Ujian Nasional Yang Menjadi Masalah

Nampaknya Ujian Nasional (UN) perlu mendapat perhatian kita semua. Banyak sudah cerita dan berita mengenai kejanggalan sistem ujian nasional ini. Keputusan lulus atau tidak ternyata hanya disandarkan kepada ujian sesaat saja, dan hanya beberapa mata pelajaran saja. Padahal siswa sekolah tahunan dan ada mata pelajaran lain. Kalau memang demikian mungkin mata pelajaran lain tersebut tidak perlu diajarkan?

Tadi saya juga melihat anak yang mogok makan (di Bali) karena tidak lulus ujian nasional dan anak yang histeris di Sulawesi Selatan karena tidak lulus. Saya takut mereka belum bisa mengambil keputusan dan melakukan hal yang nggak-nggak. Mengapa tidak diadakan ujian susulan (her?) untuk kasus-kasus tertentu?

Di sisi lain, perlu juga kita ajarkan kepada anak-anak kita agar berani gagal. Bahwa kegagalan merupakan bagian dari hidup. Tidak perlu stress kalau gagal. (Memang gampang kita ngomong. Kalau kita yang merasakan tentu lain ya?) Saya juga mengerti bahwa mereka merasa diperlakukan tidak adil. Yang ini saya belum tahu jawabannya. Lha wong melihat tim sepak bola yang dikerjain wasit aja masih nggak tahan, apalagi perasaan anak-anak ini ya.

Terus terang, untuk urusan ujian nasional ini saya nggak tahu mau mulai dari mana. Bagaimana baiknya? dihapuskan? diteruskan? apa yang harus diperbaiki? cuek saja?

About these ads

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua tulisan milik Budi Rahardjo

74 responses to “Ujian Nasional Yang Menjadi Masalah

  • Irwin

    Kasian anak2 sekarang, sudah buku nggak bisa di wariskan, jam belajar nambah, ilmu gak dapet, dapetnya jurus menjawab x-( guru-guru tidak konsentrasi ngajar karena beban hidup, biar cuma 1 mata pelajaran gak dapet nilai standar dan sisanya dapet nilai 9, tetap aja gak lulus.

  • Antony Pranata

    Gimana ya pak, emang serba salah. Kalau gak ada ujian nasional, ya repot… Entar standar kelulusan diukur dari mana?

    Saya lebih setuju untuk mendidik anak agar “siap gagal”. Sekarang ini, namanya hidup semakin sulit. Persaingan makin ketat. Kalau anak tidak dididik dari awal untuk “tahan banting”, takutnya nanti kalau sudah terjun ke “dunia nyata” jadi lembek. Dalam “dunia nyata” kan gak ada namanya “her” pak…

    Itu pendapat saya loh… Saya juga pernah beberapa kali gagal dalam hidup, tapi semuanya itu malah jadi pemacu untuk menghadapi tantangan masa depan. Sekedar info aja, waktu sekolah di Jerman saya pernah gagal ujian dalam 2 mata pelajaran. Kemudian setelah bekerja 2 tahun di perusahaan multinasional (di Jerman juga), saya sempat kena PHK. Yah… namanya hidup…

  • gagahput3ra

    yang menurut saya lucu, banyak orang2 yang menganggap dengan adanya UN, maka sudah dapat diketahui jumlah lulus/tidak lulus yang sebenarnya. Malah, Mendiknas menyalahkan Universitas yang salah memilih anak2 yang mengikuti PMDK, karena terbukti anak2 itu tidak lulus UN, yang berarti mereka tidak cukup pintar. Padahal, banyak sekali terjadi kecurangan dan tim sukses yang tugasnya menyelamatkan nama baik sekolah.

    Justru, bukannya universitas yang salah memilih calon mahasiswa PMDK, tapi SBY yang salah pilih menteri.

    Salam kenal pak!

  • Yan

    Masalah ruwet. Tapi UN yang dijadikan alat untuk penentu kelulusan adalah sesuatu yang naif. Ini numpang link tentang gumaman saya untuk hal yang sama http://daunsalam.net/umum/un.htm

  • ananta

    Heran, sebetulnya dari dulu setiap tahun pasti ada beberapa yang tidak lulus, tapi karena karena diserahkan ke sekolah masing-masing, yang nilainya tidak terlalu ‘hancur’ dikatrol oleh sekolah, sehingga kesannya (hampir) semua lulus. Yang tidak lulus tetap ada, tapi tidak membuat sensasi seperti sampai membakar sekolah >_<
    Ironisnya, sekarang banyak yang menyalahkan sistem atas jeleknya nilai siswa :(.

  • Bayu R

    Sampai sekarang masih sentimen sama ebtanas taon 98.

    Soal2 ebtanas biasanya dibikin oleh orang2 dalam sebuah tim, nah bahan2 pertanyaannya biasanya diambil dari buku2 pelajaran tertentu.

    Masih segar dalam ingatan saya. Ebtanas sejarah, soal2nya benar2 total beda semua dari buku teks dari sekolah saya dan beberapa sekolah lain. Padahal, kalau belajar buku teks yang dipakai jadi acuan soal2 ebtanas, akan teramat sangat gampang. Soalnya sama persis semua!

  • Sonny

    Nampaknya pemerintahan kita (aku ndak cari kambing hitam lho) sadang senang mempraktekkan teory-teory idealisme condition dimana kalau begini mestinya begini dan akhirnya ya begini jadinya.. Yang aku sayangkan cuman siapa yang menjadi korban (aku, kamu, kita atau how) ????
    :((

  • sandynata

    menurut saya, UAN dengan standart nasional belum pantas dilaksanakan karena masih banyak ketimpangan kualitas sarana dan prasarana pendidikan di tiap daerah.

    UAN memang perlu untuk pemetaan tingkat kualitas pendidikan didaerah – nasional, namun bukan merupakan harga mati sebuah kelulusan.

    ng.. mungkin bisa seperti ini
    ujian lokal = 50%
    ujian nasional = 50%

    ujian lokal disiapkan oleh depdiknas tiap2 provinsi karena merekalah yang lebih tahu standart pendidikan didaerahnya masing2. setelah ujian lokal selesai baru diadakan ujian nasional

    gmn? ribet ga?

    ah.. tau’ ah! untung jaman saya g kayak gini.. hihihi…
    :)

  • agusdaeng

    tiap ganti menteri ganti sistem, sialnya karena bereksperimen diladang jutaaan anak bangsa dgn standar yang semaunya. seolah olah hanya mereka yg berhak menentukan benar-salah, baik-tidak, manfaat atau merugikan.

  • Herry

    Makanya mari kita bikin eBook semua buku pelajaran yang pernah diterbitkan oleh bangsa kita dari SD sampai SLTA oleh kita2 buat database judul dan pengarang serta tahunnya dikerjakan oleh sukarelawan masing2 satu buku aja cukup. Nah ini untuk kepentingan anak2 sekolah yang selalu berucap “internet akan datang di kampung kita” lalu ada yang nambahin komentar “internet menyediakan buku pelajaran apa saja, meskipun guru dan penerbitnya berupaya untuk menyiasati murid dan orang tua tapi masih ada alternatif mendownload eBook….
    Negara kita kan rajanya membajak?? Mari membajak untuk kebaikan.

  • noir

    wah kurang ngerti sih yah ttg ujian nasional, baru baca dikit2 dan infonya jujur aja gak lengkap.

    standarisasi itu bagus. cuman skg di indonesia masih susah dilakukan. terlalu muluk2 lah, ada banyak orang yg udah bisa skolah aja bersyukur mana gitu mikir ‘kualitas’. yg begini mana bisa disamain standarnya ama yg udah dari umur 3 kenyang makan skolah?!

    hehe i like Herry’s idea. lets just ditch the official path and embrace technology. educate our children so they’re ready to take on the real world!! hahah!

  • nsr

    Emang menyakitkan,
    lha Apakah hanya 3 tiga mata pelajaran itu yang menjadi syarat mutlak menetukan lulusnya seorang anak dari jenjang pendidikan ?
    ini sempat jadi perdebatan ramai di milis dikmenjur, dikmenjur@yahoogropus.com (boleh promosi dunks), bayangkan ke depan anak-anak kita moh (malas) belajar pelajaran yang lain… selain tiga itu, karena itu nga buat mereka lulus.. mereka hanya akan menghargai guru yang mengajar pelajaran tiga itu, yang lain di cuekin..(emang enak di cuekin murid) kerena tidak buat mereka lulus, anak kita jadi malas belajar agama,budi pekerti,olah raga, pengetahuan umum dll.. karena itu Tidak Membuat mereka LULUS… , mereka jadi orang-orang yang berfikir sempit di tanah Indonesia yang luas ini, sedikit jadi perhitungan dan maaf Kapitalis…. jangan salahkan mereka kalau tidak bermoral, tidak beragama, tidak menghargai guru/orang lain, tidak sehat, tidak terampil dan kreatif….dll karena itu semua Tidak Membuat Mereka LULUS…. Malu ngga lulus, sia-sia 3 tahun… orang tua kecewa.., sekolah mau dibakar.. guru di itimidasi diancam.. jadi pokeke harus LULUS.. weleh-weleh repot nehh.
    Saya nyari infonya sana-sini ketemu biangnya silahkan baca PP no 19 Tahun 2005 tentang Standar nasional pendidikan (gampangnya tanya Pak Google dimana PP itu berada :)) jelas dikatakan PADA BAGIAN KEEMPAT PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PEMERINTAH, Pasal 70,Pada SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, Ujian Nasional mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan mata pelajaran yang menjadi ciri khas program pendidikan.
    dan faktanya sangat fatal pemerintah berkuasa penuh.. menetukan tidak lulusnya seorang murid… ini membantah pasal sebelumnya yang mengatakan bahwa penilaian peserta didik dilakukan oleh guru jadi Gimana ?? kalo aku sih sarannya gampang aja.. UN yang dibut pemerintah untuk ngukur tingkat serapan pemerataan pendidikan untuk data bikin proyek baru :) bukan untuk netuin lulus dan tidak.. biar pemerintah punya data di daerah mana pendidikan kita lemah..kurang or dlll dech,
    Karena LULUS itu ditentukan banyak Faktor.. pasti pak budi nga mau khan mahasiswanya lulus matakuliah ditentukan ama ujian yg dilakukan pemerintah ……… weleh-weleh berabebe neh bos..

    Sama dengan guru.. banyak faktor menetukan anak itu lulus atau tidak naik atau tinggal.. jadi serahkan kebijakan teknis pendidikan itu pada pelaksana teknisnya… pemerintah itu urusi yang strategis-strategis aja… kaya nga punya kerja lain.. masih banyak guru yang blm memenuhi kualifikasi, sekolah yang rusak, universitas yang amburadul, dosen yg pake metode 50 tahun lalu.., dll -dll dech

  • Daniel

    Semestinya pemerintah bersikap bijaksana terhadap pemberlakuan standard kelulusan (isu yang tidak habis-habisnya dibicarakan)yaitu secara adil dan merata. Singkatnya buatlah formula kelulusan dengan mengcombine standard kelulusan dari unsur lokal berdasarkan prestasi belajar di sekolah (ini memuat unsur proporsional) dan merata pusat menentukan standard kelulusan tertentu.

  • debora rehuella

    hmMM,, gaQ SetuJU jUga Seyh.. KAn SeKAraNG kita Udah MAsuK ERA GLOBALISASI,, MAsa MAsih MAu KALAh SaMa NEgARA LAin.. ini BARU Ajah StANdart KELULUSan MINIM

  • ninok

    boleh, saya berbeda pndapat?
    menurut saya ganti pemerintah gnti kbijakan itu malah bagus. ganti pemerintah kok kbjakan gk berkembang, itu kan malah aneh.
    masalah byk pihak yg dirugikan dan byk kcurangan2 itu malah jadi cermin buat kita (yup … enak buat ngomong dan susah buat nglakuin. tapi, mohon tanya: pernahkah bapak gagal?).
    masalah 3 bidang studi itu jadi pr buat para guru dan kep.sek gmana bs saling ngisi, mengaplikasikan k3 bidang studi itu dalam smua mata pelajaran sehingga bangsa kita tidak terbiasa make yg dipake, tapi berusaha mengaplikasikan smua ilmu dalam idup kita.
    ayo dong, optimis. optimis.

  • bucil

    gak adil rasanya klo buat qta2 yang ank jurusan BAHASA ini harus blajar keras ngerjain plajarannya anak IPS dan IPA pada waktu SPMB. begitu jg IPS… knapa si gak menempatkan sesuatu pada tempat yg semestinya??? gmn bisa mencapai standar kelulusan klo kaya gini caranya??? maw belagak jd negara bergengsi tah??? dengan cara mengorbankan otak2 para penerus bangsa gini namanya negara gak bertanggung jawab…

  • tegar

    saya mau tanya nilai uan sekarang harus berapa biar masuk sma terbagus dan apa saja mata pelajaran uan sekarang

  • dhiyanto

    menurut saya ujian nasional itu tak mewakili seluruh potensi anak didik. Karena dalam teori pendidikan, potensi anak anak itu ada tiga. Yaitu kemampuan kognitif, spikomotik dan apektif. Ujian nasional hanya mewakili kemampuan kognitif saja. padahal kalau sudah masuk dunia kerja kemampuan psikomotor dan apektif sangat menentukan.

  • Hasrul Eka Putra_SMA3 Gorontalo

    Pusing amat jadi siswa..
    UAN 2007 bakalan jadi UAN terburuk dalam sejarah!
    3 kurikulum yang implementasinya setengah atau malah seperempat-seperempat di gabung jadi 1!Gila…
    siswa dan guru kocar-kacir..
    di satu sisi pemerintah nawarin otonomi pendidikan dengan KTSP di sisi lain sentralisasi dan standarisasi UAN di lakukan. Lha? bagaimana mau ngajar tentang kawasan (daerah),ujung-ujungnya tes nasional tetap di lakukan…
    giman si??!!

  • benazio

    saya murid sma kelas 3 sma 47 jakarta selatan,,

    iya, saya sangat stress dan sangat iri dengan pendidikan di luar negeri, gimana ngga! diluar negeri, pelajaran yang diajarkan di sekolah pada anak2 itu sesuai dengan minat mereka seperti halnya SMK di indonesia. saya ingin yang seperti itu, seperti saya, saya sangat minat dengan IT, saya sudah banyak belajar duluan tentang ilmu komputer, tapi di sekolah, meskipun saya udah di jurusan IPA, masih ada pelajaran sejarah! gila ngga?!? ngapain coba masih ada pelajaran sejarah? ada juga senirupa!

    kalo kita udah nemuin jalan minat kita, kita ga perlu belajar semua pelajaran itu kan? kita hanya harus belajar apa yang kita minati dan itu akan mengurangi angka ketidaklulusan siswa dalam melaksanakan ujian..

    SEMUANYA, Saya minta doa ya, semoga saya lulus dan insya Allah bisa diterima di NTU atau ITB atau UI atau pilihan terakhir BINUS,,

    ada saran kalo IT bagusan dimana??

    thanks all
    best regards,

    Benazio

  • Deedee

    kalo kebanyakan orang g stuju adanya UN knapa pemerintah g ngeganti sistem pelajaran yang 80 % praktek and 20% teori. dengan begitu, lebih mudah menentukan si anak lulus apa nggak. ya caranya pemerintah harus menyamakan sistem pendidikan yang full sarana kayak diluar negri. jangan standar kelulusan donk yang disama-samain!

  • caeueum

    UaN 9ak bgt seh lo!!!!!!!!!!!!!!tai kotok tau!!!!lo pikir enak apa skul 3 taun ditentuinnya cuma dalam waktu itungan jam…..babi lu yang bikin uan kalo punya anak lu rasain tuh susahnya….tai lu………salam jari tengah

  • afrizal

    ini adalah ujian bagi kita, hadapi dengan sabar. memang hidup selalu ada maju dan mundurnya, begitu juga dengan dunia pendidikan kita.
    pemerintah masih bingung apa yang harus diterapkan pada pendidikan tahun ini, pemerintah ja bingung, apa lagi kita yang ngejalaninnya. semoga kita mendapat mukjizat dari yang di atas.

    jalani dengan senang hati walaupun itu menyakitkan.

  • Putri

    Mnurut aq kenapa ujian nasional ntu selalu berubah stiap tahunnya? Dan perubahan itu selalu berbeda dan bisa jadi tambah memberatkan. Menurut saya itu nggak adil banget. Kenapa yang tahun-tahun sebelumnya nilai standar kelulusan ditiadakan sekarang naik jadi 4,26?? Terus yang saya denger-denger juga untuk Tahun kedepan kelulusan ditentukan oleh sekolah.
    Dengan adanya bukti-bukti tersebut, saya ingin pemerintah bisa konsisten dalam pendidikan. Pendidikan itu bukan main-main. Kenapa nggak bisa memutuskan satu hal aja dan nggak berubah. Kalau gini, gimana kita bisa maju??
    Saya sebagai pelajar juga merasakan hal tertekan karena sebentar lagi menghadapi Ujian Nasional. Saya harap pemerintah bisa mengerti perasaan para pelajar kita yang terbebani banyak hal. Saya juga tekankan kepada Bapak Wapres,,Kualitas seseorang itu bukan dinilai dari lulus atau tidak lulus Ujian Nasional saja…

    Terima Kasih.

  • izzzi

    …coba pikirkan kalau nilai ulangan harian kita di atas rata-rata, bisa di banggakan pada orang tua dan kerabat tapi apa yang terjadi pada saat kelulusan tidak lulus pedahal dari seorang anak memiliki keterampilan dan kemampuan olahraga di atas rata-rata..munkinkah nilai uan bisa membayar kita selama 12 tahun membaca dan menulis tetapi dengan 1 hari semua itu hilang dan gelap seketika impian dan harapan serta perjuangan dan kebanggan dari siswa terhadap prestasi olah raga yang luar biasa menjadi penentu masa depan…hehe…tanyakan pada diri sendiri..
    termasuk saya sendiri menunggu jawaban dari hasil pengorbanan meski prestasi di bidang lain..
    smoga ada yang mendengar isi hati yang membutuhkan keadilan ini..lord can u hear me..???

  • SONNY SETIABUANA

    Bagaimana mutu pendidikan sekolah bisa tinggi, kalau Ujian Nasional aja masih pakai Ujian Nasional Ulang, lalu kalau nggak lulus juga bisa ikut Ujian (Nasional) Paket B/C yang batas nilai kelulusannya di bawah Ujian Nasional lagi (cuman 3.00 sudah lulus khan?). Inilah kebijakan DELE-TEMPE (pagi masih kedele eeeh..sorenya sudah berubah jadi tempe) . Alias INKONSISTEN dengan tekad meningkatkan mutu hasil belajar. Takut sama juragan sana lalu berubah kebijakan seperti maunya sana, eee…saking tergesa-gesanya produk BSNP (Kepmen 45 /2006 yang tambah bingungin disodok pakek Kepmen 01,02?, 04/2007 yang membuat pemeringkatan hasil ujian (hasil belajar) nggak sinkron sama Kurikulumnya (maunya puluhan 1-100 apa satuan 1-10????)
    Kalau standar minimalnya seperti tahun lalu (2005/2006) yang nggak Lulus terus ikut Paket B/C coba bayangkan kalau di lembar IJAZAH ANDA RERATA NILAINYA 3.00 TERUS LULUS, BANGGA atau MALU??. empatinya dimana???
    Sudah begitu malah ada yang ngusulin sekolah nggak pakek Ujian Nasional lagi. Wah..wah…sudah lupa ya bahwa pasca tahun 1965 kita pernah membebaskan sekolah untuk meluluskan sendiri (tanpa Ujian Nasional alias Ujian Sekolah doang), dan hasilnya…..AMBURADUL KHAN???
    APA YANG BEGINI MAU DIULANG UNTUK ANAK-ANAK KITA sekarang???. En maaf………”Think How to Think”…..lah
    Usul saya ya Ujian Nasional dengan standar yang disepakati di dalam proses belajarnya di sekolah.
    Kalau kenaikan kelas standar minimalnya 60 atau 6.00 maka Kelulusan Ujian Sekolah/Ujian Nasional standarnya ya 60 atau 6.00.
    Data perolehan nilai Ujian Nasional digunakan untuk evaluasi kebijakan (nasional-Daerah bahkan sampai sekolah , secara NYATA, RIIL ADA ACTION LANJUTANNYA) Jadi kondisi di sekolah yang harus dibantu oleh pemerintah dengan BOS (bergradasi besaran duitnya sesuai dengan potensi keadaan sekolahnya) Jangan sekolah dibantu sama rata, nanti kepleset seperti subsidi BBM. Dan yang miskin semakin diperdaya oleh kebijakan yang tidak bijaksana (alias bagi-bagi dana BOS dengan dasar bijaksini). mUDAH2AN ke depan lebih baik lagi.
    Selamat bekerja kawan, en sukses!!

  • sma bontang

    JANGAN JADIKAN MASA DEPAN ANAK BANGSA SEBAGAI KELINCI PERCOBAAN.. PERHATIIN DUNK.. KUALITAS SEKOLAH-SEKOLAH DI DAERAH TERPENCIL…

  • yuni

    saya siswi smu kelas 3

    menurut sistem pendidikan sekarang saya setuju, karena semakin tinggi standar kelulusan, Itu untuk kemajuan Idonesia juga.Tapi bisa juga menghancurkan bangsa,sebagian besar yang tidak lulus ada yang depresi,tdk melanjutkan sekolah lagi,bahkan ada yang bunuh diri,ini juga bisa memperbanyak pengangguran di Indonesia.Seandainya anak Bapak sendiri mengalami hal seperti itu,apa yang Bapak lakukan? Saran saya sama Bapak agar mempertimbangkan lagi bagaimana baiknya standar kelulusan.

  • Samuel Ratumanan

    Kalau penentuan kelulusan hanya diserahkan pada sekolah, dapat dibayangkan mutu pendidikan tidak dapat dijamin. Sekolah cenderung meluluskan siswanya sebanyak-banyaknya, tanpa perlu memperbaiki proses mengajar belajar. Dengan adanya Ujian Nasional, sekolah akan bekerja ekstra memperbaiki PMB untuk meningkatkan kualitas lulusan. Jadi menurut saya, Ujian Nasional tetap harus dilakukan. Kelemahan saat ini, (1) ujian nasional hanya meliputi 3 mata pelajaran, (2) sistem ujian dan pengawasan masih lemah sehingga muncul banyak penyimpangan, dan (3) belum ada komitmen baik dari sekolah dan Diknas untuk memproses penyimpangan ujian nasional, malah ada kecenderungan Dinas Diknas Provinsi dan kabupaten/kota mendorong untuk terjadinya penyimpangan tsb.

  • Humaidi

    hai…

    saya guru sejarahnya benazio di SMA 47 Jakarta, saya dengar keluhan benazio mengapa anak IPA belajar sejarah?

    Tahu kenapa? agar anak-anak IPA mampu mencintai bangsanya sendiri. Jawaban yang absurd memang, tetapi ketimbang anda pintar tetapi menjual bangsa ini kepada orang lain. Kesalahan yang cukup akut kita alami dalam pembelajaran sat ini ialah kurangnya penanaman nilai moralitas dan spritualitas pada anak didik kita. Banyak siswa kita hanya melihat pendidikan sekedar sarana memperoleh kekayaan material, sedangkan kekayaan spritual (baca: kebijaksanaan) mereka samasekali kosong. amerika saja yang demikian maju, mencantumkan ilmu sejarah dalam kurikulum pendidikannya. Jadi jangan bersombong ria, wahai anak-anak IPA.

    Lagipula, apa yang salah dari sejarah. Semua pelajaran pada hakekatnya diturunkan lewat transmisi historis, yakni diwariskan antara generasi. Jadi mempelajari pelajaran itu sendiri, adalah mengemukakan pemikiran manusia sebelum kita. lagi-lagi itu adalah sejarah.

    Benazio, saya tahu anda bukan tipe penghapal yang baik. namun parahnya anda juga bukan tipe penganalisis yang baik. jangan sampai otak anda (dan juga kita semua) terkotak dalam angka-angka, padahal hidup adalah realitas yang hanya dijumpai dalam kerangka hubungan interpersonal manusia.

    Oh iya, mengenai UAN saya sama-sekali tdk sepakat. Percuma ada KTSP yang katanya otonom, tetapi masih ada UAN yang masih berfikir dalam kerangka sentralistik. Lagipula UAN hanyalah ladang diksriminatif bagi strata pelajaran-pelajaran tertentu. Seakan ada tingkatan bahwa yang di UAN kan adalah pelajaran penting, sedangkan yang tidak di UAN kan tidak penting. Bahasa misalnya, itu adalah keterampilan, bukan ilmu. kenapa mesti diujikan.

    UAN hanyalah jejaring yang ditebarkan untuk melanggengkan bimbingan belajar yang kapitalistis. UAN…….katakan sendiri apa yang pantas kita katakan untuk mengatakannya.

    sapere aude

  • hmm

    Saya anak kelas 3

    menurut saya 3 mata pelajaran pun da cukup krn hemat waktu ujian tetapi tahun ini standart lulus ribet amat??mau ini la itu la..
    kok gak di samakan aja tian tahun??trus pemerintah tu asal di ganti yg baru ganti juga sistem kurikurum???mmg enak ganti aja tapi sebelum di ganti mikir yg di bwah dl…sanggup jalanin pa gak?? mmg kita semua harus jalanin tapi kan gak usa di buat sesulit ini kan??
    sebenatr lg da globalisasi pag gak MALU negara masuk ke indonesia dan melihat sistemnya begini??
    kalau ada kata-kata yg menyinggung hati sebelunya saya minta maaf..
    semoga semua LULUS UN tahun ini!!!

  • lilen carmon

    Sudah 2 hari ini, anak saya ikut UAN – SMA, pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, dan selama dua hari ini dia stresssss, apakah harus ikut-ikut curang atau tetap percaya diri pada kemampuannya, toh target dia hanya sekedar lulus karena sudah diterima di UGM.

    Pada hari pertama beredar disekolahnya jawaban atas soal UAN Bahasa Indonesia, katanya soal-soal itu diambil malam-malam, kemudian dikerjakan dan besuknya digunakan untuk UAN. Sayangnya hasil pengerjaan soal Bahasa Indonesia kurang meyakinkan dan banyak muncul variasi jawaban.

    Pada hari Kedua, lain lagi ceritanya sebagian besar teman-temannya (sekitar 4 kelas) sudah mendapatkan jawaban dan ternyata jawabannya relatif valid., sedangkan beberapa kelas lainnya tidak mendapatkan soal dan merasa pesimis atas hasil kerjanya karena soal matematikannya relatif sulit. Akibatnya setelah ujian selesai dan melihat situasi sebagian teman-temannya mendapat kunci jawaban, maka mereka banyak yang stres bahkan sebagian besar menangis takut tidak lulus.

    Sebagai orang tua saya mencoba mendidik anak untuk menjadi anak yang jujur dan itu sudah saya tanamkan sejak kecil. Namun melihat situasi seperti itu, tentu saja dilematis. Akhirnya dengan segala resiko, saya memintakan kepada anak saya agar percaya diri saja pada kemampuan yang selama ini telah dia tekuni melalui berbagai Tryout UAN dan tidak usah terlalu risau terhadap situasi sekitarnya. Masih ada Tuhan yang menyertai. Kedua, bisa saja nantinya akan terjadi tindakan-tindakan sanksi terhadap yang melakukan kecurangan dengan tegas. Insyaallah.

    Sebagai seorang ayah, “kudoakan semoga anakku lulus”

  • -niwa-

    Saya salah satu siswa kelas XII di suatu SMAN Tangerang yg damai…

    Akhirnya…UN yg menakutkan itupun berakhir…saya kurang setuju BGT kalo UN dijadikan standar, kenapa?? Yang tahu bakat seorang siswa itu ya…dia sendiri…dan guru yg membimbingnya tentunya…apakah karna 3 pel itu gak lulus lantas masa depan mrk hancur?? Semua manusia pasti tw, didunia ini gak ada manusia sempurna…masing2 orang diberikan kelebihan dan kekurangan, kalo dia mampunya di pel bahasa…dan punya karir tinggi di bidang itu, tapi mtknya kurang menguasai…apakah bakat yg dimilikinya jg harus hancur?? Terbukti dg teman2 saya…dia begitu pandai dlm bahasa inggris…sampai2 selalu menang dalam berbagai macam perlombaan, tapi dia lemah di bid mtk…nah apakah masa depannya harus suram hanya karna dia tidak lulus di MTKnya??? Teman saya satunya lagi, dia paling jago berhitung dan lemah di bahasa inggris…NAH TERBUKTI KAN??? Kalo MANUSIA ITU GAK SEMPURNA?? DAN MEMANG GAK ADA MANUSIA YG SEMPURNA…(termasuk kalian yg baca tulisan ini kan? coba pikir baik2…jgn ngerasa sombong karna yg maha mengetahui hanyalah TUHAN) Saya yg merasakan…takut…gelisah…stress…sedangkan ANDA para petinggi pendidikan gak tw keadaan di lapangan tuh gimana?? Bukan cm materi pelajaran yg kami persiapkan…tapi juga mental spiritual, setiap hari mengadakan yasinan bersama, karna kami benar2 takut….apakah kalian tega?? Kalo anak anda bunuh diri karna gak lulus UN?? Itu komentar semua teman2 saya…MALU kalo nantinya gak lulus jd jalan terbaik adalah “bunuh diri”…padahal menurut saya kemampuan kita gak bisa di ukur hanya dengan 3 pel itu saja…coba kalian pikir…belajar cape2 3thn dgn byk mata pel hanya 3 yg menentukan LULUS ato tdknya siswa…!!! saya suka belajar…karna itu bikin saya bertambah pengetahuan…pelajaran apapun itu…meski gak disemua pel nilai saya bagus…memangnya yg diharapkan dr pendidikan itu…apa sih?? UANG?? Setelah lulus SMA dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi lalu…apa? mencari UANG kan?? satu2nya alat yg bisa bikin semua manusia BUTA!!!Demi uang karna uang dan dengan uang….banyak manusia yg menghalalkan segala sesuatu spt kecurangan dlm UN….kenapa??krn mrk shock!! Sekarang saya ngajak anda berfikir…kalo anda berada dlm posisi spt saya gimana?? 3 pel itu kurang anda kuasai sdngkan anda sangat menguasai bid lain…bahkan punya karir kedepan krn itu…yah…contoh nyatanya juara olimpiade fis…gak lulus UN tp dpt beasiswa kuliah di luar negri…sgt disayangkan…jujur saja soal UN kali ini gak sesulit yg saya bayangkan sih…tapi dengan kondisi stress soal yg begitu mudahpun jadi terlihat susah… yah..saya cm berharap pendidikan Indo makin maju dan tolong jgn JADIKAN ANAK BANGSA sbg KELINCI PERCOBAAN PEMERINTAH…ok, peace….-damai itu indah-

  • putrie

    ih gila jg pendidikan sekarang belajar biologi ada praktikum kelinci percobaan ne sekarang anak bangsa juga tak luput dari percobaan para kepala besar, ga mikir klo bangsa ini susah hidup eeh malah mikir standar kaek orang kaya, oya sorry gw baru sadar klo yg buat aturan ne orang yg udah serba cukup ga mikir makan apa ntar siang karena uang buaaaaaaaanyaaaaaaaaaaaaak, oya pak menteri coba klo yang bikin aturan di indonesia ini orang miskin pasti banyak prihatinya. tapi salut deh untuk yang bikin aturan=aturan baru makin banyak yang diatur makin banyak uang disaku yang penting aszzzzzzzzzik. takuuuuuuuuuuuut hidup klo masiiiiiiiiiiiiiiiiiiih aturan kaek giniiiiiiiii.

  • putrie

    guru ku sayang………..!!!!!!!!!!!!
    coba kalau ada badai yang datang
    itu badai ujian nasional
    memporak peranda rumah yang tlah dibangun guru dengan tetesan keringat kadang bahan dikasihpun telah compang camping tetap saja guru itu gigih untuk membangun biar kuat dan megah, guru ku sayang ga bisa dibalas jasa yang tlah kau tanam pada kami hari-hari berlalu bersama mu kamidamai….. sejuk dannyaman bila kau tuturkan nasehat. guru ku sayang badai ujian nasional membuatmu resah gelisah ………… kamipun tertunduk saat badai itu datang tak tau harus bagaimana. kalau kami gagal UN kata orang kami tak belajar ….. tapi kalau kami gagal ujian diberikan oleh guru ada poin yang pantas itupun kami maklumi….. karena hari hari bersama guru. terimakasih guru doakan kami anak mu agar kami kuat dengan segala aturan pendidikan sekarang ini. Salam Hormat untuk semua guru di negeri ini

  • danifa

    UJIAN KEMAREN NYEBELIN BGT COZ APA YANG UDAH DIPERSIAPIN SELAMA 3 TAHUN INI SEDIKIT BGT YG KELUAR PAS UJIAN KEMAREN!!!!!!!!!!
    PEMERINTAH AJA NGASIH KISI GAK NIAT BUAANGET YA SOK RAHASIA GITU DEH!TAPI BUKTINYA STLH UJIAN SELESAI BANYAK BGT ANAK2 BERWAJAH KECEWA.QTA NGERASA JADI KELINCI PERCOBAAN!
    PESAN BUAT PAK PRESIDEN:”PAK SBY YANG SAYA HORMATI KALAU PILIH MENTERI PENDIDIKAN SESUAI BIDANGNYA DONG,KAYAK KI HAJAR DEWANTARA YANG MENGERTI SEKALI TENTANG ARTI PENDIDIKAN ITU SENDIRI!TERIMAKASIH PAK!(maaf agaki emosi+ndongkol abiz).
    DOAIN YA PAK SUPAYA QTA LULUS SEMUA WALAUPUN DALAM TEKANAN!

  • rani

    hehe, blog-nya pak budi jadi rame sama anak SMA ;P

    taun kemaren banyak baca cerita ttg anak2 yg sehari2nya pinter tp ga lulus UN

    quote pak budi:
    Mengapa tidak diadakan ujian susulan (her?) untuk kasus-kasus tertentu?

    kayanya bagus tu. mungkin syaratnya rata2 kelas 1-3 min 6 dan matematik, bhs indonesia, bhs inggris selama kls 1-3 min 7, atau gimanalah.

    kalo soal standar kelulusan dan tidak meratanya kualitas pendidikan, panjang deh…

  • ANGGUN

    kenapa pendidikan saat ini ,adalah sesuatu hal yang sangat mahal harganya,dan kenapa hanya dengan 3mata pelajaran yang di uan kan itu ,dapat mengukur kemampuan siswa tsb,
    apa pemerintah tidak mengerti ,pendidikan yang di tempuh selama 3 tahun yang telah menghabiskan banyak biaya ,yang tak dapat terhitung lagi berapa biaya yang harus orang tua mereka keluarkan,
    dan apalagi jika anaknya tidak lulus dan harus mengulang lagi selama satu tahun,
    berapa lagi biaya yang yang harus mereka keluarkan apalagi bagi kelurga yang tidak mampu .
    memang pemerintah telah menyediakan program paket C yang dapat di ambil sebagai solusi,namun apa guna sekolah selama 3 tahun yang akhirnya manghasilkan ijzah paket C!
    tolong bagi pak yang berada di atas kenapa sistem pendidikan itu harus seperti ini.

  • ririn febriyani

    pemerintah seharusnya memperhatikan terlebih dahulu contohya saya mungkin tahun depan sudah 7.00 jadi seakan akan gw siapin yang mata pelajaran tiga itu jadi gw bingung harus berusaha yang ketiga itu sementara itu pelajaran lain apalagi yang namanya smk tuhhh MERUPAKAN SALAH SATU YANG MEMPUNYAI KETERAMPILAN OK LAH KALAU MISALANYA LULUS TAPI GAK PUNYA KETERAMPILAN SAMA AJA KAN BOOONG THANK YA MUDAH MUDAHAN PEMERINTAH GERTIIIN
    MSKSSIH YA

  • icha

    duhhhhhhhhhhhh…cIan BaNgAt SicH,,,,, klo smpai ngk lUlUs Ujian Pemerintah seHarusNya Tidak Menentukan aturan ini dOnk Masa kalo 2 mata pelajaran 9 eh cuma gara-gara ada yang nilainya 4,0 ngk lulus pareah bgt siCh from icha sma 42 jakarta

  • rizka

    uan………….oh No saya murid sma 3 kls 3 bekasi thn k’marin sixch yang gak lulus ada 67 ortang semoga tahun ini lulus semua amieN…………………………..,jh,l ghj smp 7 bekasi

  • Mpu Gondrong

    Inilah penyakit bangsa Indonesia, selalu takut dengan kegagalan, ujung2nya toleransi, kasihan, kekeluargaan, dst. Tidak heran kalo daya saing Indonesia SANGAT MEMBLE. Terbukti jelas misalnya di Olahraga.

    Gagal itu biasa dan harus dianggap hal yang biasa. Bila diolah secara positif kegagalan dapat mendorong orang untuk meningkatkan kemampuannya. Yang perlu dilakukan adalah sosialisasi tentang kegagalan dan alternatif atas kegagalan tersebut.

    Kalo semua orang lulus ujian, lha apa namanya masih disebut ujian? Ini mah namanya kehadiran.

  • Sunarno

    Berbagai kebijakan pemerintah sebagai upaya mendongkrak mutu pendidikan kita belum memperoleh hasil yang menggembirakan. UAN sebagai salah satu upaya tersebut dalam kenyataannya belum memenuhi harapan. Perlu adanya reformasi pelaksanaan UAN sehingga benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan

  • vjay

    gw anak kelas 3 sma!pesan gw hapus aja acara yang gituanlah!kayak yang gak ngerasa aja punya anak kalo ga lulus!!mikir atuh yang jernih!!

  • muammar

    sebaiknya ujian nasional tidak usah diadakan, diganti dengan ujian kemampuan dengan satu pelajaran yang berpengaruh dalam ujian yang akan dihadapinya diperguruan tinggi.

  • icha a.k.a anisa

    ya ampun UN sekarang….please deh,,,pemerintah,,,
    kasian donk anak2 yang gak lulus cuma gara-gara 1 mata pelajaran,,,,kan rasanya kita jadi diperbudak sama UN….
    belum lagi taun ini banyak banget kebocoran UN,,,,
    tolong donk…”Pemerintah”,,,,perhatikan Pendidikan Indonesia…
    mau jadi apa Bangsa Kita kalo soal UN ini terus-terusan gak di benahi……….

  • ridam

    wah iya semua tul tul tul tp, masak sih semua itu mesti ditanggapi dengan begitu. kalo pada mau liat bgmn guru yg ada sekarang

  • this

    UN ya?
    Hmm…sbg slh 1 pserta UN taon ini, aq mohon doa dr pembaca sekalian.
    Doain kami semua lulus dgn nilai memuaskan.
    gk cuma skedar lulus dgn nilai pas”an.
    Doain jg agar aq lolos SPMB plhn 1. amiiiin!! ^-^
    thx before!
    oia, bwt tmn” seangkatan, ntar klo udah lulus, gk usah neko” kyk konvoi,corat-coret baju,dsb.
    Useless n norak bgt, tau!
    Masa’ lulus UN aj udah euforia kyk gt?
    Think ahead! Jalan msh panjang ‘n UN bkn akhir prjuangan qt.
    Ok, best wishes 4 u all.
    wass..

  • subagia tarya

    apa kabar 47? buat anak kelas 3 yang sedang menanti hasil UN, saya berpesan. Jangan puas diri atau kecewa apapun hasilnya, tapi berpikirlah, bahwa ada yang lebih penting setelah itu, yaitu yang akan kamu lakukan setelah pengumuman 16 Juni nanti. Semoga diberkahi selanjutnya.

    wass.

  • Shantee

    haduuh……
    uan bikin pusing! masa tiga tahun dipertaruhkan tiga hari?gak adil dunk!
    pendidikan seorang gak boleh diukur oleh 3 mapel aja, iya kan? walopun sekrang uas juga ikut dipertimbangkan, tapikaaaaaaaaan………..
    buatq…uan mendidik sebagian bangsa indonesia menjadi RUSAK n CURANG……liat aj berita di TV.anyway mua tep ada dampak positifnya kog!
    anak2 kelas 3 diseluruh indonesia………
    SEMANGAT

  • fatar

    uan it adlah sesuatu yg bangsat…gw di jadiin klinci percobaan.gw skulah 3tn cuma nungguin kata” LULUS..klo gk lulus kemnakan masa depan anak bangsa,,

  • fatar

    doain gw biar lulus y………..

  • Aam Amarullah

    POLISI MASUK SEKOLAH, ANUGERAH ATAU BENCANA?

    Saya…guru tak bisa dipercaya…

    Setengah terpana saya melihat seorang polisi yang masuk sekolah dengan menenteng senjata apinya mengawal guru yang membawa soal, sungguh hati ini terenyuh, sebagai seorang pendidik saya merasa dicampakkan, betapa sang guru, sudah tidak dipercaya lagi sebagai orang jujur di negeri ini…Hari berikutnya saya melihat kawan-kawan di televisi mengatasnamakan Komunitas Air Mata Guru menangisi temen guru lain yang berbuat curang, betapa aku tersentak, sebegitu rusakkah moral para guru sampai tidak takut terhadap polisi?

    Entahlah apakah ini gugatan ataukah keluhan, dilamunanku muncul rentetan kata kata,…siapa sebenarnya yang tahu kondisi anak didik dikelas? apa sih maunya para birokrat yang memberikan kewenangan kurikulum tingkat satuan pendidikan kalau nasib anak ujung-ujungnya ditentukan hanya tiga hari dengan materi yang itu-itu juga? benarkah anak di jakarta dan di luar jawa mampu berkutat dengan soal diatas angka 5? kalau memang para guru tidak dipercaya, jujurkah para birokrat disana?

    Lamunanku semakin beranjak tinggi, ah seandainya bukan UN sebagai penjegal siswa yang berprestasi dibidang non 3 pelajaran itu, seandainya sekolah sebagai penentu kebijakan kelulusan, ah seandainya UN hanya sebagai parameter keberhasilan sekolah oleh pemerintah, seandainya UN diganti dengan uji sertifikasi siswa berprestasi masuk universitas, seandainya para guru mempunyai sikap mulia seperti komunitas para guru, seandainya para guru tidak merasa tega melihat anak yang sudah berkutat 3 tahun, yang jujur, yang sopan, yang tertib, yang begitu hormat, yang suka bermusik, yang suka meneliti, yang suka menggambar, yang penari, yang pecinta budaya pribumi yang hobby pramuka, paskibra, bela bangsa ternyata terjegal hanya karena tidak mampu berhitung dan ngomong bahasa orang, tentu tidak harus pak polisi repot-repot masuk sekolah, tidak perlu ada kecurigaan antar guru, tidak perlu ada kepala sekolah yang dipecat akibat terlalu sayang pada anak-anaknya…

    PERCAYA PAK! SAMPAI SAAT INI GURU MASIH MENJADI KOMUNITAS NEGERI YANG BERMORAL, YANG EMPATI, YANG INGIN MENSUKSESKAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL, IKHLAS BERKARYA, RELA BERGELIMANG PELUH, YANG SIAP MENCETAK GENERASI PENERUS SEBAGAI CALON PRESIDEN, MENTERI PENDIDIKAN, BAPAK GUBERNUR, BAPAK KANWIL, KEPALA SEKOLAH, PARA TPI, PARA POLISI…SEKOLAH TINGGI YA NAK, YANG JUJUR, YANG MAMPU BERBUAT BIJAK, JANGAN SEPERTI BAPAK DISINI…CUKUP BAPAK SAJA YANG JADI GURU…

    Lamunanku buyar ketika seraut muka dengan gemerincing perhiasan muncul tiba-tiba di depan mata, “Pak, katanya PSB sudah dibuka ya? saya mau daftarkan anak, tapi gratis ya pak, kan katanya sekarang sekolah itu gratis?””Alhamdulillah, iya Bu, sekarang pemerintah sudah banyak membantu kita, jadi anak Ibu tinggal ikut test saja besok”.”Aku meraih anak kecil itu dengan pandangan iba, “kamu nanti mau jadi apa nak, ayo cerita sama bapak”, Insya Allah dana BOS masih mencukupi untuk menghantarkan masa depanmu, tapi tolong ya nak, Bapak mohon jangan tertawakan Gurumu ini yang nanti pulang pake motor butut lain daripada Ibumu yang sanggup bayar tujuh kali lipat dari SPP tahun lalu…

    Aam Amarullah
    Be A Best Teacher Or Nothing

  • Iwan Darmawansyah

    Seorang Visioner yang berfikir positif mampu menahan tekanan masalah rumit dan sekaligus membalik kerumitan dengan menerobos celah kecil menjadi peluang baik.

    Berfikir positif masalah sulit tak menjadi rumit. Ayo Indonesia Bangkit!

  • ida hade

    Setuju,ujian nasional sangat merugikan peserta didik, karena sebagai penentu kelulusan siswa. Ini jelas sangat tidak adil.Disamping itu ,masih banyak terdapat kesenjangan sarana pendidikan pada sekolah kota (kaya)dan pelosok. Pemerintah hendaknya mempertimbangkan kondisi demikian. “Masak becak dibandingkan dengan mercy” Harusnya apple to apple kan…?
    Standarisasi memang perlu tapi jangan digunakan sebagai penentu kelulusan,karena sangat bertentangan dengan kaidah pendidikan. HasilUjian hanya melihat dari satu aspek kognitif saja.Kompetensi pada dasrnya meliputi 3 aspek: skill, knowledge dan karakter.

  • novee

    menurut gw Ujian nasional ntu gx usah diadain aja de.. klo diadain malah bikin anak stress, depresi, sampe bsa bunuh diri cma gara- gara gx lulus ujian.. klo ujian nasional bikin byk masalah mending gx usah diadain!!!!!

  • criztine

    salam kenal!!!
    kapan yach pemerintah ganti kebijakan. standart ujian nasional di hapus aja. menurut saya pemerintah terlalu kejam karena kelulusan sekolah cuma di tentukan 3 mata pelajaran aja, sementara pemerintah tidak melihat nilai – nilai yang di peroleh siswa setiap hari di sekolah.

  • Anak SMA

    anak SMA lulusin ajah pak…

    klo SMK jgn di lulusin…

    maklum, pada bego2 smua,
    mereka taunya kerja doang

  • Ecy

    Temen2 seluruh Indonesia…
    Jgn patah semangat donkz..
    Biar aja syarat UN naik,,,
    But, hidup kita gak kan berakhirkan…???
    So… BE CALM TO DO EXAMINATION!!!
    sAlam Damai^_^

  • airachma

    mm… gimana yaw? kalo dihapskan juga repot.. beberapa minggu kemarin aku sempet liat di televisi liputan 6 yang nampilin masalah guru di sumatra, mereka mogok ngajar apabila unas tetep ada alasannya, itu adalah lahan korupsi, tapi… apabila dihapuskan, aq yakin pasti ada lahan korupsi baru, bukannya ber-negative thinking,tapi,,, kalo’ unas dihapuskan pasti cara penerimaan murid baru, bakal ada test, dan bisa aja khan “nitip sana-sini” lha, apa bedanya dengan unas?
    namun, aku juga rada’ sebel liat unas,,, kita harus memenuhi standart 2 nilai 9, 1 nilai 3 udah gak lulus terpaksa ngulang,,,
    tapi bagaimana lagi?
    cuek? mau jadi apa bangsa kita kalo’ kita sendiri udah gak peduli sama pendidikan bangsa?

  • Winie Andrea

    Comment saya, UN standar kelulusannya ga boleh di naikin melulu. Bakat orang kan beda-beda, ada orang yang lebih pintar di praktek, UN kan cuma teori. Dan lagi, UN sekarang nyontek semua, yah… sama aja bo’ong. Kalo ada yang ga lulus, kasihan dong muridnya, sudah berjuang di “medan perang” tiap hari, tapi cuma gara-gara UN jadi sia-sia. Lagian kalo kita udah terjun ke lingkungan hidup, kita ga akan selamanya pake teori, kita justru lebih banyak pake praktek. Sekarang di sekolah-sekolah lebih banyak yang mentingin teorinya, termasuk di sekolah saya,tiap hari ulangan melulu tapi ga pernah praktek, terus tau-tau ada ujuan praktek… aduh cape de… untung saya lulus.

  • cash499

    Salam,
    Ya, sebaiknya Ujian nasional harus tetap diadakan. Memang di sana-sini terjadi kekurangan dan di samping itu banyak penyimpangan dilakukan oleh oknum-oknum yang sangat tidak amanah dan tidak bertanggung jawab.
    Pertimbangan oknum-oknum tersebut seringkali juga masuk akal mengingat ujian nasional telah mematok harga mati, siwa yang tidak mencapai nilai batas kelulusan tertentu “PASTI TIDAK LULUS”. Saya yakin pertimbangannya bukan karena rasa kasihan terhadap para siswanya. Yang lebih urgen adalah pertimbangan nama baik sekolah dan masa depannya, nama baik dinas pendidikan, dan sebagainya.
    Memang, hal ini sangat tidak dapat dibenarkan menurut hukum dan peraturan yang ada. Namun demikian, seringkali di lapangan hal ini menjadi dilema yang sulit pemecahannya.
    Karena itulah, pemerintah (dalam hal ini Depdiknas) tidak menutup mata dan hati untuk menerima realitas penyimpangan tersebut sebagai dasar untuk merevisi sistem ujian nasional yang ada. Ujian nasional yang telah berlangsung beberapa kali ini menunjukkan hal tersebut, bahwa pemerintah selalu memperhatikan aspirasi dan revisi dari berbagai pihak. Kiranya hal tersebut juga harus tetap dilakukan untuk ujian nasional 2008 ini.
    Pendapat saya, ujian nasional sudah merupakan sarana tepat bagi evaluasi akhir siswa. Penyimpangan terjadi perlu dicarikan solusi yang bijak dan ketat.
    Bagaimana seandainya, soal ujian nasional dibuat sangat beragam berdasarkan jumlah siswa dalam satu kelas. (Bila dalam 1 kelas ada 20 siswa, maka soal ujian nasional ada 20 macam).
    Saya yakin penyimpangan tersebut akan dapat dikurangi. Cara koreksinya? tidak masalah dan sangat mudah bila diserahkan pada komputer.
    Kejam nggak ide ini!

    http://www.smart-unas.blogspot.com

  • Akhras Ayyash

    Waduh…tahun 2008…uan 6 pelajaran….sekalian aja thn depan tambah jadi 9…btw gimana ya kalo mendiknas kitaa masih punya anak sma terus nggak lulus UN…hehe…dia yang bikin kebijakan…dia yang kena….47ers

  • mahfud

    Aku kok percaya bahwa yang bisa ngikuti kurikulum Indonesia itu hanya 15% atau 20% lah. Sedang yang 80% ndak bisa. Sebab ndak semua anak itu cerdas Matematis logis dan Linguistik (kata Howard Gadrner), padahal UN itu pakai standar itu. Maka jadinya, ya banyak guru dan murid yang kelabakan. Jadinya segala cara ditempuh agar lulus UN. Curang gitu! Kalau begini, pendidikan kita telah ngajari anak ndak jujur dan menghalalkan segala cara untuk capai tujuan. Tentu ini bertentangan dengan visi misi pendidikan itu sendiri. Kalau aku sih punya usul. UN itu hukumnya sunnah, ndak wajib gitu lho. Anak-anak yang akan nerusin kuliah dan ingin jadi intelektual and pemikir sajalah yang harus ikut UN. Apakah semua anak sekolah itu diwajibkan jadi intelektual dan pemikir semua? Ah … omong kosong! Siapa nanti yang bakal jadi pegawai pabrik tekstil dan lain-lain. Mereka-mereka ini (80%) ya ndak butuh ilmu-ilmu yang di UN kan itu. Jadikan yang 80% menjadi profesional menengah ke bawah yang ndak butuh ilmu ndakik-ndakik. Yang penting mereka itu menjadi generasi yang jujur, mau kerja keras, dan cinta akan pekerjaannya. Gitu lo!

  • aditya20

    Gimana mau lulus 100% lha wong pendidikan di Indonesia juga masih belum tertata dengan baik. Mbok ya lihat dulu Ujian nasional tahun kemarin, jangan asal dinaikan saja. Toh kemampuan otak setiap orang kan berbeda-beda…

    Liat juga dampak negatifnya dulu bagi yang ga lulus. Bahkan ada kasus sampai bunuh diri gara2 ga lulus ujian nasional. DUh piye Dab!

    Bukannya tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.??

  • siap ujian

    Akan tidak bagus juga kalau ujian nasional dijadikan “kambing hitam” untuk kasus ini. Menurut saya sendiri bisa jadi siswa sendiri juga memang tidak ada kesiapan dalam menghadapi ujian nasional.

    Terbukti banyaknya siswa yang membolos lebih emilih ke tempat2 hiburan di bandingkan datang ke sekolah sendiri, frekuensi belajar yang kurang (lebiih banyak di gunakan untuk having fun), les-lesan hanya dijadikan sebagai ajang mencari pacar.

    Memang tidak seluruhnya sih kalo menurutku. Tapi beberapa tahun ini ada sedikit pergeseran. Kalo dulu malam hari di kamar digunakan untuk belajar, sedangkan sekarang malam lebih banyak di habiskan untuk SMS-am ama TTM-nya masing-masing.

    Ada juga peran orang tua di sini sehingga tidak seluruhnya di pasrahkan kepada pendidikan formal (sekolah). Orang tua juga harus ikut memperhatikan pendidikan anaknya.

    Karena tanggung jawab ini bukanlah hanya tanggung jawab pemerintah, sekolah, tapi juga kita semunya karena semuanya pasti ingin bangsa ini maju.

    salam,
    http://www.siap-ujian.com

  • dian

    saya ank SMK kls 3
    saya perhatikan UN skrng malah mengaajarkan anak2 untuk nyontek dan berperilaku tidak adil
    saya melihat dari teman2 saya yg kmren baru melekukan UAN
    apakah praturan UN ini bs di rubah
    karna sama saja bangsa indonesia melahirkan anak2 yang tidak jujur
    apakah jiwa2 yang seperti ini yang akan menjadi pemimpin negara kita

  • stanislaus

    tiga pilar penjamin mutu pendidikan, pertama EvaluaSI pembelajaran…diantaranya adalah UAN, kedua, Sertifikasi…penilaian kualitas keprofesionalan tenaga pendidik; dan yang ke tiga adalah akreditasi…. yg merupakan penilaian kelayakan satuan pendidikan dalam penyelkenggaraan pendidikan. Oleh sebab itu apa yg dikatakan pak Nuh…tentang national character building harus mendapat porsi yang cukup. Semboyan JUJUR itu HARUS dan PRESTASI itu Pasti/Yes… perlu diapresiasi sebagai sebuah pembelajan moral. Persiapkan anak didik kita agar siap menghadapi tantangan kehidupan. Terima kasih.

  • yudi

    UAN, sertifikasi, dan akreditasi perlu, tetapi harus dilaksanakan secara proporsonal dan dikembalikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan…. UAN tetap dilaksanakan tetapi bukan untuk menentukan lulus/tidaknya siswa tetapi nilai yang dihasilkan sebagai indikator untuk memperbaiki komponen pendidikan (kurikukum, guru, fasilitas, kebijakan). jangan untuk mengejar proyek UAN atau sertifikasi… siswa dan guru jadi korban… akhirnya keberadaan UAN jadi sesuatu yang mengerikan untuk siswa termasuk guru dan sekolah… saya tidak mengerti para ahli pendidikan masih menganggap UAN ini menjadi alat funishment bagi masa depan siswa… kalo bgt caranya apa artinya sekolah bertahun2 hanya di uji dengan test (intelektual) saja dalam 3 hari… sementara sukses hidup seseorang tidak ditentukan seberapa pintar dan mampu lulus UN….. pengalaman saya yang sekolah SMU era tahun 80-90an nilai test UN SMA di bawah rata-rata mungkin kalo diukur sekarang tidak lulus… tapi bisa mengikuti dan lulus program S1, S2 bahkan S3…. artinya belajar tidak dibatasi oleh hambatan nilai…. tetapi yang penting bagaimana siswa menghadapi kehidupan dan masa depannya untuk dunia dan akhirat…. harus seimbang IQ, EQ dan SQ….. berikan keleluasan sekolah atau institusi pendidikan untuk mengembangkan kreativitas dan keuinikan masing-masing, pemerintah cukup membangun lingkungan dan regulasi atau kebijakan yang mendukung kemandirian dan kemampuan sekolah untuk melakukan inovasi dan perubahan.

    Terima kasih

  • risal

    tau ci’lasoko leh…iyakkua bae’ lao muurusu7….

  • ADETYA SABDA GEMASI

    kita harus menghadapi ujian nasional degan suka maupun duka, karana setiap anak yang menghadapi sekolah maka harus wajib juga menghadapi ujian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.595 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: