Pernah mengalami suatu kondisi dimana kita menjelaskan sesuatu tapi lawan bicara kita tetap tidak menangkap inti yang ingin kita sampaikan? Missing the point terus. Apalagi dengan komunikasi tanpa tatap muka dan asinkron begini. Kita menjelaskan X, setengah hari kemudian (atau bahkan keesokan harinya) ada tanggapan tapi melenceng ke Y. Kita luruskan kembali, baru besoknya lagi ada tanggapan yang sudah tidak melenceng ke Y, tapi malah ke Z. Itu lebih jauh lagi salahnya, oom / tante!!!
Grrr… kesal! Tapi mau bagaimana lagi ya? You are missing the point, man! To which he replied, what point? Habis sudah kesabaran ini. Sandal ini bisa melayang ke layar komputer. Makan tuh!


Desember 13th, 2006 at 2:48 pm
Sabar Om…
Desember 13th, 2006 at 3:45 pm
yang susah adalah kalau ternyata kita juga missing his point…
Desember 13th, 2006 at 4:02 pm
sabar pak,…
sebelum sandal melayang ke layar monitor,…
layarnya pindahin dulu ke meja saya
-jangan2 missing point lagi nih-
Desember 13th, 2006 at 4:05 pm
Sering banget, Pak. Sering jadi sewot juga. Tapi memang harus sering-sering disabarkan. Kalau tidak malah bludrek sendiri
Salam.
Desember 13th, 2006 at 4:17 pm
Ada cerita orang berguru spiritiual ke seorang guru. Dia selalu bertanya, dan guru menjawab sepertinya tidak nyambung. Itu dilakukan berulang-ulang. Hingga suatu hari si murid kesal dan meninggalkan gurunya.
Lama kemudian dia baru sadar, bahwa jawaban gurunya itu dari awalnya sebetulnya benar. Hanya dia yang belum menangkap maksud jawaban itu. (cerita ini saya ambil dari sala satu cerita lama di naskah India).
Mudah-mudahan bukan seperti cerita di atas mas
, terserah mau ambil posisi sebagai guru atau muridnya.
Desember 13th, 2006 at 4:21 pm
Kalau saya seringnya missing the ballpoint..
Ada yang bilang kesabaran itu gak ada habisnya
Desember 13th, 2006 at 5:00 pm
Hal ini kadang membuat orang yang ‘missing the point’ dianggap salah atau malah bodoh. Mungkin saja karena ada asymmetric information. Kalo memang ada, pondasi pembicaraan sebaiknya disamakan dulu.
Desember 13th, 2006 at 6:39 pm
deja vu lagi
.
masalahnya biasanya berupa presumption dari pembaca. proporsi pembaca yang missing the point harusnya konstan. tapi karena jumlah pembaca banyak, maka jadi kelihatan banyak yang missing the point.
kalo di tempat saya, yang banyak missing the point itu yg tulisan tentang aa gym. heheheh
beberapa ide solusi untuk meminimalkan masalah ini:
* bikin warning besar2 kalau masalahnya terlalu sensitif (misalnya: TOLONG BACA DAN MENGERTI SEBELUM BERKOMENTAR!!!11!!!11!)
* bikin abstract sebelum tulisan utamanya. kok jadi kaya bikin makalah ilmiah ya hehehe
Desember 14th, 2006 at 6:26 am
Kejadian seperti ini tampaknya cukup sering terjadi di milis.
Justru pointnya di sini adalah layar monitor tak perlu sampai makan sandal
Dengan komentar seperti ini, apakah saya jadi ikut “Missing The Point”?
Ehm.
Desember 14th, 2006 at 7:03 am
Aku setuju dengan komentar Q (#2)… terkadang justru kitanya yang missing his/her point
…
moga2 pak Budi gak missing my point…
*capek juga ngomong campur2 beginih
Desember 14th, 2006 at 9:09 am
Ya udah pak, to the point aja.
Kita missing dimananya nih? xixixi….
Desember 14th, 2006 at 9:18 am
Kalau pas missing point seperti itu sih, biasanya saya suka mencoba untuk menyamakan dulu sudut pandang. Kadang suka mikir, kenapa mereka berpikir itu.
Kadang setelah sudut pandang sama dan sama persepsinya soal point yang dibahas (dan batasannya) lebih mudah.
(eh, bener kan point saya ini, mudah2an gak miss)
Desember 14th, 2006 at 9:44 am
Missing the point ini sama nggak yah dengan “salah paham”?
Tapi menurut saya ini sangat manusiawi…. mungkin lebih enak kalau tatap muka langsung?
Desember 14th, 2006 at 10:24 am
Hehehe… bangeeet…
Apalagi kalo berhubungan ama cewek… Nggak ada point-point-an lagi, karena yang dibahas pure feeling, duh!
Desember 15th, 2006 at 8:37 am
berarti di blognya Om Pri skrg gak bole komen dulu, baca kemudian ya..
Maret 14th, 2007 at 1:27 pm
[...] itu. Saya telah melakukan kesalahan tulisan sehingga pertanyaan saya di akhir cerita pun sulit tersampaikan dikarenakan saya dalam keadaan kondisi [...]
Maret 14th, 2007 at 10:59 pm
Woalah, Pak. Sering banget nemuin situasi seperti itu. Tapi ya, sing waras ngalah dan sabar.