Mumpung pagi ini cerah. Ke jalan di depan, mencari obyek yang bisa dipotret.
[glowing flower]
Selamat pagi …
Mumpung pagi ini cerah. Ke jalan di depan, mencari obyek yang bisa dipotret.
[glowing flower]
Selamat pagi …
Kenapa ya kalau di acara kondangan nikahan jarang ditemui kopi? Eh, pikir-pikir teh juga jarang ya.
Mungkin kalau ada kopi di acara kondangan, orang-orang malah nangkring, ngobrol, rokokan, dan gak pulang-pulang. He he he. Padahal tempat acara tidak terlalu besar sehingga harapannya para undangan datang mengalir. Mungkin itu?
s r u u u p u u u t t t dulu ah ….
Mengapa ya banyak orang yang tidak mau patuh kepada peraturan lalu lintas? Foto di bawah ini saya ambil pada suatu malam (pukul 22-an) di persimpangan Cikapayang (Dago, Bandung). Perhatikan bahwa sudah disediakan tempat untuk berhentinya motor. Mobil berhenti lebih di belakang lagi, sehingga ada tempat untuk motor. Mengapa mereka mesti harus di depan (di luar) dari tempat itu??? Padahal tempatnya kan luas dan mereka juga sudah paling depan?
Hal yang sederhana seperti ini saja tidak dapat dilakukan. Apalagi meminta mereka untuk taat pada peraturan lain dengan lingkungan yang lebih rebutan lagi. Jika hal sepele seperti ini saja kita tidak mau belajar, bagaimana menghadapi masalah yang lebih besar?
Ada beberapa kejadian yang membuat saya berpendapat bahwa banyak banyak orang yang terlalu cepat puas (dengan apa yang telah mereka peroleh). Maksudnya begini. Ada orang yang merasa bahwa setelah dia dapat membuat program maka dia adalah jagoa programming. Dia kemudian berhenti belajar. Programming dapat digantikan dengan hal lain, seperti menulis, mengarang lagu, membuat lukisan, berolahraga, main musik, dan seterusnya.
Contoh lain adalah ada orang yang membuat sebuah karya, tugas, dokumen, laporan, dan sejenisnya kemudian berhenti dengan apa yang dia kerjakan. Padahal yang dia kerjakan belum lengkap, tetapi dia sudah puas. Ada mahasiswa yang mengerjakan tugas asal jadi saja. Yang penting jadi. Dia sudah puas. Bahkan untuk sekedar cuci piring pun bisa seperti ini. Ada yang menyuci piring hanya sekedar kucek-kucek saja. Begitu kelihatan bersih ya sudah selesai.
Tentu saja bukan maksud saya semua harus menjadi perfeksionis – seperti Steve Jobs, misalnya – tetapi setidaknya selalu memperbaiki apa yang telah dihasilkan. Misalnya kita membuat sebuah proposal atau laporan, maka dokumen itu kita perbaiki terus sehingga menjadi semakin mendekati sempurna. Begitu maksudnya. Oh ya, biasanya ini juga ditambah dengan passion dan dikerjakan dengan hati.
Saya khawatir kalau kita cepat puas maka hasilnya menjadi sub-standard, mediocre, pas-pasan saja. Pantas saja kita tidak dapat berkompetisi dengan kompetitor kita. Halah.
Saya mendapat berita bahwa sekarang sedang dilakukan pengumpulan data sidik jari PNS. Terlepas dari pro kontra perlu atau tidaknya, saya ingin menanyakan beberapa hal yang terkait dengan keamanan (security) karena ini bidang saya.
Perlu diingat bahwa kalau passwod kita dicuri atau hilang, maka kita bisa mengganti password tersebut. Kalau data biometrik (dalam hal ini adalah sidik jari) kita hilang atau dicuri, apakah kita mau mengganti (sidik) jari? Data sidik jari adalah data pribadi yang sama sensitifnya seperti password. Dia harus dilindungi dengan serius.
Jika pertanyaan-pertanyaan di atas belum dapat terjawab, sebaiknya pengumpulan data ini ditunda dahulu. Bagi yang belum melakukannya, ajukan surat pernyataan jaminan keamanan secara tertulis dari pihak yang mengumpulkan data.
Naaahhh. Akhirnya ada juga tulisan yang mendukung jalan pikir saya, bahwa kita butuh tulisan-tulisan yang positif. Bukan tulisan yang negatif. Baru saja saya baca jurnalisme positif di sini; “Beri Kamis Informasi Positif“. Ternyata ada teorinya toh.
Ini sebabnya saya tidak tertarik untuk menuliskan topik yang sedang trend di Indonesia, karena kebanyakan topik yang trending ini adalah cerita negatif. Dugaan saya – yang tidak beralasan – media massa mainstream yang mendorong jurnalisme negatif ini. Bagi mereka, cerita yang konfrontatif lebih menjual. Walhasil jurnalisme negatiflah yang lebih populer.
Maka dari pada oleh sebab itu, mari kita menulis hal yang positif.
Hari ini mulai kerja lagi setelah minggu libur dari hari Kamis. Secara kebetulan, hari ini merupakan hari terakhir UAS di kampus ITB. Hari ini juga hari mengumpulkan tugas akhir kelas saya. Besok pagi akan saya ambil dan mulai periksa. Ada lebih dari 100 makalah! Sudah kebayangkan betapa pusingnya saya minggu ini (dan minggu depan). Akan banyak baca!
Hari ini saya juga selesai memeriksa makalah untuk sebuah konferesi IEEE. Phew. Dan hari ini juga saya mendapatkan kamera baru. Nah cerita tentang kamera ini harus menyusul karena sekarang baru saya charge dulu. Sabar ya.
Apa lagi ya?
Saya suka memotret makanan. Nampaknya bukan saya saja ya? Melihat foto-foto di facebook, nampaknya jutaan orang menjadi suka memotret makanan. hi hi hi. Tapi saya memang suka memotret makanan. Di facebook saja saya sudah meng-upload lebih dari 400 potret. Padahal itu hanya sebagian kecil. Untuk satu foto, mungkin ada 10 foto yang tidak saya upload. Jadi, setidaknya saya punya 4000-an foto tentang makanan.
Sebetulnya memotret makanan itu tidak sekedar memotret. Hasilnya harus terlihat enak. Nah lho. Padahal banyak makanan yang secara visual terlihat tidak enak tetapi rasanya luar biasa. Atau sebaliknya, ada makanan yang terlihat enak padahal rasanya hambar. (Masih mending kalau hambar. Kalau tidak enak?) Itulah tantangan memotret makanan.
Kemarin pergi ke kondangan. Lagi mikir, kalau di kondangan kita memotret-motret makanannya boleh tidak ya? Aneh sih pasti aneh, tapi apa bakalan dikira orang gila atau tidak dihiraukan saja? Kemarin saya belum nekad untuk melakukannya. Kalau ada, mestinya sudah masuk ke blog ini. Padahal kemarin ada makanan yang warna warni, yang nampaknya bakalan bagus kalau dipotret. he he he. Ekstrim memotret itu namanya.
Gara-gara nonton American Idol saya cari lagu Steven Tyler, “I don’t want to miss a thing”. Di acara American Idol tersebut salah satu kontestan, Jessica, menyanyikannya. Setelah saya dengarkan, versi Steven Tyler lebih bagus
Penjiwaannya lebih mantap.
Menulis tentang Steven Tyler ini saya jadi senyum-senyum sendiri. Saya jadi teringat pernah membuat sebuat artikel tentang band Aerosmith untuk majalah dinding SMA. Itu mungkin sekitar tahun 1980 atau 1979? Whoa. Sudah 30 tahun yang lalu. Sekarang tulisan ini juga dipasang di “majalah dinding internet”. Kalau 30 tahun lagi majalah dindingnya seperti apa ya?
Kembali ke Steven Tyler, memang dia masih hebat suaranya.
Bongkar-bongkar lemari. Melihat koleksi piringan hitam. Duh sudah lama tidak disetel karena sudah tidak punya pemutarnya lagi. Pengen beli yang murah meriah tapi bagus
Ini beberapa foto snapshot.
Sebagian besar bernuansa progressive rock. Misalnya yang ini adalah album Anthony Phillips yang saya sukai sejak SMA, album “The Geese and the Ghost“.
Eh ternyata saya juga punya piringan hitam Ebiet G. Ade, Camelia 4. hi hi hi. Jadul banget. Pada jamannya dahulu, Ebiet ini ngetop banget loh. Semua orang ingin jadi Ebiet.
ada juga Rick Astley. Hayah … he he he …
Dan tentu saja ada … Boston! Salah satu album kesukaan saya (sehingga saya punya kaset, piringan hitam, CD, MP3, … nanti FLAC menyusul, he he he).
