Tulisan ini saya ketikkan dari Convention Center hotel Westin di Nusa Dua Bali. Acara yang saya ikuti adalah 8th Asia Open Source Software Symposium. Acara di Bali ini sebetulnya merupakan rangkaian dari beberapa acara, seperti codefest di Bandung. Puncaknya ya di sini.
Kemarin, Senin (12 Februari 2007) sudah ada acara pendahulan di Swiss hotel, dimana beberapa Pemda di Bali diundang untuk melakukan diskusi dan beberapa pengalaman dari beberapa pihak diceritakan dalam bentuk presentasi singkat. Pada acara ini pak Cahyana, Dirjen APTEL Kominfo, memberikan pembukaan.
Setelah itu dilanjutkan dengan presentasi dari pak Engkos Koswara (LIPI), yang menceritakan pengalaman IGOS (Indonesia, Go Open Source!). IGOS bukan distro lho. IGOS yang dimaksud di sini adalag IGOS movement.
Kemudian pak Agung dari Jimbaran Jembrana menceritakan pengalaman e-gov mereka. Sayangnya open source baru digunakan di sisi server, tapi mereka masih mencoba maju terus.
Presentasi berikutnya dari pak Indra Utoyo (Telkom) yang menceritkan pengalaman Telkom dalam mengimplementasikan open source. Selanjutnya adalah pak Taufik Hasan (Research Develepoment Center, PT Telkom) menceritakan pengalaman mereka dalam menggunakan dan mengembangkan produk berbasis open source.
Pagi ini, Selasa 13 Februari 2007, saya mengikuti acara simposium di Westin. Acara sedang berjalan. Acara dibuka dengan pidato seremonial dari Jepang, Pemda Bali, Kominfo (pak Aswin Sasongko), dan Deprin (pak Budi).
Saat ini saya sedang mendengarkan pidato dari pak Kusmayanto Kadiman (yang baru tiba beberapa menit yang lalu). Pak KK menceritakan tentang acara di Sukabumi dan latar belakang tentang open source (misalnya IGOS). Mudah-mudahan ada “exchange codes” di acara ini, kata pak KK. Betul juga ya, tapi somehow I doubt it, pak.
Update: Presentasi dari orang Jepang … pakai Microsoft Office. Saya lihat notebook para peserta, OS-nya kebanyakan Microsoft Windows.
Namun ternyata ada juga yang akhirnya mereboot untuk lari ke Ubuntu. Malu kali?
Informasi mengenai AOSS ada di: http://www.asia-oss.net/
[Saya akan update secara berkala. Ada WiFi di ruang simposium yang diberikan oleh Centrin, tapi sayangnya cukup mahal euy. Akses 4 jam harganya adalah Rp 120 ribu. Halah. Apa boleh buat, harus akses Internet nih. Update... Sekarang sudah ada akses WiFi gratis yang diberikan oleh Telkom. Horee...]



Februari 13th, 2007 at 9:46 am
kalau kata orang -dan saya:) : open source setengah hati.
jadi presentasi mathematics-engineering nya bisa dinikmati secepatnya dong pak.
Februari 13th, 2007 at 9:51 am
hmmm… sepertinya ‘mengubah kebiasaan’ itu bukan hal yang mudah…
Februari 13th, 2007 at 10:19 am
Kalau di Indonesia MS Windows itu memang open source. Maksudnya penjualnya berjualan secara terbuka alias terang-terangan. Karena penjualnya terang2an berjualan MS Windows (walau pun bajakan), maka bolehlah kita menyebutnya sebagai: Open Source.
(** Kaboor **)
Februari 13th, 2007 at 11:35 am
120 ribu utk 4 jam ? Mending pake XL 3G. Malesbanget dipalak segitu utk wifi
Saya ikut APAN meeting di Sheraton Manila, sampe malem sudah selesai meeting pun wifinya masih dinyalakan, dan gratis!
Februari 13th, 2007 at 2:20 pm
Pak OWP koq gak ikutan yak…
setau saya OWP lah pakar dibidang ini, selain memasyarakatkan OSS juga meng-opensource-kan tulisan2 beliau
*summon OWP*
Februari 13th, 2007 at 2:35 pm
kira-kira, buah tangan yang nanti akan dibawa dari penyelenggaraan AOSS apa pak sebagai hasilnya? pada siapa buah tangan itu ditujukan? Industri kah? Pemerintahan kah? atau perseorangan kah?
goal pelaksanaan AOSS ini sendiri apa pak untuk keberlangsungan IGOS-nya?
Februari 13th, 2007 at 7:38 pm
langkah pemerintah perancis mendistribusikan 175.000 portable open offices aplikasi dalam usb ( jalan dalam windows) , untuk kalangan sekolah langkah yang bagus. Sistem operasi tetap windows tak apa, bukannya ada versi oem dan beberapa dibundel dalam komputer… mulai dari aplikasi gratis dulu. Linux kan seringkali terkendala dengan aplikasi khusus lain yang tidak ada versi linuxnya….
open source juga ada yang jalan pada windows kan…
linux is like sex, its better when its free… he3
kitakan ga terbiasa dengan free sex..
Februari 13th, 2007 at 8:11 pm
Pak budi… itu ada salah tulis. pak agung itu dari kab Jembrana bukan jimbaran. kalo jimbaran itu yang terkenal ikan bakarnya pak.. bukan open source
hehe… kapan kapan maen ke toko dong pak
“Kemudian pak Agung dari Jimbaran menceritakan pengalaman e-gov mereka. Sayangnya open source baru digunakan di sisi server, tapi mereka masih mencoba maju terus.”
Februari 14th, 2007 at 8:22 am
He he he, lucu ya, lha wong acaranya tentang open source, eh ternyata banyak pembicara persentasinya memakai JENDELA. Kayaknya mereka memang masih setengah hati, di mulut ok open source, tetapi di kenyataan pakai JENDELA.
Februari 15th, 2007 at 12:27 am
he3..meski presentasinya masih pake JENDELA..tapi tak apa..asal menuju ke arah JENDELA RUMAH KITA SENDIRI..maju terus Indonesia!
Februari 15th, 2007 at 10:01 am
Susah juga ya Pak, mau revolusi kok setengah hati.
, Jendelanya terbuka terlalu lebar kali ya… ketahuan deh gak bisa meninggalkan Jendela.
Ternyata masih ada yang malu-malu buka Ubuntu
Februari 15th, 2007 at 10:09 am
koreksi: pak Koswara dari Ristek.
ketika presentasi, pak Koswara pakai IGOS Nusantara (IGN)
CD Foto yang saya berikan ke pak Budi apakah sudah dilihat pak?
fyi
comment ini pakai wireless gratis di Westin Resort + Vaio + IGN
Februari 15th, 2007 at 10:55 am
Proses sosialisasi open source memang harus bertahap, karena ini berkaitan dengan budaya dalam pemamfaatan IT. Di negara kita udah terlalu pengen yang praktis dan berasumsi yang praktis itu yang berlisensi
Februari 15th, 2007 at 7:38 pm
Wah .. begitu ya pak .. saya salut dengan kejelian bapak, tapi apakah yakin para peserta mau susah-susahan sedangkan pintu mobilnya aja dibukain orang pak .. hehehe, saya cuma khawatir saja nanti UUD .. ya dari pengalaman yg sudah-sudah .. salam sukses pa budi
Februari 15th, 2007 at 8:52 pm
Update: Presentasi dari orang Jepang … pakai Microsoft Office. Saya lihat notebook para peserta, OS-nya kebanyakan Microsoft Windows.
Namun ternyata ada juga yang akhirnya mereboot untuk lari ke Ubuntu. Malu kali?
)
Toh yang mereka buat khan program open source entah itu di platform open source maupun tidak ^_^ (kalau yang lari ke Ubuntu itu karena kemarin developnya di Ubuntu, ketinggalan
Jujur memang saat codefestnya, hampir seluruhnya memakai MS Windows (rekan-rekan dari ITB pakai yang campus agreement, jadinya legal). Mungkin memang rata-rata merasa lebih nyaman pada IDE/Tools (baik free atau commercial) yang disediakan untuk platform MS Windows daripada IDE/Tools untuk platform open source ^_^ (masalahnya pada kebiasaan, sih)
Intinya meski di lingkungan non open source (nan legal), jiwa tetap open source
Februari 16th, 2007 at 4:15 pm
Petra: ngga seluruhnya ah, kami peserta dari luar umumnya menggunakan linux, mas eko pake mandrake, gue-apung-ifnu-roberto pake ubuntu, fuad-irfan pake kuliax dan timnya niibe-san debian (tentunya
)
Info codefest ada di: https://members.fsij.org/trac/codefest-asia-2007/wiki
Sayang Pak Budi pulang duluan, pingin ngobrol padahal
Februari 16th, 2007 at 8:18 pm
Yah, kalau begitu terbukti khan saya salah ^_^
Banyak yang pakai Linux juga berarti.
Februari 18th, 2007 at 1:02 am
Ada beritanya di sini:
http://www.linuxinsider.com/rsstory/55751.html
Februari 19th, 2007 at 1:49 pm
Pak, saya Dewi yang waktu itu ngurusin registrasi di AOSSS 8. Ehm,, saya bertugas mengumpulkan presentasi dari peserta-peserta overseas. Kalo presentasinya sih gak banyak yang pake MS Office, tapi registration form nya hampir smua pake MS Office.
Butuh waktu untuk berubah,,,