WiFi gratis, tapi …

Sekarang WiFi merupakan sebuah kebutuhan. WiFi harus ada dan gratis. Anak-anak sekarang kalau ke tempat makan yang dicari adalah WiFi gratisan dulu. Mereka akan merasa aneh kalau tidak ada layanan WiFi gratisan. Semua tempat – kafe, restoran, hotel, rumah sakit, bandara udara, … bahkan warteg (warung tegal) – menampilkan logo WiFi.

[di sebuah warteg berlogo free WiFi]

“Mas, kok WiFi-nya gak jalan”, tanya salah seorang pengunjung warteg.
“Iya nih, restoran di belakang WiFinya gak beres melulu”, jawab pemilik warteg.
Ternyata WiFi-nya ndompleng. hi hi hi.

Sayangnya WiFi gratisan ini seringkali tidak berfungsi. Hotel kemarin juga begitu. Kafe semalam juga begitu. Ini saya sedang di sebuah kedai kopi dan WiFi-nya tidak jalan. Maka saya menggunakan handphone saya untuk mengakses internet. Tethering. Jadi sesungguhnya kita harus ngemodal sendiri.

WiFi gratis, tapi gak jalan. Yaelah


Eid Mubarak – Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435H

Kartu Eid 1000

Mohon maaf lahir dan bathin …


Menjelang Akhir Ramadhan

Kemarin pas lagi tarawih, Pak Lubis pengurus masjid bilang agak tidak enak badan. Wah sama. Beberapa hari terakhir ini kepala saya sering terasa berat dan pusing. Entah mungkin karena kurang minum, tekanan darah menurun, atau apa saya tidak tahu. Walhasil, saya banyak beristirahat (baca: tidur hi hi hi). Mungkin banyak orang yang kurang sehat karena cuaca kota Bandung yang mendung dan hujan terus. Ditambah puasa, rasanya semakin dingin. (Puasa dijadikan alasan. he he he.)

Di sisi lain, puasa juga membuat kita makan tepat waktu dan memilih makanan yang relatif bagus karena kita tahu kita akan berpuasa. Dari sisi ini pertahanan badan kita mendapat asupan yang bagus. Kalau tidak puasa, mungkin malah makan seenaknya dan malah lebih mudah jatuh sakit ya. Ada bagusnya puasa.

Besok hari terakhir puasa untuk Ramadhan tahun ini. Semoga lancar. Semoga kita semua dalam keadaan sehat wal afiat. Amiiinnn.


Foto-foto

Baru sadar sudah lama tidak upload foto-foto ke blog. Bentar. Mau cari foto-foto yang bisa diupload. Ini dulu ah.

DSC_4041 bunga 1000

Foto bunga yang dipotret beberapa menit yang lalu.

DSC_4033 panopolis 1000

Itu tempat makan di airport Changi, Singapura. Dipotret sambil jalan menuju pintu masuk. Menariknya, tempat ini HALAL! Waaa. Kebetulan sedang puasa sehingga tidak bisa mampir. Ihik. Lain kali ah.


Linieritas Dalam Pendidikan

Sekarang sedang ramai dibahas tentang linieritas (kelinieran) dalam pendidikan. Maksudnya begini. Seseorang yang mengambil S1 di bidang Teknik Elektro tidak disarankan (atau malah dilarang?) untuk mengambil S2 di bidang Biologi dan mengambil S3 di bidang Ekonomi. Begitu.

Mungkin contoh di atas agak ekstrim, tetapi ada banyak orang yang mengambil jalur seperti itu. Contohnya:

  • S1 Elektro, S2 Management, S3 Hukum
  • S1 Informatika, S2 Matematika, S3 Matematika

Mungkin linieritas ini diterapkan karena ada orang-orang yang meng-abuse kemudahan mendapatkan S2 di bidang tertentu yang bukan bidangnya tetapi relatif lebih “mudah” untuk mendapatkannya hanya untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Sebagai contoh ada teknisi lab yang mengambil S1 ekonomi (atau sastra) agar dia dapat naik pangkat. [Catatan: "mudah" di sini jangan dianggap mengecilkan bidang ilmu tersebut.]

Hal lain yang menyebabkan penerapan linieritas ini adalah untuk memastikan mahasiswa memiliki dasar yang kuat dibidang itu agar dapat menyelesaikan studinya. Misalnya, seseorang yang S1 di bidang Ekonomi akan sulit menyelesaikan S2 di bidang Teknik Elektro. Begitu.

Masalahnya sekarang bidang ilmu itu sulit untuk dikotak-kotakkan. Bahkan inovasi sering terjadi karena adanya multi disiplin. Cross pollination. Jika kita membuat kotak-kotak atau sekat-sekat yang terlalu ketat, maka sulit bagi kita untuk menghasilkan inovasi.

Memang umumnya sebagaian besar akan cederung linier, tetapi membatasi – dengan menerapkan linieritas ini – membuat orang-orang hebat yang seharusnya dapat berkarya secara multidisiplin menjadi tidak mungkin terjadi.

Nah. Pusing? Saya pribadi cenderung untuk tidak menerapkan linieritas.


Sekarang Giliran Hacker

Ternyata copras capres masih ribut juga. Kali ini yang mendapat sorotan spotlight adalah … hacker. Ya ampun. Mulailah ada tuduhan-tuduhan bahwa suara digelembungkan oleh hacker. Bahkan sampai ada yang menggabungkan berita bahwa ada hacker asing yang tertangkap dan mereka menggelembungkan suara di KPU. Padahal kedua event itu tidak ada hubungannya. ha ha ha.

Terus mulai juga muncul cerita tentang kerentanan sistem KPU. Yang ini malah menyeret-nyeret nama saya untuk ikut berkomentar. Komentar saya adalah … tidak tahu. Lah wong saya betul-betul tidak tahu faktanya.

Sebagai orang teknis yang menyayangi bidang saya, saya tidak ingin asal komentar tanpa data. Saya harus melihat sistemnya, poke here and there, test this and that, baru bisa mengatakan sesuatu. Kalau sekarang, komentar saya tidak ada manfaatnya. As good as yours. Apakah saya tertarik untuk mengevaluasi ini? Tidak. Kecuali memang saya di-hire secara resmi untuk melakukan evaluasi. Setelah ada data, baru bisa komentar.

Sementara ini saya jadi penonton dulu saja. Sambil ngelus dada. Kemarin yang diobrak abrik adalah ilmu statistika. Sekarang, heker. Eh, information security.


Cita-cita Jadi Presiden

Sah sudah pak Joko Widodo (Jokowi) menjadi presiden Republik Indonesia dan pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Satu hal yang menarik bagi saya adalah peristiwa ini membuka mata kita bahwa siapapun dapat menjadi presiden. Pak Jokowi yang mengawali karirnya dari usaha mebel dapat menjadi presiden. Luar biasa.

Sekarang kita dapat berkata kepada anak-anak kita, kau bisa menjadi presiden.

Anak-anak di seluruh penjuru Indonesia dapat bercita-cita jadi presiden.

You can be anything you want to be, kid.

Ah betapa indahnya. Keep those dreams alive.

Soundtrack … “Jadi Presiden“.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.699 pengikut lainnya.