Melanjutkan cerita jalan-jalan di Malaysia, kemarin kami sekeluarga memutuskan untuk mencari city tour saja. Setelah tanya ke sana, kemari, orang-orang nampaknya bingung. Hah?!@? Tidak ada yang tahu apakah ada atau tidaknya city tour di Kuala Lumpur ini? Sebetulnya pada pagi harinya kami melihat di TV bahwa disediakan bis (double decker) untuk “pusing-pusing” kota KL ini. Tapi kami tidak tahu tempatnya dimana. Dengan still yakin, kami menuju pusat kota saja (KLCC dan KL Central). Ternyata tidak ada yang tahu. Dengan kata lain, memang tidak ada city tour.
Bagaimana mungkin kota sebesar dan sebagus Kuala Lumpur ini tidak memiliki city tour? Padahal banyaaak sekali turis di kota ini. Di hotel saya saja berjibum turis dari berbagai negara (Taiwan, India, dll.). (Herannya saya tidak melihat hal ini di Indonesia. Sayang sekali pariwisata Indonesia kalah dengan Malaysia.)
Akhirnya kami putuskan untuk pergi ke Genting. Ternyata terlambat. Bis berikutnya baru ada jam 1 siang, padahal kami ada di sana jam 10:45 pagi. (Bis sebelumnya adalah jam 10:30! Weks.) Okey, ganti tujuan. Kami ke Putrajaya saja, ingin melihat pusat pemerintahaan. (Semalam sebelumnya saya sudah ke sana dengan Razib, kawan sekolah di Canada dulu yang berasal dari Malaysia.) Kami menggunakan kereta api listrik (ERL?) menuju Putrajaya. Kereta listriknya bagus, bersis, dan sangat kecang. Penumpangnya sedikit. Mungkin karena mahal?
Sampai di sentral station di Putrajaya, bingung. Ternyata tidak ada public transport ke tempat yang kami ingin tuju (mesjid besar, Masjid Putra, yang ada di pusat pemerintahaan). Wah, ternyata perencanaan (desain?) di Malaysia ini masih belum 100% bener. Kami terpaksa naik taksi (2 teksi) ke tempat itu.
Kami tidak pergi ke Cyberjaya karena tidak tahu atraksi apa yang ada di sana. Beberapa tahun yang lalu saya sempat pergi ke Cyberjaya (beberapa kali malahan) untuk melihat MSC (Multimedia Super Corridor). Bahkan saya sempat berencana untuk membuat perusahaan di sana. Perusahaan dengan MSC-status sangat dimudahkan. Tapi karena kesibukan saya dan juga kawan saya yang di MSC, akhirnya tidak sempat terurus ide buat perusahaan tersebut.
(Foto-foto di Putrajaya menyusul …)
Setelah selesai jalan-jalan di Putrajaya, bingung mau kembali ke Putrajaya Central karena tidak ada public transport ke sana. Wah, nggak bener nih. Jalan juga nggak mungkin karena jauh. Untungnya saya melihat papan iklan taksi. Saya telepon saja untuk pesan taksi ke putrajaya central (10 ringgit).




Desember 29th, 2006 at 7:05 am
Sekali-kali ke Jepang dong pak…’tak antar deh.
Pak Budi akan menjadi turis yg merasakan bagaimana dimanjakan oleh perencanaan tata kota yg matang dgn dibantu teknologi yang canggih h.he..hehe..he. sebanding dgn uang yg dikeluarkan…
Januari 5th, 2007 at 3:24 pm
Jadi masih membangun juga ya disana. Hanya pembangunan lebih cepet dibandingkan di Indonesia
Januari 14th, 2008 at 10:56 am
Dear Pak Budi,
Rencana saya ahad ini mau ke KL untuk course selama 3 pekan…. Hm, kemana saja saya sebaiknya pak jika niat ingin ATM (amati, Tiru, Modifikasi) masalah ekonomi dan kemajuan Malaysia agar bisa diterapkan untuk Indonesia?
Tks pak…