Ketika di Malaysia, saya perhatikan lalu-lintas di sana ternyata tidak setertib yang saya bayangkan. Banyak pengguna jalan yang “nakal”. Sebagai contoh, gambar di bawah ini menunjukkan pertigaan yang saya lihat dari kamar hotel. Perhatikan bahwa ada beberapa motor yang berhenti di depan garis pembatas. (Lihat di bagian tengah, arus lalu-lintas dari atas ke bawah.) Ini terjadi terus menerus (motor yang nakal). Kalau gambar di bawah ini kurang jelas, klik agar anda dibawa ke flickr dan bisa melihat gambar dalam ukuran yang lebih besar.
Memang jumlah motor di Kuala Lumpur ini tidak sebanyak di Jakarta. Ampun deh dengan motor di Jakarta. Jadi tidak terlalu kelihatan kacau balaunya lalu lintas di KL.
Ada kawan yang mengatakan bahwa kondisi Malaysia ini di antara Indonesia (yang kacau balau, chaos) dan Singapura (yang terlalu “steril”). Jadi, dia pas untuk kita. Nampaknya memang benar. Di Malaysia semuanya tidak sempurna amat, akan tetapi masih jauh lebih teratur dan nyaman. Selamat untuk rekan-rekan kita di Malaysia.



Januari 6th, 2007 at 7:20 am
jangan2 yang naik motor itu orang kita pak? hihihi…
Januari 6th, 2007 at 8:52 am
Kalau mengutip salah satu iklan tv yang sedang populer: “Habis ngga ada yang jaga sih..”
Januari 6th, 2007 at 9:30 am
kadang gw mikir semakin banyak warga negara nya semakin sudah diaturnya, kalo di sini orangnya lbh sedikit mungkin lbh mudah juga diaturnya
Januari 6th, 2007 at 10:29 am
Singapore? Steril?
Nggak percayaaaaaaaaaaaaaa!
Nggak seamburadul Jakarta sih, tapi sama juga: tertib kalau ada yang liat. Tanya kenapa, tanya kenapa …
Januari 6th, 2007 at 12:51 pm
maklumlah naik motor itu udah kepanasan, kena asap knalpot…
anda naik sedan ya nyaman lah pake ac.
Januari 6th, 2007 at 2:30 pm
Oh itu garis pembatas yah?
Abis garisnya gak kelihatan sih.. :p
Januari 6th, 2007 at 3:00 pm
Kalau di Helsinki berenti melewati zebra cros ngga apa2 lho. Yg penting ngga ngelanggar lampu merah.
Januari 6th, 2007 at 4:43 pm
Hah? di Helsinki boleh gitu? Hmm…
Januari 7th, 2007 at 11:47 am
Komentarnya Agusset lucu banget..
Januari 7th, 2007 at 4:57 pm
Mungkin yang naik motor itu anak muda ya? Itu sebabnya SIM di belanda biayanya lebih mahal daripada untuk orangtua. Juga untuk pajak mobil. Saya tulis cerita ini diblog saya. Lucu juga pertimbangan pemerintah Belanda.
Januari 7th, 2007 at 8:33 pm
hehe, bener tuh, saya juga takjub waktu liburan ke singapur tahun kemarin, ternyata pengendara motornya juga mirip-mirip dengan yang di indonesia. ada yang naik motor sambil ngobrol di handphone, ada yang sambil megang rokok, ada yang melanggar marka garis di lampu merah, sudah melanggar masih meludah pula, macem-macem. bedanya dengan di jakarta itu, di singapura motor bisa dihitung dengan jari (tapi justru jadi terlihat mencolok perlakuan pelanggaran aturannya), di jakarta melihat motor itu seperti melihat laron mengejar cahaya di awal musim hujan.
setelah saya tanyakan ke adik saya yang tinggal di singapur, memang kalau di tempat yang tidak ada kamera pengawasnya, pengguna jalan raya, baik motor maupun mobil, sama-sama pada nggak patuh pada peraturan lalu-lintas.
Januari 8th, 2007 at 6:54 am
[...] yang bersangkutan dengan Bikers kita. Dimulai oleh pengamatan sang dosen tentang temuannya di negeri jiran yang kemudian dijewantahkan dengan keadaan di negeri sendiri supaya kita dapat bercermin diri, [...]
Januari 8th, 2007 at 9:34 am
#ryosaeba : mungkin itu para TKI yang lagi jalan jalan
Januari 8th, 2007 at 2:02 pm
ndak, motornya itu motor mahal, macam honda superfour begitu. bukan bermaksud rasis, tapi kebanyakan yang sikapnya seperti itu berkulit hitam legam, orang india.