Di penghujung tahun 2006 kami sekeluarga pergi jalan-jalan ke Malaysia dan Singapura. Kebetulan Iedul Adha jatuh pada tanggal 31 Desember 2006. Pada hari itu kami berada di Singapura. Malamnya, sekitar jam 11 malam, kami baru tiba di Singapura setelah menaiki bis selama 6 jam dari Kuala Lumpur. Karena sudah capek, malam itu kami belum memutuskan untuk sholat eid atau tidak.
Pagi harinya kami putuskan untuk pergi sholat eid, tapi kami tidak tahu harus kemana perginya. Tadinya kami ingin pergi ke kedutaan Indonesia atau tempat dimana orang Indonesia berkumpul. Karena tidak tahu, kami putuskan untuk pergi ke masjid yang berada di dekat Paragon, di Orchard Road. Maklum, sebagai turis, kami tahunya hanya Orchard Road. Ha ha ha. Lebih parah lagi, kami belum paham lokasi hotel kami ini sebetulnya di daerah mana. Maklum, hotel dipesankan oleh travel agent dan karena sudah terlambat bookingnya semua hotel sudah penuh. Nantinya kami mengetahui bahwa hotel kami berada di dekat Little India, atau lebih tepatnya dekat dengan Farrer Park.
Kami berempat memutuskan untuk naik taksi saja. Rombongan keluarga kami yang lain, juga berempat, sudah berangkat duluan. Ternyata tempatnya tidak jauh dari tempat kami. Hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai di Masjid itu, yang namanya adalah Masjid Al-Falah. Cepat-cepat kami meletakkan sepatu di rak dan masuk ke dalam.
Khutbah sholat iedul adha ini dilakukan dengan dua bahasa; Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu. Saya dengar isi khutbah di Singapura itu distandarkan (dan mungkin harus diperiksa?) agar tidak terjadi penghasutan atau kehebohan lainnya. Ah, saya tidak percaya. (Tapi mungkin saja.)
Setelah sholat eid tadinya saya pikir orang rame-rame memotong kurban. Saya tidak tahu apakah ada pemotongan atau tidak, tapi nampaknya sih tidak karena orang pada pulang. Kami juga langsung berjalan mencari sarapan pagi sih.
Oh ya, sholat eidnya ada dua gelombang (shift). Setelah kami sholat ada rombongan baru yang bergantian masuk ke masjid dan sholat. Jumlah yang ikut gelombang kedua ini lebih sedikit.
Demikianlah cerita singkat mengenai sholat ied di Singapura.
Keesokan harinya saya agak menyesal tidak mencari komunitas orang Indonesia di sana. Seingat saya biasanya orang Indonesia kumpul-kumpul untuk … makan-makan! Saya ingin ikutan makan-makan dan berkenalan dengan orang Indonesia di Singapura. Sayangnya nomor handphone saya yang Singtel sudah kadaluwarsa dan tidak berfungsi (apa bisa diaktifkan kembali?). Mau beli nomor baru, malas karena harganya Sing$ 100. Jadi saya tidak menelepon rekan yang saya kenal di Singapura. Menyesal juga. Ah, lain kali tidak lupa …




Januari 6th, 2007 at 8:19 pm
1. Farrer Park itu sebetulnya area Muslim Indian, jadi benernya ada beberapa masjid di situ. Kalo Little India, memang daerahnya Hindu Indian. Di daerah hotel anda ada masjid kok
2. Soal kotbah di Singapore pakai cencorship itu emang betul
3. Mosok sih paket perdana prepaid S$100? Setahu saya cuman S$18 dengan isi pulsa s$20. Kalo punya anda sudah mati ya gak bisa diaktifkan lagi. Anda mungkin kena palak ama orang di Tourist Information Centre di Airport Changi yah? Iya mereka suka malakin pembeli prepaid card, katanya kudu charge s$100, padahal kalo beli di toko HP di luaran cuman S$18 itu. Kakak saya datang dari Madrid kena juga tuh.
Januari 6th, 2007 at 8:35 pm
Kalo ke Al Falah, rasanya hambar kalo belom mampir ke Garuda. Dari Al Falah jalan menjauhi Paragon, sekitar 10 meter dari Alfalah.
Kalo ada hari raya idul fitri/idul adha, biasanya orang2 indonesia emang ngumpul, gak hanya di kedubes.
Bener, kartu perdana murah kok. Cuman S$18. Tinggal cari 7eleven terdekat (bukannya promosi, tapi emang banyakan 7eleven, kalo di indonesia ya kayak indomart/alfamart) sambil bawa pasport.
Januari 6th, 2007 at 10:04 pm
senyum dong pak…
Januari 6th, 2007 at 10:43 pm
Lupa nambahin :
1. Telpon umum di Singapore rata rata bersih
2. Telpon umumnya bisa terima koin, credit card ataupun telephone card. Beli aja telephone card di 7-11 atau kantor pos, punya saya S$10 lama banget gak habis habis
3. Telepon ke mobile number di Singapore itu local call, karena airtime dan sebagian talktime dibayar si pengguna mobile, jadi bisa dari telepon umum
4. Telepon umum di dalam bandara Changi sesudah imigrasi semuanya *gratis* pakai.
Januari 7th, 2007 at 4:20 am
Nampaknya cuaca saat iedul adha di Sgp cerah ya pak? di Jakarta saya dengar hujan, sehingga harus bergantian sholatnya. Ditempatnya saya juga hujan sejak pagi, hanya saja krn masyarakat Indonesianya tidak terlalu banyak, aula utk tempat sholat di kedutaan masih mencukupi. Seusai sholat, tidak ada acara potong hewan kurban, karena memang tidak diperbolehkan. Jadinya kita cukup berbincang-bincang dgn sesama masyarakat Indonesia, sambil menikmati hidangan kecil yang disediakan pihak kedutaan.
Januari 7th, 2007 at 1:21 pm
Betul Pak Budi, komunitas Indonesia di Singapura pada waktu itu mengadakan acara kumpul-kumpul merayakan Idul Adha pada hari itu, di Sophia Court tidak jauh dari Plaza Singapura, Orchard.
Kapan-kapan, kontak saya aja kalau kebetulan ke Singapura lagi. Itu Mas (Anthony) Fajri juga udah jadi warga komunitas disini tuh *sayangnya pas Idul Adha kemarin beliau malah pulang mudik ke Indonesia*
Januari 8th, 2007 at 12:35 pm
Jadi inget waktu dinas ke Singapura 2 thn lalu, kebetulan sendirian, di kantor sana kebetulan juga ndak ada yang muslim. Shalat Jum’at di sebuah masjid di Ben Collen St. Saya datang jam 12 theng waktu Singapura. Dalam hati mbatin, “Kok nggak mulai-mulai, orangnya jg masih dikit yg dateng..?” Jam 1 lebih baru pada nongol, 1.20 baru mulai ceramah, pake bahas Urdu(?) dan Inggris. Mulai Shallat Jam 2-an.
Lhadalah, baru ngeh..! Waktu Singapura lebih cepat 1 jam dari Jakarta, tapi geografis lebih barat dari Jakarta. Jadi waktu shalat yg bener bagi saya adalah: Standar waktu Jakarta, ditambah 1 jam, ya bener, kira-kira kalo Dhuhur ya jam 2-an.
Lalu, apa anehnya…? Ya itu tadi, jadi selama 3 hari di Singapura, ternyata saya shalat pada waktu yang salah…! Terlalu dini! Dari kantor pulang sebentar ke hotel jam 12, untuk shalat Dhuhur. Kalo dihitung-hitung, setara dengan waktu shalat Dhuha…! Lha Shalat yang lain gimana? Syah nggak ya? Yah, pasrah ajalah, terserah “Yang Diatas…!”
Januari 8th, 2007 at 12:42 pm
Ha ha ha … om mamet ada-ada saja. Memang kalau sering jalan ke luar negeri itu bikin bingung saja. Biasanya saya pakai waktu Indonesia kemudian diekstrapolasi
Jadi kalau di Singapura ya sekitar jam 1-an lah untuk Dhuhur (bukan jam 2-an).
Kalau waktunya sempat, biasanya saya cari di Internet. Prayer Schedule. Yang repot itu adalah kalau mau tepat ke menitnya. Misalnya, jam 1-an itu jam berapa? jam 13 teng? atau 13:15? atau bagaimana? Biasanya saya lambatkan 30 menit untuk kepastian saja. Yang repot adalah Maghrib karena waktunya mepet banget.
Hal lain yang bikin bingung adalah arah Kiblat. Maklum, gak pernah bawa kompas. Jadi biasanya lihat peta dan memperkirakan. Yang repot adalah kalau tidak tahu gedungnya ini menghadap kemana. Setelah satu atau dua hari sholat baru tahu bahwa arahnya salah. he he he.
Ya, memang terserah “Yang Di Atas”. Tugas kita kan berusaha sebaik mungkin.
Januari 8th, 2007 at 2:09 pm
@Pak Budi
Tempo hari isu penyamaan (?) zona waktu di Indonesia sempat mengemuka. Tapi apa mungkin gak penting dan gak urgen ya, jadi seolah menghilang begitu saja. Padahal katanya banyak berdampak positif kalau diterapkan.
Salam.
Maret 3rd, 2011 at 4:46 pm
Indonesia pake GMT +8 aja. Lebih nyaman dan menghemat listrik.