Ketinggalan booming IT lagi?

Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya (eh, dimana ya?), IT booming lagi di Amerika sana. Kali ini yang disoroti adalah para penyedia layanan blog, seperti Six Apart. (Berita di Business Week.)

Blog memang sungguhan, bukan sekedar fad. Ada hal esensi yang berubah, yaitu dia membuka jalur untuk menyuarakan pendapat – freedom of speech – yang sebelumnya sukar diperoleh. Para penyedia layanan blog tersebut melihat booming dari tulisan setelah September 11. Ternyata orang-orang ingin suaranya didengar. Itu di Amerika. Saya kira hal yang sama juga terjadi di Indonesia (dan tempat lain di dunia). Orang ingin didengar suaranya. Andapun demikian kan?

Nah, pas sekarang IT booming lagi, tapi sayangnya yang meraup keuntungan – lagi-lagi – orang asing! Mengapa tidak ada karya orang Indonesia yang bisa berhasil menunggangi ombak IT ini? Kalau diperhatikan lebih lanjut, yang namanya digg, myspace, six apart, semuanya dimulai dari satu atau dua orang saja! Apa hal ini tidak bisa dilakukan di Indonesia?

Aneh! Programmer Indonesia lebih tangguh. Lihat saja lomba programming di Google Code Jam atau Top Coders. Sering juaranya dari Indonesia. Mengapa kita tidak dapat membuat produk yang bisa mengalahkan layanan blog dari luar negeri itu? Apa sih yang aneh dari myspace, misalnya?

Di Indonesia memang ada banyak layanan blog. Mengapa mereka masih kalah sukses dari yang di luar negeri? Mengapa pengguna Internet Indonesia (termasuk saya) lebih menyukai layanan di luar negeri? Saya coba melihat ke dalam diri saya sendiri. Berikut ini beberapa pendapat saya.

  1. Pembuat layanan di Indonesia masih setengah-setengah. Mereka tidak memiliki obsesi seperti yang di luar negeri. Ada banyak servis gratisan di Indonesia yang sekedar jalan, kemudian ditinggal begitu saja. Saya tidak melihat mereka terobsesi dengan layanan yang mereka buat. (Eat your own dog food, friends!)
  2. Kinerja layanan sangat lambat. Kinerja yang saya maksud di sini adalah dari sisi computing, network, dan customer services. Soal computing, itu bakal terpecahkan sendiri dengan duit (he he he), tinggal beli server yang lebih bagus. Network? agak aneh. Mosok layanan di dalam negeri lebih lambat diakses dari layanan di luar negeri. Nah, kalau customer services ini memang kita harus belajar banyak. Ini yang paling bisa kita benahi tanpa duit terlalu banyak, tapi effort-nya mungkin paling besar.

Saya ingin ada start-up baru yang bisa menunggangi ombak IT babak baru ini. Ada ide? Yuk kita buat start-up (lagi).

About these ads

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua tulisan milik Budi Rahardjo

27 responses to “Ketinggalan booming IT lagi?

  • gtanuel

    Jangankan di Indonesia, di Singapore saja yang infrastruktur-nya relatif lebih bagus, bahasa pengantarnya Inggris, international hub, sampai sekarang masih tertatih-tatih untuk masuk lebih penuh dalam gulungan ombak web2.0 (atau IT startup bidang lainnya). Saya pengennya sih nggak klise atau stereotyping, tapi makin dipikir makin terasa bahwa root cause-nya kembali lagi di cara berpikir atau kultur yang berbeda. Entah gimana, orang Asia (Tenggara) beda dengan bagian bumi lainnya.

    Padahal saya juga setuju lho kalau dibilang kemampuan (teknis) kita itu nggak kalah, bahkan kreatifitas (design, ide) juga sebenarnya ok. Tapi mungkin faktor X, Y, Z dsb-nya yang benar-benar kurang. Kedua alasan yang pak Budi bilang itu termasuk.

    Terutama point 1. Kembali kalau melihat Singapore, dibandingkan dengan counterpart kita dari belahan barat, kalau saya boleh menggeneralisir, kita kurang antusias secara konsisten akan produk ktia sendiri. Atau sekalinya sudah antusias, orang lain (VC?) yang nggak antusias hehe. Ngomong soal venture capitalist, di sini juga nggak seakomodatif di sana rasanya. Selain itu, untuk keluar dari zona nyaman bermain secara lokal (targetnya lokal) dan bergulat secara global (yang masih saja ‘identik’ dengan bumi barat) juga meragukan. Wah pokoknya banyak deh.

    Saya rasa kita perlu contoh yang sukses berat namun demikian tetap ‘membumi’ (I can do it, so do you). Mulai dong Pak :)

  • tukangKoding

    kalah cepat kalah cepat . semua ide kayanya udah hampir diborong oleh bule . tinggal kita , berani tidak bermain di pasar lokal ? lihat saja fenomena friendster . bukti kalau pasar lokal juga bisa menjanjikan .

    yang penting harus gratis . wuuh..apalagi kalau berbau sms . pasti pada berbondong-bondong pada signup . bisa bikin komunitas ala friendster dengan sms sebagai fitur utamanya plus additional feature . fuuh..untung besar :)

    atau bikin komunitas learning bersama . mirip http://www.43things.com tapi lebih ke upaya belajar . ada semacam wiki untuk membuat modul pembelajaran, ask and question forum , bookmark , komunitas pembelajar etc etc .

    project macam ini menurut saya harus step by step . berawal dari iseng tapi harus konsisten . mirip dengan konsep Beta yang dianut sebagian besar situs2 web2.0 . terus tumbuh dan berkembang .. dan siapa tahu ada investor kecantol .

    saya benar2 ngiler sama pasar lokal kita nih . siapa cepat dia dapat :)

  • arri

    >Lihat saja lomba programming di Google Code Jam atau Top Coders. Sering juaranya dari Indonesia

    hmm.. bukan mksdnya mau merendahkan orang indonesia ya, tp cuma mau ralat sedikit aja. untuk Google Code Jam, yg pernah juara itu cm yg Google code jam india aja kyknya (yg mana peserta nya dari asia selatan + tenggara). Klo World Google Code Jam taun ini aja ga ada yg bs lolos sampe onsite round (100 besar) klo ngga salah :(.

    Terus untuk TopCoder, wah klo ini lebih susah lagi. Tp ada yg pernah juara 2 koq untuk development competition :). Klo untuk algorithm n design competition nya sih masih…….. :(

  • icall

    kalo booming warnet & wartel masuk ke IT booming ga pak ?

  • harry

    satu masalah lagi yang lebih mendasar — pasar Internet kita memang masih JAUH lebih kecil dibandingkan negara lain.

    Bisa kita lihat sendiri, berapa pengguna aktif Internet Indonesia versus Amerika ?

    Para entrepreneur Indonesia yang sukses saya lihat jadinya membidik pasar Internasional. Ada individu yang pemasukannya > US$ 4000/bulan. Ada perusahaan dengan revenue jutaan dolar per tahun.
    Kalau membidik pasar lokal, belum bisa sebesar ini.

    Situasi seperti ini tentu sangat, amat, kondusif sebagai inkubator bagi ide-ide bisnis baru.

    Selama akses Internet masih mahal —> Internet tidak akan merakyat —> pasar Internet Indonesia tetap tidak akan bisa “meriah” seperti di negara lainnya.

  • amudi

    wah wah, IT ngga cuma sekadar kemampuan teknis (programming, software engineering, etc).
    Masih banyak aspek lain yang juga terkait, seperti keuangan, regulasi pemerintah, kreativitas, kultur dan budaya, dan masih banyak lagi.
    Tanpa itu, ngga akan kemana-mana, ngga bisa berkembang.
    Kali gitu, gimana dong ya?

