Saya punya kebiasaan untuk mengatakan apa adanya. Ini yang saya sebut kejujuran dalam tulisan ini (for the lack of better word, mungkin bisa menggunakan kata “keterbukaan”, “kepolosan”?). Sayangnya ternyata kejujuran ini tidak bisa diterima oleh banyak orang.
Kemarin, misalnya, ketika memberikan presentasi dan saya ditanya sesuatu yang tidak saya mengerti dengan cepat saya menjawab “Hmmm … saya tidak tahu jawaban yang benar, tetapi … [kemudian saya menjelaskan beberapa kemungkinan jawaban”. Menurut banyak orang, mengakui bahwa kita tidak tahu dalam sebuah presentasi seperti itu kurang baik. Banyak orang yang beranggapan bahwa ini bisa menjatuhkan kredibilitas dan memang ini terjadi. Kemarin, misalnya, bos klien kami tersebut merasa bahwa saya kurang kompetent. Padahal para peserta seminar menurut saya malah merasa suka dengan suasana yang terbuka begitu. Mereka menjadi lebih mudah dalam bertanya karena tidak berhadapan dengan orang yang sok tahu. (Sudah tidak tahu, sok tahu pula! Alamak!)
Bayangkan, ini kejujuran kepada keterbatasan (ketidakmapuan) diri sendiri saja sudah dipermasalahkan oleh orang. Apalagi kalau yang kita katakan adalah fakta dari orang lain atau lawan bicara kita. Dugaan saya mereka lebih tidak bisa terima lagi. (Denial? Defensif?)
Memang ada sisi lain dari kejujuran, yaitu kepatutan atau kesopanan. Misalnya, ada seseorang wanita yang tua atau gendut yang menanyakan kepada Anda apakah dia tua atau gendut? Apakah Anda berani menjawab dengan jujur? Ha ha ha. Saya yakin Anda akan mencari jalan untuk melarikan dari dari pertanyaan tersebut.


Februari 21st, 2007 at 6:31 am
Mungkin bos klien tersebut menganggap pertanyaan yang muncul pada saat presentasi adalah semacam ujian buat pak Budi, yang beliau harapkan bahwa seharusnya pak Budi mengetahui jawabannya. Jadi kalau ada 5 pertanyaan, satu tidak dijawab.. berarti kompetensinya hanya 80%..
Saya pribadi setuju dengan prinsip pak Budi untuk jujur terbuka. Daripada kita memberikan jawaban ‘kira-kira’, kemudian jawaban tersebut menjadi ‘dasar’ bagi tindakan orang lain. Katanya, ‘dosa’-nya kita ikut menanggung juga.
Ucapan seseorang seperti pak Budi kalau ketahuan khalayak bahwa itu hasil sok tahu bisa berakibat lebih cacat kredibilitas yang lebih parah.
Februari 21st, 2007 at 7:47 am
Meski ada respon seperti itu, saya pikir tidak ada yang salah dari cara Pak Budi.
Hal Ini terjadi lebih karena beda cara pandang saja. Kalau Pak Budi merubah style, nanti malah aneh, mengurangi kredibilitas dan tidak tulus jadinya.
Jujur apa adanya lebih baik karena tiada beban. kalaupun proyek lepas dari tangan, bapak tidak ada beban. Toh masih ada proyek lain yang membutuhkan kejujuran bapak
BTW, analogi bapak kurang tepat tuh. Kalau saya ditanya sama wanita tua dan gendut, “saya gendut nggak ?”, saya tinggal bilang, “Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Nggak sekedar gendut kok, tapi gendut banget…:-)).
http://vavai.com/blog/index.php?/archives/138-Jangan-Katakan-Ya-Jika-Ingin-Berkata-Tidak….html
Februari 21st, 2007 at 8:03 am
Lari sih.. tidak..
cuma mengelak sedikit..
Februari 21st, 2007 at 8:05 am
inilah susahnya hidup ditengah2 org2 yg maunya berhadapan dengan org sok tahu bahkan penjilat…..
kejujuran itu dianggap salah dan kita yang berusaha untuk menjadi jujur menjadi bumerang akan situasi yg aneh ini
Februari 21st, 2007 at 9:22 am
Gw pengen jawab jujur.
Klo presentasi, biasanya gw kurang suka klo presenternya pas ditanya ga lancar menjawab. Krn bagi gw, presentasi biasanya adalah hasil kegiatan (penelitian, praktek) si presenter. Rasanya buang2 duit dateng buat denger presenter asal nyomot.
Klo workshop, seringan antara peserta ama presenter sama2 ngulik bahan yg dibawakan presenter. Wajar klo ditanya dia ngeles satu dua. Namanya jg workshop.
Klo gw ditanya ama cw gw doi gendut ato tua, maka gw jawab, iya dia gendut dan tua. Prempuan kan suka gitu. Pertanyaannya suka aneh2.
