Apa esensi tes masuk perguruan tinggi?

Ada sebuah diskusi menarik tentang anak-anak Indonesia yang memenangkan kompetisi internasional di bidang fisika, matematika, biologi, kimia, komputer, dan seterusnya. Apakah sebaiknya perguruan tinggi merekrut mereka tanpa ujian saringan masuk? (Diskusi ini muncul dalam mailing list dosen ITB.) Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa sebaiknya mereka direkrut tanpa tes masuk. Perguruan tinggi di luar negeri, misalnya di Singapura, dengan cepat mencoba menarik mereka. Mengapa kita tidak?

Sebetulnya apa esensi tes masuk ke perguruan tinggi (katakanlah ke ITB)? Apakah hanya sekedar, kita memiliki 1000 kursi dan kita ambil 1000 teratas dari yang mendaftarkan ke ITB? Apakah hanya sesederhana itu?

Masalahnya begini. Kalau yang daftar adalah siswa terbaik dari seluruh Indonesia (dan bahkan luar negeri), maka tidak terlalu masalah karena memang 1000 yang teratas itu merupakan yang terbaik juga. Akan tetapi jika yang mendaftar adalah siswa-siswa ranking ke 700 ribu ke bawah, maka 1000 yang terbaik itu bukan “yang terbaik”. Entah apa namanya ya? Jadi sebetulnya ITB tidak boleh PASIF dalam menerima mahasiswa. ITB harus AKTIF dalam mencari mahasiswa. Sayangnya hal ini tidak dilakukan.
Dalam buku yang sedang saya baca (Good to Great), salah satu aspek yang penting adalah get the right people (on the bus). Bukan mencari orang seadanya kemudian mendidik mereka untuk menjadi lebih baik, akan tetapi memang mencari orang yang terbaik untuk dididik lebih baik lagi. Bagaimana melakukan tes (atau mencari) bibit yang terbaik ini? Salah satunya adalah memantau perlombaan internasional itu, bukan hanya mengandalkan ujian saringan masuk saja.

Karena ITB tidak melakukan pro-active recruitment, saya sarankan agar perguruan tinggi yang lain melakukannya. Itulah salah satu cara untuk mengalahkan ITB. Kebayang bagi saya jika ada perguruan tinggi lain di Indonesia yang berani melakukan rekrutmen siswa-siswi terbaik (secara pro aktif, bukan sekedar menunggu yang mendaftarkan testing). Perguruan tinggi ini (pelan tapi pasti) akan mengalahkan ITB. Tentu saja tidak dalam 1 tahun, mungkin dalam 10 atau 15 tahun. It can be done! (kecuali ITB sadar akan kelemahan ini dan melakukan sesuatu untuk memperbaikinya).

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

32 responses to “Apa esensi tes masuk perguruan tinggi?

  • Tabah Budi

    Setuju pak!!!

    Asalkan mereka dijamin kehidupannya (dapat beasiswa penuh) dari ITB selama kuliah, kayaknya mereka akan mau. Jangan sampai ada kasus putra2 terbaik Indonesia kabur keluar negeri karena tidak punya biaya untuk kuliah di Indonesia.

  • iang

    di UI kayanya jg ngga tu.. sedih..

  • DiN

    Bagaimana dengan PMDK?

  • Donny

    Sangat setuju pak,

    Saya pikir, memang sudah saatnya Perguruan Tinggi di Indonesia tidak melulu mengambil mahasiswanya berdasarkan tes…kalau saya berfikir, apa pun namanya, ujian masuk itu selalu kurang objektf, orang bisa menghafal rumus2 fisika, matematika, kimia dengan cepat, tapi tidak semua orang bisa memahami esensi dari rumus2 tersebut…

    Coba saja, tanyakan lagi soal yang sama kepada mahasiswa yang lulus UMPTN/SPMB…? Saya pernah mencoba ini dengan teman2 saya, dan hasilnya kurang memuaskan…sebagian besar lupa dengan apa yang telah dihafal…

  • IMW

    Saya heran, koq baru pada mikir sekarang :-), kami di PTS sudah melakukan sejak dulu, dalam upaya mendapatkan mahasiswa yang unggulan.

    Lha kalau mahasiswa pinter di kampus saya di Jakarta bisa dapat beasiswa dari S1, S2, S3 :-), bahkan termasuk di LN beasiswa itu.

    Dan itu sudah dilakukan sejak 15 tahun yang lalu hingga kini.

  • agusset

    berapa persenkah kontribusi mahasiswa yang pintar dalam menentukan maju atau bagusnya sebuah perguruan tinggi? sepemahaman saya, ada beberapa faktor yang berperan sangat dominan dalam maju atau bagusnya sebuah perguruan tinggi yaitu: dosen, mahasiswa, kurikulum, suasana dan proses belajar-mengajar, kegiatan ilmiah/penelitian, dll.

    mahasiswa yang bagus tidak akan berpengaruh cukup signifikan kalau faktor yang lainnya buruk. dan kita semua tahu bahwa untuk kondisi Indonesia, faktor2 lain itu memang ada beberapa yang cukup buruk seperti suasana dan proses belajar-mengajar yang kadang suka2 dosennya, kegiatan2 ilmiah/penelitian yang jarang atau yang itu2 aja alias jalan di tempat, juga materi2 kuliah yang kadang sudah kuno dan bulukan.

  • IMW

    #6, memang mahasiswa baik bukan segalanya, tapi merupakan faktor yang penting. Bagaimana pentingya ? Rasakan bila Anda harus mengajar di depan mahasiswa yang masuk kelas aja udah malas-malasan.

    BTW itu juga tidak hanya di Indonesia, di Jerman ini juga rasanya menyebalkan kalau harus ngajar di kelas yang mahasiswanya dodol.

  • Budi Rahardjo

    #6, seperti kata IMW (#7) memang akan terasa sekali perbedaan mengajar mahasiswa yang bagus dan tidak. Saya ambil contoh ITB. Biar dosennya dodol, lulusannya masih bagus karena ya memang dari sananya bagus (bukan karena proses pengajarannya). Seperti yang anda contohkan (suka2 dosennya, dsb.) itu juga terjadi kok.

    Bagusnya, mahasiswa bagus ketemu mahasiswa yang bagus juga. Mereka saling berkompetisi dan berkolaborasi. Hasilnya bagus. Jadi semakin banyak mahasiswa bagus yang masuk maka akan tercipta siklus (cycle) yang saling memperkuat. Kalau terjadi yang sebaliknya, mahasiswa bagus ketemu banyaaaaak mahasiswa yang dodol, akibatnya yang bagusnya yang rusak. Dia merasa paling hebat dan menjadi malas untuk berusaha (toh nggak ngapa-ngapain sudah bagus, mengapa mesti usaha?) Akibatnya terjadi siklus yang saling memperburuk. Ini yang saya takutkan.

    Makanya lebih baik kita berkumpul di milis/blog/forum yang saling memperkuat / memperbaiki. :D

  • zein

    gmn yang bodoh bisa pinter ya di negara ini…jika pinter harus dibuat komunitas…coba berbaur kan kita bisa merasakan semua efek dari kepinteran seseorang…

  • budiw

    #8: jadi intinya kan yang paling penting itu raw materialnya kan pak? kalo raw-nya sudah bagus, tinggal poles sedikit, sudah bisa mengkilat.
    #7: saya juga pernah merasakan “mengajar” anak yang sudah bagus dan yang dodol. kalau mengajar yang bagus, saya begitu bersemangat, sedang yang dodol sebaliknya.

    –budiw

  • Budi Sulis

    Nasib calon mahasiswa yang kurang bagus bagaimana? Calon mahasiswa kurang bagus kualitasnya belum tentu karena malas atau bodoh. Dugaaan saya, di indonesia, justru lebih karena faktor lingkungan pendidikan sebelumnya yang kurang bagus. Trus, di Indonesia kira-kira prosentase yang lebih besar yang mana? Kalau ITB hanya fokus pada calon mahasiswa yang kualitasnya top, apa sebenarnya efek yang diharapkan oleh ITB? Apakah seperti strategi ekonomi Indonesia jaman dulu, “efek tetesan ke bawah”?

  • Budi Rahardjo

    #9, jadi … harus “pemerataan kebodohan?” (bukannya yang bodoh jadi pinter, tapi yang pinter jadi bodoh). he he he.

  • Budi Rahardjo

    Seorang kawan yang mengajar di sebuah sekolah swasta pernah bercerita kepada saya betapa sulitnya mengajar sehingga dia harus pakai analogi bakso; “Kalau 1 mangkok bakso harganya Rp 7500,- berapa harga 5 mangkok bakso.” Hal seperti ini demoralizing (menurunkan semangat) bagi dosen dan mahasiswa juga.

