Semester ini saya mengajar dua mata kuliah di ITB. Mau tahu suasana kelas saya? Berikut ini adalah foto salah satu kelas saya, yaitu kelas “Security” (S2), ketika sedang melakukan eksperimen dengan beberapa tools di laboratorium komputer miliki lab Kendali dan Komputer Teknik Elektro. Foto diambil pada hari Kamis, tanggal 9 November 2006. Saya terpaksa naik ke lemari untuk mengambil foto ini (dengan menggunakan handphone saya). Sebetulnya ada foto yang lebih baik dari mahasiswa saya, akan tetapi saya belum mendapatkan fotonya. Nanti kalau ada akan saya masukkan ke web juga.
Umumnya kelas ini tidak dilakukan di laboratorium komputer akan tetapi di kelas biasa. Sayangnya kelas yang dialokasikan untuk kelas saya ini sangat kecil ukurannya sehingga mahasiswa harus berdempet-dempetan (dan harus meminjam kursi dari kelas lain). Kira-kira ukuran kelasnya adalah setengah dari gambar di atas. Sayang sekali saya tidak punya bukti foto untuk hal ini, tapi percayalah.
Bayangkan, ini fasilitas yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Bagaimana dengan fasilitas di perguruan tinggi yang tidak terkenal di pelosok Indonesia? Kasihan Indonesia ini ya? Tapi ini semua bukan untuk mengecilkan hati. Justru ini harus membuat kita lebih semangat. Fasilitas boleh terbatas, tapi hasil harus maksimal. Kita kalahkan perguruan tinggi lain di luar negeri dengan hasil karya kita dan keluaran SDM yang hebat-hebat. Ayo. Are you with me?

Quote:Bayangkan, ini fasilitas yang dimiliki oleh Institut Teknologi Bandung, sebuah perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Bagaimana dengan fasilitas di perguruan tinggi yang tidak terkenal di pelosok Indonesia?
Uh pak, kayaknya harus di re-phrase deh pertanyaannya menjadi, “Bagaimana dengan fasilitas perguruan tinggi NEGERI yang tidak terkenal di pelosok Indonesia?” Soalnya banyak kok perguruan tinggi negeri di pelosok Indonesia dan engga terkenal yang fasilitas infrastrukturnya lebih bagus dibandingkan ITB
Just a thought
Awalnya saya sempat kepikiran, bagaimana reaksi para mahasiswa sewaktu melihat Pak Dosennya naik keatas lemari
Kalau di ITB fasilitasnya seperti yang digambarkan sepertinya memang agak miris, karena fasilitas dari PTN lain, apalagi yang PTS, banyak yang lebih baik.
BTW, saya setuju dengan alinea terakhir,
“Tapi ini semua bukan untuk mengecilkan hati. Justru ini harus membuat kita lebih semangat. Fasilitas boleh terbatas, tapi hasil harus maksimal. Kita kalahkan perguruan tinggi lain di luar negeri dengan hasil karya kita dan keluaran SDM yang hebat-hebat”
Fasilitas boleh minim tapi pendapatan maksimum, hihihi….
ehm, maaf ya Pak.
yang pasti saya akan bingung ketika melihat dosen saya naik-naik ke atas lemari.
bukannya biasanya ptn kalah dari segi fasilitas bila dibandingkan dgn pts? Tapi yg jadi aneh adalah, itb kan salah satu bhmn, setidaknya bhmn ~ biaya gede. Kayaknya penggunaan dananya kurang efisien.
Untuk di ipb, antara satu departemen dgn dept yg lain fasilitasnya jg gak sama. Contoh kasus utk labkom, antara di mipa dgn di fakultas lain amat sangat beda.
*sigh*
Main-main ke Fasilkom UI dong, Pak.. sekali-kali… Jadi dosen tamu atau apalah..
kalo punya mahasiswa yang supergendut dan superpanjang kakinya…bakalan tersiksa yang pak kalo ruangannya seperti itu…
btw, tetap semangat !!!!
Iya, sama ama Vavai. Lebih ingin tahu gimana reaksi mahasiswa liat pak Budi manjat lemari hihihi…
Beda jurusan beda suasana (dan ukuran kelas) kali yaa hehe
Mahasiswa yang diujung sana sedang memoto pak Budi yang lagi asyik di atas lemari.. (mmm… tolong dipost donk photonya.. )
Nggak kebayang aja pak Budi naik ke atas lemari… he he
Walah … kok saya nggak ada di gambar?
Pak Budi, silakan berkoordinasi dengan pengelola fasilitas STEI ITB supaya bisa sharing ruang di LabTek V … pasti bisa dapat yang sesuai kapasitas kelas yang Bapak butuhkan, Pak. Semoga …
Sukrisno
#4 salah satu kelemahan pengelolaan PTN adalah dalam hal penggunaan sumber daya secara bersama (resource sharing), salah satu contoh adalah ruangan, dosen, Lab, mobil dinas. dana pengembangan dsb. Faktor “jagoan dan raja kecil” masih terasa.
Saran seperti #10 menunjukkan bahwa memang ada permasalahan tersebut, sehingga tidak dilakukan sebelumnya.
Oh ya saya tidak suka disain Lab dengan monitor yang tinggi seperti ini, sebaiknya monitor di”tanam” miring di meja sehingga tidak menganggu pemandangan ke pengajar.
elektro yg mahasiswa dan dananya banyak aja gitu “nasibnya”, apalagi jurusan lain yang kecil-kecil, pasti lebih imut-imut dan amit-amit deh fasilitasnya -kaya di jurusan saya dulu yg hrs bawa pc sendiri biar tetep bisa kerja di lab, kalau nggak ya harus ngantri- …
#12, di kampus tempat saya bekerja, tidak ada istilah jurusan kecil-besar, atau jurusan kaya-miskin. Semua sumber daya bisa saling silang penggunannya. Lab komputer bisa siang hari dipakai jurusan A, sore hari dipakai jurusan B. Bahkan ruang dosen bisa “sharing” antar jurusan/fakultas yang berbeda. Jadi memungkinkan dosen Teknik satu ruangan kantor dengan dosen sastra atau psikologi
Begitu juga dengan pemanfaatan dosennya. Memanfaatkan dosen/asistem dari jurusan lain tidak rumit, dan tidak birokratif. Ini salah satu kunci efisiensi pengoperasian kampus.
@IMW, mungkin yang dimaksud oseanografi adalah jurusan yang kapasitas (dan seringkali peminat)nya kecil (relatif terhadap jurusan teknik -misalnya mesin atau industri- yang jumlah mahasiswanya banyak). Gitu aja, bukan soal strata
#12 … betul, kudu bawa komputer dewe…
ummm, tapi … on the contrary … rasanya udah mulai ada perbaikan tuh
, di jurusan (eh sekarang apa ya namanya? departemen? atau apa?) udah ada lab komputernya hehehe… tetep optimis suatu saat nanti akan lebih baik lagi …
untuk yang bertanya bagaimana pendapat mahasiswa saya ketika melihat dosennya naik lemari, kayaknya mahasiswa saya sudah nggak merasa aneh lagi. dasar dosen gelo’ ya. mungkin mahasiswa saya sudah terbiasa dengan kegilaan saya. he he he. jadi nggak aneh lagi?
#14, saya paham maksud jurusan kecil/besar – kaya/miskin tidak dalam kaitannya dengan strata. Tapi ukuran jurusan di PTN akan mempengaruhi terhadap penguasaan sumber daya. Jurusan kecil peminat relatif menguasai sumber daya yang terbatas dibanding jurusan dengan peminat besar.
Hal ini yang tak terjadi di kampus saya, karena menerapkan prinsip penggunaan sumber daya bersama. Jurusan kecil (jumlah peminat) tetap dapat memanfaatkan resource yang ada di jurusan lainnya (yg besar). Jadi tidak ada masalah jurusan kecil peminatnya, ketika harus praktek dengan Lab-lab lainnya, atau ketika membutuhkan dosen/asisten dari jurusan lain.
Kuncinya adalah jurusan “legowo” bila sumber daya yang dikuasainya dimanfaatkan oleh jurusan lain.
wuah ga nyangka pak.. sampe naik lemari buat motret…. itu dmei nulis blog yah pak????
tapi however labkom el jauh lebih dan amat sangat mendingan dibanding labkom pasca jurusan gue. hehehehe
oiya klupaan .. bener tuh pak fasilitas boleh terbatas.. tapi jangan sampai yang dihasilkan justru ikut2an minimal. kudu maksimal.
# 17:
seingat saya, di ITB tahun 2000-an, kalau sebuah jurusan ingin pengajar dari jurusan lain, jurusan yg memerlukan tenaga pengajar dari jurusan lain tersebut harus membayar ke jurusan yang dosennya dimintai jasanya.
soal pemakaian fasilitas (seperti lab dari jurusan besar), ini juga katanya cukup rumit prosedurnya, apalagi kalau sudah menyangkut pengaturan waktu. katanya banyak dosen ITB yang males sama urusan “tetek bengek” seperti itu…
ketika sudah lepas tahap persiapan bersama (TPB) dan masuk ke kuliah jurusan, biasanya dosen suka malas menggunakan ruang kuliah umum yang ada dan lebih sering memakai ruang kuliah yang ada di jurusan yang jadwal pemakaiannya padat dan ketat karena hampir semua dosen di jurusan menggunakan “ruang serba guna” itu.
kalau jaman dulu, saat SPP masih “murah”, mungkin masih bisa dimaklumi. nah kalau sekarang, kasihan mahasiswanya: sudah bayar SPP mahal-mahal, fasilitas kadang sesuka dosen. belum kalau kena “musibah” dapet dosen “biasa di luar” (bukan dosen luar biasa) yang super sibuk dan hanya punya waktu mengajar di hari sabtu, tambah seru deh… buat yang jomblo, mungkin gak masalah kuliah di malam minggu… hahaha…
hihihi… koq jadi bernostalgila gini…
Bisa jadi contoh untuk minta voucher nih
biar kelihatan lebih lega tuh monitor CRT ganti ma LCD ajah
jd inget pernah praktikum malam minggu. duhh nelangsa banget malam ninggu malah praktikum.
#20, sudah saatnya ITB belajar dari kampus lain yang lebih efisien dalam mengelola sumber dayanya. Ndak perlu sungkan-sungkan, walau kampus tersebut adalah PTS. Di tempat saya, semua sumber daya (ruang, Lab dan dosen) bersifat serba guna dan dimiliki bersama. Bisa digunakan oleh jurusan/fakultas mana saja. Yang penting waktu tidak bentrok.
#20, kampusku rumahku… hehe
Tetap semangat Mas…!!!
Tapi kok mahasiswa justru banyak yang ngobrool sendiri, Sedikit yang liat ke kamera…?
pokok nya hack the planet toh, wong kuliah security, hahahahak.
importir komputer, sangat senang kalau semua komputer di indonesia diganti dengan keluaran terbaru P. IV ataw klu ada P. V ds..), kapan kita berfikir untuk tidak sebagai konsumen aja, tapi pemerhati IT dpt membuat komputer sendiri dinegeri ini yg semakin terpuruk ini…bravo..
mhs S2 nya masih muda2 yak…
wah pak budi itu kelas yang di ITB bagaiman yang bukan di ITB ?
Pak Budi…..
Kalo saya ngeliat langsung, saya ngak bakal heran, apalagi merasa aneh. Menurut saya, yang seperti ini lah dosen yang memberikan contoh cara mencerdaskan bangsa. Pantang menyerah dan melakukan apa saja (asal halal) untuk mencapai mimpi. Saya justru heran dengan dosen-dosen saya yang dulu sangat kalem…. jaim, dan… susah dimengerti. Anyway, mereka telah berjasa kok dalam undergrad saya (minimal memberi nilai lulus).
BTW, kok ngak ada tulisan/topik tentang e-governmentnya Pak?
Salut ama pak Budi.. dah mau naek lemari..demi sebuah foto untuk melengkapi postingan di blog.. Salut pak!!!
#24, ITB memang sedang belajar, dulu memang seperti itu.
Salah satunya adalah mendesentralisasi diri fasilitas komputasinya. Sampai dengan tahun 1990-an awal, masih ada mainframe dan lab PC secara terpusat, semua jurusan yang membutuhkan lab dan sarana komputasi (komputer) bisa memanfaatkannya.
Seiring dengan makin murahnya harga komputer, terutama PC, jurusan-jurusan di ITB membangun lab komputer sendiri. Akibatnya fungsi pusat komputer menjadi terpinggirkan, dan dianggap tidak diperlukan lagi.
Pada tahun 1995, mainframe diistirahatkan dan ‘dibuang’, karena sudah hanya satu dua pengguna saja; selain mahal maintenancenya. Sejak itu hanya ada hanya PC based. Tahun 2001, merupakan puncak dari desentralisasi, Pusat Komputer dihapuskan, dengan direorganisasi menjadi salah satu lab dari salah satu jurusan di ITB, yang merasa berkompeten terhadap masalah teknologi informasi. Pusat Komputer sudah tidak diperlukan lagi keberadaannya.
ITB menjadi satu perguruan tinggi yang merintis memiliki pusat komputer, dan kemudian meniadakannya. Masing-masing jurusan memilih untuk memiliki lab sendiri, akibatnya ada fasilitas jurusan miskin dan kaya
.
#10, Ini masalah manajemen saja, seperti yang telah dinyatakan. Kurang (baca: tidak ada) komunikasi dan informasi saja. Karena seharusnya semua unit di dalam suatu organisasi harus saling mendukung, apalagi unit-unit dalam satu naungan struktur organisasi di ITB.
waks??
naek lemari??
wah asli seru kale yg bisa ikut kelas ini
tetap semangat yaa pak walo harus naek2 almari.
hehehe……….
Fasilitas boleh terbatas, tapi hasil harus maksimal. Kita kalahkan perguruan tinggi lain di luar negeri ( Universitas Oxford,Universitas Cambridge,Universitas Harvard,Universitas Standford, Universitas California Vs ITB,UGM,ITS,BINANUSANTARA…. Pentium 1 Vs Pentium 100 ha…. ha…. kayak Steve gadd diadu dengan gilang ramadhan… wong gilangnya belajar drum di amrik… ) dengan hasil karya kita dan keluaran SDM yang hebat-hebat…. ngomong2 semua dosen wahid… di indonesia pasti belajarnya dari luar negeri… sorry nih om… just kidding
tapi kayaknya 100% nggak salah kan… wakakakakak…. orang amrik udah lama nginjek bulan eh… orang indonesia lagi sibuk melaut nyari ikan… ngebajak sawah pakai cangkul… doang
acces internet yang lemot plus mahal
daripada pusing lebih baik main gitar sambil nyanyiin lagu2 koes plus….
Buat apa susah…
buat apa susah…
lebih baik kita bergembira
buat apa susah…
buat apa susah…
lebih baik kita bergembira………..
salam kenal Om budi rahardjo
saya salah satu manusia yang ada dimuka bumi ini yang ngefans berat sama Om budi rahardjo…
itu penjara ap kampus?,Kampus ITBku tercinta kenapa tidak berubah?