Utk kasus Mas Budi, gw ga hadir presentasinya. Mana gw tau situasinya. Klo itu diluar kepakaran Mas Budi, gw bakal nyolot ke panitia. Knp BR diundang topik beginian? Krn gw percaya klo Mas Budi ngasih presentasi bukan buat uangnya.
Februari 21st, 2007 at 9:28 am
Bukan salah berkata jujurnya pak, tapi salah dalam menyampaikan ketidaktahuannya. Dulu waktu saya mendapat kuliah business communication, saya diajarin jangan sekali2 bilang kata yang negatif, cth: tidak, ragu, mungkin, dsb. Jadi, kalau bapak tidak tahu jangan bilang ‘tidak tahu’ tetapi langsung saja bilang kemungkinan2nya atau ganti dengan kata yg lbh positif
Februari 21st, 2007 at 9:36 am
Kalau ditanya ‘gue tua, gak?’, tanyakan balik saja. Usiamu berapa? Menurutmu kamu tergolong tua ngga?
Kalau ditanya ‘gue gendut, gak?’, tanyakan balik lagi. Berat badanmu berapa? Berat badan berapa yang menurutmu pantas dibilang gendut?
Dengan begitu dia akan menarik kesimpulan sendiri, suka atau tidak suka dengan kesimpulan yang dibuatnya. Kalau dia jadi sebel sama saya, saya punya jawaban pamungkas,
“Kalau kamu pikir kamu ngga begitu atau kamu puas dengan diri kamu sekarang, ngga usah pikirin apa yang orang pikir. Tapi kalau peduli dengan apa yang orang pikirkan, jangan marah kalau kamu ngga suka jawabannya”.
Soal dia jadi bener-bener marah sama saya atau ngga, itu urusan belakang. Salah sendiri nanya sama saya.
Lha…. :p
Saya sendiri menghargai mereka yang mampu mengakui kalau mereka tidak tahu atau kurang menguasai. Lebih baik begitu daripada keminter. Kemlinthi :p
Februari 21st, 2007 at 9:44 am
Masalahnya bukan tidak mau jujur, karena jujur tetaplah baik adanya walau ketika seluruh manusia benci kejujuran, namun untuk kasus wanita gendut itu kita sepertinya dituntut untuk pintar memanajemen kejujuran.. Ada yang tau ilmunya?
Februari 21st, 2007 at 10:56 am
Pak, itu maksud judulnya “Tidak Untuk Setiap Orang” ya, bukan ‘Siap Orang’ kan?
Februari 21st, 2007 at 12:16 pm
sepertinya bos klien pak budi yang tidak kompeten
Februari 21st, 2007 at 12:31 pm
Yang repot kalau menyangkut soal tahu atau tidak tahu seperti yang anda hadapi. Istilahnya maju kena, mundur juga kena. Dalam situasi seperti itu, sebenarnya strategi yang anda gunakan sudah okey sekali. Dengan mengajukan beberapa alternatif yang salah satunya mengenai sasaran, itu sudah menunjukkan kompetensi anda. Mungkin retorikanya saja yang kurang pas sehingga anda “jatuh terduduk”. Mungkin lain kali anda musti lebih berhati-hati lagi supaya kalau terpaksa jatuh masih bisa “jatuh berdiri”. Terimakasih dan salam eksperimen.
Februari 21st, 2007 at 1:01 pm
kalo buat kasus yang terakhir saya punya jawabannya pak.. disuruh liat kaca aja..
Februari 21st, 2007 at 1:39 pm
Ya gak bisa njawab ya gak pa..pa… asal bukan materi pokok yang sedang diseminarkan saja. Kalau yang ditanyakan materi tambahan atau materi pelengkap dalam presentasi dgn model Andragogy (pembelajaran orang dewasa) gak tau yo bolah-boleh saja….malah bisa ditanyakan pada forum…kali-kali saja ada yang bisa…..
Februari 21st, 2007 at 2:31 pm
JUJUR itu harus, mutlak, pasti, kalo nggak jujur ya… bohong namanya…
gak ada nama lain kan?
Februari 21st, 2007 at 3:23 pm
saya sih berusaha selalu jujur, daripada nantinya malah ga tenang, tapi kadang kita memang dihadapkan di kondisi di mana kita harus memberi jawaban positif meski itu berarti berbohong (I hate it when it happen), misal wawancara kerja
Februari 21st, 2007 at 6:06 pm
kadang memang tidak setiap orang bisa menerima sebuah kejujuran, saya sendiri masih setengah2 dalam hal kejujuran yah liat-liat situasi lah.
Februari 21st, 2007 at 6:17 pm
kejujuran itu pahit jenderal
Februari 21st, 2007 at 7:19 pm
jujur merupakan tepi surga
Februari 21st, 2007 at 7:23 pm
kalo saya sih tidak mencari jalan untuk pertanyaan tersebut.. tapi akan saya jawab jujur..
