Waktu jalan-jalan ke Malaysia kemarin, agak ngenes juga karena banyak hal sudah diklaim menjadi budaya Malaysia. Ketika kami pergi ke Petrosains di menara Petronas, saya melihat cerita tentang wayang kulit. Di sana dikatakan bahwa wayang kulit berasal dari sebuah daerah di Malaysia (saya lupa nama propinsinya). Halah. Memang wayangnya berebeda sih, tapi tetap saja ada perasaan gimana gitu. (Eh, wayang kulit aslinya dari mana?)
Yang lebih menarik lagi adalah wayang ini kemudian diteruskan menjadi 3D dengan menggunakan “hologram”
Halah. Di Indonesia belum ada yang melakukan ini. (Sebetulnya ini sudah masuk ke dalam to do list dari, Digital Entertainment Research Groups yang sedang saya rintis.) Di Korea Selatan malah wayang bisa dimainkan dengan jari yang dimonitor oleh video. Sayang sekali ya …
Baru saja saya melihat iklan tentang parawisata Malaysia di CNN. Di sana diceritakan tentang orang hutan (di Sabah?) dan berbagai hal lainnya yang sebetulnya kental unsur Indonesianya. Sedih nggak ya?
Jangan salah, saya tidak menyalahkan Malaysia. Saya menyalahkan kita, orang Indonesia, yang lalai untuk menjaga kebudayaan nasional kita. Di layar TV Malaysia masih ada acara tradisional, bahkan acara mengajarkan anak baca Al Qur’an pun ada. Di Indonesia, acara TV terlalu “maju” bahkan MTV-pun lewat. Hik hik hik. Sesak napas ini.
Oh ya, saya dan kawan saya dari Malaysia sedang mencoba membuat usaha bersama. Mungkin saatnya kita minggat ke Malaysia atau Singapura?


Januari 11th, 2007 at 3:23 am
Sekarang ini kita memang selalu tertinggal dengan negara-negara tetangga kita lainnya. Bukan saja dengan Malaysia dan Singapura, tapi sebentar lagi juga tampaknya akan tersusul Vietnam, negara eks komunis yang baru lebih terbuka sejak mulai bergabung dengan ASEAN. Ketertinggalan kita mungkin karena tidak adanya perencanaan strategis yang sifatnya menyeluruh, apalagi sekarang tidak ada GBHN. Saya tidak bilang bahwa dgn adanya GBHN kita punya suatu perencanaan yg baik, tapi setidaknya kita punya rencana yang berkesinambungan. Sekarang? Saya kok tidak melihat adanya kesinambungan antara perencanaan waktu presiden Gus Dur, Mega dan SBY.
kembali ke masalah keberhasilan Malaysia dalam mempromosikan budaya yg dicontohkan pak Budi, saya melihat negeri jiran tsb memiliki program yang jelas dan berkesinambungan serta memiliki keterkaitan satu sama lain. Mereka melihat bahwa komoditi wisata merupakan bisnis yang bisa memasukan devisa yang sangat besar. Makanya dunia wisata digarap serius, bukan hanya tempat2 wisata dan infrastrukturnya yg dibenahi, tetapi juga image-nya digarap habis secara profesional.
Malaysia kemudian dgn percaya diri mengklaim sbg “Truly Asia”. Iklan2 mereka bukan hanya ditayangkan di media tv seperti cnn, tetapi juga memanfaatkan medium lain seperti mengontrak klub Manchester United (MU) utk memasang iklan di stadionnya saat MU bertanding. Bayangkan berapa juta fans MU di seluruh dunia yg akan melihat iklan “Malaysia Truly Asia” saat klub tsb bertanding.
Lalu bagaimana Indonesia? selain iklannya minim, media promosi lainnya juga sangat2 terbatas. Coba saja ke departemen pariwisata atau biro2 wisata cari brosur wisata di tanah air, pasti akan kesulitan. paling2 yg ada cuma Bali atau Yogyakarta.
Wah maaf pak Budi kalau komentar saya kepanjangan. Saya semangat kasih komentar krn kebetulan saya pernah nulis masalah mengenai yg isu yg hampir sama di http://arishu.blogspot.com/2006/12/keajaiban-dunia-wisata-indonesia.html
o ya kalau pak Budi jadi minggat ke Malaysia atau Singapura, ajak2 saya atau yg lainnya biar berombongan, asal jangan lupa remittance-nya dikirim ke tanah air … hehehe masa’ TKI aja yg kirim remittance.
Januari 11th, 2007 at 5:50 am
Pak, sudah ada wayang orang hologram. Beberapa waktu lalu dipentaskan oleh mahasiswa UPI Bandung. Sayang sekali, hologramnya tidak begitu sukses. Saat ini, wayang orang Hologram tampaknya sedang digarap oleh beberapa perupa muda dari commonroom (BDG juga). Nggak tahu, Kang Tisna ikutan atau ndak.
Januari 11th, 2007 at 8:54 am
memang acara-acara tv di indonesia tak ada yang bagus. saya sendiri saat ini sering pasang channel di metrotv dan trans tv. sementara yang lain tidak bermanfaat (menurut saya lho…)
Januari 11th, 2007 at 9:34 am
Setuju, saya sangat sangat jarang sekali liat siaran TV Indonesia, ndak jelas acaranya. Mending kalau mau nonton liat TV Kabel aja Sepakbola … …
Tapi jangan minggat ke Malaysia dan Singapura pak, siapa yang bantu memajukan masyarakat kita
Januari 11th, 2007 at 12:54 pm
Jangan minggat, Pak.
Justru tarik kawan dari Malaysia ke Indonesia.
GBU.
Januari 11th, 2007 at 2:30 pm
kalo minggat jgn ke singapur pak,
mending ke malaysia aja…
hehehe…
Januari 11th, 2007 at 3:29 pm
Sudah sempat melihat museum wayang di Jakarta Kota?
Januari 11th, 2007 at 5:55 pm
Perlu penelitian lagi, Oom. Jangan2 memang dulunya wayang kulit adanya di Malaysia dulu, sebelum kita2 di pulau ini nyontek dari sana. Trus jangan2 orang Inggris penjajah Malaysia yang dulu menamainya “why young?” …
Januari 12th, 2007 at 8:06 am
Pak Budi: Maaf kerana Bahasa saya kurang bagus, bisa faham tapi sering salah guna perkataan kalo pake Bahasa Indonesia. So I use English in your blog if you don’t mind.
Understand how you feel. Malaysians feel like that when Singapore takes over things that seem Malaysian to them too.
And example is Laksa (always Singapore Laksa, never Malaysian or Penang Laksa in Indonesia.
I guess we’re all victims of marketing. Indonesia loses out to Malaysia, Malaysia loses out to Singapore.
Januari 12th, 2007 at 1:38 pm
Pak Budi, empat kata serapan ke bahasa Inggris, “orangutan, sate, sarong, amok” juga di klaim secara etimologis dari Malay menurut kamus Merriam-Webster. Padahal jelas2 orangutan cuma ada di Kalimantan. Gimana dong, ahli bahasa Indonesia nih?
Januari 12th, 2007 at 2:29 pm
Bagaimana orang indo ini
melihatnegara lain maju,,,malah pingin pindah negara???
orang2 inilah yg tidak menghargai bangsanya sendiri
Kalau bukan kita yang berbuat
Siapa lagi,,,haruskah warga negara lain?
kalo begitu jual saja indonesia,,,hiks,,,hiks
Maka itu kita sebagai generasi yang akan punah
Ajarkanlah pada keturunanmu bagaimana
Menjadi penerus bangsa ini,,penerus yang BAIK
Dengan ketulusan hati, kerjasama MAJU INDO
Januari 12th, 2007 at 4:12 pm
kapan majunya negeri ini?
Januari 13th, 2007 at 12:48 am
Salah satu masalah (dan handicap) bangsa Indonesia adalah lemahnya kemampuan memasarkan bangsanya sendiri. Selain itu, integritas bangsa Indonesia masih sangat dipertanyakan. Coba saja lihat, MTV, McD dan sebagainya diserbu, tapi makanan2 tradisional mulai ditinggalkan (atau berkurang). Lain itu, produk2 Indonesia dianggap rendahan, padahal kalau shopping ke Wal-Mart, Target atau superstore lain di Amerika, lumayan juga buatan Indonesia dan mutunya tidak kalah dg. dari negara lain.
Januari 13th, 2007 at 12:11 pm
“Mungkin saatnya kita minggat ke Malaysia atau Singapura?”
Setuju Pak. Dah Bosen di Indonesia ni….
Januari 13th, 2007 at 1:45 pm
Saya setuju Indonesia kalah di marketing. Solusi ya belajar marketing, salah satu aspek marketing yaitu branding. Klo ga mau diklaim org lain, bikin brand aja yg kuat klo itu buatan kita. Masalahnya, motivasi utk itu masih kurang. apa gara2 sibuk mikirin perut sendiri?
Januari 13th, 2007 at 3:00 pm
ok lah, yg tertarik untuk minggat, sayapun berpikiran yang sama beberapa tahun lalu, setelah kemajuan, ketertiban dan mentalitas masyarakatnya.
dalam kondisi tertib, kondisi sosial ekonomi yang diperhatikan, memang bisa membuat mereka menjadi lebih fokus dan maju.
saya percaya orang2 pintar indonesia akan menjadi bodoh jika tidak diperhatikan, dan dihargai selayaknya, dan wajar untuk ingin minggat… hehe3
Oktober 3rd, 2007 at 11:26 am
kira2 kapan malaysia ganti nama dengan nama indonesia???
Desember 14th, 2007 at 5:26 pm
sebenarya iya sih saling memaki ga akan menyelesaikan masalah. sekarang waktunya berbenah.
ciauw
hilman.web.id
Desember 14th, 2007 at 6:39 pm
Waktunya pulang kampung nih Pak, buat berkarya