Kenapa ya orang-orang (baca: pejabat) sering membuat keputusan atau kegiatan yang tidak manfaat. Terbaca sekilas soal penyatuan zona waktu Indonesia. Hayah. Yang seperti ini kok jadi prioritas. Masih banyak hal lain yang membutuhkan pemikiran kita, keputusan yang harus dibuat, dan seterusnya. Banyak yang lebih penting.
Apakah ini maksudnya supaya cari nama? Asal ada kegiatan? Atau apa ya? Saya belum mengerti alur pikirnya.
Pagi yang berkabut … Mula-mula pagi masih gelap.
[untouched morning]
[clear blue sky]
Yang membuat saya suka dengan foto di atas adalah latar belakang birunya. Bersih. Ini tadi diambil setelah kabut mulai hilang.
Saya bereksperimen dengan twitter. Hipotesa yang mau saya buat adalah “kalau kita banyak menulis di twitter, maka kita akan banyak memiliki follower”. Ini dulu saya uji di blog dan hasilnya positif. Sekarang mau saya uji di twitter.
Saya membuat akun twitter baru (@buditweet) dan kemudian mulai melakukan twitting di sana. Setelah beberapa lama saya pantau. Hasilnya ternyata tidak positif. Setelah sekian lama (nanti saya cek awal mulainya), ternyata sampai hari ini baru tercapai 96 followers. Jadi hipotesa saya tidak terbukti.
Ada beberapa kemungkinan alasan untuk hal di atas. Pertama, seharusnya saya banyak menulis di akun twitter yang baru tersebut. Ternyata saya tidak melakukan hal tersebut. Ternyata susah untuk cerewet di twitter. he he he. Atau seharusnya saya mencari orang yang lebih cerewet ya? Eksekusi saya kurang baik.
Hal kedua, saya menduga bahwa orang mengikuti (follow) sebuah akun twitter itu karena si pemilik akun-nya bukan karena apa yang dia katakan. Kalau kita mengikuti twit seorang artis, misalnya, kita mengikutinya karena ke-artisan-nya bukan karena apa yang dia katakan. Jadi biarpun saya mengatakan yang hebat / smart, tetapi kalau saya tidak terkenal maka twitter saya akan kosong follower. Atau kita mengikuti akun twitter karena perkawanan. Jadi tetap karena ke-orangannya.
Hal terakhir, saya menduga bahwa pembahasan topik yang dalam (serius) melalui twitter akan susah dilakukan. Selain dengan keterbatasan jumlah karakter, kebanyakan pengikutnya juga tidak tertarik untuk diskusi serius via twitter. Dengan kata lain, kultwit (kuliah via twitter) mungkin juga kurang efektif dan bahkan menjadi ilusi? (Terlalu berlebihan mungkin kalau saya sebut “ilusi”.)
Lagi memikirkan topik yang akan diangkat hari ini, eh yang keluar adalah topik keluh kesah. Mau ditulis di sini khawatir bisa menimbulkan efek domino, orang buat tulisan keluh kesah juga. Mau tidak ditulis, kok agak aneh juga. Perjalanan hidup kan ada keluh kesah juga. Nanti kesannya yang ditulis adalah yang bagus-bagus saja. Padahal ada keluh kesah juga. He he he. Bingung.
Pagi ini akses internet rumah ternyata masih putus. Sejak tadi malam internet putus. Mau telepon customer support (help desk) masih kepagian. Kasihan juga mereka ngantuk-ngantuk ditelepon. Eh, tapi siapa tahu mereka sebetulnya juga lagi bete karena tidak ada kerjaan. Jadi mestinya mereka senang juga kalau ditelepon ya? Bentar lagi ah. Jam 6-an (atau siangan dikit) nanti saya coba telepon. Kesannya gimana gitu kalau pagi-pagi sudah nelepon. Padahal memang butuh akses internetnya pagi ini. (Ini menggunakan akses via EVDO.)
Di luar sana masih kabut. Iya, Bandung masih kabut. Jadi cuaca masih terlihat gelap. Mungkin karena semua mau ber-long-weekend maka suasana menjadi lebih lambat. Sementara saya bersemangat. Mungkin ini karena semalam sudah futsal jadi badan segar (meski pegal-pegal). Sebetulnya saya ingin belajar juga untuk memotret kabut. Hanya saja saya masih belum tahu apa yang dapat dipotret dan teorinya bagaimana supaya hasilnya tidak “putih saja”.
Keluh kesah diakhir dengan semangat ah. Menyeduh teh … sruput teh panas.
Selamat pagi. Selamat berlibur …