    Saya ambil contoh yang nyata, S2 di ITB. Yang masuk ke S2 itu berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Nah, pada suatu saat saya mengajar kelas yang campuran (S1 dari berbagai tempat termasuk dari ITB). Ketika saya mengajar dengan tempo cepat, maka lulusan S1 ITB masih bisa mengikuti. Akan tetapi lulusan S1 dari perguruan tinggi lain bengong (tertatih-tatih).

    Saya ubah cara mengajarnya dengan lebih lambat (bukan sekedar speed tapi dengan cara yang lebih sedikit menyuapi). Lulusan S1 bukan dari ITB senang dan dapat mengikuti, tapi lulusan S1 dari ITB tertidur (bosan). Ini bikin susah dosennya. Ini juga salah satu alasan yang membuat lulusan S1 ITB kurang tertarik untuk mengambil S2 di ITB. Akibatnya, siklus negatif yang terjadi. Lihat saja penelitian di ITB yang kalah jauh dari perguruan tinggi lain (regional). (Catatan: penelitian dilakukan oleh S2 dan S3.)

    (Sesekali ditemukan juga “gem” / “intan” / “permata” di antara mahasiswa S2 yang berasal dari luar ITB ini. Biasanya mereka betul-betul permata! bukan karbitan. Bahkan jauh lebih bagus dari permata S1 ITB.)

    Saya tidak mengatakan bahwa semua lulusan S1 ITB lebih bagus dari perguruan tinggi lain hanya untuk berbangga-bangga atau menjelekkan yang lain. Bukan itu. Saya tidak peduli bangga-banggaan ini. Ini fakta (yang menyakitkan juga bagi kita semua), tapi suatu hal yang harus kita hadapi, bukan dihindari atau tabu untuk dibicarakan. Beginilah adanya. Nah, bagaimana kita menyikapi hal ini?

  • rendy

    temenku masuk 10 besar di TOKI nasional, lupa juara ke berapa. harusnya dia bisa masuk ITB tanpa tes, dia sekarang kuliah di Singapur karena dapet beasiswa, kebetulan dia minat ke tempat kuliah yang berbasiskan multimedia, (dia ambil major di 3D) lucunya, di SG bisa langsung masuk ke tingkat 2, tanpa matrikulasi dulu, modalnya dia cuman ikutan Deviantart dan aktif bikin karya. Lupa nama Univ nya apa di SG, anak angkatan 2006 (keluar sma nya)

  • anick

    Saya kira nggak semudah itu. Keberhasilan pendidikan tidak cuma ditentukan oleh bibitnya, tapi juga sistem pengajaran dan fasilitasnya. Kalau anak-anak peraih medali fisika itu bisa sekolah di Singapura yang sistem dan fasilitasnya menjamin kreativitas mereka lebih lanjut, mosok kita harus maksain mereka sekolah di ITB?

    Jangan-jangan kalau kuliah di ITB mereka malah tidak lagi berkembang seperti yang diharapkan, karena lingkungan belajar, fasilitas, dan pesaing (mahasiswa) lain tidak bias memancing mereka mengembangkan kreativitasnya.

    Kalaupun mereka kuliah di Singapura, mereka toh masih orang Indonesia juga. Kita masih bisa bangga karena “otak” Indonesia ada harganya di negeri orang.

  • budi sulis

    Saya kira ITB perlu mendefinisikan secara jelas standar minimal kualifikasi mahasiswa khususnya S2 dan S3 (pasti sudah ada, tapi apakah sudah tepat?). Ini bukan berarti hanya menerima mahasiswa paling top dari urutan teratas, jadi pokoknya memenuhi kualifikasi maka diterima. Yang tidak kalah penting, ITB perlu membangun sistem dan lingkungan belajar yang menjamin keberhasilan studi mahasiswa dengan kualifikasi tersebut. Jadi, mengapa riset S2 dan S3 ITB kurang maju? Ada beberapa kemungkinan (perlu diuji…)
    1. Apakah sistem seleksi mahasiswa S2 dan S3 kurang beres?
    2. Apakah ITB memang belum membangun sistem dan lingkungan belajar yang mendukung riset?

