Feeds:
Tulisan
Komentar

Terserah

1: eh, kita mau makan di mana?
2: terserah

1: ok, bagaimana kalau di KFC?
2: wah jangan di sana dong
1: habis di mana?
2: terserah aja

1: gimana kalau di restoran padang
2: lagi gak suka makan padang nih
1: western?
2: gak ah
1: jadi di mana dong?
2: terserah

[terserah ... tapi nggak terserah :) ]

Sebagai Nyamuk Malaria

Entah kenapa dalam beberapa hari ini saya terbayang lagu Malaria-nya (alm.) Harry Roesli. Mungkin ini dipicu oleh diskusi di milis tentang pemilihan lagu untuk film 3G. Di sana saya berkata bahwa kayaknya yang cocok adalah Kikan dan Cokelatnya. Tentu saja kemukinan usulan ini ditolak. he he he. Tidak mengapa.

Mengapa usulan saya demikian? Karena yang terbayang oleh saya adalah ada faktor ingin membangkitkan semangat dan nasionalisme. Saya jadi teringat lagu Bendera-nya Cokelat. Terus jadi ingat lagi lagu “Malaria” karangan Harry Roesli yang dibawakan oleh Kikan.

Berikut ini adalah lirik lagu Malaria;

seprei tempat tidurmu putih
itu tandanya kau bersedih
mengapa tidak kau tiduri
kau hanya terus menangis

apakah kau seekor monyet,
yang hanya dapat bergaya
kosong sudah … hidup ini,
bila kau hanya bicara

guling bantalmu akan bertanya,
apa yang kaupikirkan nona?
kau hanya bawa airmata dan ketawa yang kau paksa

lantai kamarmu kan berkata,
mengapa nona pengecut?
lanjutkan saja hidup ini sebagai nyamuk malaria……….

Ah… Menarik sekali ungkapan-ungkapannya. Duh, betapa sedihnya kita ini kalau kita hanya menjadi nyamuk yang tidak bermanfaat(?). Bahkan, bukan hanya tidak bermanfaat, tetapi kita malah menjadi masalah (karena menyebarkan malaria).

Duh … sedihnya :( (

Kita harus manfaat!
Kita harus berkarya!
Kita tidak boleh sekedar jadi nyamuk malaria!

Lewat Hari-Hari Penting

Entah sadar atau tidak, saya tidak membahas hadirnya hari-hari penting di blog ini. Sebagai contoh, tanggal 18 Desember yang lalu adalah tahun baru Islam, hari ini adalah hari ibu. Tidak ada pembahasannya di blog ini.

Mungkin saya merasa sudah ada banyak pembahasan di tempat lain dan saya tidak bisa mengangkat sebuah sudut pandang yang menarik. Kalau hanya sekedar mengatakan hari ini hari ibu mungkin tidak menarik ya? Atau, mungkin saya yang terlalu berlebihan ya? Mungkin untuk sekedar mengatakan bahwa hari ini adalah hari ibu itu sudah cukup.

Oh ya dalam rangka hari ibu … silahkan download lagu buatan saya yang berjudul “Untuk Ibu” di sini: rahard.multiply.com/music/item/1/Stranded_Somewhere. Selamat menikmati.

Oh ya … hari ini adalah hari Selasa. he he he. Gak penting banget!

makimaki.com

kayaknya menarik kalau ada layanan sumpahserapah.com dimana kita bisa mengeluarkan uneg-unek :)

kalau perlu ada fitur untuk mengenkrip sumpah serapah kita sehingga orang tidak merasa terganggu. setidaknya, pakai rot13 lah (seperti misalnya pakai layanan ini: www.retards.org/projects/rot13)

nanya lagi:

beranda rumah kita itu ruang publik atau bukan?

apakah kita gak boleh ngedumel di beranda rumah? nanti dituntut jadi pencemaran nama baik :p (menurut UU ITE pula!)

Beda Selera

Paling repot adalah kalau di sebuah acara saya disuruh maju nyanyi. Pasalnya adalah selera saya mungkin beda dengan selera mainstream. Jadi akan lucu.

Emangnya ada yang bisa ngiringi saya nyanyi lagu “Firth of Fifth” gitu? hi hi hi. Belum lagi penontonnya bingung. Itu lagu apa? Udah panjang, njlimet lagi. hi hi hi. Sangat tidak pas.

Jadi akhirnya kalau saya disuruh nyanyi, biasanya saya hanya ketawa saja dan menolak. Demi kebaikan bersama :)

Oh ya, berikut ini adalah daftar not so weird play list i wanted to play (see if you know these songs :) hi hi hi … atau kalau ada yang bisa ngiringi):

  • al stewart – year of the cat
  • gowan – moonlight desires
  • klaatu – tokeymore field

Ingin tahu pendapat Anda;

apakah twitter itu ruang publik atau privat?

Jika saya berada di ruang privat, misalnya di rumah sendiri, kenapa saya nggak boleh ngomel, ngedumel, maki-maki orang. Mestinya boleh ya?

Semalam saya menghadiri resepsi pernikahan Merlyna Lim & James O’Halloran di Cafe Vienna, Bandung. Kami sampai tempat tujuan sudah terlambat (1,5 jam) dari waktu awalnya karena kami berangkat setelah maghrib dan terkena macetnya kota Bandung. Apalagi Cafe Vienna letaknya di jalan Sukajadi, yang notabene ke arah Setiabudhi. Tidak apa terlambat, yang penting sudah hadir.

Saya mengenal Mer sebagai orang yang kreatif dan lucu. Lihat blognya – www.merlyna.org -  untuk melihat betapa kreatifnya dia. Ada sketches gambar yang layak menjadi postcard. Sebetulnya Mer juga membuat musik, tapi gak nemu di blognya. (Mungkin di account multiplynya.)

Oh, saya lupa bilang Mer mengajar di sebuah universitas di Amerika. Dengan kata lain, seharusnya saya memanggil dia Prof. Mer :)

Sementara itu saya tidak familer dengan James, tetapi melihat bio datanya yang nampaknya banyak berkecimpung di dalam musik (khususnya gitar) bisa diduga keduanya akan menghasilkan karya-karya kreatif. Mudah-mudahan.

Yang penting, selamat untuk Mer ya.

Good morning …

Nyontek?

Waktu kuliah berakhir. Sekarang waktunya ujian. Topik yang hangat dibicarakan adalah … nyontek.

Hadoh. Hari gini masih nyontek?

Dari pada nyontek, mendingan belajar di perpustakaan, bukan?

Kompetensi IT

Beberapa hari ini kami berdiskusi tentang pengelolaan SDM IT. Salah satu topik yang muncul adalah tentang kompetensi teknologi informasi.

  • Apa saja kompetensi IT?
  • Bagaimana mengukur seseorang memiliki kompetensi itu?

Untuk yang pertama, kita bisa membuat daftar tetapi ini daftar yang kita buat secara ad hoc. Ada lagi cara lain adalah dengan mendaftar kurikulum, topik training, dan sertifikasi yang beredar. Hanya saja apakah kita perlu sampai detail? Misalnya, apakah kompetensi yang dimaksud di sini cukup sampai “programmer” atau harus sampai “programmer perl”?

Apakah ada cara yang lebih elegan untuk mendaftar kompetensi IT?

Yang kedua juga tidak kalah sulitnya. Bagaimana mengetahui seseorang itu memiliki kompetensi tersebut? Ada beberapa ide:

  • Bedasarkan pendidikan formal. (Seseorang yang berasal dari jurusan ilmu komputer semestinya memiliki dasar pemrograman, bukan?)
  • Berdasarkan sertifikasi (baik yang diberikan oleh perusahaan seperti Microsoft, Cisco, Oracle, dan sejenisnya) atau dari training center.
  • Berdasarkan ujian / test khusus.

