Beberapa waktu yang lalu saya terlibat sebuah diskusi di sebuah milis. Bicara ngalor ngidul, akhirnya tiba pada sebuah topik: bisakah kita membuat karya yang baik (mahakarya?) di tengah kondisi finansial yang pas-pasan?
Banyak karya yang bagus muncul di luar negeri karena mereka tidak perlu lagi memikirkan urusan perut. Mereka bisa fokus kepada pekerjaan mereka dan menghasilkan karya yang baik. Sementara itu di Indonesia, banyak sekali yang harus kita hadapi; mulai dari kondisi finansial yang pas-pasan, sampai ke urusan keluarga.
Tapi … saya lihat kok di India masih banyak karya-karya yang bagus meskipun kehidupan mereka juga pas-pasan! Nampaknya kita perlu contoh yang seperti ini untuk memacu kita bahwa sebetulnya bisa. Ada contoh yang berkesan untuk Anda (yang bisa dijadikan contoh untuk rekan-rekan lainnya)? Saya masih ingin membuat sebuah mahakarya, euy.


Januari 9th, 2007 at 5:09 am
wah, itu juga cita-cita saya Pak: membuat sebuah mahakarya. mudah-mudahan bisa tercapai deh…
Januari 9th, 2007 at 6:13 am
kalau pas diskusi, kita bisa pak. tapi kalau udah mulai kerja, kita gak bisa. Jangan2 kita harus balik pak. Di kerjain dulu baru didiskusikan.
Januari 9th, 2007 at 7:19 am
Di luar negeri tidak memikirkan perut ? he he he he jadi ingat banyak candidate doktor yg harus kerja jadi buruh pabrik, atau bersih-bersih buat menyambung hidup. Toh karya mereka tetap banyak.
Bedanya di Indonesia situasi sulit sering dijadikan alasan untuk pembenaran. Akademisi tak produktif, alasannya gaji kurang dan kurang jurnal. Program yang digunakan banyak bajakan alasan orang akademisinya, harga mahal
Januari 9th, 2007 at 7:33 am
Kalau saya paradigmanya “Mengatasi kesulitan dengan Berkarya”, dan kalau bisa sampai mahakarya
Januari 9th, 2007 at 7:36 am
harusnya offer ke mahasiwa .. orang yang ‘sementara’ aman finansialnya dan masih semangat
perlu pilot project nih ..
Januari 9th, 2007 at 8:20 am
# tukangkoding
bagaimana dengan Kuliax? distro sebagai base, kemudian dilakukan pengembangan di atasnya, misal aplikasi, dst. dimulai dari kebermanfaatan saja, bisa kemana-mana, luas
Januari 9th, 2007 at 10:05 am
Mungkin indonesia terlalu sibuk meratapi kesulitan yang dihadapi sehingga lupa untuk berkarya….
Januari 9th, 2007 at 10:24 am
setuju dengan pak Made Wiryana (IMW), kebanyakan orang Indonesia menggunakan kesusahan sebagai pembenaran atas kemalasan mereka.
dan ketika melihat seseorang dari kalangan “yg lebih mampu” berhasil membuat sesuatu, kebanyakan kita akan berucap “wajar dong, fasilitas lengkap kok”.
Januari 9th, 2007 at 11:48 am
setuju. Lagi berusaha berkarya yang bermanfaat, tidak perlu mahakarya, yang penting bermanfaat untuk sebanyak mungkin orang
Januari 9th, 2007 at 12:12 pm
kuliax contoh program bagus
igos juga
asal konsisten kan jadi mahakarya juga, developing cycle yang jelas, mirror yang makin banyak, seminar, roadshow bla..bla.
voiprakyat juga terus berjuang, kl ITB atau kampus-kampus yang punya bw gede bisa pasang logo atau tulisan
” fully implemented voiprakyat ” selain tulisan akses IPV6 nya bisa jadi mahakarya juga. Mulai pake Xmpp nya voiprakyat juga boleh utk interface awal chat
lalu apa ya, yang mobil versi lipi atau its itu ya kl bisa di pake presiden sehari-hari bertugas juga jadi deh mahakarya.
so?
cukup dukung proyek-proyek yang udah jalan juga udah merupakan dorongan buat kemanfaatan dari sebuah mahakarya.
hidup mahakarya!
Januari 9th, 2007 at 2:42 pm
Banyak contohnya dan menurut saya kesulitan bukan hanya pada masalah perut.
Contoh yang saya suka adalah Karl Schwarzschild. Ketika Eisntein menelorkan maha karyanya berupa teori relativitas umum, dia mengatakan meskipun dia sudah menemukan persamaan ruang-waktu dia memperkirakan perlu waktu tahunan untuk menemukan solusi dari persamaan itu.
Tapi, selang beberapa bulan Einstein menerima solusi persamaannya dari Schwarzschild. Padahal saat itu Schwarzschild yang menjadi tentara Jerman yg sedang berada di tengah medan pertempuran PD I. Dia akhirnya meninggal disana.
Bayangkan, maha karya yang dihasilkan di tengah2 medan pertempuran!
Catatan soal kesulitan finansial: akademisi di Amerika pun termasuk kelompok berpenghasilan rendah. Profesor baru bergaji rata2 $60ribu/tahun, bandingkan dengan pekerja Wall Street yg baru lulus sarjana yang bisa digaji $120ribu pertahun. Profesor senior bisa bergaji $120ribu/tahun, tapi bandingkan dengan gaji CEO di wall street yang mencapai $60juta/tahun, atau penghasilan hedge fund manager yang bisa sampai $500juta/tahun.
Poin saya adalah masalah finansial dan keluarga adalah masalah umum manusia yang dihadapi baik miskin atau kaya.
Januari 9th, 2007 at 4:30 pm
Pak Budi,
Saya rasa banyak orang Indoesia yang berpotensi untuk membuat karya yang baik. Tetapi yang langka adalah konsistensi, kecintaan dalam mengembangkan dan merawat ide yang dibangunnya. Di film-film project X, film yang menggambarkan bagaimana generasi terdahulu Jepang berjuang mengejar ketinggalan, terlihat bahwa mereka berangkat atas dasar cinta dan kesetiaan pada kreativitas & pekerjaannya. Mungkin rasa cinta dan kesetiaan/komitmen ini yang perlu ditanamkan terlebih dulu.
Januari 9th, 2007 at 5:02 pm
saya pernah mengandaikan…
bila saya sejenius Larry Page dan Sergey Brin, apa Google bisa tercipta di Indonesia?
Tampaknya tidak. realita kondisi di Indonesia memang tidak mendukung. Saya ingat Sanur.com yang tidak juga sukses jual buku karena mendahului jamannya.
Saya pikir, mengembangkan jamu lebih realistis. Gagasan dan ‘enabler’ tetap perlu ada bersamaan.
Januari 9th, 2007 at 5:44 pm
Ada tips2 untuk membuat mahakarya nggak?
Januari 9th, 2007 at 7:46 pm
kerja tim mungkin lebih membantu…
Januari 9th, 2007 at 10:22 pm
Om kl ada waktu coba review biografinya Kurt Cobain ato Pramoedya Ananta Toer…..utk bs bekarya kayaknya gak perlu ini dan itu yg neko2, kemauan keras dan kesetiaan pada proses aja udah cukup. Gak usah bandingin dgn luar negeri …. akui aja bahwa kita masih malas dan bebal…..upsss….
Prof. Yusuf barusan dpt nobel dulunya di mulai dgn memberi pinjaman sebesar USD 27.
Januari 10th, 2007 at 7:36 am
mungkin bukan google yang tercipta, tapi sesuatu yang lain yang belum terpikirkan (oleh kita juga saat ini!) yang juga menjadi mahakarya. saat memikirkan google mereka juga memikirkan bagaimana supaya berguna di amerika sana, kalau di sini ya mereka akan memikirkan dulu apa yang berguna dan pasti bisa dipergunakan di sini (mungkin tidak berhubungan dengan internet, karena tingkat penetrasi internet di indonesia sangat kecil kalau dilihat berdasarkan jumlah penduduk).
[lame analogy]
sama seperti kentang lebih populer di amerika sebagai sumber karbohidrat sementara nasi yang lebih populer di indonesia, keduanya tidak sama tapi sama-sama sumber karbohidrat.
[/lame analogy]
Januari 10th, 2007 at 7:49 am
Definisikan mahakarya… apa itu mahakarya?
haruskah terkenal? haruskah bernilai materi tinggi? haruskah diakui oleh ‘dunia’?
ataukah sesuatu yang sederhana? dan berguna?
Januari 10th, 2007 at 9:11 am
Contoh favorit saya: Marie Curie. Yg mengagumkan, setelah sukses menemukan radium, dia malahan menolak mematenkan karyanya dg resiko tetap hidup miskin.
Januari 10th, 2007 at 11:33 am
pantesan diindia orang-orang IT nya jago-jago ….
Januari 10th, 2007 at 12:25 pm
Saya malah ingin mahakarya (atau “adikarya” — padanan untuk masterpiece) di Indonesia saat ini bukan TI dulu. Saya lebih bergembira jika sampah di kota-kota besar terurus dengan benar (bukan hanya diangkut dan ditumpuk), tata ruang lebih manusiawi, lalu lintas lebih tertib, teknologi makanan dapat mengatasi persoalan malnutrisi, dan pendidikan kita lebih baik. Maaf, memang bukan abstraksi yang baik pada daftar keinginan tadi (seharusnya dicari desain globalnya dan di situ diurai), namun inti yang saya maksud: begitu menarik negeri ini dengan banyak hal yang dapat dikerjakan.
Januari 10th, 2007 at 1:13 pm
Sebetulnya dalam pemikiran saya ketika menuliskan entri ini adalah mahakarya di bidang seni atau sastra, seperti novel, lagu / musik, bukan di bidang IT. Gitu.
Januari 10th, 2007 at 3:10 pm
Kalau begitu … Harry Potter! (J.K. Rowlings).
Januari 10th, 2007 at 3:12 pm
Paling gampang mahasiswa atau masyarakat diajak berkarya jika ada yang mencontohkan. Sekarang kita lihat,
adakah karya dosen2 yang bisa menginspirasi mahasiswanya untuk membuat sesuatu karya (mahakarya). Menurut saya yang penting kita harus merubah pola pikir terlebih dahulu.
Januari 10th, 2007 at 5:27 pm
Indonesia di tengah keterbatasannya, banyak menelurkan mahakarya di bidang seni seperti sastra, novel, dsb. Tidak dikenal di dunia hanya faktor preferensi
Di bandingkan musik pop Jerman, atau Eropa pada umumnya. Indonesia jauh lebih bermutu, misalnya.
Januari 10th, 2007 at 5:41 pm
Untguk dhani, ya bukan Harry Poter dong. Maksudnya mahakarya yang kita nantikan adalah yang dibuat oleh orang Indonesia. Yuk kita ngimpi dan lakukan aksi (do something) untuk membuat karya-karya. Kita saling dorong agar maju …
Januari 10th, 2007 at 5:43 pm
Maksud saya bukan Harry Potternya, tapi pengarangnya. Waktu Harry Potter pertama kali ditulis, J.K. Rowlings masih miskin.
Januari 11th, 2007 at 12:50 am
kalo yang dimaksud budaya seni ini sulit2 gampang.
menurut saya dlm budaya indonesia cukup maju, contoh novel adalah pramoedya, umar khayam dan idrus yang genius.
banyak karya sastra justru muncul ditengah kesulitan, mungkin karena membuat individu menjadi lebih sensitif dan reflektif.
masalahnya karya budaya ini lebih sensitif dengan kekuasaan. definisi maha karya atau bukan bisa tergantung dengan siapa yang berkuasa. misal banyak penghargaan budaya berdasar standar budaya barat, jadinya lebih kecil kemungkinan budaya non-barat di akui (meskipun tentu ada pengecualian).
Januari 21st, 2007 at 3:04 am
Maha Karya itu lahir dari seorang spesialis, seorang yang menkhususkan diri pada bidangnya, atau seorang yang mampu menemukan ide baru.