Susah Memotret

Sering sekali saya menghadapi situasi di mana mau memotret sesuatu tetapi ada banyak halangan. Sebagai contoh, tadi saya ingin memotret langit – the skies – tetapi saya tidak dapat menemukan ruang yang bisa motret itu. Padahal ini langit – luas – yang ingin dipotret. Contoh situasinya adalah seperti foto ini. Banyak kabel sliweran :(

Saya mencoba pindah ke tempat lain, tetapi tidak juga berhasil. Di tempat lain, yang terbuka adalah langit di sudut lain yang awan semua (ya putih saja yang ada). Atau kalaupun ada langit yang bagus, ada saja yang menghalangi (tiang lampu, atap, dan seterusnya). Itulah sebabnya saya sering kagum dengan fotografer profesional yang memecahkan masalah ini dengan membuat tangga, pakai katrol, atau entah apa caranya. Pokoknya sudut pandang yang diinginkan bisa diperoleh. Mereka tidak menyerah begitu saja. Saya? Belum sampai segitunya. Saya memilih untuk memotret obyek lain saja. he he he.


Penggunaan Layanan Email Gratisan Untuk Instansi Resmi

Beberapa kali kita temui instansi resmi Indonesia meggunakan layanan email gratisan – seperti yang disediakan oleh Yahoo! dan Google. Menurut saya hal ini kurang baik. Yang pertama adalah masalah keamanan (security). Email-mail yang dikirimkan dengan menggunakan layanan gratisan tersebut disimpan (archive) oleh penyedia jasa tersebut. Artinya mereka mengetahui kegiatan instansi resmi Indonesia. Ini berbahaya.

Hal kedua adalah image yang terbentuk. Penggunaan layanan gratisan ini menunjukkan bahwa mereka tidak percaya kepada layanan email dari instansi yang bersangkutan. Ini seolah-olah berkata kenapa urusan KTP kita tidak diserahkan (outsource) ke negara lain saja ;)

Memang pada kenyataannya layanan email di berbagai instansi sering tidak reliable dan banyak spam / virus. Ini membuat penggunanya tidak bisa menggunakan layanan email ketika dibutuhkan. Jadi ini masalah teknis. Nampaknya para pengelola sistem IT di Indonesia harus dibekali dengan kemampuan teknis yang baik. Nah, untuk melakukan hal ini dibutuhkan biaya. Ini masalahnya. Pimpinan instansi tidak merasa hal ini penting. Mereka tidak mau melakukan investasi di SDM (dan sistem IT). Akibatnya ya pekerja harus bekerja dengan kondisi seadanya. Sudah begitu mau dituntut handal? Wah …

Nah, sekarang kita sudah tahu ada masalah. Bagaimana solusinya? Apakah dengan hanya sekedar melarang penggunaan layanan email gratisan untuk instansi?


Hari Ini

Kuliah dimulai hari ini. Maka pagi hari ini saya bergegas ke kampus. Kuliah kami mulai pukul 7 pagi. Artinya saya harus berangkat dari rumah pukul 6 pagi dan setelah subuh tidak bisa tidur lagi. Sesampainya di kampus, masih pagi tetapi mahasiswa mulai ramai. Maklum ini kuliah hari pertama.

Saya langsung menuju ke ruang 7609 yang tercatat untuk kelas saya. Ternyata kelas di lantai tiga ini kecil ukurannya. Dia hanya bisa menampung maksimal 50 orang. Padahal berdasarkan data sementara, ada 107 mahasiswa yang terdaftar di kelas saya. Hadoh. Langsung saya mencoba membajak kelas di depannya 7602, yang memang saya gunakan tahun lalu. Untungnya ada pegawai tata usaha yang mengatakan bahwa kalau kelas saya kekecilan, saya bisa menggunakan kelas 7601 (di lantai 1). Setelah menuliskan pesan di whiteboard, saya menuju kelas 7601.

Kelas ini letaknya pas di sebelah kantin. Untuk pagi hari, kantin belum buka. Jadi tidak terlalu masalah. Kelas ini juga masih punya 1 jam pertemuan lagi di hari Kamis. Yang ini kelasnya jam 11 pagi. Pas tepat waktunya lapar dan kantin di sebelah sudah siap menyajikan makanan. Bau masakan terasa di kelas. Satu kata: lapar!

Setelah selesai kelas, hari saya diminta untuk hadir di acara Kemenperidag di hotel Amarosa (di jalan Aceh). Maka bergegaslah saya ke sana. Acaranya adalah untuk memberi masukan tentang kompetisi karya industri kreatif. Ceritanya lain kali ya. Saking padatanya acara, mahasiswa yang mau bimbingan saya suruh ke hotel ini. Di tengah diskusi, saya keluar sebentar untuk bimbingan denganmahasiswa. Acara selesai pukul 13 siang. Saya bergegas kembali ke kampus.

Sesampainya di kampus saya langsung makan dulu tanpa sadar, alias lupa, bahwa seharusnya saya mengajari pukul 13. Sambil santai, saya makan. Walhasil saya disusuli oleh pegawai tata usaha.

“Pak tidak mengajar?”
“Lho, mengajar apa? Kan tadi pagi sudah”
“Kelas S2.”
“Waaahhh iyaaa. Saya kok lupa. Gak diingatin sih”

Maka cepat-cepat saya makan dan shalat. Setelah itu bergegas menuju kelas. Mahasiswa sudah berkumpul di kelas. Telat hampir 40 menit. Alhamdulillah kelas berjalan cukup lancar sampai pukul 15.00. Saya sudah super capek. Tadinya saya pikir saya mau ke Ciwalk untuk cari sepatu futsal, tetapi nampaknya saya tidak kuat. Akhirnya saya putuskan untuk pulang saja. Istirahat dulu. Nanti kegiatan dilanjutkan lagi. Ngeblogpun terpaksa dilakukan hampir tengah malam.

Phew …


Selamat Pagi

Setelah kemarin seharian mendung, hari ini saya bertekad untuk mencari foto alam. Pagi-pagi sudah bangun tetapi nampaknya udara belum bersahabat, terlalu dingin. Setelah menunggu agak siangan saya turun ke bawah dengan menggunakan motor. Mencoba mencari pemandangan yang bagus pagi ini.

Selamat pagi …


Mau?

Hari ini secara tidak sengaja menjadi acara kuliner. Pergi ke Bandung Super Mall (BSM) dan akhirnya ini yang ditemui :)

Pertama-tama, mampir dulu ke tempat ngopi. Maksudnya mau ngopi sambil memeriksa tugas mahasiswa. Yang dipesan adalah Coffee Latte dan Swiss Mocha something. Ada cheesecake. Tidak tahan, akhirnya dipesan juga. ha ha ha.

Setelah itu dilanjutkan dengan makan siang. Ternyata ada kambing bakar cairo, yang katanya terlezat ke dua. (Yang pertama mungkin di Timur Tengah ya?)


Hobby Membaca

So please, oh please, we beg, we pray,
Go throw your tv set away,
And in its place you can install,
A lovely bookshelf on the wall.
(Roald Dahl)

Kutipan di atas menunjukkan betapa kesalnya Roald Dahl. Ternyata tidak hanya di Indonesia, tetapi di negara lain pun sama juga. Televisi mendominasi kehidupan kita sehingga kita menjadi lebih sedikit membaca. Kita lebih tertarik kepada pemahaman yang instan. Mendengarkan dari orang lain, sumber kedua dan ketiga, lebih disukai dari mencari langsung sumber informasinya.

Tapi, dipikir-pikir adanya kemajuan di bidang teknologi informasi mengubah ini. Sekarang lebih banyak orang mau membaca, meskipun yang dibaca adalah blog atau sebatas status satu atau dua baris di twitter atau facebook. Apakah ini menjadi lebih baik, dalam artian lebih banyak orang mau membaca? Atau menjadi lebih buruk, karena orang lebih tertarik untuk membaca yang singkat-singat (dari pada membaca penjelasan yang rinci dan panjang lebar)? Saya takut yang terakhir. Artinya kita akan lebih sukar untuk mendiskusikan yang mendalam. Duh.

Kembali ke minat membaca. Kalau nanti teknologi lebih banyak mengarah kepada visualisasi yang lebih baik – misalnya menggunakan video – maka mungkin minat membaca teks akan berkurang. Orang akan lebih banyak “membaca” visual. Sebuah perubahan. Berarti kita harus mulai belajar “menulis visual” ya?


Boros Pemakaian Jaringan

Sekarang saya sedang melakukan proses update notebook yang sudah agak lama tidak dinyalakan. Sistem operasi yang digunakan adalah Windows 7. Asli tentunya :)   Nah, ketika saya mau update, ada informasi sekitar 82 hal yang harus diupdate dan total berkas yang akan diambil adalah lebih dari 500 MBytes. Hadoh.

Kalau semua saya ambil, dengan kondisi internet yang pas-pasan begini, kapan selesainya ya? Saya putuskan untuk memilih beberapa dulu sehingga totalnya ada sekitar 40 MBytes. Nanti prosesnya akan saya ulangi sampai cape hari ini. Sisanya akan diteruskan lain kali.

Update ini terasa berat karena dilakukan secara sesaat. Tidak dicicil. Untuk komputer desktop saya (dual boot Windows 7 dan Linux Ubuntu), update saya lakukan secara berkala sehingga tidak terasa berat. Namun sesungguhnya jumlah berkas yang diupdate mestinya sama juga. Jadi sebetulnya untuk komputer desktop ini saya sudah mengambil sekitar 500 MBytes juga. Wah wah wah. Ini baru dua komputer. Wah.

Update yang dilakukan secara individual ini tentunya memboroskan pemakaian jaringan ya? Semestinya saya bisa setup semacam server local (atau cache) sehingga untuk komputer kedua dan seterusnya saya tidak perlu mengunduh dari jaringan yang nun jauh di sana. Nampaknya ini belum memungkinkan karena mungkin ketakutan dari pihak vendor akan kehilangan kendali (control) terhadap distribusi berkas update. Ini juga dapat rentan kemasukan update yang palsu.

Jadi bagaimana? Nampaknya kita akan tetap boros dalam menggunakan jaringan :(


Tidak Bisa Menahan Diri

Repot kalau sedang ada pertemuan (rapat, sidang mahasiswa, dan sejenisnya) dan di depan mata ada makanan yang menarik. Sudah tahu seharusnya tidak terlalu banyak makan, tetapi tidak kuat juga. Sulit untuk menahan diri. Ini yang berada di depan mata ketika meeting semalam.

Ya tentu saja saya mengambil … he he he.

Seharusnya memang hidangan yang ada ketika pertemuan itu adalah makanan yang sehat-sehat ya? Tetapi apa ya? Buah-buahan? Pernah seuatu saat di sebuah pertemuan yang dihidangkan adalah mangga. Maka hasilnya adalah … sakit perut kebanyakan makan mangga. he he he.


Jalan Tanpa Marka

Saya perhatikan lagi, ternyata memang jalan-jalan di Bandung banyak yang tidak memiliki tanda / marka jalan. Coba lihat jalan Pasteur (aka Dr. Djundjunan) misalnya. Jalan selebar itu tidak ada garis lajur-nya.

Kata orang-orang kalaupun ada markanya dilanggar juga. Jad percuma saja ada marka.

Nah, yang jadi masalah adalah kita – orang Bandung – menjadi terdidik untuk tidak mengindahkan marka itu. Pas ke Jakarta, langsung di-prit oleh pak Polisi karena menerabas garis tidak putus-putus :)  Boleh gak ya kita menyalahkan pemerintah kota Bandung karena mengajari kita untuk tidak peduli?


Waktu Yang Tepat Untuk Facebook, Blog, dan kawan-kawan

Nampaknya untuk menuliskan sesuatu atau menampilkan foto di jejaring sosial itu harus tepat waktunya. Misalnya kalau hari sudah malam (di tempat saya) kemudian saya menampilkan foto indahnya pagi hari, pembaca kebingungan. Kalau foto indahnya pagi itu saya munculkan di pagi hari, banyak sambutannya.

Agak berbeda dengan blog karena di blog saya bisa menyampaikan sesuatu dan orang dapat membacanya pada waktu yang lain tanpa merasa kebingungan. Tulisan di blog juga dapat ditunda (delay) dan masih tetap dibaca. Kalau cerita minggu lalu kemudian kita tuliskan di status kita atau di twitter kita, pasti orang kebingungan. Kita seperti jet-lagged.

Hal ini juga membuktikan bahwa waktu yang menjadi acuan dari facebook, twitter,  dan sejenisnya itu adalah sesaat. Saat ini juga. Sementara blog bisa lebih fleksibel. Bahkan artikel saya yang ditulis beberapa tahun yang lalu masih juga menjadi yang populer dibaca. Itulah sebabnya saya lebih suka menulis di blog. Dia bisa lebih langgeng.


Komputer Yang Tidak Logis

Komputer, atau perangkat digital, dikembangkan dengan menggunakan basis 0 dan 1. ON | OFF. Jalan atau tidak jalan. Black and white. Tidak ada setengah-setengah.

Bagi komputer, semuanya harus logis. Kalau tidak logis, bukan komputer namanya. Itulah sebabnya manusia sulit untuk menjadi komputer karena manusia seringkali tidak logis.

Nah, kadang saya menemukan komputer pada kondisi yang seperti manusia. Kadang dia jalan, kadang tidak. Flakey. Intermitten. Yang seperti ini susah. Kalau tidak jalan, sekalian tidak jalan terus. Sehingga sudah pasti bagian mana yang rusak atau tidak jalannya. Kalau kadang-kadang jalan itulah yang bikin pusing.

Setingan komputer Ubuntu saya sekarang jalan. Padahal sebelumnya dia punya masalah dengan konfigurasi grafisnya (X window) dan networking (ethernet card tidak terdeteksi). Setelah saya oprak oprek, belum jalan juga. Menyerah. Tapi tadi ketika saya reboot,  maksudnya mau dioprek lagi,  ternyata dia jalan. Lho kok? Kok bisa.

Untuk sementara ini saya malas mencari alasan yang logis atas ketidaklogisan ini. Pokoknya jalan dulu deh. Lain kali di-debug dengan lebih teliti.


Definisi Pengguna Internet Indonesia

Saya sedang mencoba mendefinisikan “pengguna internet Indonesia”. Ternyata tidak mudah. Siapa yang masuk kategori ini?

  1. orang yang fisiknya berada di Indonesia;
  2. orang yang menggunakan (nomor) IP Indonesia;
  3. memiliki KTP Indonesia;
  4. orang yang menggunakan Bahasa Indonesia.

Saya merasa nomor (1) merupakan yang pasti. Hanya bagaimana cara mendeteksi ini secara teknis?

Terus, hasil statistik tentang pengguna internet yang ada sekarang ini menggunakan definisi apa ya?


Kapan Ganti Sikat Gigi?

Sedang memandangi sikat gigi yang mulai harus diganti. Lantas kepikiran, berapa lama seharusnya kita ganti sikat gigi? Apakah ada kurun waktu tertentu? Ini dengan asumsi kita sikat gigi secara reguler.

Sekarang pertanyaannya, ala familiy 100, kapan Anda ganti sikat gigi?


Langit Yang Biru

Saya suka memandang langit. Seakan meminta wangsit. Langit yang biru jernih membawa kedamaian di hati. Jika ada kamera di dekat saya, maka saya potret langit itu meskipun kadang dia hanya berwarna biru yang bersih. Atau boleh juga jika dia disertai dengan sedikit awan putih yang bergumpal bagaikan kapas. Lebih menarik lagi kalau ada hijaunya dedaunan pohon.

[foto diambil beberapa menit yang lalu]

Selamat pagi …


Pagi Kelabu

Terus terang saya tidak menyukai pagi yang kelabu. Membuat suasana muram.

Selamat pagi …


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 514 pengikut lainnya.