Ke semuanya di atas buktinya ditunjukkan dengan selembar kertas. Kalau orang yang memang pintar dalam sebuah bidang, katakanlah pemrograman, karena dia belajar sendiri dan sudah melakukannya bertahun-tahun apakah bisa dikatakan dia memiliki kompetensi tersebut?

Bikin puyeng juga diskusinya …

Tidak Tahukah Kau (7)

seorang kawan perempuan sar:
hei sar, bajumu bagus sekali. kamu jadi kelihatan tambah cantik deh.

sar: makasih
kawan: belinya di mana?

sar tersenyum sambil melambaikan tangan dan bergegas menuju kantin. dia sudah terlambat janjian ketemu dengan jek.

sesampainya di kantin, jek sudah menunggu sambil duduk membaca sesuatu. catatan kuliah mungkin.

sar: sori telat
jek: gak papa (sambil matanya terus membaca buku catatan kuliah)

sar mengambil tempat duduk di seberang jek. sar kemudian terpikir sesuatu.

sar: jek, kenapa sih kamu gak pernah muji?
jek: maksudnya? (bingung)
sar: ya, sekali-sekali bilang kek bajuku bagus
jek: bajumu bagus (sambil tertawa)
sar: yeeee… bukan gitu. kurang ajar.
jek ketawa
jek: iya gak tahu kenapa. gak suka aja muji-muji.
sar: kenapa gak suka?
jek: soalnya kebanyakan orang muji juga hanya basa basi
sar: iya sih, tapi kan yang dipuji seneng
jek: emang kamu suka dipuji gitu?
sar: ya iyalah … (ketawa)

akhirnya mereka tertawa bersama dan mulai disibukkan dengan catatan kuliah.

dalam hati jek berkata, sebenarnya ada banyak hal yang ingin kukatakan. tapi itu semua akan merusak persahabatan kita. dia jadi teringat lirik lagu “something stupid”. yeah, something stupid like I Love You.

jek bersenandung …

[Seri tidak tahukah kau: 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1]

Pintar dan Besar Kepala

Satu hal yang saya perhatikan adalah adanya orang yang besar kepala (merasa sok jago) setelah dia semakin pintar. Maklum, di dunia saya kan dunianya pendidikan. Jadi saya bisa melihat orang yang mula-mula tidak tahu apa-apa, kemudian lama kelamaan menjadi pandai dan memiliki skill tertentu. Pada mulanya dia baik tetapi lama kelamaan dia jadi meremehkan atau merendahkan orang yang belum paham akan sesuatu. Padahal dulunya dia juga begitu.

Kalau di kita ada peribahasa; “pakailah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk”. Harusnya memang demikian. Siapkah Anda untuk semakin merunduk?

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah setelah kita memiliki sedikit ilmu, maka tanggung jawab kita untuk mengajarkan ilmu tersebut. Misalnya adalah dengan cara membimbing yang lebih muda. Menjadi tutor. Sayangnya untuk melakukan hal ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Akibatnya banyak orang yang menyerah dan malas untuk mengajari orang lain.

Eh, tapi ini tidak hanya terjadi di lingkungan pendidikan saja tetapi juga di dalam kehidupan sehari-hari.

it’s still dark outside and I am starting my day with writing a report. hot tea. beatles is in the background. yeah, yeah, yeah!

it’s so great. what a great way to start the day.

Bismillah …

Belum Sempat Menulis

Duh, berapa hari ini saya sedang dalam super sibuk mode. Akibatnya untuk menulis sesuatu di blog ini menjadi tidak sempat. Kebanyakan saya berada di jalan (mengemudi atau menumpang) sehingga sulit untuk mendapatkan akses internet.

Kalau pun bisa akses internet di jalan ini, aksesnya tidak lama dan tidak nyaman. Biasanya saya hanya gunakan untuk mengecek email secara cepat.

Jadi, maaf bagi para pengunjung. Saya belum sempat menulis yang bermutu :(

Tulisan Sebelumnya »