Kurang Atensi Terhadap Detail

Saya perhatikan, saya (dan mungkin sebagian besar orang Indonesia?) kurang menaruh atensi terhadap detail. Misalnya, kalau kita membuat jalan, asal jadi saja jalannya. Tidak diperhatikan kemiringan jalan (sehingga kalau hujan jalan tidak berubah menjadi sungai). Saya sebetulnya ingin melakukan utak-atik terhadap detail dari blog ini, tapi nampaknya asal jadi saja atau hanya menggunakan desain bawaan. Aduh! Jadi kelihatan kacangan ya. Ketika saya melihat laporan (report) dari pekerjaan (ataupun tugas mahasiswa), kebanyakan dikerjakan asal jadi saja.

Yang saya maksud dengan asal jadi di sini adalah hasil karya atau pekerjaan itu memang bisa digunakan (fungsional), akan tetapi seharus dia bisa lebih baik lagi. Kalau sekarang hanya 90% dari target, mungkin seharusnya bisa 110%. Begitu maksud saya. Excellent! Melewati ekspektasi.

Okey, mungkin saya terlalu menggeneralisir. Mungkin hanya saya yang kurang atensi terhadap detail. Mungkin sebagian besar orang Indonesia tidak demikian. Buktikan!

Mungkin sebetulnya kita tidak ingin mengabaikan detail. Hanya saja, waktu kadang-kadang membatasi keinginan kita itu. Ada (terlalu) banyak pekerjaan, tugas, dan tanggung jawab lainnya yang juga membutuhkan atensi kita. Akibatnya pekerjaan lain itupun dikerjakan secukupnya. Asal jalan. Kata orang … “nafsu besar, tenaga kurang” ha ha ha. Maunya banyak, tapi kemampuan terbatas.

Bagaimana ya solusinya?

About these ads

About Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Lihat semua pos milik Budi Rahardjo

27 responses to “Kurang Atensi Terhadap Detail

  • Antony Pranata

    Kalo menurut Rob Walling, software developers tuh biasanya sangat detail kalo kerja. Artikel lengkapnya ada di sini, http://www.softwarebyrob.com/articles/Personality_Traits_of_the_Best_Software_Developers.aspx.
    Bahkan dia kasih contoh ada orang yang ganti code indentation satu per satu gara2 gak sesuai dengan “standar” dia. Padahal kalo dipikir indentation kan gak keliatan end-user dan hasil compilation-nya juga gak efek.

  • Kang Adhi

    Mas, apa mungkin karena mo kejar tayang ya? Kayak sinetron aja…. haha

  • Ronny

    Salah satu solusinya mungkin dengan pembuatan standard. Standard ini kan harusnya dibuat dari hasil belajar dari kesalahan2 di masa lampau dan juga uji coba teknologi baru. Contohnya kalo tau bahwa kalo ngaspal jalan harusnya agak menggelembung sedikit di tengah dan agak miring ke pinggir2nya lalu ada saluran airnya, maka ini bisa dibuat standard pembuatan jalan di level kota (municipal/city council) atau level nasional (dinas PU) misalnya.

    Standard ini bisa juga dalam bentuk guidelines/panduan, atau paling tidak dalam bentuk checklist, supaya minimal kesalahan2 lama tidak terulang.

    Penyebaran informasi juga penting.

  • Biho

    nafsu besar tenaga kurang? didoping aja kalee.

  • rendy

    operator mandor kawat ?

    kerjanya kendor makannya kuat ?

  • ak

    Saya juga setuju tuh, ada banyak sekali hasil project orang Indonesia yang kurang memperhatikan detail. Salah satu contohnya saja yang kelihatan itu Busway. Meski tangga penyebrangannya landai tetapi ternyata masih sulit diakses orang berkursi roda. Belum lagi ternyata tangga penyebrangan jalannya malah menutupi trotoar sehingga menyulitkan orang berjalan kaki. Sangat disayangkan.

    @Antony Pranata: Saya setuju, indentation memang penting. Itulah yang membuat code tersebut menjadi ‘berbentuk’ dan ‘sexy’. Apalagi kalau sudah pernah coding Python, makin rajin lagi merapikan indentation ;)

  • saniroy

    Ini juga sudah diucapkan oleh Mbah Mies Van der Rohe -seorang arsitek- sekitar tahun 60-an: “God is in the details”.

  • Arief Fajar Nursyamsu

    Bener Pak. Dipekerjaan saya sebelumnya, saya beberapa kali nemeni QC dari buyer yang lagi inspect furniture, kebanyakan barang direject karena detail-nya kurang bagus. Misal, sudut-sudut laci yang tidak bisa terkena pelitur jika menggunakan kuas besar, tidak diselesaikan dengan kuas kecil. Laci yang ngadat/seret jika dibuka, dibiarkan saja, tidak diamplas lagi.

    Kebanyakan sih pada berpikir kalau inspect sifatnya general, tidak sampai buka-buka laci atau bagian-bagian yang tersembunyi. Malah kalau QC-nya terlalu cerewet dibilang kalau QC-nya ga tahu cara inspect. Hehehe, kalau gini kan lucu. :D

    Kalau saya tanyakan ke pegawai pabrik kenapa kok mesti problemnya itu-itu saja, jawabnya: “Kan bagian itu ga kelihatan, QC-nya aja yang crewet, sulit”

    Mmm..

  • putradi

    nafsu besar,tenaga kurang ya … -itu mengerikan !-

  • erander

    Apa yang mas Budi katakan, juga sering saya alami. Maksudnya, saya malah sering ditertawakan kalo saya terlalu detail .. komentar teman2, saudara2, atau lainnya seperti : “Kaya’ kurang kerjaan aja”, “Ribet amat sih jadi orang” bla bla .. hahaha .. aneh sekali ya.

    Kalo buat seorang software developers, ya kudu detail. Kalo ga, ga bakal bisa run. Mungkin analogi ini kita bisa gunakan untuk hal2 lainnya. Jika sesuatu dikerjakan asal2an tanpa detail, mula2nya aja jalan, setelah itu stag. Persis seperti software yang asal bikin.

    Oleh karena itu ada proses plan, do, check, action yang sering kita dengar itu. So, detail itu emang perlu. Saya pendukung detail. Makanya saya suka komik Tin Tin, Herge melukisnya detail banget.

  • ephi

    Kalau laporan saja sudah tidak beres, bagaimana skripsi nantinya ya?

    Saya di perpus aja sudah bolak-balik me-reject buku skripsi mahasiswa yang daftar pustakanya salah, yang seharusnya kota dicantumin nama negara, judul tak dicetak miring, tak bisa bedain mana APA mana MLA, dll.

    @Antony, software developer di Indonesia sepertinya belum semua ke sana deh. At least the students here, di buku skripsi aja mereka bisa salah buat flowchart, bagaimana program tidak sering error?

    Saya setuju dengan pendapat Ronny, penyebaran dan pemahaman informasi sangat penting. Percuma ada standar tata tulis tapi dosen sendiri tak mau mengalokasi waktu untuk mentransfer apa yang mereka tahu.

  • Thamrin

    Mungkin kalau detail acap dianggap cerewet dan bertele-tele. Bangsa kita kan maunya yang cepet-cepet saja (instant). Ingin bukti lihat saja cara pengelolaan sepakbolanya PSSI…. :)

  • kif

    – the evil is in the detail –
    btw, jawab pertanyaan ini segera :
    “Berapa jumlah kancing baju Anda?”
    *pasti hrs lihat dulu!*

  • saifuladi

    Betul bangat itu Pak Budi, hal itu juga terjadi pada diri saya.

    Menurut teman saya, bahwa Bangsa Kita (termasuk saya harus rajin mencatat segala hal walaupun kecil). Bisa saja hari ini kita ingat bangat tetapi besok ato minggu depan sudah tidak ingat lagi. benaaaaaaaaaaar ga??

  • Eko Prasetyo

    Ngomong-ngomong soal detail, maap2 nih kalo self-promotion hehe. salah satu posting saya membahas tentang email hoax PDA gratis (yang sebetulnya sudah basi, tapi sampai sekarang masih ada aja yang forward). Di email itu ada 10 poin yang sebenarnya remeh, tapi kalo kita perhatikan detail, ketahuan boongnya :P Jadi perhatikanlah detail kalau nggak mau ditipu orang :D

    Setuju Pak Ronny, SOP penting, apalagi untuk pekerjaan yang rutin. Nah kalo SOPnya yang nggak mikirin detail? *nyengir*

  • passya

    tergantung bos-nya kali…. klo bos tipe direktur, jarang tuh yg memperhatikan detil….

  • didats

    dulu sebagai web developer, aku gag terlalu detail dengan hasil design. karena memang sudah ada tugas designer.

    nah sekarang sebagai seorang web designer dan web developer,
    saya memang harus dituntut untuk sangat detail dengan design. apalagi di pundak saya ada nama indonesia pak…

    solusinya? belajar dari kesalahan aja.
    dan kemauan yg banyak itu lebih baik di list dulu.
    baru nanti dilihat, mana yg mungkin, dan mana yg tidak mungkin…

  • Helmi Mahara

    Pak Budi,
    Menurut saya ini kenyataan, bukan men-genaralisir. Selain tidak atensi ke detail, juga kebanyakan orang indonesia kurang profesional, tidak menyelesaikan pekerjaan secara tuntas atau berhenti di tengah jalan. Ini berhubungan dengan budaya, musti dibiasakan dari sekolah dasar. Siswa jangan dikasih beban terlalu banyak, karena semua akan diselesaikan setengah-setengah dan kebiasaan ini dibawa sampe tua.

  • Ronny

    Kemampuan untuk memberi perhatian ke detil sering juga terlihat dari cara seseorang menulis. :)

  • Emanuel Setio Dewo

    Biasanya kalau orangnya perfeksionis pasti akan sangat detail. Malah kadang-kadang tidak selesai-selesai karena mengurusi detail :D

    (** Kabur **)

  • Rhinoceros sp.

    Ajarkanlah anak-anak kita untuk “imagine”, untuk “notice” dan pada akhirnya dapat melakukan “analysis” dengan jumlah “if… then…” yang tak berhingga.
    Mudah-mudahan 20 tahun mendatang kita sudah dapat melihat hasilnya (….. kalau kita mulai dari sekarang).

    At least, kelak tak lagi ber-akrobat untuk mencari-cari pos mana yang dapat dikorting untuk menyumbang unlimited credit of tim SAR

  • tommyk

    Memperhatikan detail ?
    Kultur punya andil ( ktnya melayu malas, berarti
    cari mudahnya ).
    Coba professional… budget di potong sana-sini.
    Perut harus difikirkan, atau kita harus makan.
    Mungkin yang perfeksionis dan maniak bisa melakukan ini.
    Tapi ini cuma beberapa gelintir.

  • A Merjani

    detail itu berbeda tiap level tingkatannya.
    detailnya direktur tentu beda dengan detail insinyur.
    jangan sampai terbalik, insinyur berlagak jadi direktur…

  • asep

    Saya mungkin termasuk yang kurang memperhatikan detil kali yah, soalnya ketika saya ngembangin sebuah aplikasi, perasaan sudah ok dan di uji coba sendiri sih lancar-lancar saja, tetapi ketika dilakukan inplementasi ada yang kurang :(

  • irawan

    ya itulah ciri orang kita, atau mungkin mentalitas org. indonesia. Semuanya pengen jalan pintas,pengen cepat selesai tanpa peduli prosesnya, atau tidak tahan menjalani proses yang benar,cepat puas, mengabaikan quality control yang benar. Prinsipnya…. ngapain mikir susah2…begini aja bisa kok,akibatnya tdk pernah menghasilkan sesuatu karya yang optimal apalagi masterpiece….ada tapi ya sedikit. Mentalitas pengen jalan pintas dampaknya sangat luas, misalnya bisa kita lihat yang dicontohkan oleh para pejabat, pengen cepat kaya ya korupsi krn nggak peduli bahwa prosesnya nggak bener. Akhirnya yang mudapun mencontoh…pengen cepat lulus ya…………,pengen cepat ngetop…..banyak cara jalan pintas……itulah yang dipilih, bukannya menjalani proses step by step yang benar. Jadi kata kuncinya adalah tahan menjalani proses, baru bisa sadar akan detail…….mungkin saya nglantur ya bud!…..he….he….he!

    wassalam, irawanbassist inspiring tribute band.

  • Budy Snake

    Secara umum itulah pola berpikir orang Indonesia terlalu sederhana sehingga terkadang detil terlupakan. Bahkan yang terjadi kalau saya terlalu memperhatikan detil, malah akan membuat orang melihat saya aneh. Tapi tetap saja saya “keukeuh” dengan sifat memperhatikan detil, dibagian inilah orang bisa menilai sejauh mana ketelitian kita dalam berkarya.

  • Mainan Helikopter

    solusinya sih buat skala priorotas dulu pak,mana dulu yang harus dikerjakan antara pekerjaan yang terbengkalai dengan pekerjaan baru.karena pada titik tertentu keduanya akan bertemu pada hasil yang memuaskan yaitu terselesaikannya seluruh pekerjaaan kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.695 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: