Sembilan dari sepuluh kali ke toko buku, pasti saya keluar membawa buku baru. Padahal berkali-kali saya sudah mengatakan ke diri sendiri bahwa saya hanya akan melihat-lihat saja. Tidak beli buku! Masih banyak yang harus dibaca di rumah. Tidak usah beli buku lagi. Eh, keluar dari toko buku masih membawa buku baru.
Hal yang sama terjadi lagi. Kemarin dan sehari sebelumnya, waktu di Singapura, saya masuk ke toko buku dengan berharap tidak membeli buku. Maklum, duit sudah habis banyak untuk jalan-jalan ini dan masih banyak yang harus dibaca. Lagi pula buku di sini mahal harganya. Seperti yang sudah Anda duga, saya keluar dengan membawa buku. Saya bertanya kepada diri sendiri mengapa kok buku-buku ini akhirnya terbeli juga?
Yang pertama terbeli adalah buku “What is typography?” dari David Jury. Buku ini saya temukan waktu masuk ke toko buku Popular di Bras Basah. (Anak saya mencari buku teks untuk sekolahannya, saya lihat-lihat saja.) Yang menarik dari buku ini adalah halaman pertamanya dia menyitir judul buku “Architecture without Architects” karangan Bernard Rudofsky. Sekarang semua orang merasa sudah menjadi ahli dalam membuat tulisan, poster, dan sebagainya. Saya pun termasuk seperti itu, tapi sebetulnya saya tidak tahu apa-apa. Sama seperti orang yang mendesain rumahnya meskipun dia bukan seorang arsitek. Ini tidak salah toh? Apalagi adanya komputer membuat orang menjadi lebih mudah membuat sesuatu dengan “typography”.
Saya paham bahwa saya tidak mengerti tentang typography ini ketika ingin membuat poster. Kok pesan yang ingin saya sampaikan sulit diterima. Saya pun sempat terkagum-kagum dengan Donald Knuth (yang membuat Metafont dan TeX, text processing system, yang sangat indah untuk dibaca) dan Steve Jobs (yang tergila-gila dengan typography ini sehingga kita memiliki komputer yang bagus tampilannya). Pokoknya saya sebetulnya ingin mengenal lebih lanjut mengenai typography tapi belum menemukan buku yang pas. Mudah-mudahan buku ini cocok dengan saya. (It was a blink decision!) Saya harus punya buku ini. Jadi, terbelilah buku ini. Sing$ 52 melayang. Eh, sebetulnya hanya Sing$ 41-an karena ada diskon.
Buku kedua terbeli ketika saya pergi ke toko buku Borders di Orchard Road. Rencana semula sih hanya jalan-jalan sambil menunggu yang shopping. Eh, terlihat beberapa buku yang bagus (tapi buku tersebut masih bisa saya tunda pembeliannya karena ada yang masih berbentuk hardcover, saya bisa beli yang paperback saja). Yang terbeli di sana adalah buku “Revolution in the Valley” karangan Andy Hertzfeld. Bagi yang belum tahu, Andy ini adalah salah seorang pencipta Apple Mac!
Sebelumnya, saya sudah melihat situs web Andy Hertzfeld (folklore.org) tentang buku ini dan juga sudah mendengar wawancaranya di NerdTV. Begitu melihat buku ini, langsung saya merasa harus memilikinya. Ini buku yang menceritakan sejarah Apple dengan sangat elegan (tulisan yang indah berwarna-warni, banyak foto, dan seterusnya). Buku ini tidak cocok untuk format paperback, apalagi fotocopy-an. Sangat menghina! This is a beautiful book. Sama indahnya dengan Macintosh yang dia buat.
Jika kita perhatikan, saya memang tergila-gila dengan keindahan yang dibuat oleh Apple! Kedua buku di atas saya beli karena ada hubungannya dengan Apple dan/atau Steve Jobs. Kedua buku tersebut sangat indah. I’ve got to have them! Period!
Pak Budi,
Saya kagum dengan produktivitas Bpk dalam menulis di blog. Sepertinya tak pernah lelah, dan minat anda begitu dalam dalam hal teknologi. Saya iri dengan Bpk, tapi saya bukan apa-apa dibanding Bpk. Bolehkah saya belajar dari Bapak, yang saya lihat sbg seorang dosen yang baik dan pemurah dalam sharing knowledge. Kalo bapak tiap 9 kali dalam 10 kali ke TB selalu membeli buku, kapan bacanya. Dan bagaimana cara menyelesaikan bacaan itu. Apa hanya sebagai referensi aja ya. Maaf nih, saya hanya bertanya, dan belum bisa bertukar pikiran, karena saya tdk cukup ilmu utk bertukar pikiran dg Bpk. Trims atas jwbnya.
heri p.
Kapan baca bukunya? Ya setiap ada kesempatan baca, baca. Itulah sebabnya kemana-mana saya selalu bawa buku bacaan.
Mengenai hobby membaca dan menulis ini, saya belum apa-apanya. Baru saja saya baca di majalah Time terbaru, Harriet Klausner (54 tahun) telah membuat review sebanyak 12896 review di Amazon.com. Atau … 1 buku setiap hari selama 35 tahun! Dia menghabiskan 4 sampai 6 buku setiap harinya! Hah!@?!! Saya mungkin hanya 1 buku dalam 1 bulan! Inti yang ingin saya sampaikan; Anda bisa lebih baik dari saya. Percaya itu dan lakukan.
Hah, buku di Singapore mahal? Mosok sih, pengalaman jalan jalan di Asia Tenggara kok malah paling murah yah. Malah temen temen kantor Indonesia dan Malaysia sering nitip beli buku di Singapore. Anda juga kalo beli buku populer sebaiknya ke Times, dari mereka bisa ditanyakan apakah tersedia dalam inner counter yg di Changi Airport. Kalo iya kan bisa beli bebas GST.
Yg bisa mengalahkan buku di Singapore cuman buku di SAARC countries, yaitu Asian Economic Edition, misalkan dari Shroff Publisher. Mereka cetak ulang dgn bahan lebih murah dan harga bisa 1/5 – 1/6 harga US. Sayangnya ya hanya boleh di jual di SAARC countries. Makanya kalo ada temen yg kesana, gantian saya nitip
Jelas buku di Singapore lebih mahal … dari Indonesia
Tentu saja maksudnya bukan buku yang sama. Kalau buku yang sama, di Indonesia harus impor dari luar negeri sehingga menjadi lebih mahal. Tapi buku yang sama di Indonesia kadang muncul versi “duplikat”nya. hi hi hi. Yang ini jauh lebih murah.
Sebagai pembalasan, saya akan bilang sekarang: SAYA IRIIIIIIIIIII :p
hihihi.. Om Budi kecanduan buku.
Aku juga kalo pergi ke mana2 bawa buku. Om.
Sambil nunggu Mom belanja, aku baca2… Sering jg di”tereakin” : UDAH DONG BACANYA! SIMPEN BUKUNYA!
hihihihi…
Soal beli buku jg sama nih, ke sana ke mari pasti ke toko buku. Pulangnya? bingung…
Buku-buku yg di rmh blm selesai dibaca kok sudah beli lagi???
Bahkan masih banyak yang terbungkus plastik!
Ass.
Soal ngabisin buku yang ada dirumah kayaknya nomor dua, lagian kapan saja bisa dibaca. Teman-teman saya pernah tanya waktu datang kekamar saya, “tuh buku kamu dah dibaca semua????? kapan bacanya???” saya bilang gak semuanya lah, yang penting intisari dari buku itu saya tahu, dan kalo agak lupa,saya buka lagi dan baca sekilas. Sperti kata Hernowo, baca buku itu baiknya dibuat ngemil, sedikit demi sedikit. Pergi naik bis baca dikit, diwarung baca dikit. Gak habis ya gpp kan buku kita sendiri… 
Wah salut buat pak budi. Kalo memang udah hobi baca memang susah ninggalinnya. Apalagi klo soal beli buku, duh bisa pusing kalo liat budget nya mepet
Wass.
Senasib Pak..
Coba waktu buat baca buku kuhabiskan untuk baca buku kuliah atau buat nge-lab mengerjakan tugas.
Coba waktu buat ke toko buku kuhabiskan untuk ngobrol ama dosen, konsultasi tugas.
Mas Budi, saya juga sama suka ga bisa menahan diri untuk tidak membeli buku atau majalah ketika masuk toko buku. Kalau saya berada di satu kota mana saja, saya selalu bertanya apakah disini ada toko gramedia atau gunung agung?
kalau jalan-jalan di mall, yang lain biarlah berlalu lalang masuk toko-toko atau ada di arena bermain, saya mah memilih masuk toko buku. hehehe..
rupanya hal ini mulai menular kepada anak-anak saya juga…
yang jadi masalah, bagaimana caranya ya biar tiap hari minimal baca satu buku..? apakah kita harus belajar bagaimana cara membaca dan menelaah yang cepat? seperti yang pernah ditawarkan quantum learning?
Berbahagialah yang gemar membaca…
Minat baca tinggi, daya beli rendah. Apes nasibku….
Sama, saya juga begitu. setiap masuk toko buku pasti ada yang di beli. Baik itu buku maupun majalah. Sehingga tidak heran di rumah penuh dengan buku. Dan sebagian belum abis saya baca. Padahal sudah 1 tahun yang lalu belinya
Saya sendiri suka baca buku, tetapi masalahnya selalu aja (klasik) waktu. Tapi, saya selalu menyelakan waktu untuk baca buku (sampe kadang2 harus nunggu istri tidur dulu… hahaha…).
Masalah biaya, emang setuju mahal. Tapi namanya juga investasi. Sebetulnya sayang library di Indonesia hampir bisa dibilang tidak berfungsi.
Saya sendiri saat ini hidup di Canada dan sebelah rumah adalah library. Jadinya bisa hemat kalau ingin baca buku, tinggal jalan kaki 5 menit ke sebelah. Entah kapan library di Indonesia bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Pak Budi, masalah pak Heri P juga saya alami. Kadang saya sempat berpikir “sebetulnya yang saya inginkan itu sering membeli buku atau membacanya ?”
Trus waktu untuk membacanya juga kadang membuat saya bingung. Kapan mau dibaca kalo terus-terusan beli buku. Punya tip dan tricknya untuk pemilihan waktu yang tepat Pak ?
Jujur saja saya masih belum bisa mendefinisikan “setiap ada kesempatan” saya.
saya baru memulai beli buku sekitar 5 tahun lalu lewat amazon yang masih seumur jagung. Itu pula yang saya salahkan menjadikan saya kecanduan buku. Baca..baca..baca..
Waktu kuliah dulu, saya suka jalan-jalan keliling Jakarta. Tapi anehnya, sejauh apapun saya jalan-jalan, mampirnya pasti ke Gramedia.
Sekarang pun, kalau ke mall, pasti mampir ke toko buku. Bedanya, waktu kuliah dulu Gramedia dianggap perpustakaan-baca-di-tempat, kalau sekarang udah agak modal dikit beli-beli yang model buku saku.
Tapi… kalau buku tebal, pilihan utama tetap di Senen atau Kwitang!
Sama pak penyakitnya, kadang saya mending ga ke toko buku daripada ga kuat menahan hasrat dan akhirnya keluar duit. Kalo pak Budi beli buku masih bisa makan, kalo saya beli buku bisa ga makan hehehe
kalo saya beli buku seringnya karena desainnya keren, kalau isinya kadang sama kayak temen-temen diatas… ntar deh bacanya toh punya sendiri hehehehe…
BTW pilihan buku diatas keren Pak, terutama yang kedua… sangat amerika! jadi inget rock progresif… eh bener nggak pak? (secara saya nggak terlalu suka dengan musik hehehe)
saya suka juga baca buku..tapi karena kadang-kadang buku yang saya beli akhirnya ada versi ebooknya..ya sekarang mending bawa versi ebooknya di laptop banyak-banyak.. sekalian kalo mau search referensi pas kepepet biar cepet. kalo pake buku kertas kan aga lama tuh inget2 halamannya di mana aja. kalo pake format ebook kan bisa search di dalamnya.(maklum kebanyakan buku-buku saya ini terbitan luar negeri)..
Pak Budi,
Minta saran nih Pak, kalo bisa sih reply-nya ke email saya. Bigini Pak, saya ini mahasiswa, boleh dibilang scrabble fancier dan pengen baca buku2 scrabble yang dijual di amazon dsb. Mohon sarannya gimana saya bisa beli pake rupiah aja. Atau mungkin Pak budi punya saran lain. Thank you in advance, Pak.
Mr. Budi, saya baru melihat dan kenal bapak di seminar JarDikNas. sepulang dari sana obsesi saya untuk menjadi seorang ilmuwan (keren banget ya pak kedengarannya..hehe) kembali ada dibenak saya. saya pengajar di salah satu sma swasta dibandung. kesibukan saya mengajar dan mengerjakan kesibukan disekolah sangat menguras tenaga (maklum selain guru, saya menjabat staff kurikulum dan wali kelas kelas XII). maaf ngerepotin nih pak, gimana saran bapak supaya saya bisa mengembangkan kreatifitas saya sbg guru disela-sela jadwal saya yang padat. terus terang saya telah kehilangan obsesi dan imajinasi saya, padalah saya sangat ingin sekali melanjutkan sekolah (s2/s3)dan mendapatkan ilmu yang lain. umur saya 28 thn, saya masih single dan saya adalah pengajar bhs. inggris. yang paling saya ingin tahu bagaimana aktivitas bapak setiap harinya.thanx before Sir.
Untuk eka, seberapa sibuknya sih anda? Salah satu indikator yang saya gunakan untuk mengukur kesibukan adalah jumlah jam tidur. Kalau dalam sehari Anda tidur lebih dari 4 jam, maka itu belum sibuk. Ha ha ha.
Tentu saja indikator ini tidak bisa berlaku umum karena banyak juga yang hanya tidur 4 jam, tapi main melulu. hi hi hi. Mungkin juga tidur 4 jam/hari ini tidak baik bagi kesehatan. Ini hanya sekedar untuk perbandingan saja.
Poin saya adalah Anda masih bisa menyelipkan berbagai keinginan, cita-cita, hobby, obsesi di berbagai waktu. Pada malam hari misalnya? Sebagai contoh, kalau naik kendaraan umum (misalnya kereta api), bisa dibarengi membaca buku. Banyak orang yang bisa membaca di bis/mobil. Saya tidak bisa karena biasanya pusing. Kalau di kereta api, saya justru bisa membaca banyak.
Umur Anda baru 28 tahun. Artinya masih banyak peluang bagi Anda … Kejar obsesi Anda itu. Saya jamin, tidak akan mudah untuk mencapainya! Tapi di situlah letak pelajarannya. Selamat berjuang … semoga sukses.