Kemarin saya baru menyerahkan nilai kuliah saya ke kampus. Yang membuat saya sedih adalah statistik dari salah satu kuliah yang saya ajarkan. Ini dia:
A: 7 orang (10,77%)
B: 6 orang (9,23%)
C: 25 orang (38,46%)
D: 20 orang (30,77%)
E: 7 orang (10,77%)
Kalau dilihat, sebagian besar terkumpul di C dan D! Aduh. Padahal saya perkirakan tadinya sebagian besar terkumpul di B dan C. Atau, paling tidak, D dan E hanya menjadi “tail” saja. Saya membandingkan hal ini dengan kelas tahun-tahun sebelumnya. Saya sangat kecewa dengan banyaknya mahasiswa yang mendapat D. Apa saja yang menjadi penyebabnya ya?
- Dosen: Nggak bener ngajarnya, kejam / pelit dalam menilai, dan seterusnya.
- Mahasiswa: Nggak bener kuliahnya, stres waktu ujian, kurang latihan, memang bahan mentahnya kurang baik, dan seterusnya.
- Materi kuliah: Terlalu sukar, tidak cocok untuk level mahasiswa yang bersangkutan, dan seterusnya.
- Lingkungan: Fasilitas tidak mendukung, kurang tempat untuk berlatih, dan seterusnya.
Dari hal-hal di atas saya hanya dapat mengendalikan (1) dan (3). Mahasiswa dan lingkungan sudah diberikan (given) dari perguruan tinggi. Jadi kedua poin itu saja yang akan saya coba perhatikan. Kita bahas satu persatu.
Soal dosen, yaitu saya sendiri. Mata kuliah ini bukan pertama kali saya berikan. Jadi seharusnya dari penguasaan materi tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Waktu, perhatian, dan effort yang saya berikan untuk kuliah ini sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan tahun ini saya cenderung lebih memperhatikan materi kuliah (mencari cara-cara yang lebih baik dalam menjelaskan ide). Saya tidak mengerti apa yang salah karena saya merasa tidak berubah. Lain halnya kalau memang ini baru kelas pertama yang saya ajar.Sebetulnya berubah, yaitu lebih banyak memperhatikan. Atau malah ini salah? Tapi apapun, saya akan mencoba lebih baik lagi di kelas-kelas berikutnya. Mungkin harus lebih sering melakukn probing sehingga mengetahui posisi pemahaman mahasiswa ada dimana.
Mengenai materi kuliah. Tahun lalu saya justru memperhatikan materi ini. Materi tidak berbeda dari tahun sebelumnya, hanya saya lebih banyak memperhatikan materi. Saya cermati bahwa slide / transparansi yang saya gunakan ternyata kurang baik. Terlalu banyak yang ditampilkan dalam satu halaman. Terlalu banyak konsep yang ditampilkan dalam satu halaman. Mungkin mahasiswa tahun kemarin ini bingung dengan materinya? Kelas berikutnya, definitely, akan saya perbaiki materi ini!
Tapi ini mungkin trend dunia. Saya mungkin terpaksa harus menerima keadaan ini. Lihat saja tulisan Joel on Software tentang The Perils of Java School. (Terima kasih ke bu Inge untuk diskusinya soal pengajaran ini.)
Programmer sekarang itu juga mau enaknya aja. Karna udah jamannya java kali. Maunya cuman create instance dari object, boom, jalan.
Saya sudah bukan lagi mahasiswa, tapi pernah merasakan sebagai mahasiswa juga. Saya salut dengan pak Budi yang mencoba merefleksikan apa yang salah saat mahasiswa banyak yang “gagal”.
Kadang2 waktu saya sekolah dulu, banyak dosen yang malah bangga kalau mahasiswa-nya banyak yang gagal. Mungkin ingin menunjukkan dirinya super hebat atau gimana.
Menurut saya, faktor dosen dan mahasiswa memang paling berpengaruh. Biarpun dosennya super hebat, tapi kalau mahasiswa-nya malas2an, tetap saja tidak akan berhasil.
