Kemarin, Kamis 1 Maret 2007, saya ikut dalam acara Sosialisasi JARDIKNAS, Jejaring Pendidikan Nasional. Jardiknas merupakan sebuah upaya Diknas untuk menghubungkan sekolah-sekolah, dinas/instansi, lembaga-lembaga yang terkait dalam sebuah jaringan komputer. Informasi lengkapnya ada di www.jardiknas.org.
Acara kemarin berlangsung di gedung POS di jalan Banda, Bandung. Pesertanya sebagian besar dari sekolah-sekolah (guru, kepala sekolah, dll.) yang berada di Jawa Barat. Sebagian besar ingin mencari tahu apakah Jardiknas ini ada manfaatnya untuk mempersiapkan Ujian Nasional (UN) yang menghantui para siswa dan sekolah saat ini.
Pada acara tersebut saya mencoba memotivasi para peserta untuk menghasilkan karya-karya digital (content) yang dapat disimpan di Jardiknas karena saya khawatir bahwa infrastruktur Jardiknas yang bagus itu akan kosong isi. Sebetulnya tidak terlalu sukar untuk membuat content tersebut. Di acara kemarin ada 500 orang. Jika masing-masing diminta untuk membuat 1 halaman tulisan mengenai apa saja, misalnya mengenai matematika atau fisika atau bahasa Indonesia, maka akan tersedia 500 halaman!
Ada ide lain. Diknas atau Jardiknas bisa membuat sebuah inisiatif seperti ini. Guru diminta untuk membuat tulisan online. Untuk setiap pembacaan tulisan mereka, diberikan nilai (point). Yang paling populer nanti diberi hadiah (bisa dalam bentuk uang atau bisa dikonversikan kepada kum untuk kenaikan pangkat?). Intinya adalah perlu ada insentif agar para guru menulis.
Ada lagi yang lebih mudah, yaitu membuatkan layanan blog untuk para guru dan dosen di Indonesia. Wah, menarik nih. Kita bisa melihat sejauh mana guru/dosen mau menulis di media publik.
Ketika ada kesempatan tanya jawab, acaranya seru. Sayangnya waktu yang membatasi jua. Ada pertanyaan mengenai pembiayaan, ketidak mampuan sekolah, dan seterusnya. Saya katakan terus terang dan keras bahwa saya paling tidak suka menggunakan kemiskinan sebagai alasan. Miskin kok bangga??? Ya saya tahu kita semua miskin, tapi saya melihat di India lebih banyak orang miskin dan mereka tidak mengeluh seperti kita. Mungkin kita ini yang terlalu manja. Kita harus cari jalan untuk mengatasi kekurangan ini, tapi kalau hanya menengadahkan tangan untuk minta-minta, saya tidak suka. Di sisi lain, kita harus mencari cara agar sekolah-sekolah terhubung ke Internet secara murah atau gratis. Ini juga yang diupayakan oleh Jardiknas.
Semoga Jardiknas sukses dan membawa manfaat bagi Pendidikan di Indonesia.


Maret 2nd, 2007 at 9:13 am
Aduh punteun pak Budi. Untuk kasus sekolah miskin jangan terlalu keras pak. Mungkin pak Budi tahu kalau ada sejumlah sekolah yang memang miskin. Dan kalau pernah betul-betul melihat sekolahnya, melihat kehidupan gurunya, melihat siswa-siswanya, sungguh, saya tak tega untuk terlalu keras. Apalagi bicara komputer, teknologi internet, masih bagaikan mimpi untuk mereka.
Maret 2nd, 2007 at 10:44 am
Untuk yan, saya bukannya tidak tahu bahwa ada sekolah miskin. Bahkan, saya tahu bahwa SEBAGIAN BESAR sekolah itu miskin (termasuk yang di luar negeri sekalipun). dan juga saya tahu bahwa mahasiswa jarang yang kaya (di luar negeri sekalipun). Setiap semester saya menandatangani permohonan beasiswa dari mahasiswa karena mereka berasal dari keluarga miskin. Ada juga mahasiswa yang hanya bisa makan 1 kali sehari. Saya tahu itu. Saya pun mengalami miskin ketika jadi mahasiwa di luar negeri juga (beli jaket harus 2nd hand karena ndak punya duit, jarang sekali nonton film, dll.).
Yang saya tidak suka adalah alasan kemiskinan untuk dikasihani. Itu saja.
Mosok beli komputer 1 juta rupiah nggak mampu, tapi punya handphone harga 1,8 juta dan ngerokok setiap hari? :p
Maret 2nd, 2007 at 11:09 am
Kondisi yang ada memang tidak bisa dipungkiri lagi. Tapi yang terpenting mencari solusi untuk bisa memperbaiki yang ada. Sosialisasi untuk isu yang kurang ‘seksi’ ini memang membutuhkan lebih dari kumpulnya orang yang berkecimpung di bidang pendidikan.
Menggandeng berbagai pihak, seperti swasta, lembaga, badan, komunitas sampai dengan individu seperti anda ini yang akan membuka mata bagi yang tidak tahu, bahwa permasalahan tidak sesulit yang kita kira.
Pemikiran sederhana, program yang realistis akan lebih kongkrit. Kabari jika ada yang bisa dibantu mas. Terima kasih atas informasi ini…
Maret 2nd, 2007 at 1:49 pm
Saya stuju dengan ide bagaimana meningkatkan taraf kehidupan keluarga dengan Teknologi Informasi. Dengan cara sekolah memiliki kemampuan dan mencetak calon-calon tenaga operator TI level SMA sehingga setelah dapat pekerjaan nantinya siswa tersebut dapat membantu perekonomian keluarganya. Dan bagi calon siswa yang tidak mampu bayar uang sekolah, dapat bersekolah dengan beasiswa atau dibayar setelah bekerja nantinya. Masalah utama bagaimana membuat seluruh SMA benar-benar bisa mencetak lulusan bermutu?.
Maret 2nd, 2007 at 3:42 pm
Mantap…. katanya KAMPUSnya di Malang yaa???
Maret 2nd, 2007 at 8:54 pm
Sayang saya tidak tahu menahu tentang jardiknas, saya diluar alur lembaga pendidikan nasional meskipun saya guru. Tapi saya pesimis dengan usaha yang selalu ujung-ujungnya proyek dan cari untung. Saya lebih bisa menikmati menulis di blog mencontoh pak Budi Rahardjo ini.
Maret 2nd, 2007 at 9:58 pm
untuk mas helgeduelbek, coba usulkan agar jardiknas bisa memberikan layanan blog untuk guru
tentu saja gratis. bahkan kalau perlu, blog yang paling populer dikasih insentif. misalnya: lomba blog guru smp … menarik tuh
Maret 5th, 2007 at 11:38 am
wow baru lihat sedikit, setuju kalau dibuat blog style, saya juga guru baru tahu ada program seperti itu, mudah mudahan ngak jadi just another project. kalopun ngak blog setidaknya ada fasilitas wiki lah, biar jadi proyek keroyokan nerjemahin buku misalnya
Maret 6th, 2007 at 2:29 am
Nanti apa gak pada lupa ngajar tuh pak,..guru-guru disuruh ngeblog…
Maret 7th, 2007 at 7:24 am
pak Budi, menurut bapak kira-kira JARDIKNAS ini (yang didanai oleh negara) bisa bertahan “hidup” berapa lama ?
pengalaman yg lalu-lalu, biasanya “proyek” pemerintah umurnya tidak panjang
Maret 8th, 2007 at 5:18 pm
jardiknas ini terpengaruh politik juga gak nantinya?
Maret 15th, 2007 at 1:17 pm
Pak budi ikut diundang juga ya..
mbuatin konten/aplikasi java mobile utk mata-kuliah D3 di lingkungan jardiknas ini.konten mobile ini diharapkan akan menjadi alternatif yg lebih murah dan mudah digunakan (kebetuan saya riset S2 ttg mobile learning)(http://java.teleforedu.web.id/) tapi saya kurang tahu apa ini ikut dilaunching atau tidak karena saya tdk bs dtg. Saya dan temen2 sedang mengusahakan utk mngembangkan aplikasi2 pendidikan mobile yg gratis dan dapat dg mudah disebarluaskan
Saya sempat membantu “kerja bakti”
Soal Jardiknas dan pendidikan berbasis ICT saya sebenarnya juga harap-harap cemas, bahwa “jalan tol” jardiknas ini jangan2 hanya dipake lewat oleh “sepeda onthel” alias bandwith/infrastruktur besar tapi miskin konten.
harusnya pihak depdiknas sendiri punya planning yg lebih matang dlm mengembangkan konten atau membangun komunitas. karena kalo terbatas pada membangun infrastruktur saja kemungkinan akan berjalan di tempat. sepert pak budi bilang, mgkn harus ada insentif khusus kalo guru rajin ngeblog ato rajin posting di milis.
saya punya rencana masukin materi ICT di penataran utk guru2 (kebetulan saya kerja di pusat penataran guru) paling tidak dua materi: 1.cara memakai google dan 2.cara ngeblog
tp after all upaya Jardiknas ini harus kita apresiasi sebagai langkah yang harus kita lihat secara positif dan tetap kita kritisi
soal kemiskinan saya ada sedikit cerita menarik. kemarin saya wisuda di ITB dan mahasiswa yg tampil di depan mewakili wisudawan adalah teman kos saya. sebenarnya sy agak kaget juga dia ternyata mhs tercepat dan cum laude(karena di kos, tampang nya tidak meyakinkan). lebih kaget lagi ketika saya ngobrol2 dg bapaknya tyt bapaknya itu petani kecil dari desa di jember yg baca tulis aja tidak bisa.ibunya bahkan tidak bisa berbahasa indonesia. utk kuliah, temen saya itu nyambi privat2 dan tyt diwisuda dg predikat terbaik (saya baru sadar tyt cerita2 bgini bukan cuma dongeng..)
Jadi, miskin bukan alasan kan..?
April 14th, 2007 at 5:17 pm
Pak Budi,
salut dengan usaha dan segala usulannya. Saya dukung. Saya guru TK dan aktif menulis di surat kabar setempat. Selain berbagi pengalaman juga sekaligus untuk menunjukkan kalau profesi guru bukanlah profesi kelas dua seperti yang kadang dianggap orang selama ini. Menulis adalah salah satu cara untuk menunjukkan kompetensi kita.
Mengenai masalah kemiskinan, kalau selamanya terus-terusan dipakai alasan, kapan majunya??? Sampai beberapa tahun ke depan, sangat sulit untuk memberantas sama sekali yang namanya kemiskinan, yang penting usaha, usaha, dan usaha.
April 19th, 2007 at 1:03 pm
Pak Budi, yth.
Saya setuju buanget, adanya JARDIKNAS, namun sekolah kami belum tersentuh dengan program ini, artinya sekolah kami belum pernah mengikuti sosialisasinya. walaupun seperti itu, di sekolah sudah empat tahun lalu udah punya koneksi internet ke beberapa ruangan dan semua lab. komputer bahkan awal tahun ini udah dapat menikmati fasilitas internet di lingkungan sekolah tanpa kabel (Wifi). jadi kalo ada kegiatn JARDIKNAS tolong sekolah kami diikutkan berpartisipasi. sebelumnya atas nama keluarga besar SMA negeri 2 Makassar mengucapkan banyak terima kasih. wassalam
April 24th, 2007 at 4:33 pm
Saya setuju dengan pak Budi, bahwa kemiskinan jangan jadi alasan untuk tdk berkembang atau tdk maju. Sebab saya sendiri merasakan di sekolah SMK PGRI 1 Cibinong ini, walaupun sekolah ini sudah cukup tua tapi perkembangan TI nya sangat sulit padahal sekolah ini kejuruan. Walaupun saya guru baru saya santer memberikan berbagai informasi kepada kepsek, guru2, waka, TU dan siswa bahwa TI sangat penting di pendidikan/sekolah. Lagi2 alasan kemiskinan digulirkan, “uangnya gak cukup, harganya mahal, gak kebayar, anak banyak yang nunggak blum bayar spp, wah pokoknya alasannya banyak. Tapi karena pendekatan kuat dan meyakinkan dalam jangka waktu 2 bulan udah dicoba dan dikabulin. benar saja begitu udah berjalan gak ada kesulitan, bikin tower 40 m, akses internet 24 jam beli beberapa komputer dan pasilitas lainnya. sebulan kedepan sudah ada beberapa prestasi dan dukungan guru2 semakin kuat, pokoknya seru …! Coba dari sekarang mulai dari yang mampu dan mudah dulu.. kalo udah berjalan saya yakin akan mengalir begitu saja. “Jangan sekali2 kemiskinan jadi alasan, kita ini dipendidikan harus berpikir kreatif dan inovatif, kalau guru2nya udah putus asa bagaimana anak didiknya, wah bisa melahirkan siswa2 mental lembek… yah minimal bangun impian dulu..lah…wong mimpi gak usah bayar…
Mei 11th, 2007 at 3:53 pm
Jardinas, sebuah kata yang bagiku sangat berharap bermanfaat bagi sekolahku. namun kebingungan dan kealpaan masih mengahntuiku. apakah gerangan itu. adakah manfaatnya buat sekolahku, aku, dan anak didikku. alangkah bijak jika semua sekolah tlah bergabung. alangkah enak jika sosialisasinya diadakan per Kota/kabupaten. Kapan sosialisasi laaaagiiiiii yaaaaaaaa !!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Mei 23rd, 2007 at 12:09 pm
dodol….dodol… semua selamat bermimpi, setalah bangun mimpi lagi deh…..
seperti pepatah tg sering diungkapkan bahwa ” negara kita itu seperti raksasa yang tertidur ” iya sih tapi masalahnya kapan bangun nya ?? itulah karena terlalu sering meributkan hal2 yg seharusnya ngak perlu diributkan. alias tenaganya keburu habis duluan. yang pada akhirnya setelah tidur keburu mati alias ngak bangun lagi.
Juni 4th, 2007 at 7:05 am
jardiknas, saya rasa sangat bermanfaat tuk pendidikan, asal jangan dicampur sama kata kemiskinan, karena kemiskinan menjadi penghalang segala niat baik tuk memajukan pendidikan di Indonesia ini. sedikit2 kita akan beralasan karena miskin, tidak punya uang, dll. fakta, banyak siswa yang mampu beli HP jutaan. Optimis, mas…
Juni 21st, 2007 at 6:00 am
Statement anda pas bener. Kekurangan dan kemiskinan bukan alasan untuk diam. Di Kabupaten Bogor, upaya untuk menyiapkan infrastruktur sekolah agar siap memasuki jejaring diknas sedang dibangun. Respon sekolah mengejutkan. Kec. Tanjungsari, yang notabene kecamatan pinggiran, ternyata setiap SD mampu mengadakan perangkat komputer, yang satu-dua di antaranya sudah ada yang mulai menjelajah di internet. Kec. Babakanmadang yang salahsatu SD rusak berat-nya dikunjungi Presiden SBY, setiap Gugus Sekolahnya(kerjasama 8-10 Sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran) masing telah memiliki laptop. Siapa bilang miskin harus diam?
Juli 16th, 2007 at 10:37 pm
saya sangat setuju dengan adanya Jardiknas sehingga dapat menperkenalkan jaringan internet ke sekolah-sekolah, terutama kami yang di kota jambi tolong sering di kirimkan informasi mengenai jardiknas, makasi.
Juli 24th, 2007 at 1:58 pm
Setuju Pak Budi, mari kita kembangkan Dunia IT di Indonesia yang salah satunya adalah mengisi “Content” yang ada pada Jardiknas. Kalau tidak Kita yang mengembangkan, siapa lagi??
September 4th, 2007 at 11:54 am
Kalau secara individu bolehlah di bilang miskin tetapi kalau suatu lembaga semisal sekolah tidak tepat, karena yang belajar beragam, bisa dong ngendong indit, sehingga sangat mmemungkinkan sekali diwajibkan setiap sekolah mempunyai komputer yang dapat onlain internet dengan demikian program jardiknas dapat dirilis setiap sekolah. Semoga deh sukses.
November 26th, 2007 at 9:46 am
Ya, benar. Kebetulan lembaga kami VEDC Malang juga ikut menyelenggarakan Pelatihan Jardiknas untuk kepala Sekolah. Untuk Pelatihan Kepala Sekolah tempatnya di Provider, sedangkan untuk Pelatihan Guru, Pustakawan dan TU tempatnya di ICT Center.
Materinya antara lain : Office Apllication , Internet, Email, Keanggotaan Komunitas Maya, Makalah Inovatif Sekolah, Profil Sekolah, Makalah e-Administration, Makalah e-Library, E-Book, Makalah E-Learning, M-Learning, Web Blog dll.
Ya,… mudah-mudahan dengan adanya Jardiknas akan semakin Maju Pendidikan di Indonesia…..
Desember 12th, 2007 at 10:52 am
Yth. Pak Budi
Saran saya kalau bisa jardiknas sampai ke pelosok desa
karena sebagain sekolah dasar sampai menengah di desa
belum tahu istilah jardiknas dan apa untungnya bagi pendidikan di Indonesia terutama di pedesaan
Desember 13th, 2007 at 1:57 pm
Pak Budi Yth,
Alhamdulillah ide atau usulan mengenai konten dan Blog guru telah dijadikan hasil FORNAS Jardiknas Malang semoga bukan hanya seremonial saja mengingat sebagian peserta Fornas Jardiknas masih belum memanfaatkan ICT ( perlu banyak orang dinas pendidikan yang ngerti )
Desember 13th, 2007 at 2:01 pm
Alhamdulillah. Mudah-mudahan akan banyak tulisan-tulisan dari para Guru. Ditunggu …
September 5th, 2010 at 10:38 pm
Semoga dunia pendidikan indonesia,bisa bangkit dan maju.