  • chiank

    Saya jadi teringat sesuatu. Beberapa tahun lalu, Hasil test UMPTN/SPMB siswa yang diterima ITB selama beberapa angkatan ( angkatan 95 s/d 2000 ? ) sempat beredar di ftp server ITB. Yang mengejutkan dari hasil tersebut adalah (asumsi : data itu 68 % valid ) Orang yang nilai testnya bagus tidak selalu lulus di pilihan pertamanya . Contoh saja, X lulus di Teknik Fisika ITB, sort dari nilai, X berada di urutan belasan dari seluruh siswa yang di terima di ITB angkatan tersebut.Logikanya, dengan berada di top-20, X bisa masuk jurusan apa saja yang dipilihnya di ITB. Kenyataannya, X lulus di pilihan ke 2 ( tf.itb ) yang kebetulan di ITB. (Pilihan pertama dia adalah Teknik Elektro ITB ). Saya yakin, kasus seperti ini tidak sedikit.

    Tanya kenapa ? IMHO, Sistem ujian masuk yang tidak transparan membuat ITB menjadi pilihan kurang populer, dan bukan orang-orang terbaik yang akan masuk ke ITB. Ditambah lagi masalah “putra daerah”, yang dikirim jelas bukan putra terbaik daerah, tapi putranya kepala daerah atau ada hubungan. Bayangkan saja, kebanyakan “putra daerah” ini benar-benar kualitas C atau D. Bagaimana ITB bisa berkembang ?

    PS : Pengamatan ini berdasarkan kondisi ITB sebelum tahun 2005 dan tidak merata ke seluruh dept di ITB.

  • IF

    Saya dulu peringkat 2 TOKI Nasional. Sdh akan pergi IChO ke Thailand mewakili Indonesia, tp waktunya bertepatan dg UMPTN. Saya maunya Elektro atau Teknik Kimia ITB. ITB “gak bisa” terima. Yg ditawari Kimia (murni) UI. So, saya lepas IChO-nya :D Konon peringkat 1,3 & 4 TOKI saat itu sdh dapat tawaran beasiswa di swasta &luar negeri, they gladly took it.

  • murid

    >>> Sebetulnya apa esensi tes masuk ke perguruan tinggi (katakanlah ke ITB)? Apakah hanya sekedar, kita memiliki 1000 kursi dan kita ambil 1000 teratas dari yang mendaftarkan ke ITB? Apakah hanya sesederhana itu?

    KUALITAS!!

    Lulusan sekolahan Indonesia tidak ada jaminan kualitasnya, karena “sertifikasi” sekolahan Indonesia banyak yang diragukan!!!!

    Kenapa “standard pendidikan” di Indonesia tidak dapat dipatok oleh pemerintah??? UUD! – Ujung-ujungnya duit … :(

  • IMW

    Mahasiswa pintar di antara yang dodol-dodol, bila lulus tetap pintar artinya, mereka “tahan banting”. Mahasiswa pintar di antara yang pintar-pintar, kalau lulus biasa saja, artinya …..

    BTW mungkin sudah saatnya kita tidak terlalu terpukau berfikir pada puncak-puncak yang pintar, tapi berfikir bagaimana strategi agar yang puncak ini bisa meratakan kepintarannya. Sehingga yang dodol-dodol bisa ketularan jadi sedikit pintar.

    Misal seperti di Jerman, dosen “berpotensi” akan naik karirnya kalau memilih ke kampus yang kecil dan di daerah “minus”. Kalau ngotot di kampus top. Biasanya karirnya jadi lama (istilah saya, Anda mau jadi Profesor ? Langkahi dulu mayat Profesor). Mekanisme seperti ini membuat pemerataan kualitas SDM terjadi secara natural.

  • Sugiarto

    Saya tidak tahu kriteria apa yang dipakai oleh perguruan2 tinggi (PT) di Indonesia dalam menyaring calon mahasiswa. Yang saya tahu top PT di Amerika menyeleksi calon mahasiswa jauh2 hari, bahkan bisa sampai 3-4 tahun sebelum seseorang lulus dari SMA! Kalau anda cermati, application deadline-nya biasanya satu tahun di muka sebelum tahun ajaran baru dimulai. Dan proses seleksinya pun berlapis-lapis, tidak hanya berdasarkan “nilai” semata. Lingkup kriterianya luas meliputi nilai mata pelajaran di SMA, SAT scores, extracurricular activities, penghargaan, prestasi lain, bahkan wawancara, dlsb. Dari proses ini memang PT mengharapkan mendapatkan calon2 mahasiswa terbaik … walaupun belum tentu juga mereka bisa mendapatkan sebab PT-PT yang lain juga melakukan hal yang sama!

    Bottom line: Pak Budi benar, top PT di Amerika “sangat” proactive dalam menyeleksi calon mahasiswa. Apakah hal yang sama bisa diterapkan di Indonesia? Saya tidak tahu. Mungkin beberapa PT bisa. Untuk menerapkannya, dibutuhkan sumber dana yang cukup besar … alias UUD (meminjam istilah #19). Itu sebabnya, PT di Amerika juga proactive dalam mencari “sumbangan” dari para alumni, terutama dari mereka yang sukses secara finansial. Tidak heran kalau banyak departemen2 di PT di Amerika ada namanya, misalnya “Haas School of Business”. Siapa tuh Haas? Ya silahkan di-Google saja :)

  • sumodirjo

    #7 bukannya justru itu seninya mengajar pak? bagaimana bisa mengajar yang dodol2 itu bisa pinter. saya inget pernah inget padhang mbulan nya cak Nun, intinya, orang pinter itu orang yang bisa menyesuaikan cara ngomongnya sehingga yang diajak ngobrol paham. memang mengajari yang dodol lebih sulit tapi itu kan tantangan:D

  • sumodirjo

    #13 mungkin bisa disiasati (meskipun menyakitkan) dengan pre test, yang good dikumpulkan jadi satu. yang dodol jadi satu. tetapi ya nantinya yang dodol cuma lulus dan (mungkin) yang good jadi great

  • Arief Fajar Nursyamsu

    IMHO, perguruan tinggi/institusi pendidikan adalah yang menerima input apapun kondisinya, outputnya bakalan bagus kualitasnya. Apapun kondisi barang mentahnya, outputnya tetap berkualitas. Tetapi tentu saja, tetap tidak bisa menerima semua bentuk input, karena latar belakang pendidikan harus disesuaikan. Tidak mungkin kan menerima orang yang tidak sekolah sama sekali untuk kuliah di ITB? Makanya ada tes masuk perguruan tinggi, untuk menyaring mahasiswa yang memenuhi standar minimal atau bahkan melebihi standar.

    Esensinya ya “Mencari Input Yang Memenuhi Standar”.

    Kalau sebuah institusi pendidikan inputnya sudah masuk kategori katakanlah “1000 teratas”, maka tentu saja bakalan gampang buat pengajarnya. Tidak mengherankan jika mengajar lulusan “1000 teratas” bakalan lebih gampang dibandingkan yang “karbitan”. Walaupun yang karbitan ini tentu saja saat masuk ke ITB untuk S2 juga musti lewat tes yang sama dengan yang lulusan “1000 teratas”. Metoda pengajaran yang berbedalah yang membuat mahasiswa non ITB pontang-panting saat mengikuti kuliah S2. Kenapa tidak disyaratkan saja hanya untuk lulusan ITB? Bukankah itu lebih mudah buat si pengajar?

    Ibu mertua saya ngajar di sebuah SD di Solo. Beliau dipasrahi untuk menangani siswa yang “lambat-mikir”. Atau istilahnya sekarang disebut sebagai kelas Inklusi. Beliau musti mengalokasikan waktu setelah kelas reguler untuk membimbing siswa ini agar dia bisa mengikuti pelajaran kelas reguler. Dua kali kerja kan?

    Apa yang membuat beliau bangga adalah ketika siswa yang dibimbingnya bisa naik kelas dan mengikuti pelajaran di kelas berikutnya.

  • Donny

    #25 Masalahnya adalah bagaimana kita tahu dari 1000 orang teratas itu tidak ada yang “karbitan”..? Coba saja lihat moment-moment sebelum UMPTN/SPMB, para calon peserta sibuk mengikuti Bimbel dimana-mana, nggak tanggung-tanggung, dari daerah pun sampai harus merantau ke kota…dan kita tahu metode Bimbel itu kebanyakan adalah “shortcut”..rumus ini, bisa disederhanakan jadi rumus ini…apa itu bukan sebuah peng-“karbitan”..? Intensif pula, setiap hari…heu heu heu…

    Bisa saja kan dari yang 1000 teratas itu juga adalah orang2 yang “lucky”…toh, selama ini panitia Ujian tidak pernah transparan…sampai sekarang, saya tidak pernah tahu nilai saya berapa…yang saya tahu, bahwa saya lulus atau tidak lulus…diterima atau tidak diterima…bagaimana nasib kertas ujian saya, saya tidak pernah tahu…apakah sampai ke Panitia atau bahkan mungkin hilang ditengah jalan…peserta tidak pernah tahu.

  • Donny

    Ooppss..maaf, maksud saya di atas adalah #24…:D

  • Arief Fajar Nursyamsu

    #25 & #26 :)
    “Karbitan” pada komentar saya di #25 merujuk pada kata “karbitan” yang diistilahkan Pak Budi di #13, yaitu untuk mahasiswa S1 yang masuk ke S2 di ITB.

    Tetapi lepas dari itu, bukankah justru bimbel menghadirkan fenomena yang bagus? Masuk bimbel bahkan ga perlu pake test. So inputnya musti juga ga ada standarnya. Nah klo mereka akhirnya bisa masuk perguruan tinggi karena bimbel, brarti bimbel kan hebat. Apapun inputnya mereka bisa handle sehingga masuk ke PT, bahkan di ITB sekalipun.

    Klo ditanyakan esensi tes masuk, jawaban saya masih sama, “Mencari Input Yang Memenuhi Standar”.

  • utari

    komentar untuk #24. Kenapa jika di bidang olah raga, orang tidak ada yang protes, misalkan klub ini hanya untuk senang-senang saja, yang penting badan jadi sehat dan bugar, tetapi untuk sekolah yang lain, untuk anak-anak yang memiliki prestasi olah raga terbaik?

    kenapa tidak protes jika penerimaan mahasiswa di sekolah-sekolah top Amerika atau Jepang mencari yang terbaik? Kita sekarang harus mencari ‘shortcut’ bagi negara ini, untuk mengejar ketertinggalan. Bukan berarti kita meninggalkan mereka yang IQnya pas-pasan.

    Berikan pendidikan yang sesuai bagi orang yang sesuai. Jika mereka tidak cocok untuk dijejali rumus matematika (boro-boro disuruh menganalisis, memahami definisi di awal-awal saja sudah pusing), ya jangan disuruh kuliah.

    Setiap orang tetap mendapat kehormatan asal mengerjakan sesuai proporsinya. Orang berjual ayam goreng bisa terhormat karena ia sukses dan kaya raya dari jualannya. Yang terjadi, sekarang semua orang berebut status, yang penting kuliah, lulus dan kerja kantoran.

    Tapi, komentar $18 juga perlu menjadi perhatian bagi perguruan tinggi. Anak-anak yang dapat medali perak atau emas OSN (Olimpiade Sains Nasional) dari tes IQ umumnya mereka memiliki IQ di atas 120. Jadi tidak perlu peserta yang mewakili Indonesia untuk mengikuti kompetisi tingkat internasional, 20 terbaik tingkat nasional pun sudah diincar oleh NTU. Tapi masalah klasik bagi PTN di Indonesia untuk menerima anak-anak ini adalah mereka suka lintas jalur. Prestasi mereka saat di SMA dalam bidang apa, kemudian mereka minta kuliah di bidang apa. Ya terserah PTN di Indonesia, mau tetap kaku seperti itu atau lebih fleksibel. Kemudian silakan di analisis, apakah anak-anak ini prestasinya tetap yang terbaik, atau jadi pas-pasan karena memaksakan diri lintas jalur.

  • orangkecil

    Pilar utama agar bangsa ini maju adalah utamakan pendidikan. Ini investasi jangka panjang kita… Kalo perlu pendidikan gratis biar hanya orang2 terbaik yang pantas memperoleh bangku di Institut / Universitas Negeri…

  • jsms

    no comment ah..

  • chavacino

    sangat setuju pak
    prestasi yang saya raih selama ini
    tidak berbuah hasil di PTN terbaik contohnya ITb
    saya di tolak dgn mendah2 ketika undangan
    saya amat kecewa selama ini perjuangan saya diragukan
    pdhal telah menjadi semifinalis olimpiade biologi tp tidak ada respon yg positif

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.840 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: