Seringkali kita (atau saya) melihat karya seseorang dan dalam hati mengatakan saya bisa membuat lebih baik, atau saya ingin membuat karya seperti itu. Karya yang saya maksud bisa berupa buku, novel, paper atau makalah, lagu, gambar, lukisan, foto, puisi, penelitian, pokoknya banyak lah.
Kadang kita juga melihat karya yang menurut kita sangat buruk (tapi mengapa kok bisa diterbitkan?). Kalau hanya seperti itu, saya juga bisa lah. Pada prinsipnya kita iri! ha ha ha,
Mengapa mereka bisa menghasilkan karya sementara kita tidak? Ada banyak jawabannya. Salah satu jawaban yang saya suka adalah: tekun dan persistent.
Kadang-kadang orang juga menanyakan kepada saya bagaimana menjadi programmer yang handal, atau ahli security, atau menulis, atau … masih banyak lagi. Yang menjadi masalah adalah mereka menginginkan solusi instan. Tidak bisa. Semua membutuhkan waktu.
Itulah sebabnya saya terus konstan menulis, untuk mengasah diri dalam menuliskan data dan fakta. Atau saya memaksakan diri untuk membaca, dan bereksperimen (teknis, bisnis, dan seterusnya).
Kita harus tekun dan terus menerus mencoba dan mencoba.
Tadi malam, contohnya, saya mencoba main musik dengan beberapa orang. Eksperimen. Banyak yang bisa dieksperimenkan, misalnya mem-broadcastkan jam sesion kemarin (kemarin kelupaan komputer dinyalakan), eksperimen membuat lagu, eksperimen di musik, eksperimen bisnis(?) musik digital, dan seterusnya.
Singkatnya: kita harus tekun dan persistent! Sanggupkah Anda?


November 7th, 2006 at 11:07 am
persisten dan tekun emang susah sih pak, perlu latihan kayaknya apalagi orang sekarang maunya serba instan! moga-moga me bisa persisten
November 7th, 2006 at 11:53 am
sedang berusaha…
November 7th, 2006 at 12:53 pm
Benar sekali pak. Itu hal yang susah. Tapi kita harus tetap berjuang
November 7th, 2006 at 1:32 pm
Benar pak, sama seperti yang saya tuliskan di sini http://ardi.tif.uad.ac.id/komentar.php?id=46&cek=0
November 7th, 2006 at 2:24 pm
mesti sanggup!
November 7th, 2006 at 3:23 pm
setuju banget pak, kita memang harus persistent dan tekun. Plus satu lagi pak, tekun berdoa semoga keberuntungan selalu menyertai kita.
November 7th, 2006 at 3:29 pm
Tekun, persisten dan dikejar tenggat waktu orderan. Hi hi hi hi
November 7th, 2006 at 3:36 pm
pak Budi lagi seneng eksperimen bikin musik pakai format midi pak ? kalau kolaburasi bikin musik buat games yang kita buat, kira2 tertarik nggak ya ?., kantor kami disini adalah pengembang games lokal, sering butuh file2 MIDI, kalau punya partner yang bisa bikin lagu2 buat pengisi games kita , kayanya boleh nih…:)
November 7th, 2006 at 4:34 pm
Ada resep supaya bisa tekun dan persisten selain tenggat waktu orderan?
Bagaimana supaya bisa disiplin yak?
Salam.
November 7th, 2006 at 5:53 pm
Dulu saya sering ngoprek MIDI
(th 1988-an he he eh). Teman oprekan saya dulu pak Buyung (Helmi Saleh) salah satu dedengkot MIDI di Indonesia. Sayang lama ndak kontak lagi, siapa tahu ada yang kenal hehehe
Sekarang ? Boro-boro ngoprek baru nyalain keyboard si kecil udah nggrecokin.
November 8th, 2006 at 1:21 am
Yup …
IF error
THEN coba lagi
ELSE ngaso!
November 8th, 2006 at 1:23 am
BISA! eh SANGGUP! eh pertanyaannya apa ya tadi? Kemarin juga ada artikel di majalah Fortune mengenai sebuah penelitian yang mengatakan bahwa kesuksesan dan kehebatan berasal dari latihan minimal 10 tahun. Saya posting di blog saya di http://dinosjournal.wordpress.com/2006/10/26/rahasia-kesuksesan/
November 8th, 2006 at 1:24 am
iya juga sih …
maunya sih tekun, tapi keinginan tekun itu sendiri hampir tidak persisten, ketika ingat umur an banyaknya kewajiban. Idealisme terbuang hanya demi pelunasan hutang! huehehehe …
dikejar jatuh tempo, ninggalin kompi dan berburu rupiah … zigh
November 8th, 2006 at 4:14 am
untuk Kukuh TW (#8), saya nggak (belum?) main MIDI lagi. Sekarang main musiknya live pakai analog semua. (Gitar, drums, dll.) Alasannya sederhana, karena nggak punya peralatan yang MIDI-based. Dahulu sih mainan MIDI habis-habisan (mulai pakai Roland MPU card itu, terus beli soundblaster yang ada MIDInya, terus pakai keyboard yang ada MIDInya, dan seterusnya). Beberapa lagu saya (ada di rahard.multiply.com) memang disequence pakai MIDI. Tapi … saya sudah tidak punya MIDI filenya. hik hik hik. (Dulu pakai Cakewalk dan Performer.)
Games sekarang masih pakai MIDI? Kok saya lihat di games PS2 sudah pakai lagu yang full (pakai vokal yang berarti bukan MIDI kan). Formatnya apa ya?
Iya deh, nanti kalau ada akses ke MIDI dan mainan MIDI, boleh nyumbang lagunya untuk gamesnya deh.
November 8th, 2006 at 9:18 am
Setuju Pak Budi, tekun dan persisten. Dua kata ini sering diabaikan oleh orang yang ingin sukses serba instan. Padahal itu nggak bisa. Itu menyalahi hukum alam, sunatullah. Semuanya step by step, makan waktu. Pak, udah nonton film Door to Door? Very inspiring. Kisahnya tentang Bill Porter (www.billporter.com), seorang salesman cacat yang sukses berkat dorongan kata “persistent” dari ibunya.
November 8th, 2006 at 1:57 pm
bagaimana kalau sudah tekun dan persisten masih saja gagal, pak ? rasanya banyak yg mengalami ini
sementara ada yang tidak “terlalu” tekun dan persisten tapi berhasil
ini juga rasanya tidak sedikit. apa ada faktor lainnya?
November 10th, 2006 at 10:52 am
Tekun dan persisten, setuju … mmm, kapan yah bisa begitu .. hiks. Usaha .. usaha .. usaha
November 12th, 2006 at 9:34 pm
Bedanya “tekun” dan “persisten” itu apa sih? :-/ Saya kirain sama saja artinya…
ranti.