Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan

Di tempat lain saya menulis bahwa saya berencana untuk membuat sebuah perusahaan start-up baru di pembuatan software (software house). Kami mencari lingkungan yang pas untuk programmer. Bagaimana pola kerja mereka? Apa kesukaan mereka? Jawaban dari pertanyaan ini akan digunakan untuk mencari tempat kerja yang paling cocok untuk mereka.

Pada awalnya ada dua alternatif jenis tempat; kantoran dan rumahan. Yang saya maksud dengan kantoran adalah bangunan yang memang didisain untuk kantor. Memang ruangannya tidak didisain khusus untuk software house. Di Bandung ada beberapa tempat perkantoran yang cukup wah, seperti misalnya di Jalan Asia Afrika.

Setelah tanya ke sana kemari dan juga melibatkan diskusi dengan beberapa kawan, saya mengambil kesimpulan bahwa sebetulnya programmer itu lebih suka bekerja di tempat yang rumahan.

Ada beberapa alasan mengapa hal ini dilakukan. Programmer sering bekerja tanpa mengenal waktu. Kalau bekerja di tempat kantoran, akan sukar bagi mereka untuk keluar dan masuk. Yang membuat mereka susah juga adalah kadang-kadang mereka terpaksa harus menginap di kantor. Ada masalah dengan kamar mandi, meletakkan alat-alat mandi (sikat gigi, sabun, dan yang paling penting handuk). Umumnya kantor tidak menyediakan fasilitas ini.

Alasan lain yang cukup populer juga di kalangan programmer adalah kesulitan cari makan. Programmer sering kesulitan untuk mencari makan. Bayangkan, jam 1 pagi sang programmer baru teringat bahwa dia belum makan malam (saking asyiknya membuat kode). Perut baru terasa lapan. Kemana mau cari makan? Kalau tinggal di lingkungan perumahan, dia bisa ke luar dan mencari makan di warung atau menunggu tukang jualan yang lewat di jalan.

Beberapa hari yang lalu saya putuskan untuk mengajak kawan melihat beberapa tempat (rumahan) yang saya maksudkan tersebut. Di Bandung, daerah yang sering dijadikan tempat untuk perusahaan start-up antara lain di Jalan Tubagus Ismail dan Sukaluyu. Pertama-tama kami mengunjungi kantor IZI (sebuah tempat konsultasi pendidikan) di Jalan Ambon. Tempatnya kelihatan kecil dari depan akan tetapi ternyata cukup luas di dalamnya. Banyak siswa yang sedang mengerjakan soal di sana, baik di kelas maupun di luar kelas. Menarik tempatnya, meskipun bukan diisi oleh programmer dari software house.

Tempat kedua yang kami kunjungi adalah markas dari Sharing Vision, yang sering menyelenggarakan training, workshop, survey, dan konsultasi di bidang IT dan telekomunikasi. Mereka sudah menyelenggarakan lebih dari 100 training untuk top management ke atas. Markas mereka yang baru di Jl. Tubagus Ismail adalah sebuah rumah biasa. Di dalamnya ada belasan orang yang sedang bekerja. Bahkan waktu kami datang ke sana sedang ada sembilan mahasiswa informatika ITB yang sedang kerja praktek. Ramai. Saya tunjukkan kepada kawan saya bahwa model beginilah yang disukai oleh programmer. Bukan kantoran.

Tempat ketiga yang kami kunjungi adalah kantor dari Elda Sarana Informatika, sebuah perusahaan yang bergerak di elektronika – lebih khusus lagi di bidang vechicle tracking. Mereka memiliki produk yang disebut ESItrack. Kantor mereka adalah sebuah rumah (2 atau 3 lantai) di daerah Sukaluyu. Ketika kami mengunjungi mereka, ada beberapa pekerja yang sedang sibuk membuat rangkaian elektronika. Lagi-lagi model rumahan ini disukai oleh mereka.

Setelah ini semua kami menyimpulkan bahwa nampaknya software house di Bandung lebih cocok dilakukan di rumahan.

Bagaimana pendapat Anda?

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

66 responses to “Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan

  • didats

    jangan lupa, cari juga yang deket sma pak budi… apalagi sma yg kebanyakan cewek2… :D
    biar bisa liat-liat getoo… hihihi… :D

  • Sirait

    menurutku yah :) programmer butuh ruang privat, dimana dia bisa ngapain sesukanya, termasuk tidur. apa benar programmer mikir di depan computer? katanya donald knuth kebanyakan dapet ide pas berenang. descartes mikir pas tidur. archimedes mikir di bath tub. tapi biasanya orang masih nganggap programmer sama kerjaannya dengan sekretaris (bukan bermaksud merendahkan sekretaris loh :p ).

    yg berikutnya kalau bisa programmer bisa hanging out sesama programmer. ini yang susah. jadi cari tempat yg dekat2 dengan software house lain. yg menarik dari programmer jaman sekarang, mereka anak gaul. :)

  • Andry

    Ya. Programmer (atau artist teknologi, begitu saya suka menyebutnya) cenderung suka suasana rumahan nutuk bekerja. Tapi bukan kerja di rumah.

    Saya setuju dengan argumen bapak, tapi ada beberapa bahayanya. Saat programmer sudah terbiasa dengan “mental model” bekerja dirumah, akhirnya pekerjaan mereka “bawa pulang” kerumah dan dikerjakan dirumah. Sepertinya sih bagus, si owner senang karena para programmer mau lembur tanpa dibayar. Tapi untuk jangka panjang, ini jadi nggak sehat. Terlalu banyak lembur, kerja dirumah + kantor, menyebabkan kualitas code turun (saya pake batas maximum 40jam/minggu).

    Kedua, karena rumahan, maka programmer mengganggap molor (atau lebih cepat) itu biasa. Yang pusing si pimpro, susah banget main estimasi. Kerja overtime memang sudah resiko, tapi kalo tidak dimanage ujung-ujungnya bisa bikin project kacau balau.

    Ketiga, kerja rumahan berbahaya bagi mood swing. Iya kalo moodnya enak, tapi kalo nggak (terkena geek’s block), wah bisa molor beneran tuh. Beda kalo kantoran, mood atau nggak mood ya harus mood.

    Yang saya lakukan dikantor (saya tidur dikantor, kantor = rumah) :

    1. Kalo coding pake pakaian kantor/rapi. Minimal kemeja. Bukannya mau style, tapi ini membantu programmer supaya ada semacam “sekat/mental model” bahwa : “ini rumah, itu kantor. Ini waktunya kerja, itu waktunya istirahat”.
    2. Pake timesheet. Saya pake Excel doank. Estimasi, curret task, dst. Sangat berguna saat ada “audit” dari orang-orang HRD.
    3. Ini sepele, tapi penting. Tempat tidur jangan dijadikan satu ruangan dengan komputer. Trust me on this. Hehe..

    Jadi intinya : programmer boleh kerja rumahan, asal punya mental model yang bagus. “Bekerja tanpa diawasi inisiatif tanpa disuruh” itu susah hlo pak ;)

  • tukangKoding

    Mas Andry got the point ..

    Yang penting suasananya kerumahan tapi tetap mental kantor . Rumahnya jg jgn sembarangan . Kalau bisa di bukit2 . Hawanya dingin dan pemandangannya hijau . Ruangnya juga kudu luas ..plenty space for programmer .

    ah ini kan masih tempat . Masih bnyk faktor lain yang bisa membuat programmer betah . Misalnya target yang menantang tapi realistik , team yang hidup , dan good coffe ( Starbucks ?? ) hehehe

  • IMW

    Harus deket dengan warteg /rumah makan padang dan warung Indomie dan roti bakar, pecel lele, dsb. Teman setia bagi mereka yang suka begadang.

    Starbucks, good coffee ? becanda nih he he he he

  • gtanuel

    Saya setuju dengan semua point di atas: mental/attitude ngantor (kerja) dan kesempatan untuk/keseimbangan antara privasi & kolaborasi (atau bahkan sosial). Kalau yang dibahas adalah masalah preferensi tok, ya mendingan nggak ngantor dan ngoding sehobby-nya dong :) Tapi kalau yang dicari adalah mengoptimalkan produktifitas (dan loyalitas ;)), seperti yang disampaikan oleh ZorbaTHut (engineer di Google): “give the coders the tools they want and get the hell out of the way”. Plus tentunya free (soft) drinks, meals, haircuts, massage (?) won’t hurt.. :P

  • rayyan

    Saya sangat setuju bahwa software house atau perusahan di bidang sejenis lebih cocok dilakukan di rumahan. Bagi saya kantor adalah rumah saya juga, terkadang kita akan menemukan waktu untuk mood bekerja yang berbeda-beda, mungkin disaat kita tidak mood kita bisa keluar cari makan/jajan di warung terdekat, sekedar tidur sebentar atau ke ruang baca.

    Yang paling penting adalah bahwa sebisa mungkin berikan kebebasan bagi programer tersebut untuk menata, mengatur tempat kerjanya agar nyaman untuk bekerja tapi tentunya tidak mengganggu rekan kerja yang lain.

  • Wahyu

    Atau malah di kost ya? Kost putri maksudnya *hehehe*

  • ricky

    tempat kerja saya dulu di software house di jalan jalaprang sukaluyu, oh. jadi ini toh alesyan si bos ambil kontrakan kantor dulu…. hmm.. *manggut manggut*

  • Riyogarta

    Ini gambaran umum seorang programmer yang saya dapati (termasuk saya saat dulu menjadi programmer :D) :

    1. Umumnya perokok. Jadi siapkan ruangan untuk para perokok.

    2. Kebanyakan programmer muncul mud-nya atau ide bukan di siang hari, paling banyak biasanya malam bahkan lewat malam. Jadi ini sebenarnya yang membuat mereka terkadang kerja larut malam. Jadi siapkan tempat yang bisa buka 24 jam.

    3. Mereka biasanya tidak suka akan hal-hal yang sifatnya formal, baik dari sisi penampilan maupun sikap. Jadi jangan suruh mereka berpakaian resmi ketika pergi ke kantor, apalagi pakaian seragam.

    4. Umumnya, mereka ini juga tidak suka dengan jam kantor, seperti harus datang jam 8.30 dan tidak boleh telat dsb. Banyak diantara mereka memilih mendapat gaji mereka dipotong akibat sering telat daripada harus meladeni disiplin masalah waktu kantor. Jadi hilangkan disiplin jam waktu kantor, tetapi lebih kepada disiplin penyelesaian pekerjaan yang tepat waktu.

    5. Biasanya, kalau sudah bekerja lupa segalanya. Jadi camkan kepada mereka agar a. Bekerja max. 40 ham/minggu. b. Jangan lupa minum (jadi siapkan dispenser). c. Jangan lupa makan (jadi siapkan makan siang :p) d. Jangan lupa tidur.

    6. Yang terakhir, saking giatnya mereka bekerja, jangan lupa juga untuk mengingatkan mereka melakukan ibadah. Ini penting sekali. Jadi siapkan 1 ruangan (khusus muslim) sebagai mushola.

    Wah … ikutan donk pak Budi ;)

  • Emanuel Setio Dewo

    Hmmm… Kalau saya (seorang programmer) seringkali kerja sambil tiduran. Jadi kerja (atau cuma browsing) sampai ketiduran.

    Tapi suatu saat saya menghitung-hitung waktu kerja, rupanya saya lebih banyakan tidurnya dari pada kerjanya. Hahaha…

  • Zakaria

    Yang terpenting adalah menciptakan kultur yang result oriented bukan rule oriented. Jadi yang penting hasilnya mau dateng jam 10 kek, mau dikerjain di rumah kek. Yang paling penting adalah kerjaan selesai, tapi kalau ada meeting dengan client atau rapat internal musti kudu wajib hadir.

  • TaMa

    Ruangan yang luaaaaaaaaaassss hhmmmmmmmmm, saya sudah pindah2x tempat kjaan dalam rangka mencari tempat yg lebih baik(dan memang jadi lebih baik) tapi saya selalu terbentur 1 masalah klasik…, space saya begitu sempit sedangkan menurut saya programer rata2x mempunyai sifat introvert dan akan merasa tidak nyaman bila terlalu berdekatan dengan individu lain, tapi selalu saja saya mendapatkan tempat di ggang senggol… oh nasib…

  • silent

    Setuju pak, secara saya juga kerja di software house yang rumahan. Dan memang kita akan kerasan sekali. Selain ditunjang jam kerja yang fleksibel (programmer, ga’ bisa dipaksa harus kerja dari pagi sampe sore!!!).

  • Priyadi

    sebenernya sih kantoran juga gak masalah, asalkan satu orang dikasih satu kamar :).

  • Fernando

    Alhamdulillah dapet kantor impian programmer nih Pak, kantor yang nyediain shower di kamar mandi, ruang baca, ruang musik, ruang tidur, ruang olahraga dan roof buat nongkrong.. O iya satu lagi, office boy yang siap sedia 24 jam! :D

  • Akhirudin

    met kenal pak Budi…
    saya mulai pak budi sejak 3 bulan terakhir saya langganan Info Linux.
    saya baca posting ini sekitar seminggu yang lalu… kemaren saya baru terima Info Linux edisi terbaru :D ternyata posting ini yang diangkat. bravo pak penyajian tulisan anda bagus banget..

  • Mr. Smile

    Mungkin pola kerja lebih penting dari pada tempat kerja pak?
    Saya selalu kehilangan mood kalau satu pekerjaan belum selesai sudah diganti mengerjakan sesuatu yang baru/lain. Ataupun menggarap sesuatu yang tujuannya tidak jelas. Kalau tempat kerja, yang penting tidak bising, komputer oke, meja oke, internet oke, kursi oke, suhu oke, teman diskusi oke, referensi (buku-buku, ebook, dll) oke, analisa oke (didiskusikan dahulu), team oke, maka dijamin, software yang bapak produksi akan oke. Suasana kerja mungkin yang paling penting, soalnya programming itu menyangkut mood. :-)
    Ini sekedar komentar dari pengalaman loh pak,.. tidak ada maksud mengajari..

  • Kris

    Ada teman anda yang mau cari kerja?
    Lowongan untuk IT / Aeronautics yang fasih bahasa English for British Company in Jakarta.
    Kirimkan CV ke krisnon04@yahoo.com

  • n3tbie

    saya pikir, seorang jago program haruslah bisa beradaptasi baik dirumahan maupun dikantoran. Dan Yang Paling Penting adalah ide mendapatkan kode program adakalanya BUKAN DIDEPAN KOMPUTER!!! TAPI PADA SAAT KITA REFRESHING!!!. Jadi apabila ide seorang programmer mentok, jangan teruskan didepan komputer tapi BERISTIRAHATLAH MENGHIRUP UDARA LUAR… HAVE a NICE DAY!!

  • arry

    ikut nimbrung donk.. Jadi programmer emang butuh sedikit kebebasan.. :D artinya jam kerja yang ga terlalu terpatok sama waktu.. tempat kerja enakan sih kaya rumahan.. lebih bebas. mo makan tinggal ambil di lemari.. klo nyimpen makanan di kantor ga enak.. pernah ngalamin malah makanan abis ma temen2 kantor yang suka2 ngirit :( bukan nya pelit… malah di bawa pulang buat oleh2 anak nya..

    “Dan Yang Paling Penting adalah ide mendapatkan kode program adakalanya BUKAN DIDEPAN KOMPUTER!!! TAPI PADA SAAT KITA REFRESHING!!!. ”

  • ArieL

    pendapat saia, para om/ tante programmer itu pada jarang mandi yach? heheh.., gk nyangka deh..

  • plenuk [dot] com » Programmer lebih suka “ngandang” dirumah.

    […] menyikapi artikel mas budi rahardjo. membuat saya teringat sama seseorang yang baru saja sembuh dari sakit. nggak usah pakek inisial. lagian ini orang emang musti di kempleng. pulang malem-malem terus. nggak ingat waktu makan. payah., kembali ke inti cerita, banyak tanggapan dari “readers” yang menyatakan setuju terhadap argumen mas budi. sebagai contoh mas sunaryohadi pada […]

  • Budi Rahardjo

    #23, apa kaitannya dengan jarang mandi? di tempat saya pada rajin mandi semua tuh. teratur.

  • » Belajar Dari Cleaning Service dan Ofisboy :: Put Your Lights On

    […] Tadi saya jalan-jalan ke blog pak BR dan sempat baca tentang Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan dan beberapa komentar di sana-sini, akhirnya saya gatal juga mau tulis-tulis. Walau mungkin tidak relevan karena Pak BR menulis tentang bagaimana idealnya kantor untuk para programmer, sedangkan tulisan saya tentang bekerja di rumah. […]

  • dody

    yang pasti sewa rumah dengan sewa gedung lebih murah Rumah loch

  • Deni

    Mohon info dong, anak saya kelas 2 SMP pengen belajar Programmer di Bandung atau daerah Cimahi, dimana ya temoat nya? Sekarang ini dia suka ngutak ngatik visual basic, tap sayang Bapak nya ngga ngerti…mohon info nya

    Thanks sebelumnya
    Deni

  • agus muhajir

    mungkin menurut saya, yang paling tepat bukanlah rumahan. tapi suatu tempat yang bagus untuk merumuskan ide dan mengolahnya. bisa dibilang tempat itu seperti layaknya sebuah pertapaan sementara dalam memompa kreativitas dan inovasi, tentu saja dengan hingar – bingar deadline.

  • Programmer kerja di rumah « primadonal | r0t0r

    […] Catatan Mas Budi Rahardjo tentang “Programmer lebih suka kerja di rumahan” sangat menarik minat saya. Tidak lain karena saya sendiri programmer yang bekerja di rumah. Komentar dari catatan ini pun tidak kalah seru.Saya jadi ingin menganalisa lingkungan kerja saya sendiri. Apakah sudah memenuhi syarat? Acuan yang saya pakai dari catatan di atas: […]

  • scureboy

    kalau menurut saya, walaupun meeting/koordinasi itu perlu, saat kerja lebih suka sendirian karena speed/style/strength bisa benar2 beda diantara programmer

    mungkin, saya akan sangat nyaman bekerja sendirian didalam ruang executive pesawat lufthansa, atau dalam bathub hotel bintang lima lantai 20 keatas, atau di atas tikar di padang rumput luas yg sejuk tapi cerah cahaya mentarinya

  • remoza

    Menurut saya dari pekerjaan sbg programmer yg penting target selesai. Untuk lokasi kerja yg pas buat saya dimana aja bisa dikantor/dirumah yg penting mesti sediakan cemilan yg buaanyak/bebas merokok dan ga terlalu ketat aturan waktu kerja. Dan yg paling pokok komputer wajib terkoneksi Internet. :D)

  • Marko

    wah…pak, kalo bapak jadi buat SW house nya..Bolehkah saya, jadi orang yang paling pertama bekerja bersama bapak…Kebetulan saya tinggal di Bandung…saat ini saya masih kuliah di ITHB jurusan IT

  • ibu Amie

    Saya mempunyai anak umur 11 Tahun kelas 1 SMP, dan memang dari kecil kami membiasakan dia pegang komputer. Dan sampai sekarang malah papanya yang bertanya kalau ada apa apa. Yang bikin kami bangga Bahkan guru disekolahnya sangat mengandalkan dia kalau komputer/Laptop sang guru dalam masalah. kami membolehkan dia buka internet. walaupun tetap diawasi. Yang saya ingin ingin infomasi, saya harus bagaimana untuk menyalurkan. Apa ada kursus yang bisa menyalurkan keingin tahuan anak saya. Dia bercita-cita ingin sekolah Di Bandung ( IT) saya lupa namanya. kami tinggal di Jakarta. terima kasih atas informasinya

  • Budi Rahardjo

    untuk ibu Amie, sebetulnya di Jakarta banyak tempat kursus komputer (pemrograman). Memang kualitasnya bervariasi.

    Kalau sekolah di Bandung, mungkin urutannya: ITB, STT Telkom, … Selain itu tentunya masih ada lagi seperti di Maranatha, D3 Unpad, Politeknik Ciwaruga, dll. Selain itu ada juga kursus-kursus lain.

    Kalau di Bandung, mungkin urutannya: UI, Binus, Gunadarma, …

    Tentu saja urutan di atas hanya pengamatan sepintas saja. Belum tentu benar (akurat). Selain itu harus lebih spesifik lagi yang diinginkan anak Anda (programming? design? system engineer? software engineer? computer science? games? … practical vs teori?)

    Wah, jadi malah tambah bingung ya?

  • deden

    Selamat malam pak budi, saya newbie di dunia blog .. awalnya iseng-iseng, tapi ketika saya membaca blog pak budi, jadinya saya termotivasi neeh .. terus ber kayarya pak budi apalagi di dunia open source pak, sepertinya Indonesia membutuhkan orang-orang seperti bapak agar dunia IT nggak blepotan kesana kemari .. seperti bulan desember 2006 kemaren .. Microsoft ngeluarin surat mengenai pembajakan … jadinya kesedot lagi dech duit bangsa ini … Keep Rock N Droll and Bandung Beautiful Euy

  • Agus Ramadhoni

    Saya pengen banget tinggal di kota padang, tapi saya gak punya kerjaan & pekerjaan di sana, so kalo ada yang butuh tenaga IT or Programmer, hubungi saya.

    Thanx

  • Agus Ramadhoni

    Pak budi saya ini seorang guru komputer di salah satu lembaga pendidikan, basic saya sekolah adalah programming, namun karena tuntutan pekerjaan saya harus menguasai design graphic, animation dll, apakah saya harus mempelajari semua & apakah bisa saya menjadi professional jika semua program saya pelajari…???
    Thanx

  • deni

    ulasan yang sangat menarik dan saya salah satu dari kebanyakan orang yang setuju dengan “Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan”.

    saat ini saya masih menlanjutkan kuliah sambil bekerja (lokasi keduanya di Bogor). jadi pagi sampe sore (8-17) saya di kantor, sore sampe malam di kampus (17-20) dan kadang just numpang tidur coz am so slipi :D, terus nyampe kost, ada kerjaan sampingan di luar kantor. meski harus seperti itu, tapi saya emang lebih nyaman ngerjai sesuatu di kost :D dan itu, kalo tengah malem ato dini hari kelaperan yah tinggal turun terus ke warung deh.

  • hikmat

    Menurut saya benar tuch mesti suasana rumahan. Terus terang sy pernah full time programmer dan jadi independent programer di rumah. Nih ya : Jam 9-10 PM cari inspirasi, jam 10 -jam 1 AM : mulai dapat ide, jam 2- 4 AM baru coding. Tiba-tiba uda subuh. Dan itu tadi makan tengah malam suatu hal yang biasa. Katanya sih di luar negeri juga demikian .
    Keuntungan kalo kerja di kantor : ‘ dapat ditekan untuk berpikir keras ! oleh bos.’ Ada bagusnya juga

  • Calon isteri seorang programmer « Anwar Chandra

    […] buat yang calon suaminya bukan freelancer. karena pada umumnya programmer lebih suka kerja di rumahan. Walaupun kantornya bukan di perumahan, ada kalanya dia akan bekerja sampai menginap. bersiap-siap […]

  • aTun

    salam kenal Pak Budi!

    seru deh baca2 blog-nya… :p
    abis baca tulisan disini, saya jadi mikir
    itu programmer2 di kantor saya koq ya sama yah polahnya sama yg dikomentarin disini…hehehe

    bener bgt kalo yg dibilang orgnya introvert, pendiem (mungkin udah pusing duluan kali yaaa ama program2..hehehe), pulang pagi (org2 masuk kantor dia pulang..Lhaaa… :P), gak doyan pake kemeja, dll.

    hahaha…lucu deh!

  • tintin

    Hai, Pak Budi!

    Kayanya yang dibutuhkan seorang programmer itu adalah remunerasi yg ditawarkan. Gimana mereka bisa mikir dengan kuat kalo mereka dikejar2 ibu kos krn belum bayar, ato dikejar2 urusan perut karena mo beli makanan ga bisa, ato dibayang2in tanggung jawab untuk ngirim duit ke kampung…

    ciptakan suasana yg manusiawi. jangan anggap mereka adalah robot. mereka juga butuh sosialisasi, yang masih muda mungkin masih masuk masa2 pedekate dengan cewenya. jangan menghancurkan masa depan mereka hanya karena tenggat waktu project :)

    perluas wawasan mereka. beri akses internet kecepatan tinggi, biar mereka bisa terbantukan oleh google code (mungkin) ato forum2 teknis lainnya. biarkan mereka menonton tivi cable, siapa tau mereka bisa nyari ide karena menonton liputan IT di negara tertentu…

    jadi bukan karena kantor atau rumahannya yg penting :)

    aniwey, saya juga programmer junior, n saya berada di suatu formalitas kantoran yg jam pagi masuk, dan saya harus pulang jam 18. entah itu nomat, nongkrong, ngeliat2 gadget.

    krn biasanya kalo lagi nongkrong ada aja ide, makanya butuh bolpen ama buku kecil buat nyatet untuk dikoding lagi besoknya. dgn gadget mungkin bisa sedikit membantu, ato malah kadang saya mencoba me-reverse engineering secara konsep apa yg ada di gadget itu :) heheheh.. makanya saya butuh remunerasi yg cukup buat bisa koding :P

  • amirudin

    Betul seorang progammer istri suami/istrinya selalu lebih dari satu karena ditambah sama komputer…………

  • Raharjo

    Jangan Banyak aturan….
    Kalau udah didesak masalah duit, siapa yang mau melawan.
    Mau nggak kerja di kantor, kalau nggak mau masih banyak programmer lain.
    Saya brani bayar mahal kok….
    Jangan jadi orang manja mentang-mentang jadi programmer

  • SusM

    Pak Budi R. Yth,

    Kira2 saya termasuk programmer paling …. sampai sekarang saya masih coding dengan VB.6, crystal report,MS Access. Karena saya bermula dari programmer dinosaurus Main Frame dengan Cobol/ CICS Macro Level, Jadi kira2 termasuk programmer yang paling …..

    Nah beberapa referensi P. Budi memang ada benarnya, karena saya pernah 3 hari 3 malam di kantor hanya untuk nyambung pointer IMS database yang selalu putus karena keterbatasan resources paltform. Sedangkan disisi lain customer sudah menunggu. Nah kalau sistem jalannya kurang mulus maka delivery BBM tidak lancar dan bisa dikatakan mengganggu jalannya perekonomian.

    Jadi sejak memasuki dunia coding mengcoding maka banyak hal yang saya dapati:

    1. Dari pengamatan bahwa logika seseorang berbeda-beda tergantung jenis & besarnya memori serta kemampuannya merekam dan meng-akses kembali. Jadi tidak jaminan mutu yang sudah formal pendidikannya mempunyai kemampuan untukk itu. Sedangkan yang tidak selesai kuliahnya malah menjadi programer dan orang terkaya didunia, Siapa lagi kalau bukan ……….

    2. Rata2 memang senang merenung yang direalisasikan bersama dengan “ngepul, ngemil, ngengleng, nggletak”. Dan sepertinya potongan badannya rata2 hampir seperti tokoh diatas…. coba perhatikan deh. Nah yang berpostur seperti P. Budi kok jarang ya.

    Saya termasuk yang suka nggletak setelah puyeng cari ide seperti :
    – Bagaimana ya melempar parameter dari suatu executable modul yang satu kepada yang lainnya.
    – Bagaimana ya memberi identifikasi PC dengan suatu ID yang dikenal oleh sistem aplikasi.
    – Bagaimana ya men-start suatu transaksi dari workstation lain.

    3. Nah hal lain yang berkaitan dengan iqra, tentu dibutuhkan referensi, kecenderungannya seneng “nyusuh”. Segala buku dikumpulan dibaca aja nggak. Untung sekarang ada softcopy, internet. Jadi thank.S saya bisa nlusur kepekarangannya P.Budi nih. Padahal yang saya cari adalah referensi produk “Made in Indonesia” yang siap menduania. Hayo kawula muda aktualisasikan Indonesia di kancah dunia. Syukur syukur bisa seperti Microsoft, Nokia, Seiko….. Apa yang programmer disnosaurus ini yang akan lounching dulu produk On.com.

    Mudah2-an ada Lembah silikon Indonesia. India sudah bisa, RRC-mulai merambah, Indonesia harus bisa, jangan berkutat hanya dengan N-21, IGOS. Lebih baik Warteg yang produksinya dikenal dunia. Tapi saya lemes kalau sudah “Jer basuki mawa bea”. Nah pasti kan butuh duit. Jadi mau dari mana dimulai. Sudah gini saja “dari diri sendiri”. Coding terus sampai akhir. Siapa tahu dari coding bisa menjadi duit untuk kemajuan. Padahal disana sudah beranjak ke tahap Bio teknologi, nano machine, Furture leaps. yang sudah tidak memikirkan dana.

    Salam buat semua programmer, juga khusus P.Budi.

  • blog.firdaus.info

    Ingin dapet PENGHASILAN REAL lewat Internet? coba freelance deh (part 1)

    Banyak cara orang untuk menghasilkan dari internet, dari jualan informasi dengan internet marketing/pemasaran, referal/referensi, advertizing/iklan (paling ideal), atau jualan barang real lewat retail, afiliasi ataupun auction/lelang sampe jualan jasa …

  • abuhusain

    –Bismillah, First comment to this blog–
    –Numpang komen yah pak dos :D–

    Setuju pak… saya ga’ tau kenapa tapi kalo di rumah teh saya lebih dapet tuh moodnya daripada di kantor –pengalaman waktu praktek–
    Kalo waktu praktek di kantor –TELKOM RisTI– sekalinya ilang mood pengennya pulang terus, tapi kalo di rumah pas ilang mood, ngapain dulu gitu pasti –insya alloh– balik lagi deh, selama ga’ ada temen yang ganggu…

  • Pemulung kode

    Nah… tema tentang programmer, kalo dibincangkan memang menarik, apalagi objectnya langsung yang ikut komentar…..
    setelah saya baca smua coment di atas, saya jadi heran kenapa ya… ada juga programmer yang jadi manja kayak anak mama.. minta tempat yang special, rumahan, yang sejuk, ada tempat merokok,sedia cemilan dll…jadi DPR aja, semuanya cepat terpenuhi heheh…

    lihatlah pencipta google, kerja di ruang garasi rumah menghasilkan program yang luar biasa….

    Apapun itu profesinya, yang terpenting adalah tanggung jawab terhadap pekerjaannya, mau di kantor/rumahan/kost2an/dimana aja…

    Ingat!!!… Tiap Programmer mempunyai hobi yang berbeda, jadi mau suka apa, hidup dimana, dan milih cewek bagaimana, mereka punya selera sendiri2.. Hahaha

  • mahrizal

    saya setuju dengan programmer yang kerja di rumahan
    memang malam hari adalah waktu yang tepat untuk memikir dan untuk menganalisa program
    untuk itu programmer harus bisa jaga kesehatan
    biasanya para programmer berkacamata oleh karenanya yang belum berkacamata harus hati-hati

  • Kurnix

    Allooo Semua ….

    Kalo Gue sih setuju aje kalo programmer kerja dirumah. karena bagi gue, programmer itu seperti pelukis, yg butuh kondisi yg bersifat individual.
    Cuman bagi Gue, yg paling berat bagi programmer itu adalah penghargaan orang lain atas hasil kerjae. dan yg paling berat lagi adalah, Setelah gue bikin suatu inovasi, trus siapa yg mau pake or terlibat dalam hasil karyaku sebagai bentuk pengembanganku.
    Sebagai contoh, Gue pernah punya ide untuk berjualan tapi ngak pake bangun TOKO, so gue bikin web site toko dengan nama http://www.e-commerce.co.id. tapi setelah itu, gue kesusahan untuk mengembangkan pasarnya. lah susah to…..
    itulah salah satu hal yg menurut gue paling berat bagi seorang programmer.
    mungkin rekan2 ada kasi gambaran, biar gue dapet inspirasi baru …..
    Thanks

  • Ione3

    saya sih setuju-setuju aja, memang pekerjaan programmer tidak bisa disamakan dengan pekerjaan kantoran lainnya. Semakin ditekan akan semakin buruk jadinya.
    Ada kata yang tepat untuk menggambarkan seorang programmer, saya lupa pernah baca di situs mana> Dia bilang jika ingin mempekerjakan seorang programmer berikan dia semua tools yang dibutuhkan dan pergilah, biarkan dia bekerja dengan gayanya….

  • Junior

    “Jangan Banyak aturan….
    Kalau udah didesak masalah duit, siapa yang mau melawan.
    Mau nggak kerja di kantor, kalau nggak mau masih banyak programmer lain.
    Saya brani bayar mahal kok….
    Jangan jadi orang manja mentang-mentang jadi programmer”

    Jika anda berfikir bisnis jangka pendek selamat “Anda Benar” masih banyak programmer yang lain yang mau dibayar mahal dengan aturan2

    tapi

    Jika Anda berfikir bisnis jangka panjang “Anda Salah” karena anda tidak akan mendapatkan kreatifitas dan kerja Optimal dari Seorang Programmer jika anda tidak paham dengan cara kerja mereka.

    Ingat Uang bukan segala-galanya ….. yang dibutuhkan programmer sejati adalah hal yang sederhana buktinya banyak programmer di luar sana yang melahirkan kreatifitas yang luar biasa dari tempat yang sangat sederhana “Non Formal”. Non Formal bukan berarti manja. :)

  • agung triyono

    Jadi programmer.. adalah sebuah pilihan… tapi jangan lupakan dunia luar di sekeliling kita…

    masa berteman tapi cuma di dunia maya, jangan tinggalkan yang nyata pak RT, pak RW tetangga depan rumah, belakang, samping kiri kanan,,..

    jangan sampai di perbudak oleh pekerjaan..

  • Maunya Programmer Itu…? - It’s Just Writing!

    […] are_dho on Jan.10, 2009, under Another Ways Saat iseng browsing , tak sengaja nyasar ke sini. Isi blognya sih tidak begitu menggambarkan apa yang tertulis dijudulnya. Tapi komentar yang datang […]

  • Ruang Dan Waktu

    […] pada Januari 10, 2009 oleh habibillah Saat iseng browsing , tak sengaja nyasar ke sini. Isi blognya sih tidak begitu menggambarkan apa yang tertulis dijudulnya. Tapi komentar yang datang […]

  • Maunya Programmer Itu…? « Ruang Dan Waktu

    […] Ditulis pada Januari 10, 2009 oleh habibillah Saat iseng browsing , tak sengaja nyasar ke sini. Isi blognya sih tidak begitu menggambarkan apa yang tertulis dijudulnya. Tapi komentar yang datang […]

  • devry

    Uhm, suasananya kayak di Balicamp gt lho, Pak! :lol:

  • hendrizal.web.id » Blog Archive

    […] · Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan (Budi Rahardjo) […]

  • hendrizal.web.id » Blog Archive » Kuliah sambil Kerja, Why Not ???

    […] · Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan (Budi Rahardjo) […]

  • Sharing is Wonderfull » Blog Archive » Kuliah Sambil Kerja,.Why Not ??!

    […] · Programmer Lebih Suka Kerja di Rumahan (Budi Rahardjo) […]

  • internet marketing jitu

    seorang programer memang harus memiliki ruangan tersendiri, tapi juga harus tetap berinteraksi dengan orang lain. kan ide itu bisa saja datang ketika kita sedang berada pada suatu obrolan dengan seseorang.

  • HomeTivi

    Setuju pak, secara saya juga kerja di software house yang rumahan. Dan memang kita akan kerasan sekali. Selain ditunjang jam kerja yang fleksibel (programmer, ga’ bisa dipaksa harus kerja dari pagi sampe sore!!!).

  • indraazimi

    saya setuju bahwa programmer lebih suka kerja di rumah. saya sendiri adalah programmer, dan saya lebih suka bekerja di rumah. diantara hal yg menyenangkan dari menjadi programmer adalah fleksibel dalam tempat dan waktu kerja.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.932 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: