Jika Anda berkendaraan di Jakarta, baik naik motor atau naik mobil, kadang terdengar perdebatan antar pengendara tersebut. Saya lebih sering naik taksi di Jakarta. Sopir taksi selalu mengeluhkan pengendara motor yang sesukanya memotong dengan cara yang berbahaya. Kalau dia nyerempet taksi, maka sopir taksilah yang harus menanggung akibatnya. Jadi sopir taksi selalu mengumpat terhadap pengendara motor. Pengemudi mobil lainnya, maksudnya bukan taksi, juga ternyata juga sebal dengan cara pengendara motor di Jakarta mengendarai motornya.
Di sisi lain, pengendara motor merasa bahwa pengemudi mobil sering tidak mau memberikan jalan. Padahal sedang agak macet, atau lambat, motor bisa menyelip. Toh mobil ini juga masih harus menunggu mobil lain, mengapa tidak memberikan kesempatan kepada motor untuk lewat? Saya sekarang sering juga naik ojek di Jakarta. Maklum, kalau macet dan tidak hujan, lebih cepat sampai tujuan dengan ojek (meskipun kadang-kadang seram juga cara mereka membawa kendaraannya – motongnya itu seenaknya). Karena sebagai penumpang motor, maka saya bisa merasakan keluhan sang pengendara motor. Ha ha ha.
Motor di Jakarta (dan kota-kota besar lainnya di Indonesia?) makin banyak karena harganya sangat murah dan bisa dikredit lagi. Jika dihitung, untuk dua orang (suami istri) yang bekerja, maka biaya bensin bisa jauh lebih murah daripada menggunakan kendaraan umum (public transportation). Pantas saja makin banyak orang yang menggunakan motor di Jakarta. Belum lagi kalau pakai motor tidak kena aturan 3-in-1. Jika tidak hujan, mungkin motor merupakan alternatif yang paling menarik.
Kapan Jakarta punya kendaraan umum yang baik dan murah?


Januari 6th, 2007 at 9:42 pm
harusnya sih motor itu sama2 ngantri seperti mobil. cuma satu space mobil secara melintang bisa diisi 2 motor. jadi gak perlu nyalip2 di ruang antara 2 mobil.
Januari 6th, 2007 at 10:01 pm
cobalah sesekali naik motor…
Januari 7th, 2007 at 12:00 pm
Saya juga seorang pengendara motor (yang kadang juga menggunakan mobil) dan aku setuju banget dengan pak priyadi. Motor juga harus ngantri seperti mobil. Tapi bakal susah untuk membuat pengendara motor berlaku seperti itu. Karena saya pernah merasakah mengemudikan mobil sekaligus motor, saya tau kesusahan masing2. Tapi jutaan orang pengendara motor di Indonesia jarang atau tidak pernah mengemudikan mobil. Jadi mereka tidak tahu bahwa perilaku mereka kadang menyusahkan orang lain dan sangat egois. So bagi yang lebih beruntung memang harus lebih sabar dan lebih mendidik yang kurang beruntung.
Januari 7th, 2007 at 12:31 pm
di jakarta, naik helikopter aja
Januari 7th, 2007 at 1:18 pm
Mgkn harus benahin dulu mass transportasinya om, baru bisa enak bicara mobil atau motor. Kalo sekarang kan semuanya pada nyari solusi sendiri2, bukan?
Januari 7th, 2007 at 1:26 pm
Maaf Numpang Comment…
Mungkin saya gak pilih dua-duanya.
Jalan Kaki (atau sepeda kali) itu asik & sehat
Januari 7th, 2007 at 2:03 pm
Wah dimana-mana sama aja, yang namanya driver selalu mementingkan gimana bisa sampai dengan cepat, tak jauh beda dengan di padang, sepi sech kagak namun rame.
Januari 7th, 2007 at 8:24 pm
saya pengemudi keduanya, baik motor dan mobil. ide agar motor juga ikut ngantri itu menurut saya aneh, karena tidak peduli kendaraan apapun, kalau ada ruang kosong yang bisa dilewati, ya bakal dilewati, mau itu motor, mobil atau truk.
yang lebih masuk akal buat saya adalah penegakan peraturan, seperti motor harus lewat jalur lambat, motor tidak boleh naik trotoar, motor (dan juga mobil) harus mematuhi marka jalan. saya juga sadar kalau sebagian besar pengendara motor banyak yang tidak patuh pada peraturan, tapi menambah aturan seperti harus turut mengantri tidak boleh menyalip mobil itu mana bisa ditaati kalau peraturan dasar lalu-lintas saja tidak bisa dipatuhi. contoh saja (bukan tentang motor), hari ini saya pulang dari arah depok menuju pasar minggu, ada kemacetan di depan kampus universitas pancasila karena ada dua metromini yang berhenti sejajar / paralel untuk ngetem cari penumpang.
Januari 8th, 2007 at 8:53 am
Saya termasuk pengguna sepeda motor di jakarta, alasan kenapa pakai motor di jakarta karena murah dan cepat. Mengenai salah motor atau mobil di jakarta ini menurut saya banyak dari keduanya yang salah karena memang kesadaran berkendara dan sistem transportasi yang memungkinkan untuk berbuat salah.
sumber macet juga keduanya tidak hanya mobil atau motor. Perhatikan jalan-jalan yang tidak dilalui motor juga macet pada jam-jam tertentu. Perhatikan jalan-jalan yang dilalui keduanya juga macet.
Dah pada baca http://www.kompas.com/ver1/Metropolitan/0701/05/012728.htm
Ruang gerak sepeda motor bakal dikurangi, mau pakai busway ternyata busway mau dinaikan tarifnya.
Januari 8th, 2007 at 8:59 am
setuju dengan mas ryosaeba. saya juga pemakai mobil dan motor. tahu masing-masing kesulitannya. yang harus ditegakkan adalah hukumnya.
Januari 8th, 2007 at 10:03 am
sekarang daya beli masyarakat terhadap motor lebih tinggi apalagi ada mocin (motor cina) segala yg lebih murah. Masalahnya tidak diimbangi dengan pengaturan dan fasilitas jalan yang memadai, serta diperparah dengan kurangnya pengetahan dan kesadaran untuk berkendaraan dengan baik.
pengendara (motor/mobil) hanya mengambil cara praktis saja untuk bisa lewat jalan, mana yang bisa dilewati ya dilewati. asal punya sim udah merasa dapat mengendarai dengan benar.
sebenarnya gak hanya motor tapi mobil pun juga seperti itu, tergantung pengendaranya. hanya kalo mobil ruang geraknya lebih sempit dan lebih besar resikonya kalau mau melakukan pelanggaran. saya sering lihat bus besar sekalipun berusaha menerobos kemacetan dengan sesuka hati.
ya.. akhirnya kembali pada kualitas: manusia dan fasilitas. coba kalau semua pengendara pada punya kesadaran tinggi, akan jauh lebih baik kan, apalagi kalau didukung fasilitas dan pengaturan jalan yang baik.
Januari 8th, 2007 at 12:20 pm
Cobalah sekali-kali jadi orang susah (naik motor maksude)…di Jakarta. Kalo di daerah sih naik motor masih enak dan ‘terhormat’, di Jakarta, kalo nggak hati-hati bisa ‘tamat’ oleh metro mini dan kopaja.
Pengendara motor di Jakarta memang lebih ‘parah’ daripada di kota asal saya, Jogja dan kota-kota lain di daerah pada umumnya. Saya sih selalu “berusaha” untuk tertib dikala naik motor.
Saya katakan “berusaha”, karena untuk berlaku tertib saja diperlukan nyali. Seringkali sewaktu saya melambatkan motor sewaktu lampu lalulintas menyala berubah menjadi merah, malah saya hampir ditabrak oleh kendaraan-kendaraan lain (terutama motor, metromini, angkot), plus ‘dipisuh-pisuhi’ alias dimaki-maki dengan kata-kata menyakitkan, “Goblok lu..!, Taik lu..!” dan sebagainya.
Nah, yang naik motor saja sebenarnya merasa ‘tidak aman’ dari pendara motor lainnya. Jadi, sepertinya ini bukan masalah soal motor atau mobil-nya, tapi perilaku umum pengendaranya…khususnya di Jakarta.
Maka, kalo mau ditertibkan, tertibkanlah pengendaranya, bukan motornya yang diberangus! Kasihan oran pinggiran, sudah ndak mampu beli mobil, naik bus mahal+panas+penuh copet & rampok, baru mampu beli motor (belum lunas pulak..!), eh, sekarang motor mo dibredel…! Ampuuunn dah..!
Januari 8th, 2007 at 4:12 pm
Sebaiknya ada jalur motor khusus deh. kalo tidak yang naik motor pada gak sabar liahat jalan yang lowong di sisi mobil, bahkan sisi jalan sebelah kanan sekalipun
Januari 9th, 2007 at 10:57 pm
semua itu bermula dari sekali morality dan capability….
Januari 11th, 2007 at 12:40 pm
saya penumpang motor…saya setuju dengan Om mamet..
karena untuk menjadi patuh dan tertib saja..pengendara motor membutuhkan nyali…. berjalan lambat sedikit saja.. dari belakang diklakson2 oleh pengendara motor lain ato pengendara mobil…
mungkin lebih benar adalah di pasang rambu mengenai larangan2 tertentu (motor tidak boleh lewat trotoar) ato di bangun tempat yang khusus HANYA untuk motor.. jadi setiap kendaraan punya tempat masing2..jadinya tidak berebutan ato merasa tempatnya di kuasai oleh satu pengedara..
Januari 14th, 2007 at 6:32 pm
sebagai pengendara motor saya paling takut sama:
1. Pengendara mobil wanita (kalau belok itu lho!)
2. metro mini
3. Bis kota/truk tanah
4. mikrolet
ulah mengemudinya bikin bahaya tuh !!!
kadang sampai sering ribut
sebagai pengendara mobil
saya paling sebel sama:
1. pengedara motor
2. bis kota
3. metro mini
4. taksi
5. mikrolet
jadi kesimpulannya, buat yang egga pernah naik motor pasti mengumpat semua (menyamakan) semua pengemudi motor brengsek
(beberapa teman saya bahkan tidak/hampir tidak pernah naik motor)
buat pengedara motor sendiri, karena tidak pernah merasakan bawa mobil sendiri jadi tidak tahu bahwa ada area tertentu yang tidak terlihat oleh pengemudi mobil, atau harus mengerem mendadak karena disalip motor diantara mobil didepannya.
jadi menurut saya ini bukan antara mobil dengan motor, tetapi antara manusianya !
kalau saja buat SIM dan peraturan tilangnya benar, jalanan tentunya akan lebih tertib
Februari 7th, 2007 at 7:05 pm
Gw paling benci sama yang namanya sepeda motor. Speda motornya sih gak benci, tapi ama pemilik nya. Mental kere aja belagu kalo di jalanan, gimana kalo udah kaya beneran? Banyak banget di jalanan speda motor yang gak pake kaca spion (terutama Vespa), gak ada lampu sen, dan motor bodong (gak ada pelat nomor alias motor curian). Kalo nyalip mobil ato roda empat keatas gak kira kira, pede banget, yakin bener kalo roda empat ke atas gak bakal nyerempet nabrak mereka. Mreka lupa mreka bisa ada di jalanan karena belas kasian pemakai roda empat ke atas. Kalo nyerempet kaca spion mobil, bisanya cuma kabur aja, ato belagak bego pura2x gak tahu. Speda motor mental preman tak jarang suka memakai kaki nya untuk menghajar kendaraan lain yang gak di sukainya. Speda motor juga suka nyundul bemper mobil blakang walau lampu rem blakang udah nyala skalipun, bikin lecet body mobil blakang. Motor juga suka nyalip dari kanan mobil, walau aturan motor jalan di kiri udah di berlakukan skalipun, udah gitu suka pasang tampank blagu gitu kayak gak suka ama mobil gitu. Tak jarang galakan speda motor ketimbang mobil. Rasis banget ama roda empat. Salah sndiri jadi orang kere cuma mampu beli speda motor, jangan salahin mobil donk. Gw dukung gerakan batasi populasi speda motor oleh Polri. Emang udah waktunya, berarti yang ngerasa sebel ama speda motor gak cuma gw doank. Kalo bisa, speda motor gak usah masuk jakarta deh. Halo polisi, kalian butuh duit untuk sahkan perpu itu? Bilang aja ke saya, nanti saya bantu, yang penting speda motor mampus enyah dari jakarta. Jangan coba2x ketemu gw di jalanan sepi deh, apalagi bikin ulah, gw tabrak lu ampe mati, trus gw mundurin lagi mobilnya dan lindes pale lu berkali kali, baru ngacir.
Februari 21st, 2008 at 9:48 am
Buat antimotor,
Gw pengendara sepeda motor yang emang juga kesel sama kelakuan pengendara motor yang kampungan.
Wah, tapi hati2 tuh buat bahasa ente.
Berarti nggak ada bedanya luh sama yang luh bicarain. Jangan-jangan abis lu nabrak plus ngelindes,trus
Loenya dikerubutin trus dibakar sama mobil loe sekalian, sampe jadi areng nggak bakal ada yang nolongin loe, trus sekalian bisa bikin sate deh-RASAIN LOE!!!!!. Eh, ini ga asal omong, udah pernah hampir kejadian lo, om. Untung ada pihak yang masih netral.
Jadi, mendingan lu jangan ngomong sembarangan deh sama rakyat kecil.
November 9th, 2008 at 6:57 pm
pengendara mobil ngeluh ? yah… coba sekali2 naik motor deh.
lu orang pakai mobil mah enak, ga takut panas, ga takut hujan, tabrakan juga asal ga parah, lu paling sakit di kantong. motor ? kesenggol dikit aja bisa lecet sana sini om!
bisanya ngeluh, jalanan bukan manja2an om, mau manja2an tuh ama bokap nyokap lu di rumah sana.
udahlah, untuk para anti biker, gua doain lu selamanya mampu tuh pakai mobil terus biar ga harus pakai motor. sekali lu pakai motor, gua jamin lu orang tuh gemetaran di jalan.