“iya bu.. anda sudah tua dan gendut..”
kemudian setelah itu baru cari jalan untuk melarikan diri… :p
* kabur secepat kilat!!! *
Februari 22nd, 2007 at 5:00 am
Saya setuju dengan anda, harus tetap jujur. Tetapi dalam hal ini yang bapak katakan, “Hmmm … saya tidak tahu jawaban yang benar, tetapi … ” ini dapat menimbulkan kesan* negatif dari peserta yang berkepentingan dalam topik tersebut.
Mungkin apa yang dikatakan oleh Sdr. Iqbal itu bisa diaplikasikan dalam menjawab pertanyaan yang kita tidak 100% menguasainya.
*Ada sebuah adagium lama, yaitu: SATU ONS KESAN BERNILAI SEBANYAK SATU TON PRESTASI.
Ngomong-ngomong judulnya belum diganti pak?
Demikian komentar dari saya, terima kasih.
Budy Snake.
Februari 22nd, 2007 at 6:06 am
Kebiasaan orang Indonesia, menurut pengalaman saya pribadi, adalah mendingan “asbun” daripada jujur kalau tidak tahu!
Ada banyak cara yang bisa ditempuh kalau dalam suatu presentasi kita tidak dapat menjawab pertanyaan dari peserta. Salah satunya adalah dengan, secara jujur, memberi tahu kalau yang bersangkutan kebetulan tidak tahu persis tentang jawaban yang lengkap. Lalu berjanji untuk menindaklanjutinya melalui e-mail.
Saya justru lebih menghormati orang yang jujur daripada yang suka “asbun”
Februari 22nd, 2007 at 8:56 am
Jujur ya jujur
Tidak ada yang salah dengan berkata jujur … daripada menyesatkan banyak audience he he he
Februari 22nd, 2007 at 6:47 pm
Hallo Pak, sudah sehat?
Bukankah memang seharusnya begitu. Salah satu penguji saya waktu sidang disertasi adalah Prof. Aizawa. Saat diberi kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan, beliau bilang “sorry, sebenarnya saya nggak ngerti yang kamu kerjakan … dst”. Topik riset saya mmng agak beda dng beliau, meski sama-2 soal citra (radar vs video). Sikap rendah hati dan jujur ini selalu sy temukan pada dosen-2 di kampus saya terdahulu.
–
Februari 22nd, 2007 at 10:39 pm
menurut saya letak kesalahannya ada di kata “tidak-tahu” itu.
Kejujuran bukan lah hal yang salah, malah merupakan hal penting. Tapi cara kita menyampaikannya harus disesuaikan dengan lingkungan juga.
Misalnya dalam presentasi yang seperti anda lakukan, maka jawablah segala sesuatu yang tidak anda ketahui secara filosofis. Misalnya dengan “masalah itu diluar konteks dari apa yang saya jelaskan sekarang” trus bisa juga “mungkin masalah itu bisa kita bahas diluar forum ini”….
intinya “ngeles-ngeles” dikit, jangan langsung berkata “tidak tahu”….
yah..ini sebagai saran saja…(pengalaman pribadi)
Februari 23rd, 2007 at 9:49 am
Tergantung siapa para pendengarnya, mas. Kalau yang datang adalah para klien, calon klien, atau yang belum pernah berinteraksi dengan mas Budi, maka usul saya sih keterbukaan mas Budi perlu diperhalus. Jadi, bisa dijawab dengan: “Hmmm… pertanyaan yang menarik. Ada beberapa kemungkinan dalam hal ini…” Kalau mau, bisa ditutup dengan: “Ini pertanyaan yang bagus.” Sami mawon, tapi labih halus.
Kalau dengan kita-kita yang sudah tahu mas Budi sih sila terbuka dan blak-blakan.
Februari 24th, 2007 at 10:44 pm
Saya terusik juga membaca kata ” Jujur dan tulus ”
Saya orang Solo. Saya lebih suka kelompok musik RAJA dengan lagunya ” Jujur ” dan ” Tulus “dari pada RAJA saya di Solo. Karena tidak Jujur dan tidak Tulus menyebabkan saya punya dua RAJA.
Februari 25th, 2007 at 4:36 pm
Waduh-waduh Mas kayaknya dihadapkan untuk memilih bagaimana bersikap yang sebetulnya Mas sudah yakin tepat dan benar tuh…{ menurut saya} . Justru yang menjadi masalah lho kok ada orang yang masih lebih menyukai jawaban yang coba-coba di paksakan supaya mencoba mendapat kesan kompetensi 100% yang justru menjadi “isota”..ihh sok tau..
Karena audience yang mendengar mungkin ada yang tahu jawaban yang sebenarnya tapi diam saja.
Lagi pula saya puaz kok dengan jawaban jujur yang diberikan mas.
Lain ceritanya kalau menjawab pertanyaan orang tua gendut yang bertanya tadi he..he..