Dicekam Hujan

Sebetulnya ini cerita hari Senin, tapi baru sekarang bisa saya tuliskan karena baru sempat dan catatannya (di secarik kertas) baru terlihat. :D So, here goes.

Mulai tengah malam pada hari Minggu, hujan turun dengan dahsyat mengguyur kota Bandung. Deras sekali, seperti kran yang tadinya mampet dan tiba-tiba dibuka. Seperti biasa, di tempat saya kalau hujan besar seringkali listrik menjadi mati. Dugaan saya ada trafo (atau apa?) yang korsleting (short circuit) kalau hujan besar. Mungkin ada bagian yang kemasukan air?

Listrik mati pas jam 12 malam, pergantian dari Minggu ke hari Senin. Saya tahu pasti karena sedang menonton TV yang menyiarkan pertandingan sepak bola antara Manchester United (MU) dan Chelsea (tim favorit saya). Listrik mati pas babak pertama selesai, dimana MU unggul 1-0. Wah! Saya putuskan untuk tidur saja daripada menunggu sampai listrik hidup kembali. Itupun belum tahu hidup kembali jam berapa. Lagipula pagi harinya saya harus ke Jakarta.

Saya terbangun pukul 1-an dinihari dan listrik sudah menyala meskipun masih hujan kecil. Saya hidupkan TV dan pertandingan sepak bola sudah selesai. Ya sudah, tidur lagi saja. Oh ya, hasil pertandingannya seri: 1-1. Untung saja Chelsea nggak kalah! Padahal harapan saya tadinya Chelsea mengalahkan MU di kandang MU. Wah seru kalau itu terjadi.

Jam 4 pagi saya terbangun dengan hujan yang deras lagi. Super deras. Wah, anak-anak INDOCISC mau ke Jakarta dengan mobil jam 4:30 pagi. Jadi sebentar lagi akan berdatangan. Pas sedang memikirkan itu, Rois sudah berada di depan pagar dengan motornya. Padahal hujan deras. Terburu-buru saya mencari kunci pagar depan dan payung. Tidak menemukan payung. Ya sudah. Akhirnya nekad menggunakan dua jaket untuk menembus hujan dan membukakan pagar.

Sepuluh menit setelah itu, listrik mati lagi. Walah! Mana hujan masih belum berhenti. Nampaknya anak-anak tidak mungkin berangkat tepat jam 4:30 pagi. Rencana pergi jam segitu untuk menghidari macet di pintu tol Pondok Gede yang biasanya macet pada pagi hari. Akhirnya memang berangkat terlambat dan hujan pun masih rintik-rintik.

Indra sudah datang dan Andika sudah dijemput. Saya ikut menumpang sampai ke stasiun kereta untuk jemput Yan. Tim sudah komplit dan mereka berangkat ke Jakarta dengan menggunakan mobil. Saya sendiri turun di sana dan naik taksi ke bandara Husein untuk naik pesawat Merpati ke Jakarta.

Untungnya hujan deras tersebut hanya sebentar dan mungkin hanya di tempat saya saja. Di bandara sudah tidak hujan. Saya sudah khawatir penerbangan dibatalkan atau ditunda. Padahal ada pertemuan di Jakarta pada pagi harinya. Untung pesawat terbang tepat waktu dan nyaman. Tadinya saya sudah khawatir banyak turbulensi dan seraaaam. Alhamdulillah lancar.

Hujan di tempat saya memang sering besar dan disertai dengan petir. Kemarin, petir menyambar salah satu PC di kantor bawah (yang isinya software house). Tewas satu motherboard. Aduh. Seram memang hujannya. Saya jadi ingat lagunya Michael Franks, tentang “tiger in the rain” yang ketakutan mendengar thunder.

Beberapa waktu yang lalu Bandung sangat kering karena belum turun hujan. Sekarang sudah hujan, maunya jangan besar-besar. Dasar manusia. Plin plan atau mau enaknya saja ya? Ha ha ha.

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

9 Tanggapan to “Dicekam Hujan”

  • sandynata

    kalo di Malang akhir akhir ini listrik mak byar pet.. mak byar pet.. ada/g ada ujan gitu terus , sehari bisa 2-3 kali bolak balik mati, mana g punya UPS lagi.. duh….. jadi males kerja

  • Danies

    Pak Memang benar sangat menakutkan apa lagi yang tersambar itu di sebelah saya :D wah kalo hujan kayak gitu kayaknya bisa bisa kena lagi dong pak ?? sangat mengerikan… hehehehe..

  • rayyan

    Berarti nggak jauh beda sama di Bogor ya daerah bapak … Di bogor kalau udah ujan petir, seram ….
    Tapi mungkin karena disana sudah terbiasa, jadi listrik jarang sekali mati kalau hujan petir.
    Tapi tetap saja 3 TV di rumah jadi korban, kongslet karena petir he he he he :)

  • alfian

    Pak, karena sering hujan jadi ga sempat ke warnet, tugas kontek jadinya baru di posting malam ini he..he..he, ga pa2 kan?!

  • jelajahdunia

    Maaf OOT:

    Anda Pernah mendengar http://www.mediamuslim.info jika belum.. coba klik sekarang.

    Silahkan menyebarluaskan artikel di http://www.mediamuslim.info semoga berkenan menambahkan link http://www.mediamuslim.info di setiap Blogs dan Situs kesayangan anda

    Terima Kasih Banyak

  • agusfis

    Rhythem of the rain
    Listen to the rhythm of the falling rain,
    Telling me just what a fool I’ve been.
    I wish that it would go and let me cry in vain,
    And let me be alone again.

    Now the only girl I’ve ever loved has gone away.
    Looking for a brand new start!
    But little does she know that when she left that day.
    Along with her she took my heart.

    Rain, please tell me, now does that seem fair
    For her to steal my heart away when she don’t care
    I can’t love another, when my heart’s somewhere far away.

    Rain, won’t you tell her that I love her so
    Please ask the sun to set her heart aglow

  • Budi Rahardjo

    Hari berikutnya (eh plus satu hari lagi?) saya melihat dengan mata kepala sendiri tiang listrik yang mengeluarkan api. Saya tidak tahu apakah dia tersambar petir atau gimana. Pas saya lagi di mobil, belok masuk ke jalan Bojong Koneng, tiba-tiba ada suara menggelegar dan saya melihat percikan api seperti kembang api, atau mungkin seperti api yang di besi yang ditempa. Api itu terlihat di tiang listrik yang jaraknya mukin 100 meter dari saya. Setelah itu keluar kepulan asap hitam.

    Saya berhentikan kendaraan dan tidak berani lewat. Takutnya ada kabel listrik yang putus dan menjuntai ke jalan. Memang saya lihat ada yang putus tapi tidak menjuntai ke jalan tapi ke pagar. Dengan hati-hati saya lewati dan sampai rumah dengan selamat. Tadinya saya pikir daerah saya akan mati listrik total. Ternyata hanya 20 meter dari situ pun listrik tetap menyala. Jadi ok lah.

    Oh ya, sebelum sampai ke situ saya harus berjuang melewati jalan yang tergenang air. Di beberapa tempat di Bandung, jalan merangkap sebagai sungai.

  • andriansah

    Emang bisa lebih cepat dengan pesawat terbang?
    Tolong cerita pak perjalanan dengan pesawat terbang, apa harus 2 jam sebelumnya di bandara? ato tinggal dateng lalu naik pesawat.

    Atau jangan2 udah ada lear jet :)

  • Budi Rahardjo

    Ya jelas lebih cepat dengan pesawat terbang dong. Bandung Jakarta hanya 25 menit dengan pesawat terbang.

    Dari Bandung langsung ke Bandara Husein. Kalau sudah punya tiket, ya paling-paling hadir 30 menit sebelum berangkat. (Harusnya sih 1 jam ya?) Kemudian sampai di Halim Perdana Kusumah langsung naik taksi ke tempat tujuan di Jakartanya.

    Jadi kalau dihitung-hitung, lebih cepat tinggal di Bandung dan ngantor di Jakarta daripada yang tinggal di Bekasi. ha ha ha. Hanya memang modalnya harus agak tebal. Satu kali jalan biayanya adalah Rp 250 ribu.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.