Sedang asyik-asyiknya saya meneliti mengenai kota Bandung (dalam rangka Bandung High Tech Valley – BHTV), saya menemukan fakta yang menarik. Dalam satu dasa warsa ada teknologi yang menonjol di Indonesia.
Pada tahun 1970-an, satelit Palapa merupakan sebuah karya teknologi yang dahsyat. Indonesia merupakan negara Asia pertama (?) yang memiliki satelit. Perusahaan yang menelorkan layanan satelit ini adalah Radio Frequency Communication (RFC) yang didirikan di Bandung. Sayangnya perusahaan ini kemudian tutup, meskipun "melahirkan" perusahaan-perusahaan lainnya.
Di tahun 80-an, kembali ada teknologi yang menjadi kebanggaan Indonesia yaitu teknologi pesawat terbang. Tidak banyak negara di dunia yang mampu menghasilkan pesawat. Kembali, perusahaan yang mendukung industri pesawat – IPTN – didirikan di Bandung. Kembali perusahaan ini juga bermasalah. (Ada juga spin off dari IPTN ini.)
Kedua disturbing technologies tersebut muncul dan kemudian digunakan di Indonesia kerena sering dikaitkan dengan masalah politik dan kestabilan negara. Masih ingat Wawasan Nusantara? Teknologi ini tidak hanya dimiliki oleh para engineers atau pelaku bisnis saja, akan tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh Pemerintah dan Militer. Maka, semua orang di Indonesia menginginkan teknologi tersebut.
Ada sesuatu di Bandung yang membuat kreativitas teknologi ini mampu muncul. Perlu diingat bahwa skala dari impak teknologi yang dihasilkan tersebut tidak hanya bersifat nasional tapi regional dan mendunia. Hal ini membuat saya semakin yakin bahwa di Indonesia the place for technology is Bandung!
Sayangnya tahun 90-an tidak muncul teknologi karya Bandung. (Mungkin Internet dapat dikategorikan muncul di tahun ini. Akan tetapi hasil karya Internet Bandung tidak muncul dalam skala nasional maupun regional.) Tahun 2000-an apa yang muncul? Mari kita nantikan.


Juni 13th, 2006 at 8:10 am
pak budi, cerita lebih banyak lagi dong tentang RFC. Tadinya saya kira ini Request For Comments
Btw, Senior Engineer RFC dan Nurtanio sekarang banyak kemana ya ?
-carlos
Juni 13th, 2006 at 8:32 am
mas budi.., RFC itu yang dulunya di dago itu kan ya mas? daerah dago bengkok..?
Juni 13th, 2006 at 8:45 am
iya..tapi duitnya semua berada di Jakarta
ayo dong pak.. bikin teroboson teknologi baru
Juni 13th, 2006 at 11:29 am
*juwal kontent kampus*
Juni 13th, 2006 at 12:14 pm
i agree that bandung is a technological town. what it lacks, however, is the link to industry with massive capital. the link is not necessarily geographical, but more institutional. i think what bandung needs to become a place for technological innovation is unique capital resources that allow brilliant ideas resulting from many technical schools in bandung to be realized in industrial process.
Juni 13th, 2006 at 1:56 pm
tahun 2000-an ini mungkin teknologi “penghilang” sampah yang akan muncul di Bandung Pak… hehehe…
Juni 13th, 2006 at 4:43 pm
ya iyalah pak, bandung kota teknologi.. lah orang-orang pinter pada ngabur kesana semua.. ;-p
btw ada cerita menarik di blognya guy kawasaki mengenai how to kick silicon valley’s butt . Sori kalo udah tau..
Juni 13th, 2006 at 7:21 pm
Setahu saya, salah satu senior RFC yang saya kenal adalah dosen elektro sendiri. Namanya IR.HERMAN YUDHA WISASTRA. Dahulu beliau mengajar mata kuliah MEDAN ELEKTROMAGNETIK I & II, plus mata kuliah ANTENA untuk sub bidang telekomunikasi. Saya golongkan beliau ini ke dalam kategori “dosen praktek”. Artinya dia benar-benar mempraktekan ilmunya, tidak sekedar “dosen teori”.
Jika pak Budi memiliki mimpi untuk mewujudkan BHTV, salah satu usulan dari saya adalah mendata para “dosen praktek” ini untuk kemudian diberi tantangan membuat produk bernilai teknologi tinggi dan bisa dijual. Saya yakin investor akan lebih tertarik untuk mendanai riset yang berorientasi produk dan bisa dijual ketimbang riset diatas kertas.
Satu hal lagi yang perlu dicari adalah orang-orang besar dengan VISI yang besar yang sanggup mengarahkan para “dosen praktek” tadi. Pak Budi sudah punya visi yang besar, tapi mohon maaf, saya pikir belum cukup besar untuk bisa menundukan para “dosen praktek” ini. Sekaliber siapa sih orang-orang besar ini? Yah, kalau bisa sekaliber Habibie (terakhir saya dengar habibie mengumpulkan bekas anak didiknya di rumahnya di jerman untuk membicarakan mengenai IPTN. Saya dengar yang datang banyak sekali)
Jika akses ke Habibie belum ada, mungkin bisa dimulai dengan ke bekas dosen elektro. Namanya Prof.ISKANDAR ALISYAHBANA. Beliau ini adalah dedengkot dari RFC. Sayang sekali saya tidak pernah diajar secara langsung oleh beliau. Tapi yang saya ingat sampai sekarang adalah salah satu tulisan beliau yang dimuat dalam sebuah buku dalam rangka memperingati ulang tahun ITB (awal 90-an). Saya lupa ulang tahun yang keberapa dan juga lupa judul bukunya, tapi buku itu merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang besar mengenai berbagai topik. Tulisan dari Daoed Jusuf juga ada dibuku ini.
Didalam buku itu Pak ISKANDAR ALISYAHBANA menulis mengenai nano-teknologi. Seingat saya, waktu itu di Indonesia belum ada orang yang bicara secara luas mengenai nanoteknologi ini. Beliau mengatakan bahwa pada era nanoteknologi nanti, yang menjadi mesin-mesin produksi adalah partikel-partikel kecil yang berukuran nano (10 pangkat -9) untuk menghasilkan organ mahluk hidup. Waktu itu saya cuma bisa membayangkan saja. Tapi ternyata sekarang memang sudah ada orang yang bisa membuat daun telinga manusia yang ditumbuhkan (diproduksi) pada badan seekor tikus. Bayangkan, seorang profesor elektro menulis VISI mengenai bioteknologi.
Juni 13th, 2006 at 11:34 pm
#7: bagus artikel guy kawasakinya, kemaren2 sempet ketemu mereka ini waktu ada acara TieCon Indus Enterpreneur di Santa Clara.
Btw, something that i like the most from the article:
## Send the best and brightest to Silicon Valley.
..this is what i keep telling people
for 20-something-young-creative-supersmart , just go to Silicon Valley and nowhere else. Just focus on technical side and see the resuls after few years.
Juni 14th, 2006 at 3:28 pm
berarti kudu nunggu dulu ya Pak agar bisa make julukan kota teknologi lagi ya pak?
mungkin untuk sementara ini, bareng Bekasi kita pake sebutan Bandung Kota Metropolitan Terkotor dulu kali.
salam hormat pak =)
Juli 7th, 2009 at 7:34 pm
Bandung memang “tos tidituna” dilahirkan oleh Tuhan YME untuk menjadi tempat orang berkreasi. Bandung sebagai ibukota Parahyangan digambarkan MAW Brouwer, psikiater kondang (alm) dibuat ketika Tuhan sedang tersenyum.
Sekarang Bandung tidak hanya kenal sebagai kota teknologi tetapi juga sebagai kota industri kreatif. Dan yang membanggakan para pelakunya adalah generasi muda Indonesia.
Maret 3rd, 2011 at 8:12 am
RFC is awesome creature thing! bayangkan 100 sbk, puluhan microwave link, ratusan radio rimba, ratusan radio mobil bahkan that the golden product ! membuat rudal anti pesawat udara un manned lagi… satu satunya di asia tenggara saat itu, dan puluhan jenis rekayasa elektronik yang telah dikembangkan dan semua karya anak bangsa tapi tahukah teman semua berkat prof dr Iskandar Alisyahbana itu loh yang menjadi rektor itb terpendek (cuma 2 th) akibat mengapresiasi para mahasiswanya mengkritisi pemerintahan soeharto saat itu,_ beliau saat itu menpopulerkan bahwa technopreunueur itu dapat membuat kita kaya dannn….menjadi dosen atau guru (yang saat itu bergaji kecil) dapat menjadi kaya dengan mengaplikasikan skill mereka kedalam dunia technopreneur tsb! dan beliau membuktikannya dengan membuat rfc ini jadi era emas rfc ini hanya dari era 70an sampai 80an, setelah itu berangsur meredup, karena para bidannya pindahan rumah sakit, tatkala itu sedang ramainya ratelindo( sekarang bakrie telekom kali yaa…atau esia..) sayang memang rfc itu ibarat sekolahannya para engineer tak ada istilah pelit ilmu! semua para employeenya saling share, saling support mangkanya para jebolan rfc akan mendapat tempat yang layak disisi pengusaha wong sangking skillable semua kokh..well indonesia perlu 10 atau 1000 rfc agar dapat mempercepat pengayaan teknologynya atau pengayaan rupiahnya ????????? saya menunggu