  • Antony Pranata

    Wah… topik susah ini. Sebetulnya biarpun untuk orang bule, banyak yang punya ide2 bagus kemudian bikin start-up tapi gagal juga.

    Pak Enda juga baru aja posting blog menarik, bahwa hanya 1 dari 10 start-up yang akhirnya bisa bener2 make money. Seperti gtanuel bilang, ada banyak faktor X di sana. Apa saja faktor X ini? Seandainya saya tahu, saya mungkin sudah bikin start-up company dan sukses besar… :)

    Satu lagi, banyak aset dari Indonesia yang akhirnya “lari” dari negeri sendiri karena berbagai alasan (politik, ekonomi, etc.) Saya punya teman2 yang kemampuannya di atas “rata2″ dan sayangnya >90% memilih menetap di luar negeri. Sayang kan, kita punya aset, tetapi negara2 maju yang menggunakannya malahan.

  • kecd

    wah topik ini dobrak banget.
    tapi kalo aku cuma ngeliat bahwa jiwa orang indonesia (termasuk saya) dan pemerintahnya tidak ada seperti tidak punya ruh “bisnis”.

  • Budi Rahardjo

    Seringkali kita mencari alasan atau kambing hitam untuk mau maju. Misalnya, ada alasan bahwa kondisi politik di Indonesia tidak mendukung. Lah … negara lain sama juga (justru lebih parah), seperti India (perdana menteri saja dibunuh), Thailand (kudeta melulu), China (ketidak jelasan masalah ownership, maklum aliran komunias), dan seterusnya. Tapi toh mereka bisa maju. Jadi masalah politik bukan alasan!

    Alasan lain, seperti infrastruktur, ekonomi, dan seterusnya juga dialami oleh negara-negara lain. Stop complaining. Let’s do something about it.

  • agusdaeng

    inisiatip,konsisten dan Inovasi. impossible is nothing!

  • gtanuel

    Thanks Pak Budi, comment Anda terakhir sangat kena. Kalau dilihat dari banyak komentar di sini (termasuk saya), ternyata “root cause”-nya adalah banyak complain dan no action. Will remember that :)

  • toni

    Pak Budi, bagaimana kalo dimulai dari melisting karya-karya anak negeri. Mana sih site-site yang bisa kunjungi, yang menawarkan layanan tertentu semacam social networking, sms gratis, dll yang bisa dianggap sebagai startup (web 2.0?). Planet Startup mungkin? ;) Dari sana mungkin bisa dilihat bersama where are we dan where should we go?

    Ah well, just two point oh cent ^^

  • mrofiq

    Untuk rekan2 yg sudah semangat 45 mo bikin startup gara2 baca postingan ini, jangan sampe terjebak mitos sukses startup. Baca juga ini http://www.lifehack.org/articles/lifehack/top-eleven-geek-business-myths.html

  • kunderemp

    Konon, katanya setelah Indonesia merdeka, kualitas bangunan di Indonesia jadi merosot drastis. Padahal kuli dan bahan bangunannya dari Indonesia.

  • giffari

    generasi mudanya banyak yg gak ngenal kompi nih.
    teman2ku di sekolah, angkatanku, 95 persen tidak mengenal blog !!

    *TEREAK SEKENCENG2 NYA*

    saya kelas 2 smp lho.
    padahal sekolah saya itu di jakarta!
    jakarta yg dikenal sebagai kota metropolitan!
    kalah ama anak2 bandung yg udah banyak bikin blog.

    btw kunjungi blog saya yah.

    *tumben gw bahasanya sopan*

    wassalam.

  • M. Fakhrurrazi

    Eh, saya agak beda pendapat dengan kebanyakan pemberi komentar. Kenapa nggak kita sendiri yah yang mulai. Saya lebih senang mendengar berita di Indoneisa seperti misalnya ada pakar it telah membuat terobosan baru di e-commerce, sementara pakar lainnya sedang menggiatkan e-learning. Berita berikutnya adalah layanan internet murah telah ditemukan oleh pakar x dan sedang dikembangkan dinegara kita. Dan masih lagi banyak yang perlu diberitakan.

    Sementara kalo kita perhatikan resource it yang melimpah telah tersedia didepan mata. Mau e-commerce yang tinggal install, mau e-learning tinggal comot, mau paham e-marketing tinggal baca. Mau CRM tinggal pake, mau ERP tinggal bikin kembangannya yang udah ada. Mau bikin portal tinggal install CMS. Udah enak deh sekarang ini.

    Sayangnya user-user kita, perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi-organisasi nggak pada ‘ngeh’ tetapi saya tidak menyalahkan user2 ini. Yang menjadi masalah kenapa tidak ada arahan, berita, solusi, maupun kritikan dan lain-lain yang berasal dari pakar-pakar, yang mungkin termasuk diri kita sendiri, kalo emang merasa terpanggil.

    Yah, gitu deh pendapatnya beda-beda dikit nggak apa-apakan ?

  • Niwatori

    IT sebenernya kan luas, tapi memang (IMHO) bidang IT yg cocok dan masuk akal saat ini untuk digarap ya bidang web dan internet. Relatif tidak perlu modal besar, cakupannya bisa worldwide, momentnya juga tepat (gelombang web 2.0 dan blog). Dan setuju dgn pendapat mas Harry Sufehmi di atas, pasarnya mau tidak mau harus luar dulu selama pasar internet Indonesia belum begitu meriah. Soal kemampuan saya rasa Indonesia memang ngga kalah kok. Mixi saja (raja social networking ala MySpace di Jepang) di dapurnya ada mas Batara dari Indo. Tinggal tunggu waktu saja mungkin… saat ini saya yakin banyak web developer Indo yang memiliki berbagai mimpi dan ide startup. Yuk kita buat start-up (lagi)? … Hayu ^_^

  • Charly Silaban

    @Tony
    Bikin semacam http://www.ning.com maksudnya ?

    @ M. Fakhrurrazi
    Terlalu banyak pilihan bikin bingung sendiri bak tenggelam di belantara internet..

    @rahard
    Pengalaman saya, (skrg lagi berusaha mewujudkan sebuah star-up), adalah modal. Utamanya infrastructure yg mahal, bayangkan untuk mendapatkan server dedicated aja kita harus mengeluarkan minimal 2,5 juta / bulan.. jangankan dedicated, sewa hosting 1 GB aja udah syukur dpt 100 rb / bln.. masih kurang, bandwith pun ditakerin.. allamak..
    Nah kalau yg kita launch semacam youtube ala indonesia, atau layanan donlot video ring back tone di era 3G ini, brp Tera yg kita butuhkan ?

    Sisanya adalah bagaimana membuat aplikasi berskala enterprise.. yg harus kuat terhadap ratusan / ribuan hits secara bersamaan.. masalah sekuritas.. masalah interface yg menarik.. fuhhh… sebulan dua bulan belum cukup untuk membangunnya trio.. mana kemampuan pas-pasan.. Sementara kalau kita lempar untuk diproyekin.. berapa besar dana yg harus dikeluarkan.. Wong bikin website biasa aja pada minta 10-an juta.. apalagi bikin konsep aneh2 bin ajaib ? Ada tujuan buat cari duit.. bukan menghabiskan duit..

    Tapi, seperti Pak Rahardjo bilang, show must go on.. kesempatan selalu ada…
    Mudah2an impian ini bisa terwujud di awal tahun depan.. let see :)

  • munggur

    Saya, yang punya hobby coba-coba layanan web 2.0, pingin sekali bung Rahard untuk menjajal (atau berlangganan) situs web 2.0 anak bangsa…….. Kalau ada daftarnya (site list) pasti bagus….. sehingga makin banyak warga negara kita (juga warga negara lain) bisa tahu dan nyobain juga.

    Optimis, putra-putra bangsa akan bisa menghasilkan layanan atau company yang hebat. Kita tunggu saja tanggal mainnya.

  • preaxz

    Saya bisa dibilang “sukses” menyelenggarakan layanan pada website saya di jaringan intranet kantor. Beli domain untuk berniat “mengeluarkan” layanan yang sama di internet .. tapi ragu … will it work?

    banyak ide, banyak mau, sedikit dana, sedikit waktu, apa mampu?

    kebanyakan kita online di kantor, dus, kebanyakan kita orang kantoran. Susah dapet makan kalo cuma ngandelin net. cuma beberapa orang yang mampu.

  • preaxz

    Have you ever thought?

    kalo kita bikin layanan buat pengunjung. yang mengunjungi juga orang-orang yang itu-itu saja? pertumbuhan pengguna internet yang masih belum nyampe 45 derajat di grafik .. wueeeeh .. salah satu faktor yang bikin susah mengembangkan sebuah layanan.

  • preaxz

    setuju ma pendapat harry

    Biaya koneksi internet mahal
    jadi selain memikirkan biaya hosting atau malah dedicated server, kita juga perlu koneksi.

    berap duit yang kita perlukan untuk meload banyak file ke server? mainenance server? dsb ..

  • Quality Indonesian Blogger » Blog Archive » Menunggu Super Kaya Melirik UKM TI?

    [...] Menunggu Super Kaya Melirik UKM TI? Jika kita memang tertinggal lagi di sektor TI, di bagian mana? Ini pertanyaan yang terbetik di kepala saya setelah membaca tulisan Budi Rahardjo, Ketinggalan booming IT lagi? [...]

  • sapimoto

    Semua masalah yang terjadi pada “kita”, rata-rata karena kurangnya dana. Ada orang yang kaya raya, tapi sayang klo duitnya dimanfaatkan untuk hal-hal yang begini, walopun kadang hal seperti ini juga bisa menjadi duit lagi.
    Saya rasa juga masih banyak OI yang masih buta akan internet, ini rasanya juga sangat perlu untuk dicermati dan ditangani. Misalnya dengan adanya internet gratisan atau paling gak murah.
    Saat ini, PT. Telkom udah bikin program hotspot untuk alun-alun kota. Sebuah program yang sangat bagus, tapi apakah sudah banyak orang yang memiliki gadget yang bisa dimanfaatkan untuk mengakses fasilitas yang tersedia???

    Mudah-mudahan kedepan, ada pihak-pihak yang tidak hanya memberikan fasilitas berupa network, tapi juga sekalian gadgetnya. Tentu saja gak diberikan kepada user, tapi dipajang disuatu tempat dan setiap orang bisa menggunakannya secara gratis.

  • RIZKI AYU SEKARINI

    AH bagi gw kodingnya gitu gitu amat, gak ada menariknya, gak ada hiasannya, lo bikin koding pake apa sih, mending pake dreamweaver tuh yg gampang, php juga bagus, tapi usahain ya klo bikin tampilan web yg sesuai sm temanya dan jgn lupa kasih hiasan alias css nya yg oke knp sih, ah web indonesia nih kurang mutu.

  • Sanz Indosaya

    M. Fakhrurrazi
    Eh, saya agak beda pendapat dengan kebanyakan pemberi komentar. Kenapa nggak kita sendiri yah yang mulai. Saya lebih senang mendengar berita di Indoneisa seperti misalnya ada pakar it telah membuat terobosan baru di e-commerce, sementara pakar lainnya sedang menggiatkan e-learning. Berita berikutnya adalah layanan internet murah telah ditemukan oleh pakar x dan sedang dikembangkan dinegara kita. Dan masih lagi banyak yang perlu diberitakan.

    Sementara kalo kita perhatikan resource it yang melimpah telah tersedia didepan mata. Mau e-commerce yang tinggal install, mau e-learning tinggal comot, mau paham e-marketing tinggal baca. Mau CRM tinggal pake, mau ERP tinggal bikin kembangannya yang udah ada. Mau bikin portal tinggal install CMS. Udah enak deh sekarang ini.

    Sayangnya user-user kita, perusahaan, lembaga pendidikan, organisasi-organisasi nggak pada ‘ngeh’ tetapi saya tidak menyalahkan user2 ini. Yang menjadi masalah kenapa tidak ada arahan, berita, solusi, maupun kritikan dan lain-lain yang berasal dari pakar-pakar, yang mungkin termasuk diri kita sendiri, kalo emang merasa terpanggil.

    “Ini yang saya tunggu2″
    Kalau dilihat dari berbagai masalah dari negri sendiri, semisal.. internet kurang merakyat, problem kemampuan, dsb menurut saya itu semua cuman omong kosong.

    Membuat terobosan baru ?
    Bagaimana kalau membuat terobosan baru dengan apa yang sudah ada?
    he? itu saja belum sanggup?!
    Mau gimana programmer” lokal berkembang kalau pemikiran hanya sebatas “saya harus kerjakan apa” bukannya “apa yang harus saya kembangkan” ?

    Banyak sih yang pengen kembang hanya dengan kemampuan terbatas sekalipun, tapi nyatanya semuanya pupus ditengah jalan baik itu faktor modal, koneksi, kemampuan, dsb.

    OK saya beri satu contoh:
    soal akses lokal yang “lemot”.. bukannya tidak bisa diakali?
    semua bukan dari kemauan semata juga bro, tapi berdasarkan inisiatif sendiri, sekarang gini.. bagaimana kalau saya bisa buat website yang dapat diakses cepat walau hanya dengan koneksi modem paling lemot sekalipun? “buat website ringan” itu saja sudah mengatasi yang dikatakan akses lemot.. lalu? bagaimana tentang terobosan baru?

    Haha.. jangankan mengajarkan, memberitahu saja sudah menjadi hal mustahil walaupun itu hanya sebatas ide yang tida semua orang sanggup mengaplikasikannya.
    Jujur saja, saya ada beberapa konsep yang belum pernah dijalankan siapapun dimuka bumi ini *ups what?!
    web design, software, private center, dsb menjadi target utama saya dengan terobosan yang mungkin hanya dapat saya terjemahkan kepada investor yang berani menanamkan modalnya, dan bukan sekedar mendengar/mencuri ide semata (masih dalam misi pencarian ahaha).

    Soal pengembangan hanya menanti waktu yang tepat, soal perkenalan kepublik itu cuman sekedar promosi semata, dan untuk pemahaman kegunaan dari terobosan baru yang akan dijalankan itu sebenarnya tergantung kita bagaimana membuatnya menjadi sebuah bingkisan menarik yang benar-benar dibutuhkan pasar, atau bahkan walau hanya beberapa kalangan tertentu dengan harga yang terbilang “wajar”.

    so.. sekedar info saja,
    dari sekian banyaknya informasi yang saya akses, semua mengeluh tentang modal utama seperti saya sekarang ini.. akan tetapi tidak semua yang sungguh-sungguh menyiapkan diri untuk modal utama tersebut digunakan demi terobosan baru, yang ada? itu dan itu saja…

    Dunia haus akan life style, perkembangan teknologi, informasi, dan sosialisasi daripada kebutuhan sehari-hari “itu yang banyak dari kita belum sadari” dan oleh karna itu, andai anda menjadi pribadi saya anda pasti tahu apa yang anda lakukan, lalu anda mencoba jangan seperti saya barulah anda mendapatkan sesuatu dari apa yang akan anda lakukan baik itu membuktikan diri maupun menunjukan kepada dunia Indonesia bukan hanya sekedar konsumtif semata, tapi sebagai trensletter, pengembang, dan penemu yang lebih kompetitif daripada negara” lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.591 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: