Sudah sekitar satu setengah tahu saya tidak ngoprek open source. Semenjak saya mendapatkan Apple iBook G4 yang menggunakan Mac OS X, saya menjadi jarang menggunakan Linux. Pasalnya, Mac OS X berbasis “unix” (sehingga lebih reliable?) dan memiliki tampilan yang menarik (sehingga nyaman menggunakannya).
Saya cek iBook saya, di situ tertera bahwa saya sudah 19 bulan menggunakannya. Beberapa hari yang lalu saya menghidupkan GNU/Linux Debian di komputer desktop saya. Sang komputer langsung lari ke fsck (bagi yang tidak familier, ini seperti scan disk di Windows) karena sudah 430 hari tidak di-fsck. Artinya, sudah lebih dari satu tahun saya tidak bermain Linux.
Selain minta di-fsck, komputer tersebut langung lari ke X Window (dengan Gnome), tapi tidak tampil di layar. Monitor yang saya gunakan memiliki rentang frekuensi yang berbeda dengan konfigurasi dari X Window. Saya oprek 5 menit, belum beres juga. Maklum, saya sudah lupa lagi berkas konfigurasi ada dimana saja. Cara yang paling gampang adalah pasang monitor yang bagus dulu dan kemudian diturunkan resolusinya. Ah, mesti ngoprek lagi nih.
Tahun ini saya berniat untuk kembali bermain dengan open source. Untuk itu saya harus menyisihkan sedikit waktu lagi. Saatnya ikut “Indonesia Goes Open Source” meksipun bukan berarti harus pakai IGOS Desktop.
Ada beberapa distro Linux yang mau dicoba, antara lain distro Kuliax dan IGOS Nusantara (yang ini belum sampai?). Tadi pagi juga dengar ada distro Depdiknux. (Oalah … kakehan distro, mas) Setelah itu mau cek apakah perangkat-perangkat yang saya miliki didukung oleh Linux atau tidak. Pokoknya ada banyak yang ingin saya kerjakan dengan open source tahun ini.
IGOS Nusantara belum sampai apanya pak?
sedang download atau tunggu kiriman?
kalau lagi di network ITB, silakan ambil
IGOS Nusantara 2006 R5 dari:
ftp://za.paume.itb.ac.id/mirror/IGOS/
—
ns
http://igos-nusantara.or.id/
menunggu kabar selanjutnya
Kembali ke laaaaptop,…….
Gnome, KDE, atau E17, mas? vi or emacs?
Gak mau nyobain Ubuntu Pak? bagus loh
tapi kenapa yah klo di ITB tuh gak ada mirror Ubuntu? Atau mungkin saja ada tapi saya nya yg gak tau.
[...] bukan ikut-ikutan postingan Pak Budi Raharjo lho, ini memang kenyataan yang saya harus hadapi
. jangan di cela [...]