Dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari dua bulan, saya kehilangan dua orang guru dan mentor. Yang pertama adalah Prof. Samaun Samadikun, yang mengajari saya tentang banyak hal di lingkungan akademik, penelitian, pendidikan, dan industri. Yang kedua, yang baru saja saya ketahui kemarin, adalah pak Chandra Liem – guru saya dalam bidang bisnis, management, dan komunitas. Pak Chandra Liem (dan istrinya), yang tinggal di San Francisco, meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di California pada awal tahun baru ini.

Foto saya, Armein Langi, dan Chandra Liem di California (tahun 2000). Waktu itu saya jalan-jalan ke Silicon Valley dan Armein sedang sabatical di Stanford University. Seingat saya malam itu kami makan bersama sebelum mengantar saya pulang ke airport.
Tidak banyak orang yang mengenal Chandra Liem, tapi bagi saya dia adalah salah seorang guru dan mentor saya. Saya lupa darimana saya mengenal pak Chandra Liem. Seingat saya, dia diperkenalkan ke saya oleh pak Eddy Budisantoso (yang waktu itu mengenal saya melalui Internet). Waktu itu saya masih di Kanada sebagai mahasiswa dan terjun ke dunia Internet dengan membuka usaha ISP di Kanada. Saya masih ingat membuatkan web site untuk restorannya pak Eddy dan usaha property-nya pak Chandra. Ketika saya berkesempatan ke San Francisco, saya mengenal pak Chandra Liem secara fisik.
Pertama kali bertemu dengan Chandra Liem, orang mungkin akan merasa terintimidasi karena dia akan bertanya (dengan nada yang menguji); “what is management?”, dan seterusnya. Tujuan dia melakukan itu semua adalah untuk mengajari kita. Namun mungkin ada orang yang merasa kurang nyaman kalau digurui. Saya tidak. Wong ada orang yang dengan baik hati mau menurunkan ilmunya, kok ditolak.
Banyak hal yang saya dapati dari pak Chandra Liem, antara lain adalah ilmunya tentang bisnis dan management. Suatu saat saya ditanya, “what is the goal of every business?” Biasanya orang menjawab, “to make profit.” Salah besar! Menurut pak Chandra, “the goal of every business is to aquire and maintain customers“. Sangat benar sekali. Saya termasuk yang mengikuti aliran ini. Pakem ini yang saya gunakan dalam menjalankan bisnis. Kemudian kami juga banyak berdiskusi soal macam-macam. Saya belajar tentang Confucius (Konghucu?), tentang filsafat Cina, dan filsafat lain-lainnya termasuk filsafat Islam. Tentu saja juga berdiskusi soal bisnis, trend bisnis (di Amerika dan dunia). Maklum dia banyak baca. Kalau berdiskusi, bisa jam-jaman. Bahkan setelah sampai di Indonesia, kadang dia menelepon dari Amerika selama 1 jam! (Ini menggunakan telepon biasa, kebayang betapa mahalnya!)
Dia gemar membuat kutipan yang disusunnya dengan sangat rapi. (sayang sekali saya tidak punya koleksinya.) Cara dia menyusun kutipan sangat detail dan spesifik (pemilihan font, spasi, dll.). Pernah saya coba tulisan ulang kutipan tersebut (dengan Microsoft Word) ternyata gagal membawa makna yang sama. Betul-betul dia pikirkan itu formatting. Luar biasa.
Dari sejak saya menjadi mahasiswa dia selalu mendukung saya untuk menjadi ahli IT nomor satu di Indonesia dan Filipina. Istrinya adalah orang Filipina sehingga dia juga ingin memasukkan saya ke komunitas Filipina. Setelah saya pulang ke Indonesia pun dia tetap mendukung kegiatan-kegiatan saya. Sebagai contoh, dia menyumbang US$100 untuk awal kegiatan BHTV (untuk konsumsi kumpul-kumpul). Kemudian dia juga menyumbang (entah berapa ratus dollar lagi) untuk kegiatan saya di komunitas Internet Indonesia. Dia sangat concern dengan membantu komunitas dimana dia berada. Bersama-sama, kami mencoba membangun web untuk orang Indonesia atau orang yang tertarik untuk memberikan kontribusi kepada Indonesia (seperti IndonesiaForum.org) dan Filipina (bohol.net). Perlu diingat bahwa pak Chandra Liem ini bukan orang yang mengerti teknis, tapi hal ini tidak membatasi dia untuk membuat web site untuk komunitas. Demikian besarnya keinginan dia (dan nyata) untuk memberikan kontribusi kepada komuitas. Dia membuat email tentang BHTV dengan isi management, BHTVMBA. Dan masih banyak lagi kontribusinya.
Sebelum pulang ke Indonesia dia sempat meminta saya untuk membantu keluarganya (bagian dari konglomerat di Indonesia!) di bidang Internet (telekomunikasi). Oleh sebab itu, untuk memenuhi janji, ketika saya pulang ke Indonesia saya menghubungi keluarganya. Saya bersedia membantu usaha keluarganya (kerja di perusahaan mereka). Sayangnya memang waktu itu saya masih a nobody, sehingga tidak dianggap. Karena tidak dibutuhkan maka saya kembali ke ITB dan kemudian start company sendiri saja.
Satu hal yang membuat saya masih terhenyak adalah kedua orang yang baru saja meninggalkan kita ini (Samaun Samadikun dan Chandra Liem) merupakan dua orang yang percaya dan mendorong program Bandung High Tech Valley. Pada suatu saat, ketika pak Chandra Liem ke Indonesia, mereka berdua (dan pak Danny dari Atmel) hadir di acara BHTV. Jadi tamu-tamu kami waktu itu adalah kelompok dari Amerika, Silicon Valley, to be exact. Pak Samaun dan pak Chandra adalah orang yang tinggal di daerah Silicon Valley, sehingga they know what they said! Jadi ketika mereka percaya kepada BHTV, makin besarlah kepercayaan saya.
Sekarang mereka berdua telah tiada. Apakah ada makna atau simbol-simbol dari ini semua? Saya tidak tahu. Satu hal yang saya rasakan adalah bahwa saya harus meneruskan perjuangan dan menyebarkan ilmu yang saya peroleh dari mereka. Semoga dengan cara ini mereka tetap mendapatkan pahala dari ilmu yang mereka ajarkan, meskipun mereka telah tiada.
Selamat jalan pak Chandra Liem (and pak Samaun). Semoga Anda diberi kemudahan di dunia sana.
Dari muridmu, Budi Rahardjo
Berita terkait dari San Francisco Chronicle:
http://www.sfgate.com/cgi-bin/article.cgi?f=/c/a/2007/01/05/BAG12NDGPT1.DTL&hw=chandra+liem&sn=001&sc=1000


Januari 5th, 2007 at 9:52 pm
Sebuah kenangan indah akan seseorang (tepatnya 2 orang) dengan penyajian yang bagus Pak. Tak urung membuat saya yang membacanya ikut-ikutan merasakan.
Salam kenal.
Januari 6th, 2007 at 9:16 am
nobody..?
sekarang sudah jadi seleb dong pak?
hehehehe…
Januari 6th, 2007 at 1:10 pm
mantab boss…
perjuangan semasa mahsiswa tak sia-sia…
Januari 8th, 2007 at 2:11 pm
Chandra loves to teach what is the best for you.
To Budi, Chandra is very proud of your accomplishment.
I am glad that I talked to him 3 times during Christmas day for possible client referral.
Just attended the service at Duggan Mortuary in Colma, CA this evening. It was packed.
Funeral service at Holy Angel Church this Thursday starts at
10AM.
Januari 8th, 2007 at 4:32 pm
Thanks Elizabeth. We all miss him …
Januari 11th, 2007 at 6:11 am
dalam berita disebutkan semua passenger tidak pakai seatbelt? Is that true? it is required here. indonesia sudah diharuskan passenger and drive to wear seatbelt. Sangat sedih kalau memang benar terjadi karena tidak pakai seatbelt. Good people sometimes leave faster than most of us.
Januari 11th, 2007 at 6:28 am
Ikut berduka cita yg sedalam2nya. Semoga Tuhan memberkati keluarga yg ditinggalkan dengan iman dan ketabahan.
Mas Budi Raharjo: dulu ‘nobody’ ya, wah pasti sekarang sudah jadi orang penting nih…, aku mau donk kerja jadi bawahan mas…
Januari 11th, 2007 at 8:13 pm
We miss u. We will remember our discussions and your advices.
Februari 4th, 2007 at 1:10 pm
I just found out about Chandra Liem yesterday from my sister in San Francisco. She has been calling him since after New Year time for having dinner. I have called him once to say Happy New Year. He did not return our call, which is odd. My brother in law, went to his house, ring the bell, no body answer. He found out about this from internet. It break my heart.
I knew him since 1984, first time I went to San Francisco to study. Since then Chandra have been a guardian, a teacher,a tutor, a r/e agent,a family friend, a basket ball partner, a coach for sprinting competitiion, a traveling buddy,a moving helper, an adviser , a merried man, a dad to his daughters, an activist in the community. But mostly a very kind and caring human being. He has a big influence of my life.
I just talked to him last August when visiting San Francisco, met with 2 of the younger daughters. Not knowing that will be the last time I saw him.
He mention you Budi, several times, he talk about his activity in Indonesia and Philippine His concern about the community of Indonesia and Philipine US. He talked about his children activities. He talked about his investment, about his house. advice me to move back to San Francisco.
This is a very very sad news.
My condolences to Stevie, Diana and Tina. May God bless you and strengthen you girls.
Franciscus Sani
Austin, TX.
Maret 7th, 2007 at 3:54 pm
jadi ikutan termotivasi untuk melakukan segala sesuatu sebaik dan klo bisa se “perfect” mungkin jadi ketika “pergi” ada sesuatu yang baik dan bisa untuk dikenang apalagi di pergunakan…but apapun itu turut berduka cita yang sedalam2nya…..dan semoga semua ilmu dan kenangan yang ditinggalkan gak sia2…
Maret 7th, 2007 at 5:47 pm
dear pak budi….saya ikut berduka atas kepergiannya. bolehkah saya tahu apa itu BHTV ? maaf saya tidak terlalu pandai dalam hal ini? makasih