkan dengan keras musik dari grup Boston dengan earphone. hi hi hi.

Buku itu menceritakan tentang pengalaman Ed Catmul, salah seorang pendiri perusahaan Pixar. Tahu kan Pixar itu perusahaan apa? Mereka yang membuat film Toy Story, dan beberapa film animasi yang keren lainnya. Oh ya, salah satu founder Pixar juga adalah Steve Jobs.

Ed Catmul bercerita megenai jalan hidupnya. Dia kuliah di University of Utah di bawah bimbingan Ivan Sutherland. Saya termanggu-manggu. Mengapa nama-nama itu seperti familer. Ya ampuuun. Saya ingat! Ivan Sutherland adalah pengarang makalah yang berjudul “Micropipeline“, yang menginspirasi disertasi S3 saya! Saya baru ingat juga bahwa saya sempat email-emailan dengan beberapa orang peneliti (dan dosen) dari sana. Ini adalah bidang sistem (rangkaian) asinkron (asynchronous circuits).

Salah satu diversion – pengalih fokus –  saya adalah computer music. Saya sempat mengikuti konferensi tentang computer music yang ternyata beririsan dengan seminar yang dihadiri oleh orang-orang di dunia animasi seperti Ed Catmul. Wogh. Ternyata demikian dekatnya ya. Sekarang merasa lebih memahami Pixar. ha ha ha.

Connecting the dots … Menghubungkan titik-titik. Meneruskan baca …


Memilih Lagu Untuk Penampilan

Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh seorang performer dalam manggung adalah memilih lagu yang akan dibawakan. Ada batasan waktu, (jenis) penonton, tema dari acara, ketersediaan alat, dan kesiapan sang performer sendiri. Masalah selera juga menjadi bahan pertimbangan.

Dalam manggung beberapa hari yang lalu, saya dan anak saya harus memilih lagu untuk tampil berdua. Masalahnya adalah apakah lagu yang kami pilih itu berdasarkan yang disukai oleh penonton – biasanya lagu yang terkenal – ataukah lagu yang kami sukai (yang boleh jadi agak sedikit eksperimental)? Ada perbedaan dari selera. Akhirnya kami pilih jalan tengah; kami pilih satu lagu yang mungkin dikenal banyak orang dan lagu lainnya adalah lagu yang kami sukai. Pilihan ini  berisiko penonton tidak terlalu suka. Biar saja. Mumpung kesempatannya cocok untuk eksperimen. Ini yang kami pilih.

IMG_6380 playlist

  1. Extreme – More than words
  2. Bullet for My Valentine – A place where you belong
  3. Goo Goo Dolls – Name
  4. Hall & Oates – Do it for love
  5. Boston – More than a feeling

Lagu nomor 4 dan 5 itu hanya untuk cadangan saja. Lagu pertama banyak yang kenal sehingga mudah dinikmati. Lagu-lagu selanjutnya sebetulnya juga lagu yang dikenal oleh para follower dari band-band tersebut. hi hi hi. Lagu no 2 merupakan lagu beraliran metal, tetapi kami coba bawakan dengan akustikan. Lagu no 3 menggunakan tuning gitar yang aneh (dua string di bawah adalah E) tetapi karena kami tidak mungkin berganti-ganti gitar untuk setiap lagu akhirnya kami menggunakan tuning yang biasa. Ini membuat chordnya menjadi sulit dan suaranya kurang persis dengan aslinya.

Begitulah kesulitan yang dihadapi oleh musisi/artis/performer ketika akan manggung, milih lagu. Dan kesulitan ini akan terjadi lagi untuk manggung berikutnya. Oh ya, saya juga harus milih satu lagu untuk penampilan band saya yang lain di ruang terbuka. Yang ini harus lagu yang gembira dan sedikit funky. Hmmm… apa ya? Ada banyak lagu yang sebetulnya saya ingin bawakan tapi sudah hampir pasti bandnya tidak setuju. hi hi hi. Mikir dulu ah.

Jreng!


Dosa Tombol “Share”

wahai tombol “share”
berapa banyak berita bohong dan fitnah
yang berhasil kau sebarkan?

bagaikan setan,
kau ajak manusia untuk berbuat dosa
dengan hanya sekedar menekan dirimu

kubacakan doa-doa
agar kau menjauh dari umat manusia


Ini Handphone Siapa?

[iseng mode = ON]

Ini handphone siapa sih?

IMG_6381


Kunjungan SPRING dan Start-up Singapura ke Indonesia

Tulisan ini harusnya saya postingkan minggu lalu tapi belum sempaaat. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak ada, kan?

Hari Kamis lalu ada kunjungan rombongan dari SPRING Singapore dan beberapa perusahaan start-up Singapura ke Bandung. Sebetulnya mereka ke Jakarta dahulu sebelum ke Bandung. Cerita ini adalah bagian yang di Bandungnya, karena saya hanya mengikuti sisi ini.

SPRING adalah organisasi pemerintah Singapura yang membantu para start-up. Salah satu caranya adalah membawa para start-up ini melebarkan sayap ke pasar lain di luar Singapura. Bagus sekali yang mereka lakukan. Ada dua misi utama dari rombongan ini; (1) mencari talenta (terutama orang teknis IT, programmer, analis, dan data analytics) untuk membantu mengembangkan produk-produk mereka, dan (2) mencoba masuk ke pasar Indonesia dengan produk dan layanan mereka.

Pagi hari, rombongan saya ajak ke Bandung Techno Park (BTP) yang berlokasi di Telkom University di Dayeuh Kolot. Siangnya mereka saya ajak ke ITB, ke MBA SBM ITB, untuk bertemu dengan para (calon) entrepreneur. Sayangnya tidak banyak mahasiswa STEI yang hadir di sana meskipun sudah saya coba undang melalui beberapa sumber. Sorenya, mereka saya ajak ke Bandung Digital Valley (BDV) yang berada di lingkungan R&D PT Telkom (dahulu RISTI) di Geger Kalong.

Saya sendang mencoba mencari daftar start-up yang mereka bawa kemarin. Siapa tahu ada para pembaca yang tertarik untuk bekerjasama dengan mereka.


Pemanfaatan Virtual Reality Dalam Desain Mobil

Melanjutkan cerita tentang perjalanan saya ke tempat desain mobil Ford di Melbourne yang tertinggal, kali ini saya akan menceritakan tentang pemanfaatan virtual reality dalam desain mobil. Sesungguhnya mungkin ini alasan utama mengundang saya ke sana, karena bidang saya yang terkait dengan teknologi informasi.

Setelah melihat SYNC2, kami pindah ke ruangan demo pemanfaatan VR untuk mendesain mobil. Nama labnya adalah Ford’s Immersive Vehichle Environment (FIVE). Di situ seorang desainer (atau juga pembeli mobil) dapat menggunakan sebuah peralatan yang dipasang di kepala – head mounted display, yang dugaan saya adalah produk Occulus Rift. Setelah dipasang, maka dia akan seperti berada di sebuah ruangan dengan sebuah mobil.

Dalam contoh yang kami coba, kami seakan-akan menginspeksi sebuah mobil yang baru didesain. Kami dapat melihat dashboardnya, melihat ke sekeliling, bahkan kami dapat “turun dari mobil” dan menginspeksi bawah mobilnya. Kami juga mencoba membuka kap mesin dan melihat mesin dari mobil tersebut. Desain warna mobil juga dapat diganti. Jadi kita bisa melihat kalau warna mobilnya biru metalik dengan latar belakang sunset cocok tidak. (Lingkungan sekitar juga dapat diubah-ubah; mau perkotaan, pantai, dan seterusnya.) Keren kan. Sebelum mobil betul-betul dibuat, mereka dapat melakukan perubahan terhadap desain sehingga dapat menghemat biaya.

IMGP0148 FiVE 1000

Foto di atas menunjukkan situasi di labnya. Kami dapat melihat apa yang dilihat oleh sang pengguna melalui layar lebar yang terpasang di dinding. (Aris Harvenda sedang mencoba, sementara Indra dari Dapurpacu.com sedang mengamati.)

Dari sisi komputasi, karena semuanya dilakukan secara 3D dan real-time, pasti tinggi sekali. Saya tidak tahu berapa besar kemampuan komputasi yang mereka miliki. Setahu saya, lab ini juga terhubung dengan lab-lab lainnya. Entah apakah CPU dari berbagai mesin di lab lain juga digunakan secara bersama-sama atau mereka hanya menggunakan CPU yang ada di tempat itu saja.

Menggunakan VR itu butuh penyesuaian. Agak bingung awalnya. (Bahkan di video-video yang saya lihat di internet, penggunaan VR itu bisa bikin pusing penggunanya sampai jatuh.) Sayangnya saya hanya sempat mencoba sebentar karena harus bergantian dengan yang lainnya. Cukup puaslah melihat teknologi yang ada di Ford ini.


Perlakuan Tidak Adil Mizone di Bandung Car Free Day

Seperti biasa, hari Minggu kami bersiap-siap untuk buka lapak toko kami di Bandung Car Free Day. Tempat kami di depan bank Muamalat, dekat dengan SMAN1.

Namun pagi ini ternyata kami tidak boleh berada di tempat tersebut oleh seseorang dari Mizone. Saya tanya kenapa. Katanya akan ada acara senam di depan SMAN1 Bandung dan pak Walikota Bandung, Ridwan Kamil – atau dikenal juga dengan nama Kang Emil, akan datang mengikuti senam yang mereka adakan itu.

Karena tidak mau ribut dan menghargai kang Emil, saya mengalah dan memasang banner kami jauh dari jalan. Saya kemudian menanyakan kepada rekan-rekan apakah benar memang kang Emil mau datang ke acara itu? Hasil ngobrol-ngobrol dengan teman-teman di Bandung Smart City Forum, ternyata kang Emil tidak ada acara ke sana. Nah lho. Jadi panitia ini mencatut nama Kang Emil? (Oh ya, pencatutan nama kang Emil ini sudah saya laporkan ke lapor.ukp.go.id)

Yang saya tidak terima adalah mengapa Mizone (sebagai perusahaan besar) mengusir para pedagang kecil (yang protes ke saya; ada penjual juice, minuman, dll.) dari tempat itu. Sementara mereka sendiri berjualan produk mereka??? Apakah ini adil? Mereka juga mengambil seluruh bagian jalan Dago yang menuju ke atas (di depan SMAN1) untuk acara mereka. Di mana letak keberpihakan kepada usaha kecil? Saya sendiri yang menjalankan usaha kreatif ikut terusir.

Ini gambar seorang petugas (entah dari mana) yang melarang pedagang masuk ke daerah di depan SMAN 1. Tadinya mau saya tanya dia dari mana dan mana surat tugasnya.

IMG_6319 body guard 1000

Saya bersabar saja dan tidak mau bikin ribut. Mosok saya harus bilang bahwa saya ini calon menteri – yang menolak. ha ha ha. Atau saya bilang bahwa saya adalah wakil ketua Bandung Smart City? Atau pakai atribut-atribut lain? Di sana, saya memakai topi saya sebagai orang kecil – agar saya dapat merasakan bagaimana sesungguhnya menjadi orang kecil. (Blusukan incognito?)

Akhirnya saya duduk di pinggir jalan dan melakukan marketing seperti biasa. Sementara itu pedagang lain tidak berani dan mereka menjauh atau malah gagal membuka lapak. Salah seorang bahkan mengeluhkan bahwa dia tidak dapat berjualan hari itu. Terusir. Dia berkata harusnya dia mendapat kompensasi. Saya dapat merasakan kegundahannya.

[biasanya di sebelah kami ada lapak bapak yang jualan mainan binatang dari plastik / karet seperti ini, tetapi tadi tidak ada. entah dia pindah ke mana.]

IMG_5985 lapak 1000

Seharusnya tidak apa-apa para pedagang kecil itu ikut berjualan di tempat biasanya. Toh ini namanya berbagi bersama. Tidak ada hak perusahaan besar lebih besar dari hak pedagang kecil. Itu tidak adil. Mengapa harus over acting seperti ini. (Jika ada rekan-rekan yang kenal dengan pimpinan Mizone, tolong beritahu ya. Tegur panitianya / korlap acaranya.)

Sebagai seseorang yang tadinya penggemar Mizone, saya sekarang berhenti beli Mizone ah.

Update: Tadi sore (22 Oktober 2014), organizer acara (dari Jakarta dan partnernya yang di Bandung) dan saya bertemu. Kami membahas mengenai kasus ini. Seharusnya memang ada sosialisasi terhadap para penjual yang berada di area tersebut 2 minggu dan 1 minggu sebelum acaranya. Kemudian ada kompensasi bagi pedagang yang ada di situ. Hal ini nampaknya kurang tereksekusi dengan sempurna. Hal lain, saya mengusulkan agar di kesempatan lain mereka tidak melakukan pemisahan diri dengan masyarakat (pedagang) lainnya. Toh para pedagang ini bukan kompetitor dari mereka dan juga tidak mengganggu. (Contoh: di depan hotel Regency juga ada acara senam bersama tanpa perlu mengalienasi pedagang lainnya.) Perlu dipikirkan lagi setingannya. Di tempat lain, yang luas, mungkin bisa dibuat pembatasan tetapi di Bandung CFD tidak bisa karena menghabiskan jalan, membuat choke point, serta membuat pemisahan. Harus dapat berbagi dengan para pedagangan lainnya. Ini adalah tempat bersama. Begitu.


Kekurangan SDM IT

Seperti biasa, selalu saja ada yang nanya ke saya apakah ada orang IT (yang bisa dipekerjakan di perusahaannya)? Biasanya yang bertanya ini sedang mengembangkan perusahaan baru – start up. Ternyata kebutuhan akan SDM IT masih tetap banyak. Repotnya, SDM tersebut tidak tersedia. Saya jadi bertanya-tanya, ke mana saja lulusan sekolahan IT (atau yang terkait) di Indonesia ya? Di Bandung saja ada banyak sekolah komputer.

Ada beberapa alasan mengapa sulit mencari SDM IT yang handal.

  1. Lulusan IT tersebut melanjutkan sekolahnya ke luar negeri (misal mengambil S2/S3 di luar negeri);
  2. Mereka sudah diijon oleh perusahaan besar (yang terlihat lebih memberikan jaminan finansial dan karir di bidang management);
  3. Akhirnya memilih bekerja di bidang non-IT (misal jadi pedagang, bukan warung, dll.);
  4. Lulusan IT itu ketika bersekolah hanya ingin menghabiskan waktu saja (daripada nganggur) ketimbang ingin menekuni bidang IT. Hasilnya ya mereka memang malas untuk bekerja;
  5. apa lagi ya?

Besok akan ada rombongan dari Singapura datang ke Bandung untuk mencari orang-orang IT. Dugaan saya mereka akan pulang dengan tangan hampa. Ugh.


Topik Hari-hari Ini

Singkat katanya, sibuk! Mulai dari hari Minggu, saya sudah sibuk dengan acara musik dan entrepreneurship. Hari Senin, saya di seminar berbicara tentang creative industry. Hari ini, Selasa, saya berbicara tentang cloud computing (security). Topik yang bervariasi.

Sampai rumah sudah mendekati tengah malam. (Sekarang pukul 23:15 dan tadi keluar dari rumah pukul 6:00an. 17 jam sudah di jalan.) Ngeblog sebentar. Besok urusannya adalah network security dan mentoring entrepreneurship. Busyet deh sibuknya. Maka dari itu ngeblog ini tidak boleh panjang-panjang supaya saya segera bisa tidur. Besok – mudah-mudahan kalau gak sibuk lagi wk wk wk – bisa ngeblog yang lebih panjang dan lebih bernas.

z z z


Pendiri Facebook Ada di Indonesia

Ini sebetulnya bukan berita yang super baru karena mungkin Anda sudah membacanya di beberapat tempat yang lain. Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, berada di Indonesia sebagai bagian dari kegiatan internet.org. Salah satu acaranya adalah menemui pak Joko Widodo (Jokowi).

Yang menarik bagi saya dari acara ini adalah potret-potretnya. Salah satu potret yang membuat saya senyum-senyum adalah potret Jokowi mengajak Mark Zuckerberg (MZ) ke Tanah Abang. hi hi hi. Mark dibawa blusukan. Gak tahu juga apa dia nawar celana (jeans?) yang ditunjukkan oleh Jokowi kepadanya. ha ha ha. MZ juga termasuk orang yang sederhana dalam berpakaian.

10661930_327779680762500_680710807921295018_o

Sebelum ke Jakarta, Mark Zuckerberg ke Yogyakarta dulu. Tentunya salah satu obyek wisata yang dia kunjungi adalah Borobudur. Yang menarik adalah di sana ada turis-turis yang tidak kenal siapa itu MZ dan minta tolong kepada MZ untuk memotret mereka. Jadilah si MZ ini fotographer abal-abal. ha ha ha. Bagusnya adalah dia mau saja. Ini dia potretnya.

zuckerberg as photographer

Seru juga ya. Harusnya MZ ke Bandung. Kalau saja dia ke Bandung, saya ajak jalan-jalan seputar Bandung dan Lembang. Akan saya ajak juga lihat Tangkuban Perahu. Terus kami bisa ngobrol soal Internet dan Facebook (yang mulai menurun menurut saya). Eh, tapi biar sajalah dia menikmati liburan dan tidak membicarakan soal kerjaan. Have fun.


Acara Insan Music Store

Eh, jangan lupa, siang ini (Minggu, 12 Oktober 2014) … mulai pukul 13:00 Insan Music Store akan hadir di Krang Kring Cafe (jl. Ciliwung, Bandung). Selain akan memberikan penjelasan mengenai toko musik digital kami, ada penampilan dari beberapa band yang sudah ada di toko musik kami.

Sampai jumpa di sana …


Inikah Cita-citamu? Menjadi PNS?

IMG_6173

[tanda ini saya potret tadi pagi di kampus ITB]

Belum pernah saya mendengar anak kecil yang bercita-cita menjadi PNS ketika dia masih kecil. Dalam perjalanan hidupnya, menjadi semakin tua, ada banyak yang kemudian bercita-cita menjadi PNS. Sesungguhnya, kebanyakan ini adalah cita-cita orang tuanya.

Apa yang dicari dari menjadi PNS? Pensiun. Ah, realitasnya dana pensiun tidak cukup untuk sekadar bisa hidup di hari tua. Sudah banyak cerita PNS yang hidupnya terlunta-lunta. Pensiun tidak seperti dulu lagi. Saya tidak menyalahkan untuk menjadi PNS. Yang saya salahkan adalah alasannya. Maka dari itu, apakah ini cita-citamu?


Acara Toko Musik Digital: Insan Music Store

Bagi Anda yang ingin mengetahui toko musik digital kami, Insan Music Store, silahkan hadir di acara kami yang akan diselenggarakan.

Minggu, 12 Oktober 2014

Tempat: Krang Kring Cafe (Jl. Ciliwing, Bandung)

Bagi band-band atau artis-artis yang ingin memasukkan lagu-lagunya ke toko musik digital kami, silahkan langsung hadir di sana dengan membawa lagu-lagunya. Ditunggu …

Flyer Insan Music


Siapkah Berkorban?

Kemarin adalah hari Idul Adha. Berkurban adalah topik utamanya. Namun yang menjadi sorotan kalau di kita adalah kurban domba dan sapi. Bagi sebagian orang, ini hal yang tidak terlalu sulit meskipun harganya sudah mahal. Bagi sebagian besar lagi, harga ini sudah tidak terjangkau.

Bagaimana dengan pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim (as)? Beliau diminta untuk mengorbankan sesuatu yang sangat berharga, anaknya. Sungguh sangat sukar untuk dibayangkan betapa sulitnya.

Bagaimana kalau kita diminta untuk mengorbankan sesuatu yang (paling) berharga bagi kita? Relakah? Coba pikirkan benda yang paling berharga yang Anda miliki – mungkin handphone, komputer, mobil, rumah, dan seterusnya. Relakah Anda mengorbankannya? Padahal ini hanya benda lho.

Nah, sekarang yang mungkin “mudah”. Maukah Anda berkorban ego? Tidak mau menang sendiri. Berempati kepada orang. Ini semestinya tidak sulit, tetapi nampaknya masih banyak yang tidak sanggup mengorbankan ego. Padahal hanya ego saja. Wah.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.853 pengikut lainnya.