Kuliah Konsep Teknologi sudah selesai. Ada beberapa catatan pelajaran yang dapat diperoleh (lessons learned) dari mengajar kuliah ini.

Dalam kuliah ini mahasiswa harus menggunakan tiga buah buku; buku tugas individu, buku tugas kelompok, dan buku diary (yang tentunya personal). Idenya adalah mengenalkan mahasiswa dengan konsep logbook.
Ternyata dalam implementasinya penggunaan buku ini kurang efektif. Sebagai contoh ada banyak buku yang hanya diisi dua halaman saja. Sayang juga. Nampaknya buku ini harus dikembalikan agar bisa digunakan sisanya. Pada kuliah yang akan datang mungkin saya akan mengusulkan agar mahasiswa menggunakan media elektronik seperti blog saja. Penyebab tidak efektifnya penggunaan buku ini mungkin karena mahasiswa masih bingung cara menggunakan logbook ini (dan dosen masih ragu-ragu dengan instruksinya). Selain itu bagi saya repot untuk mengelola buku ini. Ada lebih dari 50 mahasiswa di kelas saya. Bayangkan betapa beratnya bawaan saya begitu mereka mengumpulkan bukunya. (Apalagi ketika ketiga buku diserahkan bersama-sama.)
Membaca buku tugas mereka cukup melelahkan juga. Sekarang sudah lewat tengah malam dan saya baru saja selesai membaca buku diary mereka. Ada yang bagus, tapi sebagian besar masih ragu-ragu (malu-malu) dalam menuliskan diary atau logbook. Ada juga yang seru ceritanya. (Anyway, your secrets are safe with me.)
Cara pengajaran kuliah Kontek kali ini agak berbeda dari tahun sebelumnya dimana ada beberapa eksperimen, yang mirip seperti accelerated learning. Selain itu kami juga menghadirkan tamu-tamu yang bisa memotivasi mereka. Tamu ini biasanya adalah entrepreneur, untuk melihat sisi lain dari teknologi. (Lihat "komik"nya di situs web kuliah.) Kami ingin mereka menjadi engineers sejati, bukan sekedar lulus dari ITB saja. Sayang sekali kuliah sudah selesai dan saya tidak tahu bagaimana cara memantau mereka. (Saya sudah mengusulkan agar angkatan ini dipantau dan dilihat apakah ada efek dari kuliah Kontek ini.)
[Tambahan] Dari hasil Ujian Akhir Semester (UAS) ada beberapa temuan menarik. Salah satu instruksi dari UAS ini adalah untuk menuliskan sebuah pernyataan di kertas jawaban yang intinya adalah menyatakan bahwa yang bersangkutan tidak nyontek (atau memberikan sontekan). Ternyata ada banyak yang tidak mematuhi instruksi sederhana ini. Mungkin dikiranya ini tidak penting? Bagi yang tidak mematuhi instruksi ini nilainya saya potong 10 (yaitu sama dengan nilai 1 soal – ada 10 soal di UAS). Jika Anda mengira ini sadis, ada dosen lain yang tidak mau menilai jika mahasiswa tidak mau menuliskan pernyataan tersebut.
Pelajaran yang ingin diberikan dari instruksi sederhana ini adalah:
- Apakah mahasiswa dapat mematuhi instruksi? (Di kemudian hari seorang engineer harus dapat mengikuti instruksi. Jika instruksi sederhana ini diabaikan, bagaimana dengan instruksi yang lebih sukar? Padahal ada banyak hal yang harus dipatuhi ketika seorang engineer bekerja di lapangan. Misalnya, ada instruksi untuk menjaga keamanan ketika bekerja di lapangan.)
- Apakah mahasiswa mau membuat pernyataan tersebut? (Di kemudian hari seorang engineer harus bersumpah bahwa dia tidak menerima sogokan. Ada kode etik yang harus dijaga.)
Koleksi hal-hal yang terkait dengan kuliah ini ada di
http://budi.insan.co.id/courses/kontek


Juni 15th, 2006 at 1:09 am
iya pak lebih baik pakai blog.. biar ilmunya juga mengalir ke luar ITB..
Juni 15th, 2006 at 11:43 am
Jadi inget pelajaran Effective Learning di tempat kuliah saya.
Pas UTS dan UAS, disuruh bikin portfolio tentang mata kuliah tertentu. Kalau portfolio tipe2 kreatif dengan content sesuai, biasanya dapat nilai tinggi.
Juni 17th, 2006 at 2:16 pm
Wah..Pak Budi ternyata menyuruh mahasiswanya memiliki buku diary/logbook juga. Saya belajar ini dari seorang dosen di IKIP dan saya terapkan pada mahasiswa saya dulu di Mercu Buana. Hasilnya menarik sekali dan mahasiswa jadi lebih akrab dengan saya selain saya jadi tahu permasalahan mereka yang jarang bisa kelihatan kalau di kelas, walau benar.. ada beberapa yang nampak reluctant.. hehe Can’t get them all..
Sayang beberapa rekan dosen terkesan tidak suka bahkan ada yang terang-terangan mengkritik metode itu sebagai tidak edukatif.. Whatever..
Anyway, menggunakan blog merupakan ide yang menarik juga pak.. Thanks for the tip. Kapan-kapan saya mau coba ah. (Yeah right..Like I would get another shot at teaching.. hehehehehe…) Bener2 kangen ngajar lagi..
Juni 20th, 2006 at 9:24 am
Wah.. knapa bapak gak ngajar kontek waktu angkatan saya ya? Asyk tuh kalo pake blog. Jadi orang luar itebeh bisa mengenal kita lebih jauh
Juni 24th, 2006 at 9:24 pm
Pak Budi maksudnya buku log agar mahasiswa belajar cara membuat catatan yang baik kan? Membuat catatan yang readable dan bisa dimengerti orang lain, tidak mudah. Jadi kalau sampai kosong, kemungkinannya (1)malas (2)belum pandai menulis (3)tidak tahu apa yang mau ditulis..
Pakai blog boleh juga tetapi dari pengalaman yang lalu, dari 200 mahasiswa tidak semua mendaftar di milis, dan hanya sekitar 35 saja yang rajin membuka dan aktif bertanya.Harus dipaksa?
Masalah budaya nyontek, katanya mahasiswa sudah berikrar dengan suara keras berjanji akan menjunjung tinggi kode etik Engineer! Kalau masih nyontek juga sepantasnya tidak lulus… masih bagus nlainya dipotong 10. Baru masuk ITB saja sudah tidak jujur kepada diri sendiri. Wah beginikah sikap Leader yang akan memimpin negeri ini di masa mendatang?
Juni 26th, 2006 at 10:06 am
Pak, kuliah-kuliah sostek banyak yang sudah memakai media blog. seperti kuliah PKIT, dll. dua semester lalu kelas saya malah semua tugas dan jawaban di upload di blog, dan mahasisa boleh ga datang kuliah, jadi kaya kelas cyber
.
Juli 18th, 2006 at 8:56 am
Waduuh .. hareee geeeneee … masih nulis tangan?
Ih Teh Beeh yang Cap Gajah Duduk lagieeh … ck ck ck …
:=P
nambah soal deh buat pa dosen:
apakah “kepatuhan” sejalan dengan “kreativitas”?
Cina maju karena “nyontek” tekno ..
setelah punya kemampuan cukup,
baru deh omong kreasi.
BTW, kata Buzon, sekarang tidak ada kreativitas murni.
Juli 15th, 2009 at 9:09 pm
Konsep Teknologi dan Ilmu Lingkungan adalah mata kuliah “pelopor” di ITB dan Indonesia. Pas diujicobakan untuk angkatan mahasiswa Tingkat Pertama Bersama ITB 1973, angkatan saya. ITB waktu itu menjadi “Pilot Project Pengembangan Perguruan Tinggi di Indonesia” dengan penerapan sistem kredit semester Terminal Program; Masa Matrikulasi dan TPB, Sarjana Muda, Sarjana. Total penyelesaian studi menjadi 4 tahun (tidak dihitung masa Matrikulasi). Sistem nilainya skala 0-5, A,B,C,D,E dan F. F=0 tak boleh ujian ulang; E=1 boleh ujian ulang; D=2 lulus tapi dibatasi jumlah kreditnya dan tidak di tingkat sarjana; C= 3 lulus; B= 4 lulus dan A=5 lulus. TPB dan Sarjana Muda Nilai Rata-rata harus >2,75. Sedangkan untuk tingkat Sarjana harus >3.0.
Nah mata kuliah Konsep Teknologi atau diakronimkan sebagai Kontek ini adalah yang sangat berkesan bagi hampir semua mahasiswa TPB ITB. Sistem kuliah dilakukan dengan kuliah seminar, sehingga mahasiswa aktif dengan dosennya. Diskusi-diskusi di kelas yang terdiri dari beberapa grup diskusi berlangsung hangat dengan dosen menjadi moderatornya. Tentu saja, sebelumnya para mahasiswa menyiapkan diskusi grup masing-masing.
Yang tak kalah menariknya adalah kandungan buku “Man Made World” yang menjadi buku rujukan. Bukunya sangat mahal, sehingga hanya anak-anak yang ortunya kaya saja yang mampu membelinya. Disajikan dalam bahasa Inggris yang menarik. Beberapa tahun kemudian Himpunan Mahasiswa Teknik Industri ITB menerbitkannya dalam bahasa Indonesia. Saya masih ingat bagaimana membuat model matematika dan kegunaannya untuk suatu program perencanaan. Bagaimana itu programa linier. Sistem antrian. Algoritma. Feedback.
Hebatnya ITB menurunkan tim dosen yang sangat tangguh untuk mengajar Kontek di TPB ini. Bayangkan Prof. Samaun Samadikun, Dr. Muhammadi, Dr. Kudrat Sumintapura, Prof. Samudro, Dr. Arifin Wardiman, Dr. Harsono Tarupratjeka dkk terjun langsung. Kelas TPB 2, kelas kami sendiri diajar oleh pak Harsono Tarupratjeka, yang baru menyelesaikan PhD di bidang Industrial Engineering dari Amerika Serikat.
Pokoknya berkesan banget.