Menulis Ngawur Atau Tidak Menulis Saja?

Satu hal yang paling sulit dalam menulis secara teratur adalah mencari ide yang ingin ditulis. Kebayang nggak susahnya penulis editorial surat kabar yang harus menuliskan sesuatu setiap harinya. Kalau hanya sekedar menuliskan sesuatu tentu mudah. Masalahnya, yang ditulis itu harus menarik. Ini yang bikin repot.

Saya mengalami kesulitan ini meskipun hanya memiliki satu komitmen tulisan dalam satu bulan. Ya, satu artikel satu bulan saja sudah bikin kepala ini puyeng. Itulah sebabnya saya sering menolak untuk diminta menjadi kontributor tetap dari berbagai majalah / surat kabar. Nggak sanggup.

Di sisi lain, saya membiasakan menulis blog untuk memaksa saya belajar dalam mencari ide. (Mudah-mudahan ada kesempatan untuk membahas buku “How To Get Ideas” yang menarik.) Repotnya, ide itu sering bersembunyi. Saya tahu dia ada di sana, tapi tidak kunjung menampakkan diri. Saya tanyakan kepada mahasiswa saya, mereka juga kesulitan dalam menulis blog yang menjadi bagian dari tugas kuliah mereka.

Sekarang saya ubah pertanyaannya; lebih baik menulis secara teratur tapi ngawur (asal “mangap“) atau menulis ketika ada ide yang layak ditulis saja? Bagaimana menurut Anda?

Speak, only when it enhances silence. 

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

15 Tanggapan to “Menulis Ngawur Atau Tidak Menulis Saja?”

  • orgindo

    Biasa sih banyak baca banyak ide.
    Gw sendiri juga baru komitment, kalau bisa seminggu 5 artikel. Walau cuma artikel pendek. Terkadang dapat ide juga pada saat tak terduga, jadi biasanya langsung catat di secarik kertas biar entar bisa dibuat outlinenya.
    Ga semua ide itu terwujud jadi tulisan sih. ;)

  • IMW

    Komitmen 1 artikel 1 bulan, itu kolom INFOLINUX ya kekekekekk, Itu mah bukan sulit ideanya, tapi ukurannya. hehehehe.

  • Priyadi

    sama pak, dulu waktu masih ada komitmen 1 artikel/bulan ampun deh beratnya bukan main. makanya sekarang lebih suka nulis ngawur di blog :) . kalo ada media yang mau muat kengawuran saya, ya dipersilakan :)

  • IMW

    Menjaga komitmen itu memang sulit banget :-) . Apalagi kalau di majalah/koran ukuran dan pertimbangan siapa kira-kira pembaca majalah tersebut serta misi yang kita bawa untuk pembaca tersebut, akan menjadikan kompleksitas pekerjaan menulis menjadi makin tinggi.

    Menulis di Infolinux jelas berbeda dengan menulis di PC Magazine. Apalagi menulis di Pos Kota kekekek

  • Ben

    ngawur atau gak kadang-kadang relatif…
    apa yg kita sebut ngawur, bisa saja bagi pembaca dianggap tidak ngawur
    yang penting nulis aja apa yang menurut kita tidak ngawur
    terserah apa kata orang
    blog punya kita ini…

  • Irwin

    Jadi enakan nulis di Infolinux atau pos kota nih? kekekekeke

  • ranti

    Saya coba biasakan menulis setengah halaman per hari, kadang-kadang cuma satu kalimat, dan kalau nulis kebanyakan ngawur dan disimpan saja untuk dibaca lagi kemudian. Kadang-kadang kemudian dapat ide dari tulisan ngawur tersebut dan dikembangkan. :-)

  • IMW

    Menulis 1/2 halaman per hari. Hm.. sulit soalnya biasanya selalu lebih kekeke ke ke.. Paling sulit itu ketika menulis di media konvensional adalah mengerem ego penulis (apalagi utk topik seperti komputer). Kadang lupa direm, pembaca jadi banyak yg bengong.. Apaan nih.

    #6: Pos Kota wajib bagi penghuni kota Jakarta, terutama yg bisnis mobil bekas.

  • Setiawan

    Nulis ngawur juga ngga segampang keliatannya kok.. *bingung mau nulis ngawur apa lagi di blog-nya* ;) )

  • indra

    Kalau saya mending nulis ngawur deh pak..:) Pokoke nulis.

  • wadehel

    Bagi saya, enaknya sih hanya nulis bila ada hasrat menulis, kalau ga ada keinginan, dipaksa-paksa ya jadinya tulisan kepaksa :P Dah ngawur, kepaksa pula :) )

    Soal ngawur, seringkali, meski saya sudah berusaha nulis gak ngawur, sambil berkerut jidat dan melet-melet, teteeep aja banyak yang menuduh saya ngawur :(

    Jadi anggap aja bahwa ngawur gak ngawur is in the eye of the beholder.

  • adinoto

    #3, bener Pri, gua pilih nulis ngawur wakakkaa… sampe hari ini gua masih menolak disuruh nulis di media. So far ada 5-7x yang nawarin bisa gila aja punya komitmen nulis, apalagi kalo disuruh nulis gratisan. Bisa utang nyawa tiap hari kudu mikir nulis wakakaka mending ngawur, lagi pengen nulis hajar bleh! :D kecuali kalo nulis bisa jadi mata pencaharian kali ya Pri? :D

    IMW sama BR kalo nulis di InfoLinux kan dah dicompensate tetap kan? Wah makan-makan wakakaka *nah tu kan ngawur lagi naon deui :D

    *ngacirrr

  • ngawur

    Ngawur? Ini dia ngawur

  • Ahmadiyah dan Pemerintah « Inilah Jalanku

    [...] tulisan ngawur. Lebih baik nulis ngawur daripada gak nulis, pikirku. Setidaknya ketika kita nulis ngawur di weblog, bisa diluruskan oleh banyak orang. Sedangkan nulis itu sendiri bagian dari lanjutan [...]

  • Ahmadiyah dan Pemerintah « HMI Komisariat Fakultas Hukum UNS

    [...] tulisan ngawur. Lebih baik nulis ngawur daripada gak nulis, pikirku. Setidaknya ketika kita nulis ngawur di weblog, bisa diluruskan oleh banyak orang. Sedangkan nulis itu sendiri bagian dari lanjutan [...]

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.