Dalam kuliah Konsep Tekonologi kemarin saya memberi tugas kelompok dan mereka diminta untuk mempresentasikan hasilnya. Presentasi dilakukan dalam kurun waktu tiga hari kelas karena jumlah kelompok cukup banyak. Masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk memberikan presentasi maksimal 15 menit. Setelah itu acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Berikut ini beberapa catatan dari presentasi mereka.
Yang pertama adalah soal ketepatan waktu. Hari pertama kelas presentasi dimulai tidak ada kelompok yang komplit pada jam 7:00. Kelompok pertama yang komplit hadir jam 7:19. Ini luar biasa (ngaconya). Dalam memberikan presentasi – apalagi yang mempengaruhi nilai – tidak ada yang hadir lengkap sebelum waktunya. Padahal dalam kehidupan sehari-hari hal ini merupakan situasi yang fatal. Bayangkan jika Anda harus mempresentasikan proposal pekerjaan kepada seorang calon klien dan Anda datang terlambat. Apa yang akan dilakukan oleh klien Anda? Dugaan saya Anda akan dianggap tidak profesional dan bahkan bisa gugur dalam penilaian.
Berita gembiranya adalah para mahasiswa sudah pandai mengatur waktu presentasi. Tidak ada kelompok yang melebih waktu yang diberikan untuk presentasi. Cara mereka memberikan presentasi umumnya cukup, untuk kelas pemula. Artinya mereka tinggal diberi ilmu presentasi agar lebih baik lagi.
Slide yang digunakan juga sudah tidak macam-macam. Mereka umumnya menggunakan yang saya sebut “lessig-style”, mengikuti gaya Prof. Lawrence Lessig. Pada style ini, tampilan di slide sangat minim kata-kata. Hanya kata kunci yang ditampilkan di tengah-tengah slide. Ada banyak teori mengenai hal ini. Salah satunya adalah mata kita hanya bisa fokus di satu tempat, yaitu di tengah-tengah slide. Kalau kita terlalu banyak menuliskan kata-kata maka pendengar akan lebih banyak membaca dan tidak memperhatikan presenter. Kalau kita menggunakan kata yang singkat maka fokus pendengar adalah pada presenter. Memang untuk melakukan hal ini membutuhkan kepercayaan diri dari presenter karena semua mata akan tertuju kepada dia. Namun hasilnya lebih efektif daripada slide yang terlalu banyak kata-kata karena pendengar tidak mengantuk akan tetapi memperhatikan presentasi. Cobalah.
Cara atau style presentasi yang sederhana ini mengacu kepada cara presentasinya Steve Jobs dari Apple. Sementara itu cara presentasi yang slidenya “terlalu meriah” datang dari groupnya Bill Gates, Microsoft. Kalau dibandingkan secara bersamaan, memang terasa bahwa sederhana itu lebih baik.
Secara keseluruhan saya cukup puas dengan presentasi mereka. Memang perlu dimengerti bahwa ini adalah awal dari karir mereka sebagai seorang engineer, yang harus sering memberikan presentasi di kemudian hari. Ada satu dua yang memiliki bakat menjadi presenter yang baik, khususnya yang bisa melawak (ngabodor, he he he).
Oh ya, sebelum lupa. Sebelum acara presentasi ini memang para mahasiswa sudah saya bekali dengan kuliah untuk cara presentasi. Style Lessig pun saya berikan kepada mereka. Senang juga mereka mulai bisa mengaplikasikannya (dan menularkannya kepada orang lain).



Januari 28th, 2007 at 11:46 am
Iyah..
kebiasaan kami, mahasiswa, yang tampaknya belum pernah terpecahkan solusinya..
Deadliners..
*harusnya procrastinator yah?
Januari 28th, 2007 at 8:26 pm
Begitulah mahasiswa, manusia yang tak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki, terkadang mereka merasa puas dengan apa yang mereka lakukan dan bangga, namun sedikit sekali yang dapat belajar.
saya sendiri kurang menyukai hal yang satu ini, walaupun saya sendiri adalah mahasiswa
Januari 28th, 2007 at 11:07 pm
Kadang sang “Dosen” pun sering membuat presentasi bahan kuliah dengan slide yang penuh dengan kata-kata saja. Sang “Dosen” asyik membaca slide yang mungkin bukan dia yang siapkan atau udah nggak up to date, mahasiswa asyik juga tidur atau sms-an di belakang. itulah kadang realitanya.
Januari 28th, 2007 at 11:18 pm
moga dosen juga paham ttg presentasi yang bisa tersampaikan
Januari 29th, 2007 at 1:19 am
Barrier dari model seperti ini (presentasi) adalah jam perkuliahan, cmiiw. Bisa habis waktu kalo mahasiswanya banyak ya Pak
Terjadi juga di beberapa tempat cara seperti ini sebagai excuse dosen yang malas mengajar, atau lebih sopannya: dosen yang ogah bercapek2 sendirian.
Januari 29th, 2007 at 6:32 am
Pak Budi,
Saya sangat cocok dengan ulasan di atas. Pendapat saya, slide itu adalah alat bantu untuk bercerita agar pendengar mampu memahami esensi yang diceritakan, bukan text yang dibaca oleh presenter. Dengan melihat gambar pada slide, audiens akan dapat menangkap konsep yang diuraikan. Senada dengan tulisan ini, saya pernah menulis tips memberikan presentasi di blog:
http://asnugroho.blogspot.com/2004/09/bagaimana-memberikan-presentasi-yang.html
Barangkali saja bermanfaat. Satu hal yang ingin saya ketahui, kalau tugasnya dengan cara berkelompok seperti itu, bagaimana teknik presentasi yang tepat ? Apakah hanya dilakukan satu orang saja sebagai wakil kelompok, ataukah presentasi bergiliran satu persatu sehingga semua orang dapat kesempatan ? Kalau cara pertama yg dilakukan, yang tidak presentasi tidak akan mendapat kesempatan belajar. Kalau cara kedua yang dilakukan, bagaimana cara membagi materi presentasi u/ tiap orang ?
Januari 29th, 2007 at 6:46 am
[...] oleh Anto Satriyo Nugroho on Januari 29th, 2007 Saat membaca tulisan pak BR mengenai presentasi, saya jadi teringat tulisan di blog lama yang belum sempat saya pindahkan ke sini. OK deh, tak [...]
Januari 29th, 2007 at 5:17 pm
Meski tidak pernah saya lakukan, saya menyukai presentasi kata penuh warna dan berbagai macam font yang menjadi ciri khas Tom Peters. Nggak tahu apakah karena Tom Peters-nya, presentasi seperti ini telah dilihat oleh ribuan executive mungkin sejak 1983, tahun dikeluarkannya “In Search of Excellence”.
Bagus juga kalau mahasiswa dilatih untuk bisa presentasi. Soal kendala waktu, ada baiknya mahasiswa dipaksa membentuk kelompok “Toastmaster” mereka. Jadi sekalian ahli dan lihai tidak saja di kandang sendiri.
Terakhir yang saya tahu, Binus menyelenggarakn TM utk mahasiswa S2nya.
Januari 30th, 2007 at 3:16 pm
Ini mungkin menjadi masalah untuk beberapa orang, termasuk, mungkin karena jam terbang yang maish kurang…
Januari 30th, 2007 at 4:08 pm
Mahasiswa juga manusia, Dosen juga….. nah sekarang tergantung niatnya dan caranya untuk mencapai kesetimbangan
Januari 31st, 2007 at 5:23 pm
yahh…..gak jauh-jauh sama pak Prastowo waktu kasih kuliah Komputasi Fisika.
beliau memberi wejangan bagaimana presentasi yang baik…
Pak Budi juga dosen yang baik nampaknya…
Januari 31st, 2007 at 8:49 pm
Setuju banget, Pak! Pernah baca komentar serupa dengan yang Bapak bilang, oleh Garr Reynolds: “Don’t let your message and your ability to tell a story get derailed by slides that are unnecessarily complicated, busy, or full of what Edward Tufte calls ‘chart junk.’”
URL: http://www.garrreynolds.com/Presentation/slides.html
Februari 1st, 2007 at 8:19 pm
Tampaknya lupa bahwa presentasi tergantung audience
Untuk audience Jerman yang menyukai ditail, style seperti Lessig kurang cocok.
Februari 12th, 2007 at 4:05 pm
Apapun model yang digunakan, presentasi adalah ‘gong’ dari semua persiapan yang dilakukan, baik untuk proposal bisnis, thesis atau program kerja perusahaan.
Saya pernah terkesan sekali pada dokumen proposal sebuah perusahaan yang ikut tender perusahaan. Pokoknya di atas segalanya. Eh, begitu presentasi dilakukan, seakan mengalami anti klimaks, posisi preferensi terhadap perusahaan tersebut melorot ke tingkat yang paling rendah. Padahal yang menyampaikan CEO dari perusahaan tersebut. (belakangan kami yakini dokumen proposal disiapkan oleh satu tim, sementara sepertinya CEO tidak intens terlibat di tim tersebut). Nah, pelajaran buat para CEO
Salam.
Juni 20th, 2007 at 1:01 pm
knp sebagian dari dosen kurang mengerti kesulitan yang dihadapi mahasiswanya..mereke hanya memberi tugas tanpa memberi penjelasan yang lengkap. mahasiswa butuh pengarahan bukan intimidasi dan tekanan….cayooooo….
Juni 20th, 2007 at 1:01 pm
apaaannnnnn t
September 2nd, 2008 at 10:32 pm
seneng banget kl punya dosen yg care betul dlm mendidik mahasiswanya, sampai masalah presentasi dididik dengan baik.