Hilangnya Etika Mahasiswa

Ada beberapa kejadian di kampus ITB yang membuat saya mengelus dada. Kejadian tersebut memang tidak saya alami akan tetapi dialami oleh kolega saya, sesama dosen. Kejadian pertama adalah sopan santun mahasiswa dalam menggunakan lift di sebuah departemen. (Tidak saya sebutkan detailnya. Ada di milis dosen ITB yang mungkin kurang baik kalau saya teruskan ke milis ini.) Seorang mahasiswa ditegur oleh dosen. Eh, bukannya malu atau minta maaf malah dia nantaingin. Hah! (Kalau mendengar ceritanya, saya ikut kesal! Maunya saya cari mahasiswa tersebut dan suruh minta maaf kepada dosen ybs.)

Kejadian kedua terjadi di dekat SBM (School of Business and Management). Seorang dosen parkir mobil dan ketika kembali akan menggunakan mobilnya ternyata di belakangnya ada mobil lain yang diparkir menghalangi mobilnya. Mobil tersebut terkunci dan direm. Akhirnya dosen ini (dan seorang lagi) terpaksa menunggu mahasiswa itu kembali. Ketika kembali, mahasiswa tersebut – lagi-lagi – tidak merasa bersalah dan bahkan mengatakan hal tersebut sudah biasa. Hah!@! WTF!!! Mana rasa sensitif terhadap orang lain? Untung dosen yang bersangkutan bisa menahan diri. (Di milis dia menyatakan kekesalannya dan sudah siap untuk berantem dengan mahasiswa tersebut. He believed he can take them – they were two of them! You know, I would do the same if I were him.)

SBM ini memang menimbulkan masalah di ITB, khususnya adalah masalah perbedaan kultur. Untuk masuk ke SBM memang dibutuhkan uang sedikitnya Rp 60 juta. Jadi banyak mahasiswa dan dosen yang melihat bahwa mahasiswa SBM ini borjuis dan kurang bisa berintegrasi dengan lingkungan ITB lainnya. (Untuk diketahui saja, mahasiswa ITB masih banyak yang berasal dari keluarga miskin. Dosennya juga masih banyak yang pas-pasan.) Saya sendiri belum pernah mengalami masalah dengan SBM. Mudah-mudahan tidak pernah. Saya banyak berharap SBM bisa memberikan warna yang positif terhadap ITB (dari sisi bisnis sense), tapi kalau seperti ini kejadiannya. Wah … mungkin sebaiknya SBM dipisahkan dari ITB saja?

Saat ini memang saya belum mendengar tanggapan dari mahasiswa maupun dosen SBM mengenai kasus-kasus yang terkait dengan “kultur” SBM ini. Mudah-mudahan ada jalan keluarnya.

Kembali ke masalah etika mahasiswa, sayang sekali nampaknya etika baik sudah luntur atau hilang. Untuk para mahasiswaku: prove me wrong! Buktikan bahwa saya salah. Buktikan bahwa kalian memang masih bisa menjadi tumpuan harapan kami.

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

136 responses to “Hilangnya Etika Mahasiswa

  • cahyo

    sisi negatif ketika univeritas menjadi budak kapitalisme? semoga saja tidak… hehehehe :-D

  • Tabah Budi

    Saya berharap saya masih memiliki cukup etika untuk bisa disebut orang yg sopan.

  • arya

    eh?
    anak angkatan berapa tuh? :-P

  • Koen

    Kampus kan masih punya fungsi pendidikan, bukan sekedar transfer informasi. So, guys, it’s part of your job.

  • Budi Rahardjo

    untuk #4, yes … kami masih mencoba mendidik mereka meskipun mungkin sudah terlambat. mengubah karakter tidak mudah, kan? mestinya ini merupakan tugas kita bersama.

  • oded

    saya setuju SBM dipisahkan dari ITB,soalnya menurut saya latar belakang mereka berbeda dengan mahasiswa itb pada umumnya “merakyat”. lagian ITb khan institut teknologi, bukan sekolah bisnis, sok wae atuh kuliah bisnis mah di unpad, dll.btw: buat mahasiswa yang sok jago/kurang sopan pada dosen kepret ku aing!(sorry pake bahasa kasar..)

  • pitik

    mungkin itu kultur yang telah meresap ke diri mahasiswa tsb, prinsipnya kalo sudah bayar(mahal!!) yah bisa seenaknya, tapi bukan kah itu efek (buruk) karena pilihan ITB (termasuk dosen, saya kira) untuk membuka kesempatan terhadap mahasiswa dari kalangan berada. dan saya pikir ketika efek (buruk) itu menimpa terhadap civitas ITB, yah itu harus diterima.

  • intan

    Kehancuran negara kita juga akibat hancurnya moral bangsa…mari kita HAJAR…bersama….

  • Rile

    pengkaderannya ada gak? memang butuh di kader dulu tuh..

  • standalone

    Tidak sopan……
    Memang memandang dari sudut yg mana?

    Mereka masih berstatus mahasiswa, wajarlah bersikap seperti itu. Dalam moment di mana mereka masih belajar tentang hidup. Justru yang saya lihat tidak sopan adalah para dosen yang tidak bisa menegur mahasiswa tersebut di saat itu juga. Justru melemparkan aib ini di publik. Yang tidak sopan siapa? dosennya atau mahasiswa? Saya kecewa.

    Saya bukan membela, melainkan sadar akan perbedaan budaya dari tiap orang. Bagaimana sebuah lingkungan di bentuk. Memiliki berbagai pengalaman dan nilai tersendiri yang berakibat pada pengambilan sebuah keputusan seseorang.

    Dan saya rasa tidak pantas untuk menilai sikap atau tingkah laku seseorang. Dan saya yakin mahasiswa tersebut memiliki alasan dalam bertindak (menantang saat ditegur dan memarkir terkunci rem), dan alasan itu cukup bagus yang bahkan kita tidak pahami. Karena kita hidup dari pengalaman yang berbeda.

    Jadi ingat dengan gambar seorang wanita di buku 7 Habits.

    So, lantas jangan langsung memvonis tindakan para mahasiswa tersebut. Dan sangat lucu jika sampai terprovokasi hanya karena sebuah berita dari satu sudut pandang.

    Dan bung Budi Raharjo, Kultur ITB pun bukan lah sebuah kultur yang patut dijadikan sebuah pembenaran. Dan yang tidak bisa berintegrasi dengan SBM, apakah karena SBM-nya atau kah karena ITB-nya yang merasa paling tua, paling pantas karena “teknik”, paling “miskin”, paling banyak jumlah mahasiswanya?

    Jadi siapa yang menjadi masalah? ITB ataukah SBM?

    Kecewa, kupikir ITB memiliki kultur yang menyukai dengan perubahan…. karena notabene latar belakang “teknik” yang selalu berkembang. Mengapa hanya perubahan seperti ini tidak menjadikan ITB sebagai katalisator sinegritas antara ITB dan SBM?

    Dan buat mereka yang berpikir bahwa “karena mereka sudah bayar mahal maka mereka bisa berbuat sesukanya”, apa yang kalian pikirkan adalah apa yang akan kalian rasakan. Dan pemikiran seperti ini juga yang justru membentuk mereka ke arah sana. Mahasiswa kok kagak kenal istilah “Don’t judge book from its cover”? Emang pada baca apa aja seh?

  • IMW

    Mungkin ini fenomena pembelajaran yang harus disikapi hati-hati (tidak sekedar menyalahkan mahasiswa saja, dengan dianggap tidak sopan). Bisa dikatakan ITB baru belajar bagaimana menjadi institusi “terbuka”, sehingga problem yang selama ini tidak dihadapi sebagai institui tertutup (terbatas), karena telah difilter oleh siapa yang berhak masuk ke dalamnya, sekarang menjadi terasa dan muncul ke permukaan.

    Seperti yang dikatakan dalan #10, kemajememukan penghuni institusi membutuhkan penanganan yang berbeda, begitu juga para dosen/institusi harus memiliki trick/tip yang berbeda ketika menghadapi warga yang makin beragam (mahasiswa yang makin beragam). Pengalaman saya menghadapi “keajaiban” tingkah laku mahasiswa bisa lebih banyak dari sekedar parkir sembarangan, dan tidak bisa ditegur di lift saja). Semuanya hanya masalah pengalaman bagaimana menangani itu semua. Termasuk bagaimana cara dosen menegur hal itu kepada para mahasiswa.

    Selamat datang di dunia nyata !!

  • Budi Rahardjo

    Justru yang saya lihat tidak sopan adalah para dosen yang tidak bisa menegur mahasiswa tersebut di saat itu juga.

    He he he … justru pengalaman ini diceritakan karena yang bersangkutan ditegur saat itu juga, terus dia tidak mau terima. “Suka-suka saya, mau naik lift ke lantai 2 kek, ke lantai 3 kek”. Pernah juga kejadian (gak tahu mahasiswa atau bukan) ketika ditegur, dia menjawab “Emangnya lift ini punya elo?” Bagus sekali.

    Oh ya, pengalaman di atas tersebut dari dua dosen yang berbeda! Ketika saya cek dengan dosen lain, ternyata sami mawon! (meskipun dengan cerita dan kadar yang berbeda).

    Yang saya kesalkan, udah capek-capek saya mbelain mahasiswa (in many occasion), ternyata mahasiswa yang dibelain yang dodol. Dalam berbagai kesempatan saya sempat ribut (well, debat saja sih) dengan dosen lain karena saya membela mahasiswa. Prinsip saya kan sederhana, give them a place and chance to grow up.

    Tentu saja mahasiswa (atau siapapun) bisa memiliki alasan sendiri untuk melakukan hal yang dia lakukan. (Ya saya sudah baca buku Covey, and some more … :)) Justru ketika ditanya dia malah semakin kurang ajar. Kalau saja yang bersangkutan bilang, aduh maaf pak. Yang mau marah juga jadi nggak enak ati.

    Sekali lagi masalah yang terjadi tersebut bukan saya yang mengalaminya, tapi dosen lain. Saya malah punya masalah dengan dosen! ha ha ha. Karena saya berdandan seperti mahasiswa, malah ada dosen yang menyebalkan. But that’s another story.

    Untuk soal SBM, saya lemparkan permasalahan ini ke publik untuk mendapat masukan karena saya sendiri belum (dan mudah-mudahan tidak) mengalami masalah dengan SBM. Pertanyaan anda “Siapa yang menjadi masalah, ITB atau SBM?” membuat saya bertanya-tanya, emang ITB salah apa? Cobalah kita sampel pendapat penghuni kampus. (Saya mungkin termasuk yang anomali karena masih ok dengan SBM? hi hi hi.)

    Kultur ITB yang menyukai perubahan? Ha ha ha. Oh, please… Saya termasuk yang kurang percaya terhadap hal tersebut. ITB menurut saya terlalu kaku dan lamban dalam berubah. Mulut saya sudah berbusa-busa dan capek untuk mengajak ITB berubah. Tapi, perlu diingat bahwa bukan berarti semua perubahaan itu baik lho.

  • Aurik

    Dengan melihat berbagai cerita sebelumnya.. tentang lift, tentang kecepatan mobil dalam kampus dst.. saya kira sumber persoalannya adalah sikap ‘arogansi’ beberapa mahasiswa (baca beberapa, bukan semua) ITB (so, bukan cuman SBM). klo kemudian persoalannya digeser tuk ‘menghujat’ keberadaan SBM.. ini yang nggak bener!!!. Saya kira dalam setiap kajian ilmiah (ini sich dosen2 ITB pasti paham benerlah): tidak boleh kita membuat hipotesa berdasarkan satu (baca satu, bukan suatu) fenomena saja (contoh: parkir mhs SBM menjengkelkan orang lain –> SBM mengajarkan hal demikian, bahkan sampe ke negative thinking –> jangan2 dosen-nya demikian).. wah terlalu jauh tuch hipotesa-nya. Jadi justru yang menyusun hipotesa ini patut dipertanyakan etika-nya.. buat saya sich jadi nggak ada bedanya dosen yang nulis tersebut dengan perilaku ‘rude’ mhs tsb. so, berhati-hatilah dalam menulis karena tulisan kita akan mencerminkan perilaku kita, tulisan kita mencerminkan kematangan jiwa kita!!! saya tidak meragukan kematangan nalar dosen2 ITB.. tetapi kematangan dan kedewasaan emosi-nya pun mestinya dapat sejalan pula.
    Salam

  • rian

    Kalau saja yang bersangkutan bilang, aduh maaf pak. Yang mau marah juga jadi nggak enak ati.

    Mungkin dari kecil mereka tidak kenal dengan budaya meminta maaf (waktu lebaran saja kali ya).

    Tidak seperti di Jepang sini, apa-apa mereka selalu minta maaf, dan itu diajarkan ketika masih kecil, sering melihat seorang ibu minta maaf ke anak nya yang masih balita di kereta hanya karena dia terburu-buru mengajak anaknya naik kereta, padahal anak nya belum siap,
    atau ketika kita menyenggol seseorang di sebuah supermarket yang crowded, mereka secara spontan yang meminta maaf ke kita karena merasa menghalangi jalan nya kita, jadi ndak enak hati :D

    sumimasen dan gomen adalah kosakata yang sangat sering kita dengar di Jepang.

    Berapa sering kita dengar kata maaf dalam sehari di kampus ITB tercinta :(

  • Ari

    Saya sih setuju2 aja ama pendapat pak Budi.Meskipun kita uda mahasiswa tapi kita juga masih menjadi murid yang harus sopan dengan gurunya…Klo kita uda ngga sopan ama guru ya mendingan ke laut aja sono…

  • dewo

    “Ma-af…”
    Jadi ingat Pok Minah di Bajaj Bajuri…

  • standalone

    Maaf, bukan ditegur saat itu juga…. tp diselesaikan saat itu jg. o_O)y Peace!

  • alfret

    Tidak baik men-generalisasi…tapi sosok mahasiswa yang ditampilkan diatas tadi emang patut untuk lebih beretika.

  • standalone

    Maaf, bukan ditegur saat itu juga (#10 & #12), tp diselesaikan saat itu jg. o_O)y Peace!

    Perubahan memang tidak semuanya ke arah yang baik (setuju bgt). Akhirnya Bpk Dosen terpancing jg untuk mengakui sedikit dari karakter ITB (baca: lamban). Tapi bukan berarti hal ini suatu hal negatif.

    Kalo saya seh, emang dibiasakan untuk tidak mengucapkan maaf. Tapi dibiasakan kalo melakukan kesalahan, ya berusaha untuk tidak mengulangi.

  • eroemi

    parkirnya ditingkat…

  • bank al

    Hilangnya Etika “sebagian” Mahasiswa memang sebuah masalah yg patut dicermati. Di sisi lain, bisa jadi cara Pak Dosen menegur juga memancing perilaku demikian.

    Kadang teguran yg lunak bersahabat lebih manjur daripada teguran yg keras. Ini memang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin.

  • Arie

    Saya pernah disuruh keluar dari lift oleh dosen karena beliau mau naik lift bersama dengan koleganya. Kalau begitu bagaimana Pak?

  • hanung

    hal yang sama terjadi di UI. Mungkin, inilah akibat terkecil dari diberlakukannya BHMN bagi ITB, UI, UGM, dan IPB. DEngan SPP mahal, mereka jadi merasa seenaknya di kampus. Nasib negaramu yang miskin ini, nak….

  • rayyan

    Biar bagaimanapun juga dosen itu guru yang merupakan orang tua kita di kampus atau sekolah.

    Jadi kita harus menghormatinya … apalagi kalo kita berbuat kesalahan :)

  • rendy

    pak budi… yang berantem itu anak MBA ITB…

    s2 loh pak… bukan s1… xi xi xi

    *senyum senyum ajah* :)

  • kunderemp

    Buat komentar no. 22.
    Ngalah! Itu bukan masalah senioritas, kekuasaan, hierarki atau apa.. Itu masalah etika dan sopan santun.

    Kalau sama orang yang lebih tua sudah tidak punya sensitivitas tinggi, bagaimana dengan orang yang lebih rendah hierarkinya?

    Pak Budi.. perlu massa dari UI buat menggebuk mahasiswa yang kurang ajar gak?

  • cecep

    bukankah sebagai orang yg lebih muda, sebaiknya menghormati orang yang lebih tua (secara agama, atau pun etika budaya timur). apalagi kalau itu dosen/guru

    akh ntah kenapa anak jaman sekarang. kalau ada yg spt pak budi bilang, hrs di beri tuh! :D

  • tangos

    duh aduh..
    MAHA siswa ITb gimana nih??
    satu hal yang harus diakui
    “sulit menjadi mahasiswa ideal”
    aku juga ga bisa

    buat pak dosen, beginilah kita
    emang beda kulturnya pak!
    maap ya pak.. (ga sulit kan)
    mudah-mudahan ga terjadi lagi
    hehe..
    keep smile pak

    buat mahasiswa bersangkutan,
    malu oiii!!!!
    tah pa pa gaya kau
    cem mak mak

    tapi buat commentator2
    jangan digeneralisasi lah
    ini kan masalah individu
    koq malah terkesan mengkambing hitamkan institusi

    SBM setauku malah menjadi langkah strategis pertama ITB
    untuk menjadi Institusi Research

    intinya :
    kita satu almamater yang dihuni oleh orang cerdik dan dewasa
    etika ga usah dikomentarin
    tapi dipraktekin

    thx.

  • Luthfi

    bukannya sbm bukan itb
    *nunggu rendy jawab lagi*

  • ratna pgb (KK Kria & Tradisi)

    Pak Budi, generasi sekarang banyak yang tidak kenal etika (manners, sopan santun). Dan hal ini adalah didikan dari “rumah” (van huis uit). Manakala diperlukan kita bisa memberi pendidikan tersebut di dalam kelas, melalui perilaku kita, memberi contoh dan bila perlu juga teguran. Di kelasku mahasiswa yang dinilai kurang sopan, baik perilaku maupun cara berpakaian, akan saya suruh keluar.
    Untuk mahasiswa SBM yang tidak santun itu, memang perlu sedikit ‘keras’ menanganinya. Kalau saya di tempat dosen tersebut pilihannya cuma 2: (pertama) mobil digeser paksa, atau (kedua) gelut.. Mereka boleh saja pandai, kaya, dan (mungkin) cakep, tetapi kalau tidak punya manners, sori aja..

  • ivie

    perubahan di itb berjalan lambat tp perubahan tingkah laku mahasiswa itb bergerak sangat cepat.

    mang masalah kesopanan ini banyak jadi keluhan dosen2 akhir2 ini. ada apa dengan mahasiswa ITB???

  • david

    ambil duit mereka yg 60 jt itu…
    trus kalo macam2 DO aja… toh ITB hobi nge-DO,
    saya tidak keberatan,
    sy tidak pernah menganggap mereka bagian dari ITB kok

  • Zetazone

    Please deh.. pada dewasa dikit… kok milis ini semakin mengarah ke penghujatan SBM? So… saya harap ke depannya ga ada lagi yang ngungkit2 SBM. nih, kalo SBM belum berdiri… saya yakin yang menjadi sasaran adalah anak2 ITB lain yang masuk lewat USM… mas, mbak, saya lihat Merc SLK di lap parkir seni rupa kok… saya lihat VW new Bettle di lap parkir Sipil kok… maksud saya di ITB, bukan hanya orang SBM yang punya mobil (baca:tajir)…
    Dan silahkan ambil mata kuliah antropologi dimanapun… dengan begitu, diharapkan kita semakin dewasa menilai orang… bahwa logika di belakang perilaku mereka tidak boleh serta merta di benarkan dan disalahkan begitu saja…
    Lihat dari sisi mereka…
    Btw, ada yang menjamin si pelaku adalah mahasiswa? ITB kan kampus terbuka, bisa saja si pelaku adalah tamu…
    Maaf, jangan generalisir anak2 SBM… Lah… sampe ada yang kurang sopan bilang kalo SBm bukan ITB…. gak pernah baca surat keputusannya ya? kasian banget kurang ilmu dan pengetahuan.
    Sinergis ajalah… Saya tahu anak2 SBm yang kostnya murah, naek motor, naek angkot, jalan kaki, sederhana nan sahaja… dari sudut pandang mahasiswa SBM seperti ini saya yakin sulit bagi mereka beradaptasi dengan kemewahan SBM. ingat yang masuk SBM belum tentu adalah anak2 orang kaya… saya yakin banyak dari mahasiswa SBM adalah anak dari orangtua yang bertanggung jawab. bertanggung jawab atas pendidikan anaknya. orang tua mereka ingin memberikan yang terbaik bagi pendidikan anaknya. tidak lebih.
    Mas, mabk, coba maen ke SBM… tanyain tentang kuliahnya, pelajaran, dan misi visi SBM… saya yakin kalau pun SBM bukan ITB… dalam waktu dekat kualitas dan next generation leader yang dihasilkan lebih baik dari ITB…. adapun beberapa oknum… kita hanya bisa memaafkan dan menerima kenyataan… zaman telah berubah… budaya adalah sebuah kedinamisan…
    Dulu orang yang punya HP dianggap sombong dan orang tajir bvanget… sekarang HP menjadi kebutuhan biasa… bukan lagi barang mewah… tukang nasgor depan rumah saya aja terima pesanan via HP…
    Ingat… SBM adalah sumber dana bagi ITB kalo ga diakui sebagai ITB kayaknya kurang ajar banget ya… dah menikmati hasil subsidi silang tapi masih menghujat… maunya apa sih…

    Maaf… tapi jangan sampai pembahasan ini mengarah ke penghujatan SBM dan upaya menggeneralisir mahasiswa SBM…

    Saya bukan anak SBM… tapi saya yakin keberadaan SBm adalah kenyataan hidup yang akan membuat kita semakin DEWASA….

    Kampus bukan tempat belajar sesungguhnya… Dunia di luar sana lebih kejam dan lebih memberikan pelajaran pengalaman berharga… university of live… buka mata hati kita dan bersukurlah atas apa yang telah didapatkan…

    Terimakasih…

  • wicak

    Saya sangat setuju dengan bung Zetazone..
    Saya kira kurang bijak untuk menggeneralisir suatu masalah..
    Lagipula siapa yang berani memastikan kalau pelaku adalah mahasiswa SBM??

  • Andi

    Di kampus saya (bukan ITB) etika mulai “meredup” antara seorang Mahasiswa dengan Kakak kelasnya… mungkin sedang hilaf.

  • eksis ITB

    SBM di hujat udah biasa bung udah 3 tahun gw di ITB ga akan habis kalo nyari jeleknya SBM. yang penting mereka udah bisa buktiin kalo mereka ga cuman ngomong doank ya , kalian yang udah lama di ITB mana bukti keberadaan kalian coy !!!!! THEY(SBM) have prooove it !!! garis bawahin kalo perlu….

  • puskodalops212

    Ya.. saya rasa benar sebagian mhs kita sudah banyak yg kehilangan etika..contoh nyata saja.. tawuran,perkelahian, kebrutalan mahasiswa dapat kita lihat di berbagai media..dan terjadi di beberapa universitas..sedih ya.. seharusnya mhs yang menjadi generasi penerus bangsa ini.. harus lebih dewasa dlm menyelesaikan setiap permasalahan… jadi gimana ya nanti bila suatu saat memimpin bangsa ini.yg ada bangsa kita menjadi bangsa yang haus kekerasan .. yg justru akan menyengsarakan rakyat..

  • baihaqi

    Masalah etika terjadi dimana-mana di Indonesia. Tidak hanya di ITB, tapi di kampus lain mungkin juga terjadi. Apa yang terjadi di sini menurut saya hanya miniatur di lingkungan masy yang lebih luas. Parkir sembarangan, serobot jalur di jalan, serobot antrian, pake lift sembarangan, merokok seenaknya dlsb. Ditempat saya sekarang, ga bisa parkir sembarangan, kalau ga mau di derek atau denda. Ga peduli dosen, mahasiswa, atau siapapun. Makanya saya naik sepeda, asyik, parkir mudah :D

  • kunderemp

    Aku bukan ITB..
    Tapi melihat ceritanya Pak Budi, permasalahannya bukan pada SBM, orang-orang kaya atau sebangsanya, melainkan pada etika dan sopan santun.

    Aku mahasiswa UI dan jujur saja, bukan dari jalur reguler melainkan dari Kelas Internasional dan aku gak pernah mengucapkan kata “elo, gue” dan omongan-omongan kasar ala anak Jakarta kepada dosen walaupun aku lahir di Jakarta dan besar di Jakarta.

    Aku sendiri orangnya kasar. Kalau sudah marah dan muncul semangat “jihad”-nya, aku sudah tak perduli pada tua atau muda. Tetapi di luar masalah itu, aku tetap menyapa dosen dengan sopan. Dimarahi pun bila aku memang layak dimarahi, jangankan menantang, berceletuk pun tidak.

    Sekarang dari sudut mahasiswa..
    mau tak mau hormati dosen. Setidaknya ada dua alasan untuk menghormati beliau-beliau ini, pertama karena mereka lebih tua dan kedua, mereka lah yang mengajari kita.

    Bahkan kalaupun ada dosen yang tidak layak dihormati (misal angkuh dsb), tetap bukan berarti kita harus membalas dengan sikap yang sama.

    Seperti yang kubilang, menghormati orang yang lebih tua saja tidak bisa, bagaimana menghormati orang yang lebih muda? Menghormati orang yang mengajari kita saja tidak bisa, bagaimana menghormati orang yang mencari ilmu pada kita?

    Dan aku gak sepakat hal sopan-santun atau etika ini dibebankan pada SBM, orang-orang kaya, atau kelas-kelas tertentu. Kesombongan tidak mengenal status ekonomi.

    *yang jualan sepeda ontel di Jakarta di mana yah?

  • Koen

    Tumben sampai 40 komentar di sini :)

  • lenijuwita

    Klo kejadian ditempat parkir, masalahnya ada tukang parkir ngga? kalo ada, yang salah tukang parkirnya. klo ngga, yang salah manajemen ITBnya donk, mhs udah byr mahal kok ngga sanggup bayar tukang parkir? Dosen yang udah cape transfer ilmu dibuat tambah cape dgn menunggu. Tambah mahal analogi dengan tambah profesional disegala hal kan? Bener ga se :)Kalau ngga ada tk parkir mhs & dosen tinggal labrak rektorat. klo ada tinggal labrak tukang parkirnya. Jadi ngga akan ada mhs Vs Dosen hehe :D

  • sawung

    mana orang nya biar saya hajar ! :p
    bukan anak sbm S1 pak, anak S2. anak s1 sih paling yang hampir dihajar sama anak2 mesin gara-gara kebut2an dan hampir menabrak prof jhon.

    Ada yang bikin iri di PMB unpad euy mereka mengundang Jeffrey Winters untuk berbicara didepan mahasiswa baru. Sedang ITB kata adik teman yang keterima di SR yang bicara orang dalem dan yang diomongin jangan telat bayar spp(jayaj ga ada omongan lain aja). :P

  • rendy

    ohya pak budi, kejadian ini hari sabtu, dan hari sabtu adalah hari dimana mobil bebas masuk kampus, ngga ada yang bisa disalahkan mengenai hal ini,

    kalau dosennya masih ngotot juga, berarti dosennya yang childish… masa ngga bisa maklumin mahasiswa mba yang rata-rata bukan dari ITB s1 nya….

    soal anak s1 yang hampir dihajar itu, saya kenal dengan orangnya, dan sekarang sudah mulai berubah kelakuannya, jadi lebih baik, semua itu butuh waktu pak,

  • samitha

    apa masalah beda generasi aja? Atau budaya? Minggu lalu saya sedang mengajar dan banyak mhsw mengintip dari jendela serta ribut. Saya lalu memandang tajam ke arah mereka sehingga mereka bubar, kecuali satu yang balas memandang dengan tajam dan tidak mau mengalihkan pandangannya. Karena saya sedang di depan kelas akhirnya saya’ ngalah’berhenti memandang, sambil bingung apa yang dia pikirkan …

  • vik kill jack

    Jangan-jangan nih empunya blog ngasih materi agar banyak yang ngunjungin blognya? Biar kliatan rame… meningat kata si Koen “tumben ada 40 orang yang komen”

    Udah pak… jangan ngomongin orang!!! Malu ama diri sendiri… Ntar dibakar Massa lho… Ngomongin gini apa lagi di dunia “maya”… ya hasilnya juga bakal “maya”… percuma… gak akan habis…

  • vik kill jack

    udah abis ni jangan ada yang komen lagi deh… enakan si empunya blog… rame…
    I’s so irritating me…

  • prabukusumo

    pro as # 10, # 33
    hummm.. yet nobody’s perfect…,
    the problem is only derived from misunderstanding…
    and tolerance is the answer.

  • sandynata

    pokoknya yg namanya orang tuh, apalagi sama orang yg lebih tua kudu sopan.. titik..

  • Aurik

    SBM sangat terbuka tuk trima kritik dari siapapun, kami belajar untuk melihat sisi baik dari setiap kritik yang ada.. se’kasar’ apapun kritik tersebut disampaikan.. tentu kami akan menaruh respect’ klo kritiknya dapat disampaikan dengan etika yang baek!. di SBM kami belajar memandang sisi positif orang, di SBM kami belajar terbuka kepada diri sendiri dan orang lain, di SBM kami belajar berkreasi… dst. klo temen2 mo liat kami berinteraksi di SBM, dengan tangan terbuka kami akan menerimanya; kita (ITB) mestinya punya pengharapan besar dengan melihat potensi2 mahasiswa SBM.. pinter2, kreatif, fighting spirit-nya ‘ruarrr biasa’, komunikatif, dst + kaya lagi:)..; so liat dulu baru komentar kemudian!
    Salam

  • perkAsA!

    wah..jadi rame. tp kalau scr pribadi saya merasa anak2 SBM kurang membaur deh. yah maklum juga sih jadwalnya padet gila-gilaan.mungkin sudut pandang tentang SBM bs berubah setelah kami mengenal SBM lebih jauh. perasaan, temen-temen saya dari SBM baik2 kok.

    tidak akan berguna suatu ilmu kalau kita tidak menghormati pengajarnya…

  • Lita

    Pak Budi, saya pernah diskusi dengan dosen-dosen yang saya asisteni (maap istilahnya ngaco dikit). Rata-rata mengeluhkan etika yang makin menurun seiring dengan berjalannya waktu.

    Bukan masalah dosen berkuasa atas mahasiswa, dosen yang tidak bersedia dikritik atau yang berbau arogansi lain. Tapi memang masalah sopan santun. Tidak ada salahnya permisi pada orang yang ada di dalam ruangan ketimbang nyelonong. Minum di kelas tidak diharamkan sebagian dosen, tapi kalau minum ketika sedang diajak omong (karena dia bertanya) kok sepertinya bikin tak enak hati.

    Ketika protes terhadap nilai, apa ya ‘ya… masa cuma segini, tambahin lagi dong!’ itu cukup sopan (apalagi yang dihadapi bukan dosen muda, walaupun ini bukan pembenaran untuk seenaknya pada dosen muda). Atau ujug-ujug memakai komputer di suatu lab tanpa permisi padahal dia bukan penghuni lab (kan tiap lab punya aturan main sendiri-sendiri).

    Hal-hal remeh, yang tampak kecil tapi ternyata mampu membuat orang lain mengelus dada.
    Ya kesimpulan sementara kami adalah: jaman sudah berubah :p (tak ingin berprasangka buruk pada para orangtua dan guru yang dahulu mendidik mereka).

    Oh ya, maksud saya juga untuk bilang: tampaknya soal etika ini bukan hanya di SBM (jika benar pelakunya adalah mahasiswa) tapi juga di departemen lain.

    #33: “saya yakin kalau pun SBM bukan ITB… dalam waktu dekat kualitas dan next generation leader yang dihasilkan lebih baik dari ITB”

    Kita lihat saja nanti, ya. Ketimbang mengklaim sebelum ada bukti :)

    #45 & 46: Lha kok ‘irritated’? Jengkel karena melihat blog orang lain rame? :)

  • yudiwbs

    Saya pikir masalah kelakuan mahasiwa sekarang karena memang mereka tidak diajarin untuk sopan santun + menghormati orang lain. Anak saya saja (5 th), kalau terlalu lama bergaul dengan pengasuhnya, langsung lupa kata-kata “tolong”,”terimakasih”, maen perintah aja. Harus diformat ulang deh :) Jadi banyak terjadi sekarang, orangnya kaya, pinter, tapi tidak bisa sopan santun karena memang “ortunya” adalah pembantu, pengasuh, guru les yang semuanya nurut abis.

    Mengenai SBM, saya sering lewat sana (nganter istri). Tidak hari sabtu saja, memang parkirnya gila-gilaan, sampai tumpuk 3. Saya pikir kalau mau jalan sedikit (parkir lebih jauh) bisa sih parkir yang normal.

  • wadehel

    Air cucuran kan jatuhnya ke comberan juga.

    Si siswa memang salah, arogan dan tidak tau sopan santun. Tapi tidak seluruhnya kesalahan dia. Dia jadi sebejat itu juga produk lingkungan yang diciptakan para orang tua. Untungnya dia masih dalam proses belajar, masih ada kemungkinan nantinya menjadi lebih bijak.

    Si Dosen kelihatannya benar. Sayangnya kok menyikapi kekanak-kanakan siswa masih pake urat dan otot? Selisih umur puluhan tahun dari sang siswa masa tidak menghasilkan perbedaan wisdom yang mencolok? Emang kemana aja?

    Parahnya, seperti kata Pak Rahard di akhir point 12, banyak dari para uzur ini udah berhenti belajar, nyandu pada kemapanan, tidak lagi mau berubah. Jangan-jangan sebenarnya mereka sebenarnya sudah lama “mati”, dan pelan-pelan mengajak seluruh kehidupan kampus “mati” bersama mereka.

    Mungkin para siswa memang harus lebih kurang ajar, biar mereka yang tidak cukup bijak dan yang anti perubahan itu segera stroke dan lengser otomatis :))

  • paman tyo

    masalahnya bukan univ jadi “ngapitalis” atau bukan. tapi kesantunan kita, mungkin juga saya, kian luntur. “terima kasih” dan “maaf” masihkah terucap saban hari?

    orang minta jalan di keramaian tak bilang permisi. setelah dikasih tak bilang terima kasih. ambil kecap dari meja sebelah di warung bakso juga asal pegang dan angkut.

    belum lagi perilaku di jalan raya. inilah yang oleh orangtua kita disebut sebagai “krisis pekerti”.

  • kunderemp

    Seorang Yaman pernah berkata kepada saya:
    “You guys (Indonesian) never say thank you, er?”

    Jleb… Ucapan teman Yaman itu benar-benar menusuk jantung.

  • Budi Rahardjo

    untuk rendy #43, saya sih tidak mempermasalahkan sabtu atau tidaknya. kalau memarkir mobil di belakang mobil orang sehingga orang tersebut tidak bisa keluar, ya tetap salah. biar hari minggu sekalipun. :D kecuali kalau anda menganggap itu nggak salah. he he he

    untuk kasus parkir ini, saya tidak mengatakan ini spesifik kesalahan SBM karena saya juga melihat *dosen* yang kelakuannya minus juga. nanti ada saatnya saya tampilkan foto-foto dosen yang parkir ngaco! (parkir mengambil dua tempat, parkir di selasar, dll.) sebagian besar dosen ini kesal juga dengan kelakukan civitas yang ngaco di kampus (SBM atau bukan nggak ada urusan).

    untuk #45 dan #46 (vik kill jack), saya membuat blog bukan untuk cari popularitas. :D blog ini kalah populer dari blog saya lainnya. (lihat di http://planetgbt.priyadi.net untuk daftar blog saya lainnya). Saya menulisakan hal ini untuk mencarikan solusi, atau at least menjadi outlet uneg-uneg dari banyak orang.

  • Budi Rahardjo

    untuk koen (#40) tentang 40 comments (what a perfect number), ini sih nggak seberapa. lha wong posting tentang “cari band” lebih banyak yang ngrespon (saat ini udah 170-an). Lihat

    http://rahard.wordpress.com/2006/03/07/dicari-bandartispenyanyi-indie/

  • rendy

    pak budi, saya mengerti, lahan parkir di kampus yang terbatas, sedang mobil yang masuk cukup banyak. sore hari jika pak budi lewat di lapang parkir sbm, parkir mobil sudah 2 lapis seri, dan 1 baris seri tambahan dengan jarak antar parkir yang 2 lapis dan 1 baris itu sekitar 4-5 meter.

    situasi parkir seperti itu sudah cukup lumrah dikalangan orang-orang di sbm sendiri, meski kadang banyak yang jengkel gara-gara tidak bisa keluar.

    perlu pak budi dan dosen lain ketahui, saat itu sedang ada acara di GSG, dan saat yang bersamaan pula sedang ada acara di auditorium sbm itb.

    acara yang diselenggarakan di auditorium sbm itb biasanya cukup menarik minat mahasiswa dari s1 sbm, mba sbm, dan mm sbm, bahkan dari luar sbm sendiri, jika keseluruhan dari mereka hadir, tentunya berjumlah lebih dari 500 orang, untungnya tidak pernah hadir semua, dengan jumlah yang terbatas saja (kapasitas auditorium 136 kursi, maksimum sekitar 220 kursi tambahan) itu saja sudah memakan lahan parkir, ditambah lagi orang yang parkir lebih pagi di depan lahan parkir yang biasanya dipergunakan oleh sbm. ini yang mungkin menimbulkan analogi bahwa yang parkir di situ (dia tidak tahu itu dosen yang hendak keluar) adalah orang yang pergi ke acara yang sama dengan dia.

    karena postingan ini banyak komennya, saya sarankan ada acara makan-makan pak :) *kalem*

  • Panji Adhi Kumoro

    SBM…(School of Borjuis Men)….

    saya setuju sekali klo mereka membentuk universitas baru lagi..Karena mereka bukan bagian dari Institusi Teknologi.tapi SBM adalah bagian dari institusi ekonomi..

    Tapi saya sadar klo gak ada SBM mungkin ITB bisa tambah kacau beliau…

    saya tau kenapa ada SBM di bumi ITB tercinta ini, karena mereka adalah sapi perahan ank ITB..

    tapi anak cowo elektro banyak yang mengincar cewe SBM karena mereka tajir & cantik ….

    hey mahasiswa SBM>>>>elo punya duit!!!bukan berarti elo bisa seenaknya di kampus kebanggaan indonesia ini!!!klo elo tau(SBM), lo tau gk(SBM), bukan lo aja yang tajir di ITB….banyak ank teknik yang tajir terutama STEI/Elektro..tapi mereka masih menghormati para staf pengajar..

    terima kasih pak Budi Raharjo atas kuliahnya konsep teknologi..dengan kuliah anda ini saya bisa tau kerja engineer yang profesional, terutama elektro..

    NB: Hormatilah dan patuhilah perintah&saran dari dosen/pengajar karena kalau tanpa dia kita bisa menjadi tidak berilmu..

    NB utk SBM: ITB bukan punya nenek moyang lo…jd jangan seenaknya di kampus&klo parkir mobil tolong di tempat SBM aja,,jangan ke departemen lain…!!

  • ivie

    hmmm soal markir ngambil 2 tempat seperti yg pak budi bilang.. saya sering liat tuh. ampun deh… n beberapa mobil kebetulan saya tau itu milik siapa. btw back to 97 waktu gue masuk ITB.. kok rasanya ITB lebih asri yah dalam hal kendaraan… well dunia makin maju.. mahasiswa makin mampu n mobil makin banyak.

    soal kesopanan… saya jadi ingat sebuah kejadian waktu seorg dosen mau masuk ke ruangan dengan bawaan buku dll yg penuh n kebetulan ada mahasiswa disitu. anehnya si mahasiswa bukannya bantu bukain pintu malah setelah si dosen itu membuka pintu.. dengan susah payah mahasiswanya nyerobot masuk duluan. jd mikir ini salah siapa? apa ini dampak dihilangkannya pendidikan budi perkerti dari sekolah?? atau ini karena “kurangnya pendidikan kesopanan di rumah?”

    hmmm tp bukan mahasiswa aja kok…… soal etika…jd inget ma stiker yg sempat jd gunjingan yg akhirnya dilepas oleh seorang dosen.

  • Budi Rahardjo

    untuk rendy (#58), saya masih belum bisa memahami “lumrah”nya parkir tumpuk menumpuk :D

    orang indonesia ini memang males-males. saya lihat satu dosen yang kalau parkir maunya dekat dengan pintu masuk kantornya dan tidak kepanasan mobilnya sehingga dia parkir di selasar! ngawur itu. parkir agak jauhan dikit (dan agak kepanasan dikit) kenapa sih? paling-paling hanya 10m atau 20 meter dari pintu masuknya.

    saya ambil contoh di pusat itb (ccar). di sana juga lahan parkirnya sangat terbatas dan dosen juga kadang tumpang tindih parkirnya meskipun tidak pakai dipasang rem atau menghalangi yang lain. saya memilih parkir di hotel sawunggaling dan jalan ke itb pusat. ya, jalan 100 meter apa susahnya sih. kok manja banget.

    masih keinget dulu waktu sekolah di canada. kalau terlambat parkir, jauh tempatnya. harus melewati satu stadiun football dulu baru sampai ke pinggiran kampus (baru nemu tunnel). masih keinget kalau winter. wiiih sebelnya bukan main. jadi kalau hanya 100 meter di bandung yang notabene nyaman itu sih nggak sebanding dengan orang di luar sono. ayo jangan malas ah. malu ah.

    jadi … yang mau parkir 5 meter atau 10 meter dari gedung dan rela tumpuk menumpuk (dan bahkan membuat orang lain susah) bagi saya adalah orang malas dan selfish.

  • rendy

    pak budi, selfish itu adalah bagian pembelajaran yang diajarkan oleh lingkungan di ITB, saya bisa ambil contoh dari beberapa dosen yang mengajar saya, mereka dulunya kuliah di ITB, dalam keseharian, bisa dilihat tindakan mereka yang agak selfish, entah itu terhadap metoda pengajaran, cara berbicara, dan juga cara berpikir yang terkadang kurang sustainable. tetapi hal ini perlahan lahan mereka ubah menuju lebih baik, meski betul apa kata pak budi, manja banget. berbeda dengan dosen yang berasal dari luar ITB, lebih open mind dan bersikap proaktif.

    hal yang sama juga saya lihat dari rekan rekan di ITB yang komentar di blog ini, dari tahun ketahun saya memonitor terus tulisan yang memiliki keyword “SBM ITB” memang memancing banyak kontroversial, terutama dari rekan rekan di ITB yang malas dan selfish seperti yang pak budi bilang.

    nggak heran pak, kalau buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. dan saya juga mengerti, ini adalah 2 dunia yang cukup berbeda dan masih dalam proses integrasi, tentunya wajar jika ada pergesekan. Jika didikan dari dosen atau yang lebih tepat dibilang, senior mahasiswa yang mendidik juniornya dengan selfish, dan pola seperti ini masih berkelanjutan, kejadian seperti ini masih akan terus berlanjut. sama saja toh, contoh yang pak budi berikan mengenai parkir tersebut, di CCAR dan di kemahasiswaan juga sama.

    masalah etika, bergantung pula siapa orang yang dituakannya dan yang dilihat sehari hari, anak kecil mencontoh dari orang yang tua atau yang dianggapnya dewasa, jika masalah etika ini yang dipermasalahkan adalah si anak kecil tersebut, tentunya tanda tanya bagaimana kelakuan si orang tua atau orang yang dianggapnya tersebut.

  • working class

    pak budi
    curious juga ditegurnya kenapa sebelumnya. kalau hanya gara2 naik lift satu lantai saya rasa dosennya juga terlalu usil . lift itu, for the most part, adalah fasilitas umum. karakter pemakaiannya pun egaliter (no one has more right than others, kecuali dalam kasus2 emergency) selama tidak abusive.
    regardless, reaksi mahasiswa tsb memang kurang ajar.

    soal sbm, saya juga masih heran keberadaannya, terutama untuk jenjang S1. di amerika program bisnis top biasanya adalah sebagai professional program post graduate (mis di harvard, stanford dan chicago – grad school of business). MIT punya program S1 business tapi lebih ke management science/operations research, asalnya dari industrial administration yang di sekolah lain menjadi industrial engineering. isinya lebih hard core math/quantitative. Northwestern (Kellogg) awalnya punya program s1 tapi tahun 70 an distop. Lainnnya spt Penn (wharton), nyu (stern) dan michigan (ross), ada program s1 bisnis yang jadi feeder untuk entry level financial analyst di wall street (a.k.a data monkeys). kalau di indonesia s1 bisnis mau jadi apa?? serba nanggung…

  • Priyadi

    kayanya postingan pak budi kali ini emang terlalu menggeneralisasi, rasanya gak semua anak SBM seperti yang dideskripsikan. menurut saya sebenernya sih ada juga yang bisa dipelajari orang ITB ‘tradisional’ dari orang2 SBM ini. misalnya dalam menyikapi ospek :).

  • rendy

    #63, peraturan dari dikti, kalau hendak membuka atau sudah memiliki program s2, harus punya program s1 juga.

    masalahnya, untuk jadi orang seperti itu (yang diluar negeri itu) harus stabil dulu perekonomiannya,

    perbedaan mendasar adalah experiental learning di sbm, dan juga penggabungan dari humanity dan engineering,

    #64, pri, ospek disini rasanya hampir tiap hari, experiental learning makes me crazy… LOL

  • rendy

    tambahan buat #63, ITB juga perlu pembaharuan, dari segi sikap dan juga moralitas, jangan sampai menghasilkan lulusan seperti dosen yang beradu argumen gara-gara masalah sepele itu dan dibesar besarkan.

    dan juga, indonesia membutuhkan entrepreneur lebih banyak daripada tenaga ahli biasa yang ujung-ujungnya banyak yang menganggur.

    orang seperti pak budi pun perlu diperbanyak, seorang tenaga ahli sekaligus juga entrepreneur, yang bisa menampung tenaga kerja dan menyalurkannya untuk pengembangan pembangunan.

  • Budi Rahardjo

    untuk #63 (working class), terima kasih atas informasinya. nah, posting yang ginian yang saya cari. bravo! saya baru tahu bahwa s1 bisnis seperti itu malah ditutup di amerika. hmmm ….

    terus terang saya berharap banyak dengan sbm ini, yaitu mereka menjadi partner orang teknis. bayangan saya gini: mahasiswa elektro dan mahasiswa sbm ketemu (mungkin plus mahasiswa seni rupa) kemudian mereka buat perusahaan. he he he. (dan terus lupa sekolah? ha ha ha.) saat ini saya sangat kekurangan partner orang bisnis. :( malah beberapa waktu yang lalu saya sempat ingin ngintip ke unpar. tujuannya sama: mau menggabungkan anak el dengan anak bisnis. siapa tau mereka punya ide cemerlang.

    oh ya, ide ini bukan ide saya pribadi sih, tapi ide sobat saya yang kerja di intel (santa clara). it makes sense, jadi saya mau cobain.

    nah mengapa kok s1? saya rasa untuk kasus sbm di itb ini justru saya merasa mungkin kualitasnya lebih baik s1-nya daripada s2-nya. kalau yang ngambil s2 bisnis, orangnya (1) terlalu tua, (2) sudah punya kerjaan, (3) kurang berjiwa entrepreneur. dan mungkin proses seleksinya masih kalah selektif dibandingkan s1. jadi, saya masih menaruh harapan kepada s1 sbm. mudah-mudahan mereka jauh lebih baik daripada peer mereka di luar negeri (seperti yang anda contohkan).

    sekali lagi, terima kasih atas infonya.

  • working class

    #62 kalau nggak salah ada program s2 studi pembangunan tanpa s1? atau maksudnya satu fakultas harus ada s1-nya? anyway kalau soal peraturan bisa diatur, kalau memang ada good will. waktu peraturan itu dibuat mungkin spiritnya berbeda (mencegah program2 karbitan yang memberi gelar s2) tapi kalau itb bermaksud untuk bikin graduate school of business dengan alasan x y dan z yang very compelling saya yakin kita punya cukup influence di birokrasi..tapi ya itu..’kalau mau’ lhoo

    btw coba anda tanya dirjen diktinya..ehm..be curious to know as to what he has to say about an undergraduate business program in general..he.he

    soal ‘experiental learning’ itu kan jualannya sekolah mba top di amerika (pay us big bucks and we’ll teach you leadership). Buat saya most of what they offer itu justru sudah terjadi di itb (at undergraduate level) jauh sebelum ada sbm at least yang saya tahu dulu: student clubs yang sangat aktif (SC 24 hrs), speakers, seminars, leadership opportunities, atau even some OS himpunan yang idenya mirip outward bound ke marine camp a la camp quantico (they call it ‘leadership venture’)

  • working class

    koreksi untuk posting #68 diatas
    ‘#62 kalau nggak salah…
    harusnya untuk #65 bukan #62

  • working class

    untuk #67 pak budi:
    tambahan: di amerika program bisnis undergraduate from lesser known schools (e.g., big state schools) malah jadi tempat atlit seperti football players, etc. so not necessarily the sharpest knife in the set (in general of course, there are some exception as always)

    saya sepakat soal bibit enterpreneurship tapi secara realistis paling hanya 1-2% yang benar2 kelihatan talented dari sekolah s1 bisnis/teknik. sisanya mau dikemanakan?kalau saya jadi hiring mgr untuk posisi entry level businest analyst saya bakal cari the best and brightest (intellectually) nggak peduli backgroundnya apa (business, engineering, etc). malah engineering is a plus kalau bisnis saya technology oriented. Kalau bisnis saya MNC saya prefer fresh engineering undregrad untuk dimasukkan ke rotational program di divisi engineering, prod/manufacturing, and other operations fields baru kemudian dilhat apa mereka punya potensi dan minat bisnis/manajerial.

    Kalau sistem penerimaan mahasisa sbm compromising selectivity akhirnya brand itb sendiri yang diluted. Padahal kita tahu one of the (few) biggest selling points of itb, like it or not, is its ‘notoriously tough’ student selectivity (btw apa masih ya?). dalam ekonomi ini jadi semacam ‘signalling’ ke market (with assymetric information seperti job market). once diluted (cause of few bad apples) it will bring the average down big time. perception has faster downward speed.

    di sekolah yang punya program bisnis s1 top seperti yang saya kemukakan di #63 (UPenn, UMich, etc) persaingan masuknya sangat kompetitif, jadi semacam honor program. jadi baru tahun ke 2 boleh melamar ke program bisnis-with some exceptions. ini hanya bisa terjadi karena job marketnya exists and very lucrative (wall street). wall street sendiri punya business model yang sustainable: setelah ~3 tahun para analyst ini biasanya di ‘refresh’ dengan new fresh graduates lagi (yang lebih murah) dst.. Para analyst ini kebanyakan melanjutkan ke MBA di top schools dst some wil return to financial industry yang sudah sangat established: sales/trading, invest. banking, asset mgt, private wealth mgt, etc. . Kembali untuk #65, ini bisa terjadi karena ada ‘market pull’ bukan di ‘push’ seperti yang kelihatannya terjadi di sbm. kecuali kalau sbm berani bikin target untuk mencetak lulusannya jadi feeder financial market di singapur atau hongkong. Kalau enggak menurut saya digabung saja lagi dengan jurusan teknik industri and make it more quant/analytical oriented (ever wonder why MIT does not have an industrial engineering program? hint: sloan school)

    Kalau menurut saya pribadi, akan lebih efektif anak itb mainstreamnya (bukan sbm) yang diajari bisnis melalui a) kuliah ekonomi mikro supaya rada ngerti supply-demand, dan konsep2 dasar lainnya seperti opportunity cost, market signal, moral hazard, etc. kalaupun nggak langsung jadi enterpreneur paling enggak jadi lebih ngerti menghadapi ‘global job market’ jangan kebagian the short end of the deal terus..he..he b) inspiring examples melalui program ‘enterpreneur in residence’ misalnya. menurut saya enterpreneuship itu karakter yang lebih mudah ditularkan / contagious (affektif) daripada diajarkan (kognitif). Tentunya harus dicari alumni2 itb yang sukses sbg ‘self made’ enterpreneur (vinod khosla-nya indonesia lah)-bukan yang karena political connection/cronyism/makelar politik-untuk mau meluangkan waktu di itb dan jadi mentor, etc.

    back to work (hence am still a working class..he..he)

  • Budi Rahardjo

    #70. d@mn! penjelasan anda cukup jernih. sayang sekali saya tidak tahu visi pembuatan sbm ini meskipun sampai saat ini saya masih pada posisi mendukung.
    mengenai “anak itb mainstream” diajari bisnis, sedang kami lakukan. sudah 2 tahun terakhir ini saya dan kawan-kawan merombak kuliah “konsep teknologi” dengan memasukkan hal tersebut. selalu ada entrepreneur yang kami undang untuk menceritakan kesuksesannya. (bukan sekedar show off tapi untuk menceritakan what worked and what didn’t.)
    and yes, mengapa saya terjun ke bisnis adalah untuk memberikan contoh kepada mahasiswa saya. so far, saya belum sukses besar. but, at least not like you, working class, I can decide what to do. :p ha ha ha. (kompor mode.) ketika orang lain bergegas pergi ke kantor, saya bisa duduk-duduk di beranda sambil minum teh, baca koran, makan bakso dengan istri saya. hi hi hi.
    pertanyaan kepada anda:
    (1) apakah anda bekerja untuk orang lain? (jika ya, mengapa?)
    (2) apakah anda seorang entrepreneur?
    curiousity kills the cat ;-)

  • working class

    untuk #71 pak budi
    menurut saya inspiring example ini efektif bukan hanya untuk tahu what works and what does not, tapi bisa membuka imajinasi untuk sampai ke powerful moment misalnya: ‘hey I can relate myself to that person culturally/socially/intellectually’ and ‘yes I too can be like him/her’ or ‘hey it is not that all impossible, etc’. untuk bisa sampai ke sini saja, to make students even think of the possibilities, saya pikir sudah loncatan kultural yang luar biasa. Residence entrepreneurship bisa lebih dalam dan personal lagi: dalam bentuk one-on-one business advising, coaching, etc. figur2 seperti pak budi dan tentunya bersama yang lainnya dari luar kampus memang sangat berpotensi untuk menciptakan efek ini.

    as to your two questions, well…do you really want me to answer those in your blog Pak? if it can add value to others I will be happy to do so but just want to make sure

  • Lilia

    Di luar ngeri ga ada lift khusus buat dosen.
    Yang ada cuman lift khusus buat service alias buat orang2 yg kerjanya service kaya room attendant dan tukang bersih2, liftnya biasanya rada lebar dan ga sebagus lift buat umum (guest).

  • Budi Rahardjo

    Working class, sebetulnya saya ingin mendengar komentar anda, tapi betul juga; apakah tempatnya cocok di sini atau tidak ya? Hmm… kalau di blognya sih saya tidak masalah, akan tetapi mungkin harus buat thread baru agar lebih tertata diskusinya.

  • dude

    Hey… isn’t it similar to JEWS-NONJEWS thingy????
    or CHINESE-PRIBUMI thingy?
    or whatever….

    Oh ya, f*ck zionism.
    Saya bukan muslim, maupun sistem2 kepercayaan semit lainnya (islam, jew, catholicism).

    Thanks gods.

  • rendy

    @ working class,

    anda benar, di sbm sendiri hanya sekitar 10% bibit yang berani untuk menjadi entrepreneur, tetapi 10% ini yang nantinya diharapkan bisa untuk mempengaruhi teman-teman lainnya untuk menjadi seorang pebisnis,

    memupuk semangat itu dari muda, jika saya sudah menjadi seorang pebisnis sejak muda, dan masih memiliki semangat membara, tentu lebih baik daripada orang yang sudah tua baru mulai berbisnis, pola pikirnya lain lagi, saat ini saya tidak memiliki tanggungan, tidak memiliki pacar atau keluarga yang wajib saya nafkahi, tentunya jika saya mengalami kebangkrutan, hanya saya yang jatuh, dan saya pun harus segera bangkit lagi.

    harapan pak budi, sebetulnya sudah banyak rekan-rekan saya yang mencoba untuk bergabung dengan teman-teman di EL, dan jurusan lain.

    @ working class,

    engineering malah menjadi nilai minus bagi saya, ketika berbicara kepada nilai nilai etika, dan bisnis tidak selamanya harus technology oriented. anda harus berani untuk keluar dari kerangka pola pikir yang anda miliki selama ini untuk menjadi seorang yang sukses.

    dan orang yang sukses adalah orang yang bisa membawa rekan-rekan disekitarnya ikut sukses.

    ohya, bisnis bukan hanya masalah financial, why finance people sux, karena mereka otaknya engineering, jarang menggunakan kreativitas mereka dalam bekerja (pekerjaan analisa yang rutin)

    tak ubah hanya sekedar robot saja. dimana sisi kemanusiaanmu ? yang saya pelajari disini adalah sisi kemanusiaan, bukan hanya sekedar belajar finansial, marketing, operasional, dan manajemen manusia.

    mayoritas pendiri sbm adalah orang teknik industri yang berusaha melepaskan diri dari kerangka engineering mereka, kembali lagi ke masalah kemanusiaan.

    dan soal USM, itu lebih sulit menjawabnya dibandingkan SPMB, bobot soalnya lebih! dan tidak ada istilahnya soal kisi-kisi, tidak seperti SPMB yang bisa kita jawab hanya dengan mempelajari soal tahun sebelumnya.

    thats my point.

  • working class

    to rendy:
    nothing wrong dengan semua hal normatif yang anda utarakan. If you have a lot going for you then good for you. keep in mind semua yang anda utarakan itu has very little to do with undergraduate business program. kalau untuk membangun pola pikir, perspektif humanities, creativity, etc harus lewat program bisnis s1 clearly there’s something wrong with our undergraduate education system.

    soal usm sbm lebih susah menjawabnya itu irrelevant dengan students selectivity/how hard to get in. kalau mau jujur menyaring the best and brightest berdasarkan merit system bikin test yang sama untuk semua, seperti SAT.

    sorry to be blunt. saya masih berpendapat program s1 bisnis itb salah kaprah. bukan berarti some of its students can’t be succesful. I hope many do, including yourself

  • rendy

    @ working class

    saya masih berpendapat anda salah kaprah, dan kurang open mind, perbedaan kultur bukanlah masalah yang harus diperuncing, tetapi carilah titik temunya, perbedaan itu indah, bukan berarti orang yang suka salah kaprah itu tidak benar, tetapi hanya kurang mau membuka pikiran untuk orang lain….

    kalau untuk membangun hal seperti yang anda sebutkan diatas, memang tidak harus dari program s1 bisnis, dan bukan keharusan pula anda menerima pendapat saya, memang ada yang salah dengan sistem undergraduate di indonesia, dan kami mencoba untuk mempelopori perubahannya…

  • working class

    to rendy,
    salah kaprah dimana? perbedaan kultur apa? open mind dalam hal apa?

    saya menyimpulan program undergraduate business di itb salah kaprah, karena alasan2 yang telah saya kemukakan. silahkan debat point saya kalau memang anda punya alternative point of views. please be specific to the points that we are discussing. hindari being judgmental karena akan mengurangi kredibilitas arguman yang sedang anda bangun. contoh: instead of saying ‘you are x y or z’ akan lebih efektif if you say ‘I don’t agree / take issue with your point(s) a b and c karena x y z, and here’s an example. etc’. so focus to the points of discussion and I’d be happy to continue

    if you don’t have anything new to add, that’s fine too. saya sudah baca/dengar sudut pandang anda, demikian juga sebaliknya. anda tidak perlu setuju dengan pendapat saya. don’t take it personally, and move on. anda bisa refleksi apa yang baru saja anda diskusikan dengan tenang, konsultasi dengan yang lain jika perlu, dan kembali di kesempatan lain jika ada hal baru.

    good luck!

  • ricorea

    Gw nambah pengetahuan baru dari tos2an (sudut pandangnya) *working class* dan Pak Budi. Gimana klo Pak Budi undang beliau di blog ini utk satu posting krn gw yakin 2 pertanyaan dari Pak Budi (terutama #1) itu bisa nambah banget buat gw. Mungkin buat yang lain juga.

  • zags

    Regardless of ITB or SBM, mahasiswa2 itu memang bersikap tidak etis. Tidak usah antara mahasiswa & dosen; antar sesama mahasiswa, sesama dosen, maupun yang senior kepada yang junior pun, sikap seperti itu tetap saja judulnya “tidak tahu etika”. Di mana sopan santun mereka sebagai makhluk sosial dan anggota komunitas?

  • Yono N5SNN

    Hmm, sedih juga mendengar ulah mahasiswa ITB sekarang. Koq tidak ada mannerism/etika (yang tidak cocok kalau diterjemahkan sebagai “ethics”).
    Minggu lalu saya presentasi di UI, wuih mereka santun sekali. Tapi mungkin sample-nya berbeda kualitas karena mereka ini umumnya pengurus student chapters dari berbagai universitas di Indonesia.

    Tapi memang, kalau biaya kuliah naik tinggi sekali, ekspektasi juga pasti akan naik juga. Misalnya kuliah yang harus tersedia dan dosennya datang (ndak ada lagi nunggu dosen dibawah tangga kayak saya dulu, atau kuliah hanya hari sabtu saja), juga fasilitas yang memadai (gedung yang bagus, lift yang besarnya cukup, juga gedung parkir!).
    Ekspektasi lain, dari tingginya biaya kuliah, adalah waktu kelulusan yang pasti, ndak bisa molor-molor melulu.

    Udah dulu deh, saya sebenarnya kesasar nih pas googling, lagi cari tempat stay for the weekend di bandung, malah ngoceh di blog-nya mas Budi ;)

  • Luthfi

    @ Zetazone (nomor 33)

    *serius mode on*
    maaf, saya bukan itb. Jadi gak tau ttg surat keputusannya itu. Tolong berikan linknya.

    *serius mode off*
    orang kemaren cuman becanda koq (no 29)

  • Kodok Gondrong

    wajar hal itu terjadi, “ketidakmampuan” seseorang terkadang membawa dirinya terhadap pandangan menyalahkan kepada orang yang mampu. bukanlah melakukan kontemplasi atas “ketidakmampuan” dirinya. hal hujatan dan sesuatu merupakan bentuk defense yang paling primitif dari manusia (Habil dan Qabil). defense tersebut dilakukan karena jauh dalam lubuk hati manusia ada rasa keinginan untuk selalu menjadi “the have one” tetapi ketika semua itu tidak berhasil diraih. maka bentuk yang keluar dalam pikiran seorang manusia adalah meluncurkan dogma dan doktrin terhadap diri dan lingkungannya bahwa the have one itu adalah buruk.

    Hal tersebut bukanlah hal yang baru di Indnesia. ambil contoh kasus kerusuhan Mei 1998, semua bermuara pada ketidakpuasan dan bentuk defense (pengobat hati) dengan melakukan penghujantan dan kerusuhan yang dilakukan “the have not” kepada “the have one”

    Yang saya sayangkan disini adalah, hal ini terjadi di ITB suatu institusi akadamik yang sejatinya merupakan suatu sumber budhi, daya, dan karsa perikehidupan manusia. tetapi ternyata semua itu tidak bisa mengalahkan suatu bentuk keprimitifan.

    Apakah sekarang Intelek mengalami pergeseran arti:
    In : Dalam
    Telek : Tai Ayam
    So, Intelek jangan pernah menjadi “dalam tai ayam” di sini. thanks

  • combro

    [OOT]
    #17 #19
    standalone… “o_O)y” ini kan emoticon yg slalu gw pake di milis W?81
    tapi gpp sih.. copyleft hehe..

    entah knp baca blog aku jabanin dari atas sampe bawah..
    padahal kadang yg “masuk” cuma sedikit

    tapi yg namanya mengkaji al-qur’anul karim.. malesnya diriku
    ruginya aku

  • fiand

    Mahasiswa bukan saja kehilangan etika namun juga banyak kehilangan moral
    tak luput juga para dosennya yang banyak mengatasnamakan jabatan untuk kekerasan moral pendidikan, hanya satu dosen yang saya salut dan patut dihargai yaitu salah seorang dosen di daerah sulawesi yang memecat mahasiswanya yang brengsek dan notabene masih keluarga pejabat tinggi negara.

    Menurut saya kekerasan di setiap daerah entah itu kampus, kantor atau pariwisata sekalipun tergantung bagaimana etika dan moral petinggi-petinggi yang berkuasa didalamnya kalau dari petinggi yang berdasi didalamnya saja rusak ya wajar saja kalau mahasiswanya rusak

    Ingat pada hukum ospek?
    rasa balas dendam disetiap angkatan
    yang hingga kini terus ada dan sudah membudidaya

  • dege

    SBM itu apa ya?

  • Lukman

    yah

    jujur aja, saya mahasiswa juga. kadang kesel dengan akhlak temen2 sebaya yang kelewat kurang ngajar, bahkan terhadap dosen. bukan sok suci, tapi dalam alam akal sehat tidak sepantasnya orang yang lebih tua dilecehkan.

    kalo ada yang ngebela mahasiswa yang kurang ngajarnya terbukti jelas, pasti ada yang ngga beres atau urat rasanya udah putus kali. ask your heart, is that suitable?

    ini bukan sekedar masalah budaya sepele, ini masalah budaya kronis. butuh penanganan lebih jauh, selamat berjuang para penjunjung etika!

  • eka

    setiap orang adalah guru bagi yang lain. si mahasiswa bisa saja belajar bersikap lebih baik untuk sopan dan minta maaf, si dosen yang dalam hal ini lebih banyak ilmu(bukan ngilmu)bisa belajar bagaimana bersikap -marah, mengumbar kebobrokan mahasiswa yang notabene adalah anak didiknya atau memutar otak untuk mengubah perilaku anak didik-(pilih mana?)
    tanpa saling menyalahkan (budaya yang dianut ataupun individu yang bersangkutan), mari kita belajar dan berkembang bersama . mari doakan mahasiswa yang bersangkutan kembali ke jalan yang benar. amin

  • lexo

    saya pikir itu hal yg biasa…smua orng bisa melakukan perilaku tersebut.

    mereka (dosen-mhsw) sama aja, sama2 manusia, cm beda umur n pengalaman aja..

  • azki

    Hmm…
    Kemaren dosen saya jg crita.
    Kasus nya beda.
    Tapi pelakunya sama.
    SBM!!!

  • ezzoviet

    sedih juga saya klo membaca kasus2 SBM-ITB di atas..
    bahkan saya juga sempat mendengar info kasus2 lain dari teman saya di ITB sebelum saya mendaftar untuk USM-SBM..

    untuk @working class

    sekarang saya adalah mahasiswa S1 Bisnis Prasetiya Mulya Business School.. sedikit sebel juga dengan perilaku anak SBM yang menjelek2an dan merendahkan kampus saya.. padahal kampus saya lebih dulu menyelenggarakan program bisnis selama 25 tahun untuk jenjang s2 di indonesia.. dan sebagai sekolah bisnis pertama di Indonesia dibandingkan SBM dari segi kualitas..

    mungkin anda harus merubah pandangan anda tentang program s1 bisnis di Indonesia.. jiwa entrepreneurship tidak hanya keturunan melainkan juga dapat diajarkan.. dan bukannya bagus untuk belajar business di jenjang s1 ?? bahkan banyak perusahaan yang saat ini membutuhkan fresh graduate dengan latar pendidikan business..

    jadi untuk working class bukalah pola berpikir anda.. jangan pesimis terhadap lulusan s1 bisnis di Indonesia.. mungkin memang anda tidak memiliki jiwa entrepreneurship.. jadi pola berpikir anda seperti itu.. hehe.. piss..

  • United01

    Ya emang begitu kalo yang masuk lewat jalur USM. Beginilah jadinya kalo kampus udah jadi ajang kapitalisme. Apalagi di FIKTM, nggak ketulungan deh. Kapan Pendididkan di negara mau maju kalo begini terus? Saran saya, lebih baik jalur USM ditiadakan, kesian mahasiswa miskin yang mau masuk ITB. Kalo mau masuk pake duet, jangan di ITB, masuk aja sono ke PTS.

  • vigets

    sebenarnya sih kalau kita mu berfikir ways dengan menyikapi kejadian ini,,, mm.. sebenarnya bukan hanya di SBM aja, mungkin di tempat univ lain yang ada sekelompok komunitas berkarakter seperti itu,, jadi kembali lagi ma masalah etika n moral per individunya. btw,, kenapa yah dengan cara kita menjaga sopan santun, menghargai orang lain apalagi kepada yang lebih tua adalah sesuatu yang malah menjadi sesuatu yang sulit dalam bangsa kita ini yang notabene bangsa Indonesia tuh terkenal dengan orang-orangnya yang ramah-ramah, ada tata krama, norma-norma,dsb

    sebenarnya sih,, setelah gw baca buku etika, burhanuddin Salam,, (berhub. lagi ngambil mata kul etika neh skrag heheee..) Menurut Kant, sebenarnya gak ada yang disebut baik di dunia ini atau dimana pun tanpa kualifikasi, kecuali kemauan baik (good will)
    yang dimaksud dengan good will oleh Kant adalah:
    hendaknya dilandasi oleh kebajikan dengan tujuan untuk mencapai kebahagiaan hidup and merupakan suatu kesatuan yang baik, meskipun ia berdiri sendiri. konsekuensinya adalah dari suatu perbuatan yang baik, hasilnya juga menuju kepada hasil yang baik.. so,,,
    melihat perkembangan negara kita yang sepertinya dah di ujung tanduk, belum lagi kita harus prihatin dengan masalah-masalah kesejahteraan rakyat yang.. duh sangat tragis bgt.. kenapa sih kita yang muda-muda nih gak jadi pendobrak untuk membuat bangsa kita jadi lebih baik,, gak usalah dulu yang muluk-muluk mungkin dengan hal yang dianggap sepele, yaitu menjaga sopan santun,, menghargai orang lain, jujur, bersikap lebih bijaklah.. mungkin dengan sikap seperti, minimal untuk tahun kedepan yang namanya kkn menjadi berkurang… i hope so..
    jadi,, percuma deh kaya’nya kalau mahasiswa terlalu banyak berkoar2 menuntut pemerintah yang macam2 tapi klau hal sekecil ini saja kita gak bisa handle,,, yah… kita juga sulit buat menuai kedepan atas apa yang kita harapin… jadi setidaknya mulai sekarang dan setrusnya,,, kita menabur nih kebajikan,, khususnya buat bangsa kita yang tercinta ini… supaya gak menjadi lost generation…. ok,, guyss… sekian komentarku semoga yang baca juga bisa berfikir apa yang baik dan bisa kita berikan buat bangsa kita ini. God bless Indonesia…

  • Ex-UGM

    lagian… ngapain juga dibikin SBM? kalo niatnya bikin univ. rakyat… yo kudu merakyat… saya sendiri merasakannya di UGM… UGM bukan lagi Univ. Rakyat kok. mahalnya gak ketulungan. dengan uang masuk 7 juta… bahkan sampai 10 juta, Guru-guru (bukan dosen loh…) nggak bisa tuh masukin anaknya kuliah… kasian ya… orang yang mendidik anak menjadi pintar malah anaknya sendiri tidak bisa mencicipi ilmu di negri ini. yang bisa kuliah anak orang kaya yang meskipun nggak semua manja… tapi kebanyakan dari anak yang tidak belajar “prihatin” mereka manja… dan lihat aja perlakuannya pada dosen. seenaknya sendiri. bukannya saya anti pati kepada orang2 kaya, tapi memang itu kenyataan… karakter manja itulah yang membuat mereka seenaknya… kalo universitas mau menghasilkan manusia yang cerdas… ya harus membuat seleksi penerimaan mahasiswa yang bagus. jangan hanya karena punya duit banyak bisa masuk. tapi yang utama otaknya. memenuhi standar ato tidak. trus kalo otak memang sudah memenuhi standard… tes psikologi juga penting. jangan sampe jebolan suatu universitas hanya menghasilkan kaum kapitalis dan oportunis. kepintaran yang ada pada manusia tak bermoral hanya akan menenggelamkan negri.
    maaf kalo agak panjang dan tidak begitu berisi.

    salam.

  • solitaire

    Saya sendiri bkn anak itb atau sbm, jadi saya kurang ngerti urusan internal itu…

    Tapi mnurut saya, satu hal yang pasti, parkir paralel dan direm tangan itu SANGAT tidak sopan karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Kalau sudah tahu mobilnya ga bisa diparalel (beberapa mobil matic ada yang ga bisa dicabut kuncinya klo persneling ga di P) ya ga usah maksain di-paralel. Salah sendiri datang telat dan ga dapat tempat parkir yang bagus.

    Btw,saya dan seorang bapak pernah ngalamin kejadian spt ini di salah satu mall di jakarta selatan.Pada saat itu hari sudah malam n itu bapak harus ngejemput istrinya di daerah jkt utara….tapi berhub mobilnya n mobil saya dihalang oleh orang kurang ajar yang parkir paralel n direm tangan, terpaksa d istri itu bapak plg sendirian naik angkutan umum…Kasian kan….

    Yang saya tahu tentang etika adalah, ada salah satu pandangan tentang etika yang mengatakan perbuatan yang beretika adalah yang tidak melanggar hak orang lain. Klo parkir paralel n di-rem tangan, jelas melanggar hal orang lain untuk keluar dengan cepat kan…

  • don

    sy sih emang bukan dari ITB saya dari unmul…….., mahasiswa salah wajar kan masih dalam tahap belajar………………., jd jgn terlalu menyalahkan mahasiswa………….., kalau dosen merasa lebih beradap dan berpengalaman……..serta lebih tua…….., apa susuahnya sih berbesar hati………., pak!!!! ngalah ama yag muda……, cara hormat mahasiswa jaman dahulu dengan cara hormat mahasiswa jaman sekarang ga bisa di samain………., jaman udah berubah……….., kali kali aja dosen yg ngalemin itu semua sifatnya juga tidak ramah dan tidak bisa menghargai orang lain jadi beliau kena karma dehhh heh he he,
    btw jg cm ITB ko Yg susah berubah
    universitas yg laen juga
    apalagi saya
    di universitas saya unmul., dan sy di FISIP
    itu kan ilmu sosial……,
    masa skripsi dari dulu ampe sekarang teorinya itu itu aja, trus skalipun jenis skripsi saya deskriptif kualitatif………masa sih sistematiknya harus ikut tradisi, kalo begitu caranya mana bs ilmu sosial berkembang………..,
    itulah contoh unuversitas dengan para pengajarnya yang g bisa nrima perkembangan jaman…..??? jd sy dilema harus ikut pembimbing (penuh dengan pengalaman keilmuan di luar negri) atau mengikuti (penguji yg tua n klasik g bs berubah trus bs nya cm ngotot melulu)

    saya ni jg mau maju…………..,
    objektif lah jgn liat tingkah kami
    tapi liat kemampuan kami
    degerin dong kami

    dari dulu budaya beradap di gaungkan………..
    liat dong pemimpin kita yg beradap
    tp tetep aja korup

    beradap (di depanya aja manis)
    munafik

    OBJEKTIF LAH

  • don

    sy sih emang bukan dari ITB saya dari unmul…….., mahasiswa salah wajar kan masih dalam tahap belajar………………., jd jgn terlalu menyalahkan mahasiswa………….., kalau dosen merasa lebih beradap dan berpengalaman……..serta lebih tua…….., apa susahnya sih berbesar hati………., pak!!!! ngalah ama yag muda……, cara hormat mahasiswa jaman dahulu dengan cara hormat mahasiswa jaman sekarang ga bisa di samain………., jaman udah berubah……….., kali kali aja dosen yg ngalemin itu semua sifatnya juga tidak ramah dan tidak bisa menghargai orang lain jadi beliau kena karma dehhh heh he he,

    btw ga cm ITB ko Yg susah berubah

    universitas yg laen juga
    apalagi saya
    di universitas saya unmul., dan sy di FISIP
    itu kan ilmu sosial……,
    masa skripsi dari dulu ampe sekarang teorinya itu itu aja, trus skalipun jenis skripsi saya deskriptif kualitatif………masa sih sistematiknya harus ikut tradisi, kalo begitu caranya mana bs ilmu sosial berkembang………..,
    itulah contoh unuversitas dengan para pengajarnya yang g bisa nrima perkembangan jaman…..??? jd sy dilema harus ikut pembimbing (penuh dengan pengalaman keilmuan di luar negri) atau mengikuti (penguji yg tua n klasik g bs berubah trus bs nya cm ngotot melulu)

    saya ni jg mau maju…………..,
    objektif lah jgn liat tingkah kami
    tapi liat kemampuan kami
    degerin dong kami

    dari dulu budaya beradap di gaungkan………..
    liat dong pemimpin kita yg beradap
    tp tetep aja korup

    beradap (di depanya aja manis)
    munafik

    OBJEKTIF LAH

  • alphabetterakhir :: Saling Berbicara (di Belakang) :: June :: 2007

    [...] Dosen berbicara tentang mahasiswa.Mahasiswa berbicara tentang dosen. $#*&*)()*+)**&$%$&$*%$&($%(&$%  Jadi???!    [...]

  • Voucha

    Puter badan dong. Biar ngga saling membelakangi.

  • All Business School Student

    SBM-ITB TAIIIIIIII!!!

    Smua sekolah bisnis di Indonesia gk stuju keberadaan loe!

    Entrepreneur gak bs menang dengan sgala keangkuhan loe!

    Ini contoh baru kapitalis Indonesia.

    Waktu itu cewe gw pernh cerita (which is anak Matematika ITB angk. 2006):

    “Eh dit, masa ya waktu itu ada sparing basket Tek.Industri ITB vs. SBM…”

    “Trus2?”

    “Yaaa mereka kalah telak!!!”

    “Trus2?”

    “Eh mereka malah teriak, “KALAH YANG PENTING KAYAAA!!!!”

    NAJISSSSSSSSSSSS!!!

  • All Business School Student

    SBM-ITB itu angkuh!!!

    Smua sekolah bisnis di Indonesia gk stuju keberadaan loe!

    Entrepreneur gak bs menang dengan sgala keangkuhan loe!

    Ini contoh baru kapitalis Indonesia.

    Waktu itu cewe gw pernh cerita (which is anak Matematika ITB angk. 2006):

    “Eh dit, masa ya waktu itu ada sparing basket Tek.Industri ITB vs. SBM…”

    “Trus2?”

    “Yaaa mereka kalah telak!!!”

    “Trus2?”

    “Eh mereka malah teriak, “KALAH YANG PENTING KAYAAA!!!!”

    NAJISSSSSSSSSSSS!!!

  • primere

    kayaknya mahasiswa sekarang hanya pintar berdemo…..!

  • liga champ

    Mahasiswa hanyalah pahlawan kesiangan yang bisanya hanya sok pinter nuntut gini gitu …..

  • Felix

    Saya hanyalah orang yang numpang lewat, yang memberikan sebuah masukan melalui tulisan ini.

    Etika berasal dari kata ethikos yang berarti timbul dari kebiasaan. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika atau studi konsep etika; etika normatif atau studi penentuan nilai etika; dan etika terapan atau studi penggunaan nilai-nilai etika (Wikipedia, 2007). Nampaknya yang menjadi permasalahan adalah nilai standart etika yang berlaku serta penggunaannya di dalam sebuah lokasi tertentu, apakah ada sebuah standart yang berlaku dalam menentukan etika, sehingga ada beberapa orang yang menyatakan hal ini salah, hal itu benar, dan lain sebagainya.

    Baik itu dosen atau mahasiswa atau siapapun dia, setiap seseorang dapat mengerti mengenai etika, karena etika lahir dari kebiasaan yang berlaku dalam suatu tempat. Permasalahan yang terjadi di dalam kampus adalah sebuah penyalahgunaan nilai etika yang ‘menurut saya benar’ dan lainnya, yang digunakan secara “paksa” kepada orang tertentu dan yang nantinya, sadar atau tidak sadar, akan merambah ke semuanya atau sering disebut generalisasi.

    Alangkah baik dan indahnya bila orang-orang yang berada di dalam suatu lokasi tertentu saling menghormati satu sama lain. Tidak selalu yang muda harus selalu dan harus menghormati yang tua, alangkah baiknya dan arifnya bila yang tua juga ikut manghormati yang muda. sehingga terjadi kesinambungan dan keindahaan di dalam suatu lokasi.

    Sekian..
    Saya akan berangkat lagi, menuju tempat yang saya tidak ketahui.

  • sejati

    Pak Budi,

    mungkin yang etika nya gak bagus itu mereka on average gak pernah di-OS sama “bandito dan seniro-nya” kali. dan mungkin di lingkungan hidupnya sebelumnya juga tidak pernah diajarkan etika bermasyarakat. (I’m just being sceptic)…

  • Nandi

    Maaf .. jujur saya merasa tersinggung kalau mengait2kan dengan SBM.SBM itu fakultas saya. saya anak MBA-ITB. kalau memang betul sih pelaku etika nya kurang baik, itu karena kepribadian si pelaku tersebut. Bukan kepribadian dari Anak SBM secara keseluruhan. Apakah mahasiswa fakultas lain tidak mungkin melakukan itu?toh,banyak anak2 ITB juga yang bawa mobil. itu tuh yan pada parkir di dekat sabuga. Ini bukan masalah kesenjangan sosial, tetapi masalahnya cuma pada si pelaku yang kepekaannya terhadap lingkungan sangatlah kurang. Bukan karena dia anak SBM

  • Nandi

    soal anak2 SBM yang dianggap bukan Whole ITB atau dianggap alien di lingkungan ITB, saya tidak setuju dengan hal seperti itu. Mari kita merangkul semua. kita semua ini bersaudara. gak perlulah saling membenci…………….

    buat apa?kita ini hanyalah sesama manusia. lupakanlah Embel2 ITB dan kasihilah sesama. SBM itu bagian dari ITB kok.

  • Nandi

    buat yang nickname nya All business school student cobalah baca lagi pesan2 anda. Menurut saya makian2 seperti itulah yang menyebabkan indonesia hancur. kesannya seperti menebarkan kebencian. apakah kebencian itu bikin anda puas? salurkanlah energi negatif anda ke hal2yang positif. menurutku hal2 seperti itu yang tidak beretika dan perlu dikaji ulang

  • Nandi

    SBM ITB JAYA!!!!!!!
    Dosen-dosennya baik hati dan mahasiswa2nya juga

    mari kita hindari hal-hal yang negatif

  • febi

    @ #101 dan 102:
    mungkin anda sebelumnya berfikir bahwa ada tombol undo di wordpress ini, tapi ternyata enggak, terlanjur deh {he he, just kidding}.
    Mungkin Anda bukan anak ITB ya?? Selama saya kuliah di sana belum pernah ada mahasiswa yang ‘separah’ ini.
    Opini anda tidak membangun sama sekali. [membangun gak ya? Jangan2 mewakili sudut pandang beberapa mahasiswa? Halah...]

  • budiridwin

    Saya setuju dengan #105 dan #10, dan saya bukan ITB atau SBM pulak…Dan yang saya sayangkan kenapa masalah yang seharusnya bisa diselesaikan saat itu juga di tempat yang bersangkutan dibawa-bawa ke sini oleh pak Budi yang justru menambah rumit akar masalahnya?

    Kalo kasus di lift itu kan sebenarnya dosen yang temannya Pak Budi itu bisa langsung ngambil tindakan, soalnya kalo diliat juga masalahnya adalah person to person, kenapa juga harus dibawa-bawa ke milis? Dan kenapa juga harus dibuat panas ke permukaan? Anggap saja kejadian lift tersebut bukan di ITB dan yang pengguna liftnya bukan mahasiswa ITB, tarok lah mahasiswa yang dosen tersebut tidak kenal sama sekali antah berantahnya. Apakah teman Pak Budi akan menegurnya? Dan apakah akan diceritakan di sini pulak? Pasti kita akan nganggap itu hal biasa, lumrah, jamak lah tempat umum.

    Dan untuk kasus kedua juga apabila terjadinya di tempat umum, apakah akan jadi masalah besar juga? Masalah yang perlu dibahas banget2? Saya tidak yakin…malahan saya yakin apabila kasus tersebut terjadinya di parkiran mall, dosen tersebut akan kembali ke mall ngadem dan jalan2 sambil cuci mata….

    Kalau kita membahas “kultur” yang seperti disebutkan Pak Budi, yang mungkin saja tidak disukai oleh kebanyakan dari kita. Saya rasa kita harus konsekuen dengan dampak dari keterbukaan dan globalisasi dimana semua orang menuntut untuk bebas berekspresi dan berpendapat, anggap saja sikap yang kita anggap kurang sopan itu merupakan bentuk kebebasan mereka dalam berekspresi. Toh kita dulu teriak2 mau freedom, globalisasi, bebas berekspresi untuk generasi penerus kita. Tapi kenapa kita harus kaget begitu ngeliat mereka menunjukkan kebebasan mereka dalam berekspresi?

    Dan sepertinya Pak Budi juga agak kebablasan menyikapi kasus yang Pak Budi ceritakan sendiri. Di cerita tersebut pak Budi mempermasalahkan Etika dan sopan santun, tapi kenapa yang dijadikan subjek dan ditiup-tiup supaya panas harus SBM dan terkesan mengangkat isu kesenjangan sosial?

    Jadi saya rasa sebaiknya sudah saatnya kita yang mengaku lebih dewasa juga harus bisa dewasa dalam bersikap dan berpikir supaya bisa menjadi tauladan bagi penerus kita. Nah kalau masalah kecil saja dibesar-besarkan apakah kita pantas disebut orang yang sudah dewasa? Apakah pantas ditiru oleh penerus kita nanti?

    Dan mari kita lebih terbuka dalam menyikapi suatu masalah, saya juga yakin dulunya kita juga pernah menjadi mahasiswa dan berkelakuan rebel seperti mahasiswa yang diceritakan. Tapi kita nggak pernah mempermasalahkannya kan? gak kita ceritakan dan keluhkan supaya menjadi citra yang negatif di fasilitas umum seperti blog ini bukan?

    Jadi kenapa nggak kita maafkan saja tindakan mahasiswa tersebut? Dengan begitu kita pun akan melewati satu step dari proses yang panjang yaitu proses menjadi dewasa.

    Caileeee, sok wise banget seeeech gueeeee?….tapi bener kok, masalah kecil tuh pak, kenapa juga sih harus dibikin ribet?

  • Budi Rahardjo

    @112 budiridwin. kasus di lift ternyata terulang kembali baru-baru ini. (lihat postingan saya adalah tahun 2006) mau tahu ceritanya? baik saya ceritakan.

    ada salah satu dosen saya (bayangkan, beliau adalah DOSEN saya dan dia adalah salah satu dosen YANG SAYA HORMATI) yang terkena stroke beberapa tahun yang lalu. tangan dan kaki beliau susah digerakkan dan beliau masih bertugas ke kampus. ketika mau masuk lift, mahasiswa lain berebut masuk dan tidak memberikan kesempatan kepada beliau! beliau ini seorang perempuan. ada yang mungkin bergurau, nyeletuk “ibu naik tangga saja!”.

    kalau saya ada di sana, sudah saya tonjok tuh anak! (dan ceritanya bisa panjang karena ada dosen yang berkelahi dengan mahasiswa.)

    anda bisa mengatakan ini masalah kecil, tetapi tidak bagi saya. ini adalah sebuah kampus yang seharusnya sangat erat kekeluargaannya. ini bukan sekedar mall di mana orang tidak kenal satu sama lainnya.

    bagi saya “berpendidikan” (educated, dalam artian punya etika) lebih penting dari gelar s1, s2, s3. kalau ini tidak diajarkan di kampus, nanti setelah keluar dari kampus mereka menjadi orang yang kurang ajar terhadap rakyat!

    begitu …

  • hariadhi

    Saya ingat dulu pertama kali masuk Binus diajakin ngobrol dulu sama dosennya, soal soft skill, cara berkomunikasi, dan segala macam tetek bengek untuk mendapat penghargaan orang lain, ketimbang langsung ngajarin teori-teori ga jelas. Mungkin itu harus dicontoh ITB, pak? Saya ga tahu, hihihi. (bukan dosen ini).

    Menarik juga kalau di kuliahan ada 2 sks soal tatakrama. Toh itu luput diajarin di sekolahan.

  • gie

    wuiihhhhfffffhhhhhh…..
    mahasiswa, mahasiswa,,,knp kalian menyepelekan imbuhan ‘maha’ di depan nama kalian???

    jujur juga kalo pada demo tuh, udah pada kehilangan etika juga
    kadang q malu disebut mahasiswa, katanya mau memperjuangin nasib rakyat eh malah menyengsarakan…

    betapa tdk!
    tadi q liat d berita mahasiswa melakukan aksi dgn merusak mobil operasional polisi dan pagar dpr,aduh anarkis bgt

    kita tu kaum terpelajar n kudunya bsyukur bgt bs kuliah
    n kita tu diharapkan pny etika!
    masa perilaku kita sama dgn preman??

    ayo salurin aspirasi kita, tapi jgn dibumbui dgn aksi anarkis euy!

    malu atuh……

  • pbasari

    btw ini kan post 2 thn lalu, apa kabar sekarang? :)
    (nunggu cerita bersambung)

  • Lelo Jose

    Numpang lewat. Lomba dan Festival Foto Lingkungan Hidup Nasuonal 2008 di http://www.greenviart.org

  • gunners4

    boong aja lu!!!!!!!!!!!!!

  • jan

    walaupun post nya dah lama namun menarik juga. seru bacanya…..lalu kepikir ….inilah kelebihan kalau kuliah di STPDN….ada mahasiswa yang salah langsung di tindak……but tidak sampai mati lah……

  • Audi

    Saya mahasiswa program S1 SBM ITB. Selama saya dan teman-teman saya kuliah, kami sudah terbiasa mendengar komentar komentar miring mengenai fakultas kami. Komentar-komentar miring ini memang menyebabkan kami merasa minder awalnya karena kami tidak mempelajari hal-hal yang berbau teknik pada kuliah kami (berhubung itb adalah universitas teknologi). Tapi hal seperti ini sudah tidak lagi menjadi masalah bagi anak-anak SBM sendiri karena saya rasa mekera sudah cukup dewasa untuk tidak menanggapi komentar-komentar miring yang membangkitkan emosi jiwa muda kami. Dan kebetulan juga kuliah kami menyita banyak waktu dan tenaga sehingga hampir ga ada space untuk kita mikirin halhal seperti itu.

    Untuk komentar-komentar diatas yang menjelek-jelekan mahasiswa SBM, saya mewakili mahasiswa SBM ingin meluruskan beberapa hal. Kami tidak pernah merasa sebagai individual yang kaya. Kami tidak pernah merasa jadi orang yang paling kaya di ITB atau lainnya. Seandainya ada beberapa dari kami yang memang kaya mereka pun sadar bahwa kekayaan itu bukan milik mereka melainkan orang tua mereka. Bahkan ada beberapa orang yang sampai sempet-sempetnya mengomentari cara berpakaian mahasiswa-mahasiswi SBM yang terkesan glamor. Saya pribadi tidak melihat perbedaan pada cara berpakaian dari anak-anak SBM dengan fakultas lainnya. Apabila terjadi perbedaan mungkin itu disebabkan oleh faktor pergaulan yang mempengaruhi cara mereka mengekspresikan diri mereka masing masing melalui cara berpakaian.

    Jadi jangalan mendiskriminasikan kami dengan komentar-komentar miring karena kami sebenernya adalah mahasiswa yang sama dengan mahasiswa dari fakultas lain. Tujuan kami pun sama yaitu untuk memperoleh ilmu sebanyak banyaknya sehingga nantinya dapat kami pakai untuk meraih citacita kami dan membangun Indonesia untuk menjadi lebih baik dan maju.

    Berikut adalah organisasi mahasiswa SBM-ITB yang bertujuan untuk membangun daerah di Ciwidey sebagai bentuk kepedulian kami kepada negara.

    http://www.satoeindonesia.org

  • reva Abdul Aziz

    Aduuuuuuu……………………….h
    Behhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    Farahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
    NGEKKKKKKKKKKKKKKKKKK….
    NGEKKKKKKKKKKKKKKKKKK………
    MASA KALAH SAMA ANAK KECIL ETIKANYA ?
    KATANYA KAUM ELITE????????????????????///

    HIDUP MAHASISWA/////////////////////////

  • Fuji Mulia

    Saatnya lebih mendengarkan hati nurani…

    Recycle your life for a better future!
    :D

  • ketax

    Hahaha.. gila nie postingan, dah 2 th lebih masih lariiis aja..!? But..lum pada tau kan, ada yg lebih heboh lagee..
    Coba di http://visionaked.blogspot.com

  • Saerozi

    Sudah Tidak ada yang menghormati Guru….

    Hidup DOSEEEEEEEEEENNNNNNNNNN……!!!!!!

    Makanya Ospek ngajari Etika dong….jangan keroyokan sama anak baru…payah!!!!

  • asri

    anak polban mao ikutan sharing dikit….

    menurut sayah segala sesuatu yang dipaksakan ga bagus pada akhirnya..
    orang yang ga sanggup masuk itb ato kedokteran unpad misalnya. pada akhirnya kasihan ke dirinya sendiri. membuat kesalahan apalah, mal prakteklah, salah diagnosalah. hal patal bisa terjadi. karena otaknya ngga nyampe!!!
    bener klo ada yang bilang sbm cuma tempat sapi perahan buat orang2 tajir.
    mending buat orang2 tajir yang pengennya cari gampang dalam hidup banyak2 aja tes psikologi buat nentuin apa si yang cocok baut lo lo pade. dari pada nantinya ngerugiin banyak masyarakat umum.
    maaf saya bukan me-underestimate kan orang2 borju tapi untuk kebaikan semuanya.
    mending pemerintah indonesia bikin lagi universitas yang keren buat orang2 borju yang nganggep dirinya keren juga. biar orang2 yang ada didalamnya sepaham klo bilang gapapa klo kalah lomba juga yang penting kaya.. haha….
    truz di universitas itu banyak psikolog2 unggul untuk mengarahkan orang2 borju itu menjadi figur yang baik dimata masyarakat kelak.
    klo ada kata yang tidak berkenan saya minta maaf…
    terimakasih

  • doesntmater!

    Sekedar info untuk smuanya..

    Saya orang luar sbm dan itb! tidak sengaja membuka forum ini..

    Kesan yang saya dapat dari sini adalah.. semua berupa kesalah pahaman semata. benar menurut saya mengenai istilah “don’t judge a book by its cover!”. Everyone has been there before.. don’t deny it!.. n don’t be such a hypocrite!. Tidak semua tingkah laku orang bisa kita analisa hanya dari satu sudut pandang saja karena pada kenyataanya semua orang mempunyai pola pikir dan sudut pandang yang berbeda bukan begitu? Kita tidak bisa meminta orang lain berpikiran sama persis dengan kita! dari segi etika, memang “hal” tersebut tidak pantas dilakukan. Tapi kembali lagi ke latar belakanngnya, apakah memang sengaja dilakukan, ataukah memang mereka hanya iseng, atau mungkin mereka tidak mengenal bahwa yang bersangkutan adalah dosen…. dan mereka berlaku selayaknya orang indonesia pada umumnya yang secara emosional melontarkan kalimat2 cuek pada orang2 yang tidak dikenal yang mereka pikir berstatus dan berumur sama.

    Kalau dipikir dengan logika pun.. mereka tidak mungkin kan bertindak seperti itu dengan presiden? tentu saja karena mereka tau siapa yang mereka hadapi! Kalau saja mereka tau orang yang mereka hadapi pada waktu itu adalah dosen, saya rasa mereka pasti akan bertingkah berbeda!. Memang tetap salah melakukan hal itu pada orang tidak dikenal, tapi saya bingung kenapa smua jadi memojokkan mahasiswa sbm? padahal kita semua tau persis, pasti mahasiswa lain juga banyak yang melakukan hal itu!. Mahasiswa itb kah, mahasiswa dikampus saya kah, atau dimana2! This is INDONESIA, hello..??

    Hanya kebetulan saja yang bersangkutan adalah mahasiswa sbm! coba saja yg bersangkutan adalah mahasiswa teknik sendiri, saya rasa permasalahan kesenjangan kampus tidak akan ikut terbawa2 kan? apa mungkin dosen bersangkutan akan mengatakan seperti yang ditulis di forum ini “kalau begini caranya, saya lebih setuju kalau teknik industri (*misalnya) dipisahkan saja dari itb!”. Tidak mungkin akan sampai begini kan??

    Intinya kebetulan saja memang yang melakukan adalah mahasiswa sbm!!.. yang notabennya, banyak tidak disukai oleh mahasiswa itb lain. Saya lihat sungguh tidak bijaksana mengkaitkan permasalahan individu/personal dengan permasalahan umum yang sedang terjadi di itb lantas memprovokasi dan menjadikannya masalah yang lebih luas lagi! Dalam hal ini kesenjangan sosial ikut terbawa2 kan..? Padahal kalau dipikir2, kesenjangan sosial di indonesia itu bukan cuma di itb! admit it!

    “trus kenapa? kalau kita satu sekolah sma orang2 kaya?”
    Apa itu membawa dampak buruk? YA! terhadap psikologis orang yang tidak kuat mental! Too obvious.. it’s just the mater of jealousy!, but it’s normal..we’re just humans! tapi apakah rasa itu mau kita biarkan ada di dalam hati kita saja dan kemudian perlahan2 menggiring kita terdaftar sebagai “manusia2 yang tidak berbuat apa2 melainkan menyalahkan orang atas statusnya!”. Memang itu akan mengangkat kita menjadi individu yang lebih baik? Tidak kan? Lalu apa untungnya?

    Kalau kalian sudah berpikiran cukup maju, saya rasa yang seharusnya kalian pikirkan adalah bagaimana cara mengambil keuntungan dari kondisi yang kalian hadapi sekarang! bukannya malah menyalahkan dan mengeluh..
    ITB kedatangan fakultas baru, yaitu bisnis. Mahasiswa2 itb adalah mahasiswa2 cerdas yang seharusnya bisa mengambil keuntungan dari mahasiswa bisnis bukan begitu? Bisnis is “somthing”!!, come on..

    Pada kenyataanya, sekarang semua univ. berstandar internasional pasti mempunya satu mata kuliah wajib, yaitu “entrepreneurship”. Kampus saya pun baru membuka sekolah bisnis baru, dan kami tidak mempunyai masalah sedikit pun! Saya adalah mahasiswi Desain Komunikasi Visual. Saya adalah orang seni, apakah saya harus bertahan dengan jiwa idealis saya lantas bisa menjadi sukses dan menjadi seorang miliuner? jika bekerja pada perusahaan, gaji pati sudah tetap!
    Tentu saja saya harus mempunyai jiwa bisnis kan untuk mendapat jumlah uang yang saya inginkan?? Lantas apa yang harus saya lakukan jika pengetahuan bisnis saya kurang, karena mata kuliah saya pada umumnya dalah seni? ya bekerja sama lah dengan orang2 bisnis!. Orang2 bisnis kan juga perlu tenaga ahli! kita semua itu saling melengkapi oleh karena itu seharusnya kita memperbanyak teman, bukan malah memperbanyak musuh saya rasa..

    Untuk sekedar mengetahui saja..
    saya mempunyai banyak teman dan saudara di itb, saya juga punya beberapa teman di sbm, dan saya pun punya teman alumni sbm dan fakultas lain di itb yang membuka perusahaan bersama-sama. Hasilnya…? Excellent!
    Apakah kalian sadari, mahasiswa2 sbm yang kalian jauhi itu sangat sering membawa nama baik kalian di dunia yang mereka jalani sekarang.. SAYA SAKSINYA!
    Buktinya.. banyak dari mereka yang sangat ingin melibatkan kinerja mahasiswa itb (yang mereka anggap nomer 1 di bidang teknik dan sains) dalam kelangsungan bisnis mereka. Kemana mereka mencari tenaga ahli untuk bisnis2 besar mereka? Ke almamater mereka sendiri..
    Bahkan saya pernah dengar sedikit perbincangan para alumni sbm, mereka mempunyai angan2 suatu saat itb akan seperti univ.2 terkemuka di dunia. Univ.2 tersebut bisa bergerak mandiri akibat program dan proyek2 spektakuler mereka yang dijalankan oleh mahasiswa dan dosen2nya sendiri dari berbagai fakultas. Pada akhirnya, proyek2 itu bisa membawa berbagai keuntungan dan menghasilkan dana besar untuk beasiswa dan kemajuan teknologi pendidikan di kampus mereka!. Luar biasa kan kalau itb bisa seperti itu?

    Kalian punya sekolah bisnis, kalian punya sekolah teknologi terbaik di Indonesia! Kalian adalah tenaga ahli keluaran sekolah terbaik, tapi kalian perlu pengetahuan bisnis untuk menjalankan proyek bisnis teknologi.., you guys can count on your own almamater! mahasiswa sbm kan, syapa lagi?

    So.. guys.. please.. supposely, you should be proud of your condition.. studiying at the best technology school in indonesia that has one of the best business school as well..
    You should colaborate together to make something huge! instead of just makin fun of one another, disrespecting each other, and doing other useless things u should forget to do! As far as im concerned, if u wanna get a higher quality of life, u should use more capacity of your brain to think forward by using wide opened sight.

    Dari sudut pandang orang luar, saya cukup terpukau melihat kinerja itb membuka sekolah bisnis baru yang suatu hari nanti saya rasa bisa jadi masterpiece-nya itb juga dalam membangun itb kedepannya..
    So keep doing this.. this is really a great thing..

    Thanks for reading this..
    I meant no harm.. *what i just wrote was simply based on facts..

  • cravavoila

    setuju sama doesntmater!
    setuju sekaligus bangga membacanya!

  • ndiit

    wah……..wah…..wah……….

    biar tuhan yang membalas ketidaksopanan mereka,,,

    amiien…

    nunut doa ah..

    doa in aku ia..masuk FTI ITB,….hahaha

  • Sisca Naria NathaLia Ginting

    kLo mEnUrUT saya pRibadi ETika iTu tidak pERLu d ajarkan Lg sEharUsnya d kaLangan Mahasiswa..
    Mahasiswa sudah dewasa jd sudah tau mna yg trbaik dLm hiDupnya,,,
    Jd bagaimanaPun Etika iTu hRz ttp d pakai dLm kEhidUpan sehari-hari,,
    Sebagai murid sudah seharusnya kita menghormati para dosen kita,bagaimanapun mereka orangtua kita d kampus dan tampa mereka kita tidak ada apa2…

    GBu

  • abhe

    Itu Bukanlah hal yang wah,

  • fuadindra uii

    menurut saya …..mahasiswa sekarang itu cuma mengandalkan ego nya……cuma bisa berkomentar di belakang , tapi g berani tampil didepan…..kenapa y bisa gitu…
    lo ini terus dibiarkan mau jadi apa bangsa ini…http://fuadsetiawan.blogspot.com

  • Payung belakang Lounge

    Saya juga tahu satu kasus lagi dimana seorang anak SBM hampir ditabrak oleh mobil serena hitam yang dikendarai KaProdi matematika.. Saat itu baru bubaran kuliah, dan kebetulan KaProdi tersebut mengendarai mobilnya terlampau kencang.. Kalau saja anak itu tidak ditarik oleh temannya, pasti ketabrak.. Dosen itu turun lalu berkata: “kalian ini anak SBM memang udah terkenal arogan!” Lalu terjadilah adu mulut hingga KaProdi SBM ikut turut tangan..

    Kalau kejadiannya begini, yang arogan sebenarnya siapa ya?

  • jabon

    by jabon

    saya sebagai mahasiswa sagat berduka …namun maju terus mahasiswa

  • green

    setahu saya mahasiswa nggak boleh masukin mobil ke kampus, kecuali kondisi urgent (angkut barang berat,dsb).

  • Join Bisnis Affiliasi

    mahasiswa yang seperti itu gak pernah kenal dengan didikan orang tua, memang kadang kelakuan mereka menyebalkan (gak semuanya).

    Saya juga sebagai mahasiswa berlaku sewajarnya- gak seperti mereka yang di ceritakan.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.832 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: