Menilai Dengan Konteks

Doping waktu kerjasatu-garisSebagai seorang dosen tentunya saya sering harus menilai. Selain itu saya sering diminta untuk menjadi juri (atau penilai) dalam berbagai acara; menilai proposal penelitian, karya ilmiah, tulisan, artikel, situs web, bisnis, sidang tugas akhir atau thesis mahasiswa, wawancara untuk rekrutmen pegawai, dan seterusnya. Pengalaman saya menunjukkan bahwa pekerjaan menilai merupakan sesuatu yang sangat sulit.

Yang pertama adalah masalah waktu dan tenaga. Beberapa waktu yang lalu seorang kawan mengundurkan diri sebagai juri dari sebuah lomba penulisan. Masalahnya adalah waktu yang diberikan sangat terbatas padahal tulisan yang harus dinilai ada banyak (150 buah!). Saya sendiri terpaksa harus kerja dua hari penuh untuk itu. Jangan dianggap remeh kerja sebagai juri. Jadi kalau ada yang menawarkan kepada Anda untuk menjadi juri dalam sebuah lomba, pikir-pikir dulu.

Yang kedua adalah masalah obyektivitas. Bagaimana menilai secara obyektif? Kadang kala kalau mengetahui orang yang dinilai maka akan ada perasaan lain (menambah nilai atau mengurangi nilai). Penilaian menjadi tidak obyektif. Itulah sebabnya dalam menilai artikel / proposal selalu nama dari penulis dihilangkan. Obyektivitas juga terkait dengan standar penilaian. Ini sangat sukar karena situasi dari yang dinilai sangat bervariasi. Menilai dalam lomba karya ilmiah siswa sekolah menengah tentu saja berbeda dengan menilai proposal penelitian di sebuah perguruan tinggi. Kalau standar yang digunakan sama, tentu saja lomba karya ilmiah sekolah menengah akan buruk semua nilainya.

Yang ketiga adalah konteks dari penilaian. Mari kita ambil contoh. Penilaian lomba karya ilmiah siswa sekolah menengah akan berbeda dengan penilaian sidang thesis seorang mahasiswa pasca sarjana. Nilai buruk di lomba karya ilmiah paling-paling menyebabkan yang bersangkutan tidak menjadi juara, tapi nilai buruk dalam sidang thesis dapat mengakibatkan mahasiswa yang bersangkutan mengulang sidang dan bahkan ditendang keluar dari perguruan tinggi, alias drop out.

Contoh konteks yang lain adalah penilaian artikel untuk surat kabar dengan artikel dalam majalah ilmiah agak berbeda. Artikel di surat kabar memiliki batasan ruang (jumlah maksimum karakter yang bisa dituliskan) yang cukup sempit, sementara artikel di majalah atau journal bisa memiliki lebih banyak kebebasan. Artikel berita di surat kabar juga tidak dapat menyuarakan opini sang penulis (kecuali memang kolom dia), sedangkan artikel di majalah atau di blog bisa lebih kental aspek opininya.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa menilai sesuatu harus memperhatikan konteks. Untuk itu saya terpaksa belajar menilai dengan memperhatikan konteks dan menilai dengan cepat. Phew … Oh ya, beberapa hari ini saya tidak menulis di blog ini, ya, karena saya harus menilai berbagai hal. (Capek baca, euy.)

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

11 Tanggapan to “Menilai Dengan Konteks”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.