Ini sebuah cerita tentang seorang pematung yang jatuh cinta kepada karyanya, patung seorang wanita. Berhari-hari dia menatapi karyanya, menyentuh tangannya, mengelus pipinya, berharap suatu saat dia bisa hidup bernafas.
Setiap hari dia membayangkan kehidupan bersamanya. Berjalan-jalan bersama. Tawa dan canda bersama. Tua bersama. Ah, betapa indahnya.
Winter datang. Dingin pun datang. Sang pematung pun tetap bertahan di luar sana. Setia bersama kekasihnya. Karena sang wanita tak kunjung datang, maka sang pematungpun yang datang menjemputnya. Dua sosok kaku di sana.
Ah … ini mungkin ekstrim sisi lain dari mencitai pekerjaan (seperti yang saya tuliskan dalam “setengah hati …“).
[ide berasal dari lagu Yes - Turn of the century.]


Juli 8th, 2006 at 4:12 pm
Bapak lebih suka yang mana? Yang setia atau yang setengah hati? Karena saya rasa yang setia punya motivasi tapi yang setengah hati tidak atau kurang motivasi.
Soalnya saya juga mengalami kok…
Motivasi satu = Mimpi bahwa si patung akan hidup (gila dong?…).
Motivasi dua = Gaji yang pantas.
Jangan marah ya pak,….
Juli 8th, 2006 at 4:15 pm
Bekerja telah menjadi hidup itu sendiri, menyatu dengan tiap tarikan nafas. Ini memang sisi ekstrim, seperti dongeng, mimpi. Tapi bukannya tidak mungkin…
Juli 8th, 2006 at 5:08 pm
Di dekat rumah saya, ada kota kecil Detmold (kota tempat konservatorium tertua di Jerman). Di dekat kota ini ada patung Arminius, dipercaya sebagai raja Jerman pertama. Patung ini dibuat oleh Herr Bandel (namanya memang seperti ini). Begitu cintanya Herr Bandel terhadap pekerjaan membuat patung Arminius ini menyebabkan dia memilih hidup sendiri di bengkelnya yang sekitar 100 meter dari patung Arminius, agar bisa tetap meneruskan bangunan itu. Dia mengumpulkan duit sendiri, material sendiri untuk meneruskan karya patung itu. Awalnya patung ini dapat dana dari kaisar(?)
Padahal di era itu, dia adalah pematung terkenal yagn bisa kaya raya dengan memilih tetap menerima order pembuatan patung lainnya. Tetapi karena obsesi karya patung Arminus lebih menghantuinya, dia memilih hidup sampai mati di bengkel pembuatan patung Arminius itu. Dan kini saya bisa menikmati karya Herr Bandel ini.
Memang bandel Herr Bandel itu.
Juli 10th, 2006 at 12:02 am
Manikmati kerja dan terhindar dari rutinitas. Jangan sampai seperti pekerja hotel dan Maya dalam novel
Juli 10th, 2006 at 12:43 am
sambung…,maksud saya, dari novel cala ibi, lihat di http://niatnulis.wordpress.com/2006/07/08/nukila-amal/
Juli 12th, 2006 at 3:36 pm
setia
pd tempat yg benar adalah perlu,
hanya
pd tahap awal
kita
masih bingung
kemana kita harus setia,
tapi bingung ini pun
tidak lah boleh berlangsung lama
karna kalo tidak
kita akan diterkam
oleh zaman …
btw,
saya tersenyum membaca artikel bpk di infolinux
edisi juli2006
“kebutuhan seorang programer”
saya bukan programmer
cuma terpaksa mrogram …
salam
dei
Februari 16th, 2007 at 2:59 pm
Sayang di semua live performance-nya, Yes nggak bisa membawakan Turn of the Century sebagus di studio albumnya = (
Juga untuk “Awaken”. Padahal di lagu-lagu lain bisa lebih dahsyat.
Salam