Kalau materi, mestinya seorang dosen yang hebat bisa membuat materi yang susah menjadi lebih mudah dicerna dan dimengerti… Kalo gak salah, Pak Budi kan nge-fans dengan Steve Jobs juga…
Selama saya jadi mahasiswa, cuma beberapa dosen yang bisa mengambil simpati saya dalam hal belajar dengan lebih efektif. Obyektif saya rasa, karena background mereka berbeda-beda (Praktisi : Tipe yang paling saya suka). Tinggal bagaimana meramu sebuah konten ilmu yang memang mahasiswa butuhkan (atau merasa membutuhkan), atau memotivasi mahasiswa agar faham akan kebutuhannya.
Ironisnya, selalu kembali pada visi dan misi personal entity (dosen dan mahasiswa). Kalau jauh beda, sulit buat nyambung.
Contohnya, pada sebuah mata kuliah oleh praktisi yang bersedia meluangkan waktu seperti Pak Budi
. Kebanyakan mahasiswa akhirnya menyerah dengan kompleksitas belajarnya. Komplain dari mahasiswa masuk ke bagian Akademik sehubungan dengan hal tersebut – Aneh… seharusnya mahasiswa dan dosen bisa lebih komunikatif kan
. Sehingga komplain bisa langsung ke dosen yang bersangkutan. Dengan harapan, iklim belajar menjadi lebih efektif tentunya.
Di kampus saya, banyak dosen terbang pak. Kalau dari mayoritas mahasiswa kurang cocok (Dalam hal apa??? – obyektif/Subyektif???) dengan dosen tersebut bisa mengisi angket dan… Ironisnya, banyak dosen berkompeten yang akhirnya tidak mengajar lagi pada semester-semester berikutnya. Sedih…
Kenapa bisa terjadi demikian, padahal secara agregat makanan yang biasa dikonsumsi oleh mahasiswa rata-rata sama (paling-paling sego kucing kalo orang semarang bilang).
Saya sendiripun tidak tahu pak Budi kok nilai mahasiswa itu bisa beda-beda ..
Ada kemungkinan dosennya yang goblok atau mahasiswanya yang goblok. Tapi mungkin bisa kedua-duanya yang goblok.
********************************************
Maaf pak agak kasar. Goblok disini bukan soal gelar embel2 dosen (Dr, Prof, M ?). Tapi berbicara tentang HATI seorang dosen yang mau mengajarkan sesuatu kepada mahasiswa-nya. Kalo hanya sekedar ngajar semua orang bisa. Tinggal kasi info di koran “dibutuhkan tenaga pengajar untuk perguruan tinggi >> akhirnya ke terima tu orang jadi pengajar.
Mungkin bukan hanya itu yang menjadi kendala rata-rata seorang dosen (nb’ sensus berdasarkan penglaman di kampus). Kecilnya gaji dosen, atau sering terlambatnya gaji dosen… Klo dipikir mau makan apa….?. Dari situ saja sudah jadi kendala soal “IDEALISME PENDIDIKAN”.
Akhirnya “PROYEK” lah yang jadi pekerjaan utama seorang dosen. Jadi mengajar hanyalah sambilan (nggak menguntungkan sih !!).
Rantai masalah pun terjadi, sering tidak masuknya dosen, banyak materi yang belum terajarkan yang padahal materi tersebut menjadi materi basic untuk materi selanjutnya, dll.
*********************************************
Ini yang sering terjadi. Adanya salah komunikasi, perbedaan pandangan antara mahasiswa dan dosen. Sejarah sudah membuktikan, di zaman pra kemerdekaan pun terjadi demikian. Antara golongan muda dan golongan tua.
Mahasiswa maunya begini ? Dosen maunya begini ?
‘klo semuanya ngotot … GAGAL-lah PENDIDIKAN.
*********************************************
M E R D E K A
Berdasarkan pengalaman saya waktu kuliah di itb dulu, ada (banyak) dosen yang menurut saya gagal mentransfer pengetahuannya. Sebab saya lebih mengerti diajari teman sekelas atau di himpunan ketimbang mengikuti kuliahnya. Dan ternyata setiap tahun kemudian, cerita yang sama terulang dari adik-adik angkatan.
Mungkin teknik komunikasinya perlu direvolusi, pak. Misalnya, lebih sering mengadakan eye contact dengan mahasiswa ketimbang menatap papan tulis atau slide presentasi. Buat saya, dosen yang tidak bisa meyakinkan mahasiswa, tingkat keberhasilannya dalam mentransfer pengetahuan akan kecil.
Sekedar saran saja, lho.
Pertama2 saya salut dengan mas Budi ini karena (berdasarkan dari tulisan ini) mas Budi cukup banyak meluangkan waktu utk mempersiapkan kuliah (sangat kontras dengan jaman saya dulu waktu kuliah di ITB dimana banyak dosen2 hanya sekedar ngajar tanpa persiapan yg baik dan enggak jelas). Kedua saya makin salut lagi karena mas Budi juga memikirkan apakah ada yg salah atau tidak dgn cara mengajarnya.
Saya rasa mas Budi juga harus melihat faktor kedua dan keempat, yaitu mahasiswa dan lingkungan. Jaman saya dulu di ITB cukup banyak mhs yg kurang banyak jam terbang utk belajar (baru serius kalo mendekati ujian).
Sebagai bahan perbandingan saja, kebetulan saya juga punya pengalaman mengajar di perguruan tinggi di salah satu negara (sebut saja negara A) di Eropa bagian barat. Saya perhatikan mhs2nya punya pola berangkat dari rumah ke univ. pada pagi hari (sekitar jam 9 atau 10 pagi) dan kembali dari univ. ke rumah sore hari (sekitar jam 5 atau 6 sore). Secara sepintas agak mirip dgn mhs2 di ITB. Tapi perbedaannya, sewaktu jaman saya mhs di ITB dulu seharian di kampus enggak jelas waktu itu habis begitu saja ngobrol2 ngalur ngidul kesana kemari (dan banyak rekan2 mhs yg lain juga begitu). Sementara di negara A, saya perhatikan mhs2nya cukup efektif belajar di kampus. Ini ditunjang dengan kebijaksanaan kampus yg menyediakan banyak sekali ruangan2 utk belajar. Satu ruangan biasanya digunakan 5-10 mhs dan setiap mhs udah punya kursi dan meja yg tetap (ditambah dng koneksi internet di setiap meja). Dan di ruangan2 tsb ada peraturan tidak tertulis utk ‘keep quite’. Kalo ingin berdiskusi masih ada ruangan2 lain yg khusus utk berdiskusi.
Mungkin semangat utk perlu menggunakan waktu dgn efektif perlu ditumbuhkan (mudah2an sudah seperti itu) di lingkungan kampus ITB.
And ada satu hal lagi mengenai penggunaan slide utk mengajar. Saya pernah menanyakan ke banyak mhs di tempat saya mengajar apakah mereka senang dengan penggunaan slide. Jawaban yg saya denger cukup mengejutkan saya juga. Ternyata mhs2 lebih suka kalo dosen itu menulis langsung di papan tulis. Alasannya kalo dosen menggunakan slide, para mhs cenderung lebih cepat bosan. Sementara penulisan di papan tulis lebih dirasakan bersifat interaktif.
Tapi ini di negara A loh. Enggak tahu apakah mhs2 ITB juga berpendapat yg sama…….
Best,
perantau
Bapak Budi,
saya salah satu orang yang pernah merasakan menjadi mahasiswa ITB. Keluhan yang paling saya rasakan adalah masalah kesediaan tempat untuk belajar mandiri di kampus. Kampus ITB dapat dikatakan sebagai sebuah tempat belajar yang sangat kondusif, hanya saja begitu banyak aturan yang mengekang mahasiswa. Bagaimana mahasiswa bisa maju, jika fasilitas sekedar ‘pas pasan’. Contohnya adalah perpustakaan, yang ditutup pada pukul 9 malam ( kadangkala pukul 08.30 malam, jika hanya ada beberapa mahasiswa di dalam.. parah..)
Bila membandingkan dengan NTU, yang (katanya) perpustakaan saja benar2 menjadi tempat favourite mahasiswa (dimana mahasiswa bisa belajar dari pagi hingga pagi lagi) saya jadi iri..
Apa tidak ada fasilitas ruang belajar yang benar2 disediakan untuk mahasiswa di ITB..
Mending kalau sampe jam sembilan malam. tempat saya cuma sampe jam setengah delapan pak adam. itu pun jam 7 lebih 10 biasanya udah tutup paling baik jam 7 lebih 20. Kalau lab komputer gimana ? ada yang mau sharing? ditempat saya buka dari jam 8 pagi sampe jam 8 malem, potong istirahat 2x pas dzuhur sama maghrib. dan BUKA FULL. ya kadang-kadang telat lima menit sih….tapi kalau tutup selalu ontime atau malah lebih sering lebih dari waktu tutup sampe lima atau sepuluh menit.
Ada dua jenis dosen/guru pintar yang saya tahu :
1. Dosen yang pintar dalam arti luas ilmunya;
2. Dosen yang pintar membagi ilmunya.
Yang kedua ini yang jarang.
Atau ada yang salah dalam cara belajar siswa dalam pengertian siswa tersebut tidak tahu gaya belajarnya apa.
Saya salah satu mahasiswa yang diajar oleh bapak budi ini pada semester ini. Ironis memang, sesaat sebelumnya saya baru saja lulus pelatihan C++ dari comlabs dengan grade A, eh ternyata kuliah resmi dari ITB-nya justru mendapat nilai C. Tapi itulah kenyataan yang memang harus setiap mahasiswa terima, saat ini hanya dapat diukur dari sisi yang sebagian saja.
Dilihat dari segi ilmu yang ditransfer saya rasa cukup untuk kami semua, namun permasalahan mungkin dapat dilihat dari segi ujian dan cara penyampaian kuliah yang mungkin tidak semua mahasiswa dapat mengikutinya dengan baik.
1) Dilihat dari segi cara penyampaian kuliah
Tidak semua mahasiswa senang dengan cara pengajaran hampir satu arah, dengan arti dosen hanya menerangkan suatu bahan kuliah di depan kelas dan kemudian memberikan feedback kepada mahasiswanya apa ada yang mempunyai pertanyaan atau tidak. Saat diberikan kesempatan untuk bertanya dan tidak ada yang menyahut itu tidak berarti mahasiswa itu mengerti dengan bahan kuliah, sebagai mahasiswa saya kira itu karena mahasiswa sama sekali tidak mengerti materi yang diajarkan saat itu sehingga tidak tahu apa yang akan ditanya.
Satu saran saya, mahasiswa sebaiknya lebih dilibatkan dalam proses pengajaran. Dalam arti mahasiswa sering diajak untuk maju kedepan memecahkan masalah tertentu. Hal ini akan membangkitkan motivasi mahasiswa untuk belajar dan berfikir.
2) Dilihat dari segi ujian
Ujian kuliah pak budi tahun ini memang 2tingkat lebih sulit dari tahun sebelumnya (pandangan saya). Entah kenapa maksudnya, apa mungkin bertujuan untuk memotivasi mahasiswa untuk belajar keras? soal-soalnya banyak yang menjebak dan membutuhkan pengetahuan tingkat lanjut yang tidak semua mahasiswa memahaminya.
Dilihat dari teknis ujian yang hanya berupa essay itu juga kurang tepat. Saya belum pernah melihat programmer yang langsung dapat membuat program dengan sangat baik tanpa melihat referensi dan tidak pernah melakukan percobaan compile???
3) Dilihat dari segi mahasiswa
Mungkin konsentrasi mahasiswa terpecah belah dengan kuliah atau kegiatan lainnya. Mahasiswa kurang memperhatikan kuliah juga dapat menjadi penyebabnya.
Hal-hal diatas hanya pandangan dari diri saya pribadi. Kita tidak dapat mencari kambing hitam dari permasalahn ini. Semua permasalahan harus dilihat dari berbagai sisi dan berbagai faktor.
Pak budi tetap menjadi dosen favorit saya dalam cara pengajaran dan mood untuk mengajar.. Terima kasih pak atas segalanya..
Saya termasuk mahasiswa Bapak semester ini.Cukup kaget juga sih melihat statistik nilai.Padahal Pak Budi termasuk dosen favorit anak-anak lho kalau saya lihat-lihat.Tak tahu lagi setelah melihat statistik nilai sekarang(maaf,bercanda,Pak ^_^).Namun,saya rasa sih tidak berubah.Dari segi pengajaran,Pak Budi memang beda.Di semester ini,hanya mata kuliah Pak Budi yang membuat saya “menyesal” kalau tidak datang.Saya senang dengan cara mengajar Bapak yang cenderung santai(terlihat dari cara Pak Budi berpakaian^_^) dan sarat dengan cerita-cerita dan pengalaman.Itulah yang sebenarnya saya inginkan di dunia perkuliahan.Tidak hanya teori-teori saja,namun penjelasan tentang dunia “luar” sana.Bagaimana aplikasi programming di dunia nyata.Gimana cerita orang-orang sukses.Setidaknya itu lebih memotivasi saya,dan mungkin juga temen yang lain,untuk lebih semangat dalam belajar/ngoprek.
Hanya saja kami sebagai mahasiswa,wajar kan pak kalau kadang malas belajar.Padahal,riskan sekali untuk MK seperti programming,kalau tidak banyak latihan tentu saja tidak bisa-bisa.Itu masalahnya.Menurut saya,dalam MK ini diperlukan praktek nyatanya,seperti praktikum,walaupun saya sudah tau jawabnya bahwa kita kekurangan resource untuk itu.Kalau pemberian tugas-tugas saja,tidak menjamin bahwa mahasiswa mengerjakan.Kalaupun mengerjakan,tak menjamin mereka mengerjakan sendiri.Maka dari itu,diperlukan cara yang lebih efektif untuk “menyuruh” kami belajar pak ^_^
Dari segi dosen dan pengajaran,menurut saya tak ada yang salah dengan Pak Budi.Yang bisa disalahkan sebenarnya ya mungkin kami-kami ini,para mahasiswa.Perlu lebih motivasi,Pak.Karena menurut saya,raw material mahasiswa Elektro,kalau boleh narsis sedikit,secara umum bagus-bagus.Cuman kadang,semangat belajar dan ngoprek kami-kami ini menurun atau hilang.Kadang juga karena ada terlalu banyak kegiatan di unit atau himpunan yang harus diikuti(bukankah Bapak juga menyarankan bahwa kami tidak boleh belajar saja namun main-main juga ^_^).Sedikit tambahan,dari segi penyampaian materi,proporsi antara slide dan penulisan di papan lebih diseimbangkan.Saya setuju bahwa Slide tidak secara efektif menarik minat kami sebagai mahasiswa untuk memperhatikan kuliah.
Dari segi materi,tak ada yang perlu diributkan.Kita diajari mulai dari nol dan materi juga tidak terlalu berat karena hanya bersifat dasar,seperti nama MK-nya,Dasar Pemrograman Berorientasi Obyek.Kalaupun ada masalah,mungkin datang dari segi waktu.
Sekian saja pendapat saya.Semoga Pak Budi tetap mempertahankan cara mengajar yang santai dan sering bagi-bagi cerita dan pengalaman kepada mahasiswa.Dan juga untuk memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk nonton film di kelas ^_^
Saya salah satu mahasiswa Pak Budi semester ini yang mendapat nilai D dan akan mengulang di semester IV (smoga bertemu Pak Budi lagi ^-^)
sebenarnya cara mengajar Pak Budi memang saya rasa sudah diusahakan semaksimal mungkin menarik minat mahasiswa,bahkan Pak Budi sangat memperhatikan masalah ini..terlihat dari beberapa kali Pak Budi membahas masalah ini di millis juga di kelas,lalu mengikuti beberapa saran yang ada di millis sampai dengan sesekali mengganti cara mengajar dan pernah mencoba belajar outdoor..Pak Budi adalah satu dari sedikit dosen yang memperhatikan mahasiswanya (esp. minat mahasiswanya buat belajar),tetap seperti itu Pak..
kendala yang saya rasakan di semester ini adalah benar banyaknya kegiatan unit yang dikerjakan sore hari ditambah kuliah2 di pagi hari,belum lagi tugas2 yg diberikan di berbagai kuliah,hingga ujian2 ataupun kuis2 yg sering diberikan beberapa dosen..ini benar2 menguras tenaga (stamina) dan pikiran mahasiswa..(jangan lupa,mahasiswa juga punya masalah2 pribadi yang kadang2 rumit dan sangat menyita pikiran!)
ini mungkin membuat daya tahan tubuh mahasiswa (tidak tahu mahasiswa yang lain,yang jelas ini terjadi pada saya) menurun dan sering terserang sakit,yang walaupun termasuk penyakit ringan namun dapat membuat seorang Iin tidak mampu menghadiri kuliah,minimal kuliah2 pagi..dan hanya bisa mengejar dengan membaca text book sendiri di kost..sudah menjadi rahasia umum bahwa dengan membaca text book,mahasiswa hanya mampu menyerap sekitar 5% dari materi tersebut!
bahkan kadang2 mahasiswa perlu pulang malam,sesampainya di kost masih harus melanjutkan bikin tugas lagi sampai skitar jam 2-3 pagi dan hanya punya waktu untuk tidur sekitar 3-4 jam (kadang malah tidak punya waktu tidur sama sekali)..ini membuat mahasiswa jadi ketiduran ataupun malas untuk bangun dan masuk kuliah jadwal pertama (jam7-9 pagi),mahasiswa hanya akan menitipkan absen pada temannya untuk mengatasi masalah absensi..
kalaupun mahasiswa itu hadir di ruang kuliah..yang akan terjadi adalah mereka datang untuk absen lalu tidur dan tidak mendapatkan materi apa2..(sering kan melihat mahasiswa tidur di kelas?)
beberapa kali itulah yang saya alami di semester III ini sampai2 beberapa nilai saya hancur..(1 D dan 1 E) namun saya tidak pernah bolos kuliah DasPro kok,Pak..tapi sakit sih sering..benar2 terasa daya tahan tubuh menurun banget! apakah ada pemecahan untuk masalah ini?
thx
Tahun lalu saya jadi mahasiswa di kelas bapa dengan mata kuliah yang sama malahan sampai hari ini saya masih dapat mail dari milis kuliahnya meski kuliahnya sudah lulus (tp gpp koq?!). Alhamdulillah nilai dari mata kuliah itu “baik-baik” saja. Kelas saya yang dulu juga tidak “bermasalah” dalam hal nilai.
Yang saya liat sekarang adalah kejadian statistik yang kurang baik tidak hanya terjadi di kelas bapa (untuk angkatan yang sama), tapi dikelas EL yang lain juga. Allahualam sebenarnya permasalahan ada dimana, tapi hal ini memang harus jadi evaluasi bersama agar tidak berulang di semester2 berikutnya.
Terima kasih lho pa.. saya merasa bapa sangat perhatian dengan mahasiswa, kayanya dosen kaya bapa udah jadi “barang langka”. Semoga saja setiap orang terpacu untuk menjadi lebih baik….
Saya adalah salah satu mahasiswa bapak semester ini. Kemaren saya dapat nilai C. Namun, setelah dievaluasi tetep aja ga berubah jadi B..hehe. Saya tahu nilai UAS saya jelek, soalnya saya gak bisa..(^_^!).
Tapi,klo ada ujian praktek saya yakin saya mendapat nilai A. Bukannya ke-PD-an lho pak..Karena ketika UAS tertulis, saya banyak yang lupa.
Menurut saya untuk menjadi programmer, yang diperlukan adalah logika kita untuk menyelesaikan suatu permasalahan..(Maaf ya, klo sok tau..)jadi klo lupa, ya tinggal buka buku aja.. n_n
Sedangkan ketika UAS, saya bingung harus gimana? Heu9x..saya menjadi tidak fokus sampai2 badan saya pegal..
Tapi nilai C bukan halangan saya untuk belajar pemrograman, padahal ketika libur semester genap yang lalu, saya membeli berbagai buku C++ (klo dijumlah..jumlahnya kurang lebih ada 10 lho.. ), itu pun belum termasuk e-book yang saya download dari berbagai situs..bila dibanding teman2 saya yang hanya memenuhi kewajiban untuk belajar Daspro, saya sangat menyukai pelajaran EL2001. Namun,nasib berkata lain..
Kok jadi Curhat ya pak? Hehehe. Maaf2..!
Liburan ini juga saya lagi belajar yang bahasa yang lain Pak..(mudah2an bpk bisa bantu..)Karena saya memang bercita-cita menjadi seorang programmer.
Saat ini saya lagi ngulik perl..beberapa waktu lalu saya sempet belajar lua dan php. Untuk Java (sesuai saran bapak..), saya belum sempet pak.. saya masih trauma dengan OOP..heu9x..
Satu lagi Pak..saya senang sekali kuliah dengan Bapak. Karena menurut teman saya, lucky kosasih (Mahasiswa yang sedang TA dengan bapak.. n_n’), Bapak adalah dosen yang paling bagus..mudah-mudahan saya dapat bertemu lagi dengan bapak..
Thanks! Wassalam..
Salam,
Saya adalah salah satu kakak dari mahasiswa yang mengikuti kuliah Anda. Berikut kesan-kesan saya saat melihat adik saya pertama kali belajar programming.
Saya ingat sekali saat itu awal-awal perkuliahan, tiba-tiba dia minta diajarkan mengenai dasar pemrograman. Karena saat itu saya baru lulus dan baru masuk kerja, saya tidak punya banyak waktu akhirnya saya berikan banyak ebook soal pemrograman, dari awal cara memrogram yang baik hingga logika pemrogramannya. Saya sempat bingung saat itu. Mengapa tugas sudah diberikan tapi apa pemrograman itu sendiri dia tidak mengerti. Bahkan tools nya pun dia tidak tahu. Alhasil selama beberapa minggu awal semeseter itu dia sering memrogram di kamar saya (saya jadi terusir).
Mungkin….ini hanya mungkin Pak. Apakah kurikulum untuk pemrograman ini terlalu banyak materinya sehingga…kalau saya lihat…sepertinya mahasiswa ini harus kejar-kejaran belajarnya. Kalau boleh saya usul, apa bisa untuk mata pelajaran ini dibagi menjadi dua semester?
Usul saya lagi, kalau memang usul pertama tidak bisa, mungkin Anda bisa membuat semacam yah tutorial singkatlah. Mulai dari sejarah C, blablabla, hingga akhirnya beberapa contoh kasus dan penyelesaiannya. Berikan mahasiswa waktu satu minggu untuk menyelesaikan tutorial itu dan kemudian Anda bisa leluasa memberikan tugas tanpa ada mahasiswa yang bertanya “Pak, kapan kita pake for, while, do while,…?” dan pertanyaan sejenisnya. (jadi inget Bu Inge)
Sedikit pengalaman saya. Saya pernah menjadi asisten saat kuliah. Menurut saya satu hal yang membuat nilai mahasiswa itu jelek adalah mahasiswa itu sendiri. Kalau saya baca komentar di atas, ada yang menyalahkan cara pengajaran dosen, mungkin ada benarnya juga. Tapi harus dilihat juga, ternyata masih ada kan mahasiswa yang mendapat nilai A…jadi bukannya tidak mungkin untuk mendapat nilai A juga. Semua itu tergantung pada diri mahasiwanya sendiri. Kalau sudah tahu mata kuliah itu susah yah jangan disikapi dengan stress…ko aneh sekali…bukannya belajar malah stress. Mahasiswa-mahasiswa yang saya pernah asisteni pun sepertinya makin tahun makin merosot semangatnya. Banyak yang malas-malas, banyak yang lari dari kuliah malah melakukan hal-hal lain, banyak yang mulai cari kesibukan sendiri. Memang tidak semua sih, yang pintar dan rajin masih tetap ada hanya persentasenya tetap.
Jadi…tetap semangat Pak! semoga dunia pendidikan kita makin maju…
Terima kasih atas komentar-komentarnya. Keep them coming.
Ada beberapa hal yang perlu saya tanggapi. Ini bukan untuk pembelaan, akan tetapi lebih ke arah mencari solusi, cara-cara yang lebih baik.
Masalah pemrograman di Teknik Elektro (atau bidang engineering lainnya) berbeda dengan di Computer Science. Yang paling utama adalah … kami tidak punya waktu banyak. Secara resmi, ini adalah satu-satunya kuliah formal yang akan diterima oleh mahasiswa Elektro. Selebihnya kami (Anda dan saya – orang Elektro) terpaksa harus belajar sendiri. Ini adalah masalah engineering secara umum. Kami tidak punya waktu untuk mempelajari teori-teori di belakangnya (seperti matematika diskrit) dan detail (seperti data structure) secara spesifik. In due time we will learn them, though..
Saya kutipkan sebuah kalimat dari buku “Concepts in Engineering” (karangan Holtzapple dan Reece):
Demikianlah. Itulah sebabnya mahasiswa sengaja saya “tekan” dengan kondisi seperti yang akan mereka hadapi di luar nanti. Menjadi engineer memang tidak mudah. Jika menyerah dengan tantangan di kuliah, bagaimana nantinya setelah lulus? Bagaimana jika diberi tanggung-jawab untuk membuat alat yang akan dikirimkan ke Jupiter? Tidak ada buku “how to design circuits (or software) for Jupiter.” ha ha ha.
Ayo … komentar-komentar lainnya.
Saya tidak sempat mencicipi kuliah di Elektro
. Dasar saya di Informatika dan buat saya yang paling berperan dalam karir saya adalah ajaran dari Bu Inggriani (pak Budi pasti kenal beliau).
Terus terang cara pengajaran bu Inge mirip dengan pak Budi, kalau saya tidak salah tangkap dari Rizuki:
Dilihat dari teknis ujian yang hanya berupa essay itu juga kurang tepat. Saya belum pernah melihat programmer yang langsung dapat membuat program dengan sangat baik tanpa melihat referensi dan tidak pernah melakukan percobaan compile???
Ujian dengan beliau juga tidak mengenal percobaan kompilasi. Lah gimana bisa dikompilasi, karena awalnya kami hanya pakai bahasa algoritmis, bahasa buatan beliau sendiri. Dan tentu saja tidak perlu referensi, masak struktur perulangan, perandaian dan prosedur masih harus lihat referensi saat memprogram. Bisa berapa lama ujian baru selesai.
Bahkan seandainya sudah masuk ujian yang menggunakan bahasa yang sebenarnya pun, dan program yang ditulis terbukti benar di komputer pun, bisa jadi kita dapat nilai 0 kalo menggunakan goto, atau kalau kode tidak dikomentari, atau jika program tidak diindentasi dengan baik, atau sekuensial dibuat kotor, atau jika satu fungsi ada 2 return dsb.
Menurut saya, dasar yang diberikan beliau sangat masuk buat saya, dan sampai sekarang saya masih kasihan kalau suatu saat nanti anak2 informatika tidak kebagian diajar beliau.
Intinya, programmer bukan hanya ttg menghasilkan program yang menghasilkan output yang benar. Mungkin itu juga maksud pak Budi…
Ikut menanggapi Pak. Saya juga tidak pernah kuliah di Elektro tapi saya mendapatkan pengajaran dari Bu Inge. Setahu saya Pak, Bu Inge dalam mengajar kami gak beda jauh dengan gaya pengajaran Bapak (paling enggak dari yang saya baca sepanjang halaman ini). Beliau mengajarkan dasar2nya (seperti diceritakan nanda di atas, temen satu angkatan dan satu jurusan ^_^) dan lebih menekankan pemrograman kepada logika membuat solusi. Menurut saya, saya termasuk mediocre dalam memahami kuliah Pemrograman, Struktur Data dkk. Karena saya hanya mendapat C. Kayaknya masuk dalam kelompok yang Bapak sedihkan ^^. Namun pak, setelah agak lama memprogram tugas2 lainnya, akhirnya semua menjadi lancar. Jadi menurut saya, peran jam terbang memprogram bagi mahasiswa adalah salah satu titik berat dalam persoalan ini.
Keep struggle Pak!!
Ada kabar baik mengenai hasil ujian ini. Ternyata saya melakukan kesalahan perhitungan sehingga beberapa mahasiswa (yang nilainya di perbatasan) harus berubah nilainya (menjadi naik, lebih baik). Ada lebih dari 20 mahasiswa yang berubah nilainya. Tentu saja statistiknya menjadi berubah, menjadi lebih baik.
Phew …
seandainya dosen saya Pak Budi..
Wah nemu blog yang senada (dari seorang dosen yang juga nampaknya lulusan ITB):
http://ery.djunaedy.com/archives/42
Guru dan murid sama2x manusia. Banyak kekurangan dan kesalahan.
Bagi saya guru adalah seseorang yang LEBIH DULU tahu. Bisa jadi yang murid besok menjadi guru.
Marilah saling menilai diri sendiri. Tak bisa hanya disalahkan satu pihak saja.
Thanks