Hari Sabtu kemarin saya memberikan presentasi di seminar orang-orang Matematika di kampus ITB. Nama acaranya adalah International Conference on Graph Theory and Information Security (ICGTIS) 2007. Pesertanya semua dalah orang-orang yang berlatar belakang matematika dari seluruh dunia. Pesertanya lebih banyak orang asingnya daripada orang Indonesianya. Mungkin saya satu-satunya peserta yang berasal dari jurusan Elektro? (Dalam diskusi nantinya saya tahu bahwa ada juga orang asing yang undergradnya adalah jurusan elektro, tapi melanjutkan pendidikannya di computer science. Mungkin dia sekarang berada di computer science.)
Topik saya adalah usulan untuk membuat “jembatan” (bridge) antara orang teknik (engineers) dan orang matematik (mathematics). Problemnya adalah dunia rekayasa (engineering) membutuhkan matematika untuk membuat desain yang handal. Sayangnya banyak pelajaran matematika yang “terlalu science” sehingga membosankan dan tidak dimengerti oleh mahasiswa rekayasa.
Presentasi saya adalah sebuah permohonan untuk komunitas matematika, khususnya yang di Indonesia, untuk mencari jembatan-jembatan yang dapat membuat engineer lebih memahami matematika (dan menghasilkan solusi yang lebih berkualitas).
Makalah dan materi presentasi sudah saya simpan di web site saya (budi.insan.co.id). Tepatnya mereka berada di bagian articles dan presentations. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat.


Februari 13th, 2007 at 10:46 am
ide bagus, jadi bisa lebih mudah dipakai sebagai ilmu terapan, tidak sekedar deretan rumus-rumus dan notasi belaka
dulu dari sd sampai sma matematika jd pelajaran favorit saya, eh ketika kuliah dan ketemu makhluk2 yang bernama kalkulus, aljabar linear dkk, kok jadi ilfill ya?
Februari 13th, 2007 at 2:27 pm
Sebagai seorang eksperimenter bonek, saya punya pendapat yang berbeda. Menurut saya, yang bermasalah itu bukan matematika-nya atau matematikawan-nya melainkan engineernya. Saya punya pengalaman “aneh” tentang hal itu ketika masih kuliah dulu. Seorang teman yang kuliah di jurusan elektronika, sering bertanya ke saya tentang masalah penyusunan logic gate dan relay. Karena sering ditanya, iseng-iseng saya buka-buka bukunya untuk saya pelajari bagian yang sering dia tanyakan dan ternyata tidak ada yang terlalu sulit kalau tidak mau dibilang sangat mudah dan sederhana. Setelah cukup lama saya bergaul dengan teman-teman elektro lainnya, baru ketahuan duduk perkaranya kalau ternyata mereka “alergi” belajar matematika ( logika bolean ) yang celakanya justru merupakan prasyarat untuk mempelajari logic gate. Hikmah untuk saya, saya masih menguasai penyusunan logic gate sampai sekarang. Hikmah untuk mereka, mereka jadi sadar bahwa ilmu pengetahuan tidaklah terkotak-kotak dan akan berkembang serta bermanfaat ketika telah menyatu dalam diri menjadi kompetensi yang menghasilkan karya nyata. Terimakasih dan salam eksperimen.
Februari 13th, 2007 at 2:37 pm
Ditunggu hasil unggahannya..
Februari 13th, 2007 at 2:57 pm
sebagai orang matematika saya berpendapat bagus
Februari 13th, 2007 at 5:16 pm
boleh di download makalahnya ya pak
thank’s
Februari 14th, 2007 at 11:57 am
Saya melihat dari sisi Matematika (juga Fisika di masa kuliah saya) untuk layanan engineering, para dosennya masih berparadigma science. Akibatnya banyak materi yang tidak tepat sasaran.
Engineering toh tidak terlalu membutuhkan solusi analitis atau hitungan di atas kertas. Cukup dengan metoda numerik, komputasi numerik, atau apapun caranya, yang penting tujuannya tercapai, benar dan CEPAT, ya titik.
Bahkan dalam aplikasi di dunia industri, seringkali kita tidak boleh lagi menggunakan hitungan analitis dengan tangan atau program bikinan sendiri, walaupun bisa jadi benar.
Toh sekarang sudah masanya aplikasi engineering dengan komputasi numerik, bukan dengan lagi mencari solusi persamaan diferensial secara analitis, yang dari sudut pandang engineering cuma buang-buang waktu dan akrobatik saja.
Sangat disayangkan, Matematika yang menjadi mata pelajaran favorit saya di SMA ternyata dalam perkuliahan di ITB menjadi sangat tidak apresiatif apalagi inspiratif. Saya tidak percaya masalah ada di Matematika-nya, melainkan pada penyampaiannya.
Salam
Februari 16th, 2007 at 5:49 am
makanya saya dulu dari MIPA MATEMATIKA UGM pindah ke ELEKTRO UGM…. MATHEMATICS….. PUSEEEEEEEEEEENG!
Februari 16th, 2007 at 1:35 pm
Pak Budi,
Seberapa jauh pak Budi sendiri sudah memanfaatkan momen ICGTIS untuk merintis jembatan tsb? Saya dengar dari panitia pak Budi hanya ngomel2 dan ngga lama setelah presentasi pergi.
Ibaratnya para engineers ada di pulau B dan para matematikawan di pulau A, kesannya koq pak Budi berharap orang2 di pulau A yang membangun jembatan tsb sementara orang2 di B menunggunya. Koq enak.
Saya melihat teman2 di KK Matematika Kombinatorika telah mengajak pak Budi untuk berkomunikasi lho. Adakah yang pak Budi telah lakukan sebaliknya?
Tabik,
Hendra
Februari 16th, 2007 at 1:46 pm
Komentar saya sebelumnya koq ngga muncul ya?
Saya ulang sedikit saja: Apa upaya yang telah pak Budi sendiri rintis untuk membangun jembatan tsb? Panitia ICGTIS sudah merangkul pak Budi, sementara pak Budi sendiri ngga lama setelah presentasi pergi. Bagaimana mau membangun jembatan pak?????
Sepertinya koq ada attitude “everyone is wrong but me” di sini. Come on!
Hendra
Februari 16th, 2007 at 2:48 pm
Wah pak Hendra hanya melihat dari SATU acara saja. Kan sebelumnya saya juga banyak bergabung dengan orang matematika pak. Dengan pak Edy Baskoro sudah banyak ketemu (untuk urusan security). Kemudian saya juga mencoba meningkatkan minat engineer terhadap matematika dengan menggunakan “bahasa orang engineer” (is there such a thing?), seperti dalam kuliah saya (formal methods) yang sayangnya terlalu susah. Dulu saya juga sempat main ke tempat ibu Andonowati. Oh, btw, saya juga MEMBIMBING mahasiswa matematika
dll.
Pak Hendra kelihatan DEFENSIF sekali. hi hi hi. Padahal kalau membuat jembatan itu harus dari kedua pihak. Tentu saja harus ada reaching out dari orang engineering juga. Tidak bisa saling menyalahkan. Point yang saya sampaikan juga tidak menyalahkan orang matematika pak, tapi mencari jalan keluar.
Kalau cerita yang menyalahkan orang matematika … itu lain kali saja. ha ha ha.
Februari 16th, 2007 at 3:05 pm
Saya nggak tau situasi sekarang, tapi kalau semasa kuliah dulu, dosen MA kok terkesan alergi sama metoda numerik yah … atau pokoknya apapun yang berbau-bau ‘tricks on mathematics’ yang pokoknya menghalalkan segala cara untuk mencari solusi. Padahal itu cara kita para engineer.
Salam
Februari 16th, 2007 at 3:16 pm
komentar saya,
sebernarnya dasar dari komputer adalah logika matematika, dimana yang saya ketuhui metode matematika banyak digunakan di komputer seperti fuzzy logik,tory graph dll.dan jika dikembang pasti baik,pada dasarnya yang saya lihat dari mhsa engineer hanya masalah itu-itu aja yang dibahas dan tidak akan berkembang contohnya kalau jurusan teknik elektro yang dibahas cuma rangkaian logika boolean dan orang matematika juga membahas,padahal aljabar boolean sangat luas tapi dibahas di teknik hanya dikit ya gimana caranya??tongak dari Ilmu pengetahuan bukan engineer,karena engineer hanya terapan tanpa dasar gak akan bisa deh,kalau aspek global indonesia tidak akan maju kalau ilmu dasar tidak didukung
Februari 16th, 2007 at 3:39 pm
Salah satu contohnya, teori fuzzy logicnya Tuan Zadeh, so far setau saya ndak ada di kamusnya pure mathematician. Setau saya ini kan teori akal-akalannya Pak Zadeh sang engineer.
Implikasinya, sampai sekarang, sebagian engineer (khususnya Power Engineer) nggak percaya dengan Fuzzy Logic dan Modern Control, karena secara matematis nggak bisa dibuktikan batas kestabilannya.
Mungkin juga ini terjadi dalam ANN dan emerging theory lainnya. Kang Budi mungkin lebih tahu.
Salam
Februari 16th, 2007 at 8:34 pm
Pak Budi,
Saya DEFENSIF? Saya NYERANG pak Budi lho.. dan saya menilai jawaban pak Budi yang justru DEFENSIF — ha3x.
Nah koq jadi saling menyalahkan. OK lah, saya mengaku salah telah menyalahkan pak Budi berdasarkan “satu” acara tsb saja. Saya beri tanda kutip karena selama ini saya juga membaca email2 pak Budi di milis dosen ITB.
BTW, saya sangat setuju bhw kedua belah pihak harus bersama-sama membangun jembatan tsb. Saya sendiri sedang melakukan itu. (Tidak perlu saya sebut secara eksplisit di sini kan? Nanti dituduh DEFENSIF lagi, hi3x!)
Barangkali kita (mis. pak Budi dan pak ETB yang sudah jelas-jelas terkait) harus lebih banyak berkomunikasi. Indikator suksesnya adalah: pak Budi ngga teriak2 lagi soal perlunya membangun jembatan tsb (karena jembatannya sudah terbangun). Apakah saya yang harus MENDESAK pak ETB agar lbh proaktif? Ybs akan bilang, “saya kan baru mengundang pak Budi sbg INVITED SPEAKER, tapi …” (silakan teruskan sendiri).
Untuk kita berdua, sekali-kali kita perlu KOPI DARAT pak, seperti yang pernah pak Budi usulkan di milis dosen. Call me anytime you like!
HG
Februari 20th, 2007 at 7:26 pm
Pak Budi,
Sebagai salah satu panitia dan peserta ICGTIS, saya sebenarnya senang sekali dan sangat menghargai bahwa Bapak bisa memberikan invited talk.
Namun, sebenarnya (mengutip Pak ETB) tidak cukup hanya membangun jembatan dan lagi (mengutip Pak Ansjar) jembatan itu sebenarnya sudah ada. Tinggal bagaimana mengajak – kalau tidak memaksa – orang lain untuk mau melalui jembatan itu. Kalau kita sendiri ga mau lewat, apa orang lain mau kita suruh lewat?
Saya bisa menangkap “kekecewaan” Pak ETB dan Pak Hendra di sini. Salah satunya mungkin karena Bapak tidak terlalu mengakomodasi audience Bapak di ICGTIS. Bukan mathematicians yang hanya bekerja for the sake of mathematics saja, Pak, tapi sebagian besar adalah graph theorists yang “rumah”nya bukan di MA, tapi di CS atau IT. Ada Brendan McKay (yang kritiknya terhadap New York Times bestseller “Bible Code” sempat membuat Michael Drosnin kepanasan), ada Jan Kratochvil (deputy director DIMATIA, salah satu counterpart Rutgers-Princeton-AT&T’s DIMACS), ada Janet Aisbett (profesor IT yang betah seharian mendengarkan bla-bla-blanya mathematicians), dll dll. Orang-orang yang sehari-harinya sudah berjalan-jalan (mungkin bolak-balik) di jembatan yang baru akan dibangun itu (imaginary bridge dong?).
Jadi, IMHO akan lebih bermakna kalau para matematikawan ini bisa diberikan real dan specific problems (seperti yang diminta Gyula Katona pada Bapak) yang bisa mereka (kami?) kerjakan (syukur-syukur diselesaikan) dalam kapasitasnya sebagai mathematicians. Which, at the end, shows that we are ready and willing to cross that bridge…
]
[Dalam pidato pembukaan saja bisa ada specific problems kok, Pak
Salam,
-rino
PS. Seru juga nih membaca komentar-komentarnya
Februari 20th, 2007 at 9:22 pm
Sebetulnya pendapat mengenai engineers dan matematika bukan hal yang unik (satu-satunya). Ada banyak essay lain yang “mempertentangkan” engineers dengan scientists (misal computer science), atau engineers dengan ahli ekonomi (seperti baru saya dapatkan dalam sebuah email dari sebuah milis). Pandangan saya bukan unik milik saya sendiri akan tetapi pandangan banyak engineers. Point yang ingin saya ungkapkan juga bukan original dari saya. Bob Colwell misalnya juga mengungkap hal yang sama.
Event ICGTIS kan hanya SATU event dari sekian banyak kegiatan. Jadi mestinya tidak hanya moment itu saja yang perlu kita soroti akan tetapi juga moment lainnya. (Pak Ansyar di milis dosen bahkan memberikan lebih banyak contoh “jembatan2″ yang pernah dilakukan.)
Oh ya, BTW, saya juga sempat terpesona dengan banyak hal di matematika (dan lebih spesifik graph theory). Binary Decision Diagrams – yang dipopulerkan oleh R. Bryant (orang computer science), misalnya – sempat dan masih menarik perhatian saya. BDD ini sangat efisien untuk digunakan dalam merepresentasikan rangkaian digital. Lebih jauh lagi ada beberapa sifatnya yang memudahkan untuk digunakan dalam memanipulasi rangkaian logika (misalnya dalam mereduksi term, dan sebagainya). Implementasi dari CAD tools biasanya menggunakan hal ini. Untuk kasus sederhana seperti ini saja sudah melibatkan banyak pihak: orang EE (untuk aplikasinya), orang CS (untuk programming CAD toolsnya), orang Math (untuk fondasi dan matemathical tools). Ini hanya sekedar contoh bagaimana matematika digunakan di dalam engineering.
Mengenai matematikawan diberikan real and specific problems, ya jangan minta disuapin dong. (Jangan marah ya! ha ha ha.)
Februari 23rd, 2007 at 9:11 pm
Kalau pegangan saya sih paper ini pak:
“Where Mathematics Meets Internet by Walter Willinger & Vern Paxon
1998.”
Februari 24th, 2007 at 11:10 am
sebagai mahasiswa engineering saya setuju sekali dengan statement bapak yang satu ini.
> Sayangnya banyak pelajaran matematika yang “terlalu science” sehingga membosankan dan tidak dimengerti oleh mahasiswa rekayasa.
Februari 26th, 2007 at 2:46 pm
Pak Budi
Tapi kebetulan kalau jembatan gantung ( yang menjembatani matematikawan dan insinyur ) itu bergoyang karena efek beban seesawing. Mohon diperiksa apa matematika jembatan gantung dilokasi http://getuk.wordpress.com/2007/02/18/8-menghentikan-goyangan-jembatan/
ini apa sudah lumayan….kalau belum ya mohon diberi pandangan …teorema atau metateorema yang mana..yang cocok
Terima Kasih
Maret 2nd, 2007 at 1:56 pm
akoe belum mau comment tapi akoe senang ada yang mau membicarakan hal ini.. akoe orang economi yang bekerja keseluruhan dengan orang tehnik..
Agustus 28th, 2007 at 6:24 pm
ide yang bagus..
saya berharap analisisnya terwujud lebih cepat lebih baik..
tolong kabari ke email saya..
saya ingin belajar juga..
terima kasih sebelumnya
September 7th, 2007 at 6:22 pm
saya juga setuju,,,,,, kebetulan saya adalah mahasiswa baru dari univ.mulawarman samarinda,,, saya belum tau jelas tentang matematika rekayasa,, sya harap bisa diberi gambaran tentang itu,,,tolong kalau sudah membacanya kirimkan ke email saya ya,, trims,,,
September 19th, 2007 at 11:36 pm
Basic saya engineer. Saya suka matematika. Secara praktis, yang diperlukan adalah riset bersama antara dosen dan mahasiswa matematika dengan engineering. Bentuk tim yang beranggotakan dosen dan mahasiswa matematika sekaligus engineering. Cari sebuah topik yang bersifat real problem solving dan sekaligus membutuhkan dasar matematik yang cukup dalam (misal: kestabilan sistem ANN, analisa protokol payment system dengan menggunakan teori automata dll). Jadi, secara eksplisit kita tidak memerlukan istilah ‘jembatan’. Pokoknya: just do it, do the riset!