Salah satu kelebihan dan sekaligus kekurangan dari Linux adalah macam-macam variasinya. Ini tercermin dalam bentuk distribution atau distro. Ada Debian, Redhat, Slackware, Suse, dan masih banyak lainnya, lengkap dengan turunan-turuannya. Selain perbedaan distro, ada juga perbedaan di sisi kernel-nya. Perbedaan ini ternyata menyulitkan instalasi aplikasi.
Aplikasi datang dalam dua bentuk: source code dan binary. Untuk aplikasi yang berbentuk source code, kita bisa melakukan proses perakitan (compile) sendiri. Aplikasi akan terpasang di sistem kita sesuai dengan konfigurasi yang kita inginkan. Namun pendekatan ini tidak cocok untuk kebanyakan orang karena sebagian besar pengguna komputer tidak tertarik untuk jadi pengembang software. Jadi bentuk biner, yang sudah jadi, yang lebih banyak diminati.
Aplikasi biasanya tidak terdiri dari satu berkas saja. Selain berkas aplikasinya ada juga berkas konfigurasi, berkas bantuan (help files), gambar atau grafik, menu, dan seterusnya. Nah, permasalahannya adalah dimana sebaiknya kita meletakkan berkas-berkas ini? Ternyata ini masalah besar di Linux.
Ada distro yang menyimpan berkas konfigurasi di direktori “/etc” dan programmnya sendiri di direktori “/bin”. Ada yang menyimpan di “/usr/etc”, “/usr/local/etc”, “/opt”, dan seterusnya. Pokoknya banyak variasinya. Masing-masing memiliki argumentasi sendiri-sendiri. Akibatnya ini menyulitkan pengembang dalam mendistribusikan programmnya dan menyulitkan pengguna dalam memasang aplikasi yang sudah jadi.
Hal lain lagi yang juga menjadi masalah adalah masing-masing distro memiliki format package yang berbeda. Debian menggunakan “.deb”. Redhat menggunakan “.rpm”. Seorang yang menggunakan Ubuntu (turunan Debian) akan kesulitan jika mendapatkan berkas dalam format “.rpm”.
Beberapa waktu yang lalu ada diskusi di kampus untuk menggunakan program “Autopackage” dalam mendistribusikan aplikasi yang bebas distro. Setelah saya pelajari, ternyata tidak semulus yang disangka. Ternyata dia memasang aplikasi di direktori “/bin”. Wah, ini bikin masalah karena ada banyak pakem yang mengatakan bahwa aplikasi yang dipasang sendiri tidak boleh dipasang di “/bin”. Ini sama kalau di sistem Microsoft Windows adalah aplikasi yang maksa hanya bisa dipasang di direktori “Program Files”. Akibatnya ramelah diskusi mengenai Autopackage.
Akhirnya … sampai saat ini masih belum ditemukan solusi yang pamungkas dalam memasang aplikasi di Linux. (Maksudnya yang mudah gitu.)


Maret 6th, 2007 at 6:46 am
Itulah salah satu bahan rants saya tentang Linux. Cek aja di affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/
Maret 6th, 2007 at 7:37 am
Kebetulan saya barusan install2 aplikasi di OpenSUSE 10.2. Kerasa betul rumitnya dibanding Windows misalnya. Sampai2 saya sempat ngomel kalo cuma orang kurang kerjaan aja yg doyan ngoprek Linux:
http://dhani.blogspot.com/2007/03/ngoprek-opensuse-102.html
Maret 6th, 2007 at 7:53 am
Choice is good…
Untuk pengguna Debian/Ubuntu yang ingin meinginstall rpm file, bisa pakai alien untuk mengconvert rpm tersebut menjadi deb.
Para pengguna RedHat/Fedora juga dapat menginstall apt kok.
Tapi ya ini dari saya yang pengguna Ubuntu…
Maret 6th, 2007 at 10:01 am
Apa sulitnya untuk membuat tempat baru yang disepakati semua pihak pengembang sehingga ada kesesuaian untuk berbagai varian. Hehehe… saya gak tau sama sekali tentang linux hanya ingin komentar saja. Apalagi kalau inget ungkapan Gus Dur gitu sj kok repot, apakah sebegitu repotnyaka?
Maret 6th, 2007 at 10:13 am
Pantas saja Linux belum mengena di hati masyarakat.
(** Kabur **)
Maret 6th, 2007 at 10:56 am
Buat distro Nasional yang dari perintah ampai buttonnya sama, dan semua daya upaya di arahkan ke sana. Bukan hanya buat distro hanya untuk program kerja.
Maret 6th, 2007 at 11:50 am
isu standarisasi linux nih. perasaaan dulu dah keluar standar pengembangan linux. kalo sampe standarisasi gagal maka bakal susah untuk bersaing dengan MS Windows atau Mac OS
Maret 6th, 2007 at 12:36 pm
Makin banyak kepala, makin banyak ide, makin susah disatukan. Makin banyak developer yg terlibat, makin susah mencapai standardisasi. Itu logika yg sederhana.
Maret 6th, 2007 at 12:43 pm
Selain banyaknya jenis distribusi yang memiliki behaviour yang berbeda-beda, tampaknya dokumentasi untuk linux juga belum sebaik yang ada pada FreeBSD.
petunjuk step by step tentu lebih baik dimengerti daripada manual pages kan?
Maret 6th, 2007 at 1:00 pm
Sudah ada usaha standarisasi di Free/Open Source Software seperti Free Standards Group yang punya beberapa workgroup: Linux Standard Base, OpenI18N, Open Printing, dst. Yang lain seperti Filesystem Hierarchy Standard (FHS), untuk desktop ada freedesktop.org, tapi kebanyakan orang terutama perusahaan/vendor cenderung suka dengan standarnya sendiri.
Maret 6th, 2007 at 1:03 pm
Alhamdulillah saya kalau kebetulan sedang di Mac OS X pun untuk instalasi tetap tinggal ketik “apt-get install nama_aplikasi“, untuk help / dokumentasi tinggal buka /sw/share/doc/nama_aplikasi/, untuk cari aplikasi tinggal ketik “apt-cache search keyword“.
Dengan standarisasi ke satu package management software, maka pindah platform tidak lantas berarti harus mengubah kebiasaan
**tercengang lagi ketika ingat bahwa apt sudah ada sejak awal 90-an… wow**
Maret 6th, 2007 at 2:46 pm
Kutipan:
“Akibatnya ini menyulitkan pengembang dalam mendistribusikan programmnya dan menyulitkan pengguna dalam memasang aplikasi yang sudah jadi.”
Komentar:
Pengembang tidak perlu mendistribusikan program. Mereka hanya perlu sediakan kode sumbernya saja. Masalah distribusi adalah tanggung jawab distributor. Orang Debian akan melakukan pemaketan sendiri, demikian pula dengan Red Hat, Mandriva, dlsb.
Kecuali kalau si pengembang juga merangkap tukang jualan. Biasanya pakem yang digunakan adalah memasang program pada path /opt. Tapi kalau dia ngerti beragam jenis metode pemaketan, maka mereka akan mengikuti konvensi yang ditetapkan masing2 pemaket, misalnya dia akan pasang di /usr/bin dalam .deb dan .rpm, dslb.
Sebagaimana telah dijelaskan stwn sudah ada upaya konvensi penyeragaman dan beberapa di antaranya bahkan dapat dikonfigurasikan sendiri oleh si pemaket. Misalnya berkas metadata menu sebagaimana diatur oleh freedesktop.org, harus diletakkan di dalam direktori $XDG_DATA_DIRS/applications. Nah terserah si pemaket mau memasang $XDG_DATA_DIRS ke lokasi mana. Pokoknya kalau tidak diset nilainya, si program akan otomatis mencari ke /usr/local/share dan bila gagal, ia akan cari lagi ke /usr/share.
Maret 6th, 2007 at 10:45 pm
iya tuh, memang rada frustasi kalo instalasi di linux mengalami kegagalan, selain masalah paket instalasi biner dan source code, di linux seringkali applikasinya memerlukan file library tertentu yang tidak ada di distro bawaan, ini karena tidak adanya keseragaman file library antar distro.Masalah dependencies ini kan jarang sekali di temui di windows.
Maret 7th, 2007 at 3:19 am
tapi…saya yakin nanti linux akan dapat diterima di indonesia…karena makin lama semakin besar keingintahuan seseorang terhadap sesuatu (termasuk saya..baru2 blajar linux nih ehehehe)
Maret 7th, 2007 at 8:53 am
OOOOooo gitu, gimana ya?
Numpang lewat aja, numpang baca
Maret 7th, 2007 at 11:50 am
@”Saya” (mdamt): “Pengembang tidak perlu mendistribusikan program. Mereka hanya perlu sediakan kode sumbernya saja. Masalah distribusi adalah tanggung jawab distributor”
Nggak juga pak. Kadang-kadang user butuh paket yang tidak tersedia di distronya, jadi harus ngambil dari pengembang. Nah di sinilah timbul kekisruhan yang dibahas pak BR.
Source file juga bukan solusi ampuh. Saya pernah beberapa kali coba compile, tapi kepentok dependencies (saya pake linux cap bunglon). Terlalu repot buat saya. Pengennya sih kayak Thunderbird atau Firefox: download, unzip/untar, langsung bisa jalan.
Maret 7th, 2007 at 11:57 am
Selaku orang awam seperti saya ini Menunggu dan menunggu itu yang bisa dilakukan apalagi hidup di bangsa kita ini, “Sepertinya” para pakar IT kita kebanjiran order untuk mengadakan seminar dibanding duduk didepan komputer ngotak-ngatik bahasa C .. ya jelas lah lebih mudah bahasa Power Point dan Impre$$ dibanding IF ELSE ENDIF .. jadi sabar sabar sabar dan dan tunggu kata Bang IWAN FALS .. mudah-mudahan bisa terealisasi, dah lakukan sekarang apa yg bisa dilakukan …
Maret 7th, 2007 at 2:52 pm
Baru tahu nih susahnya nentuin Standar. Saya orang sgt awam ga ngerti apa yg bapak2 lg bicarakan, maklum saya mah pengguna Windows tok. Pernah nginstall linuks tapi sering gagal, kalopun berhasil malah ga bisa dengerin musik, ga bisa ngapa2in cuman bisa open opis aja. Berarti linux ga bisa yah kayak Windows tinggal format terus install, jadi deh kita punya OS yang bisa digunakan. Terus kalo mu nginstall program tinggal double klik terus muncul wizard2 gituh. Berarti kalo gitu mah Linux teh masih jauh dari down to earth. Masih banyak yg harus dikerjakan yah..
Maret 8th, 2007 at 12:15 am
banyak pilihan itu bagus..
tadi nginstall gdm dan gnome di kubuntu.. tiba-tiba sekarang linux saya yang sudah diinstal beryl jadi kacaw kde sama gnome rusak semuah.. eh akhirnya lari ke fluxbox :-p
tapi kalo sekarang sih lagi pake windos
tuh kan, enak kalo banyak pilihan..
Maret 8th, 2007 at 5:49 am
Standarisasi kayaknya gini deh:
1. Ambil source code program.
2. Diekstrak ke direktori temp
3. make
4. make install
5. Program siap digunakan
kelemahan: source code harus dicompile oleh linux terlebih dahulu. kecepatannya bervariasi antara 1 detik – berjam-jam.
Maret 8th, 2007 at 7:13 pm
linux bisa saya katakan pisau bermata dua, tergantung dari penggunanya. Di satu sisi dengan kebebasan yang ada memanjakan para pengoprek untuk menyesuaikan aplikasi sesuai dengan keinginan/kebutuhan mereka, tapi di sisi yang lain benar benar merepotkan pengguna biasa, apalagi yang males ngoprek maunya tinggal klak klik klak klik kayak di windos.
jika linux benar2 ingin memasyarakat saya pikir para developer perlu membuat standarisasi (dalam banyak hal).
Distro boleh beda tapi minumannya tetap teh botol sosro..
*..halah..*
Maret 8th, 2007 at 7:26 pm
#Heri Heriyadi
nggak juga sih, walopun memang banyak perbedaan (pilihan), untuk distro yang baru saya pikir proses penginstalan sudah tidak susah, tinggal klik klik aja, beres.
Nntuk dengerin audio (mp3) memang harus install plugin tersendiri, karena untuk memasukan MP3 player atau encodernya kan ada patentnya (royaltinya), nah sesuai dengan prinsipnya yang free/opensource, feature tersebut tidak dimasukkan dalam paket instalasi.
Penginstallan aplikasi juga tidak semuanya harus bersusah payah, seperti di jelaskan juga di atas, ada .RPM pada Fedora, ada .DEB pada Ubuntu/Debian. Proses penginstalan mirip (sama) dengan kalo kita install di windows.
Satu-satunya pengalaman menjengkelkan menggunakan Linux adalah “dependency”
Maret 9th, 2007 at 4:00 pm
hehehe…
anda lagi nyindir yg punya blog ini yaa ?
setujuuuuuuuuuuuuu..
Maret 9th, 2007 at 10:30 pm
Linux buat server wae lah, buat desktop biar di urus bill gates ama steve jobs
Maret 12th, 2007 at 10:44 pm
@Carolus Agung – “Masalah dependencies ini kan jarang sekali di temui di windows.” – tidak juga, silahkan search “DLL Hell” di Google.
@sandynata – “Satu-satunya pengalaman menjengkelkan menggunakan Linux adalah “dependency”” — sudah pernah coba distro Debian (atau turunannya; Ubuntu, Xandros, dll) ?
Cukup ketik “apt-get install nama_software”, maka otomatis semua dependency nya akan dipasang juga.
Maret 12th, 2007 at 10:48 pm
@Saya – “Kecuali kalau si pengembang juga merangkap tukang jualan. Biasanya pakem yang digunakan adalah memasang program pada path /opt. Tapi kalau dia ngerti beragam jenis metode pemaketan, maka mereka akan mengikuti konvensi yang ditetapkan masing2 pemaket, misalnya dia akan pasang di /usr/bin dalam .deb dan .rpm, dslb.”
Betul sekali, bisa kok dibuat satu paket instalasi untuk (hampir) semua distro. Salah satunya adalah Crossover Office, kalau tidak salah VMware juga demikian. Ekstension filenya adalah .sh.
Maret 13th, 2007 at 5:08 am
Diskusi sudah mulai menarik, akan tetapi banyak rekan yang belum memahami betapa kompleksnya standarisasi ini sehingga belum bisa terjadi. Instalasi di “/usr/local” atau “/opt” atau bahkan di “/bin” saja masih bikin ribut. Ini tidak sekedar peletakan berkas di direktori saja.
Akibat dari perbedaan ini adalah perilaku (behaviour) yang berbeda. Misalnya, aplikasi tertentu tidak muncul di menu desktop manager jika tidak diletakkan di direktori tertentu, dan seterusnya. Itulah yang menyebabkan diskusi antara Autopackage dan Alien menjadi panas. (Autopackage nekad maksa masang di /bin langsung.) Bahkan di salah satu tulisan disebutkan desain konfigurasi Autopackage dibuat oleh monyet. He he he.
Maret 13th, 2007 at 11:37 pm
hwlah mmg benul-benul berat nih topik buat orang awam kaya ane….mana pake nyemot2 segala lagih gak ngerti…blas!
Btw saya udah install ubuntu dan edubuntu, yah sekedar install doank trus make mana2 yg bisa dijalanin…abis bingung mo ngutak-atiknya gak tau mulai dari mana?? Mo nginstal aplikasi baru gak tau caranya… Mmg masih jauh dari windoz (hehe buat pemula seperti saya tentunya…)
April 5th, 2007 at 5:57 pm
Dear All, butuh bantuan nih….
Saya pengguna baru di Linux, jadi masih awam. Lingkungan kerja sudah sangat terbiasa dengan Windows. Saya dikasi tanggung jawab untuk implementasi Linux ini nantinya di sekitar 500 client. Coba bayangkan…. Duhhh meuni pusing yah. Pusing ngebayangin strategi perubahan nanti dari segi client yang sudah terbiasa menggunakan windows.
Ada masukan strategi yang harus saya lakukan agar mudah dalam implementasinya? misal menggunakan distro apa yang paling mudah digunakan dan paling userfriendly, mudah melakukan instal/uninstal. mudah administrasi admin nya.
Kita juga pake mail server dan aplikasi ERP berbasis Windows dan banyak aplikasi menggunakan database SQLServer dan masih banyak juga penggunaan menggunakan DOS (Cobol, FoxPro).
Pake program Emulator apa yang paling baik dan mudah selain Dosemu or Wine, apa ada alternatif lain?
Jika ada yang berkenan untuk membantu saya, bisa kirim direct email ke alamat email saya yah…
renata_n@telkom.net.
Thanks buat atensinya dan ditunggu bantuannya…:)
April 20th, 2007 at 7:41 am
emang iya..kompleks buanggget tuh..
tapi mo gmn lagi….pake winduz, takutnya kena virus. tapi masih mending.. pake linux virus yang nyerang kompi memang gak ada tapi virusnya malah nyerang otak. he…he…he…
(aku pake PCLINUXOS ama Winduz SAPI)
April 20th, 2007 at 7:50 am
nich sekedar pesen dari aku yang terkesan pragmatis:
“jika u adalah pengguna awam di linux maka gak apa2, so tenang2 aja men.. kamu pake aja linuxmu hanya seperlunya doank. masalah kerjaan yg sifatnya butuh program lebih, kamu pake aja winduz (dengan kata lain, kamu musti dualboot tuh kompi). jadi u gak perlu ribet2 mikirin seabreg keruwetan Linux. U pake aja linux tuk keperluan sehari2 doank, misal: dengerin musik, nonton video (bokep!!!!!!!!), ama buka2 file mencurigakan yang masuk ke kompi kamu! takut2 itu virus yang lagi bertelor di winduzmu.
gitu aja men……….
HIDUP UDAH SUSAH NGAPAIN DIBIKIN SUSAH…!!!
(pengguna linux paling jago sedunia!!!!!!!!)
Juni 8th, 2007 at 8:56 pm
gua jg korban dari hipnotis produk shareware. but sekarang gua pengen belajar OS (open source). emang kerasa bedanya and mumetnya. please buat rekan2 yang mendukung anti bajakan (alias pengguna open source) bagi2 ilmu and bisa bantu biar OS lebih keren and gampang gitu. gua pake ubuntu n banyak juga nemuin kendala…. BEST OPEN SOURCE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Juni 15th, 2007 at 10:35 pm
Salam kenal…
ikutan nimbrung..masih newbie..
Saya udah nyoba pake linux distro ubuntu…wuahhh…rrruasaanyaa…mumeet deh..!!!!!ampun2 deh.., nyumpah2…seharian. Sampe mikir gini : Ubuntu = U (you) jadi buntu (otak loe)…heheheh.
Tapi satu hal yang bikin sy tetep pake linux , yaitu Ga pake bayarrr…!! Beda donk ama windows.., yang nguras kantongz (harga windows dan m$office merupakan harga barang mewah buat sy, ,maklum kerjaan nguli, tapi pengen pinter..)
Jadi kesimpulan saya..(dalam hati) “Gratis koq pengen gampang sih..,mau minta gratis tapi gampang…? ya ntar aja di surga kali yeee?”
hehehehe ..VIVA OPENSOURCE..
Juni 29th, 2007 at 2:29 pm
gmna cra menginstal linuk dgn jml hardisk yang minim
Juli 30th, 2007 at 5:59 pm
salam kenal………………………..
bagi u2 semua yang memakai linux…………..
ga usah lah sombong,apa u semua tau klo dah ada keluaran baru yang lebih bagu dari linux,nga kan.keluaran baru nya adalah windows 98…………………….ha……..ha………ha……….ha/dari agen linux sedunia.
September 25th, 2007 at 2:20 pm
salah satu tips agar gak terlalu pusing dalam instalasi aplikasi di linux adalah dengan tetap setia pada distro anda. kalo ada aplikasi yang pemaketannya gak disuport ama distro anda, tunggu sampe pengembang distronya bikin paket aplikasi tsb.
dan jangan pernah ambil pusing kalo rekan anda atau orang lain mengklaim bahwa komp mereka lebih hebat dari komp anda…
hehehe…
Oktober 12th, 2007 at 1:37 am
menarik juga perbincangannya, kebetulan saya sudah ada Ubuntu tapi dikarenakan disk space saya sudah kepenuhan, jadi hanya bisa jadi aksesori meja belajar saja itu Ubuntu CD. Menurut saya, Linux sangat bagus digunakan jika anda adalah Software Developer. Untuk kegunaan sehari-hari Windows mungkin masih lebih asyik.
Oktober 18th, 2007 at 1:23 am
Pembicaraan yg menarik…..
Bagian yg menarik dari pembicaraan ini bukanlah pada teknologinya, tapi lebih pada efek non teknologi yg cukup besar untuk suatu urusan yg sepele yaitu penempatan folder.
Lepas dari masalah dependency, di Windows pun bila gak pake ActiveX juga akan mengalami dependency juga. Bahkan bila option Binary Compatibility, bisa jadi ada 2 ActiveX dengan version yg berbeda di folder yg beda pula dan dua2nya aktif. Pusing jg tuh aplikasi mo pake ActiveX yg mana, apalagi klo ga pake late binding, gak pake early binding.
Nah … lepas dari diskusi ini semua, saat menggunakan Linux, ada 1 pertanyaan yg muncul, klo kantorku masih pake Windows, trus apa added value ku pake Linux ? Sekedar gaya2an bisa install ? Toh aku gak akan ngoprek2 kernel nya, tinggal nunggu versi terbaru, donlot dan install.
Aku coba buat pake Puppy Linux yg di run di atas Qemu, hasilnya, Puppy Linux ku gak bisa dapat IP dari DHCP yg di-host di server Windows.
Saat berada di screen Puppy Linux pun, aku menemukan ada beberapa aplikasi yg kayanya gak user friendly.
Tampaknya paradigma belum ada perubahan, untuk membuat aplikasi lebih ‘bersahabat’ buat pengguna.
Salah satu kelemahan Windows adalah banyak sok tahunya.
Tapi yg menarik dari Windows, banyak screen dialog nya yg di-desain dng cantik, sehingga memanjakan mata.
Sayangnya, banyak aplikasi di Linux, yg secara desain tidak cantik. Sehingga sebagai pengguna tidak melihat ada sesuatu yg menarik.
Ini sih opiniku …
Aku sih berharap, suatu ketika Linux punya standarisasi dalam banyak hal, dan improvement di sisi kenyamanan pengguna.
Oktober 18th, 2007 at 5:29 am
Halo Martha. Wah, kalau nyobanya hanya Puppy Linux sih kurang cocok kalau yang dievaluasinya adalah tampilan. Kalau mau yang bagus bisa cobain Ubuntu dan sejenisnya. Pokoknya cobain yang full blown Linux. Puppy Linux ditujukan untuk minimalis. Kalau mau, ya dibandingkan dengan MS-DOS. he he he.
Justru yang menarik di Linux adalah tampilannya. Dia bisa kita ubah sesuka kita. Sudah pernah mencoba 3D-nya Compiz/Beryl? Wah, Vista saja kalah. (Menurut saya.) Windows terlalu kaku dan tidak bisa diubah-ubah.
Value added dari Linux? Kebebasan! Itu menurut saya.
November 10th, 2007 at 3:34 pm
waaa…. puyenk…
pengen masang beryl di puppy… ga bisa yah?
…
April 14th, 2008 at 6:15 pm
itu yg membuat orang2 seperti saya tetap bertahan memakai windows bajakan..
Mei 7th, 2008 at 11:21 am
gue juga baru mo coba pake linux terus dengan perbincangan mereka jadi kendor dan bertahan pake windowse yang udah tak terlalu berbelit22 itu
Juni 7th, 2008 at 12:27 pm
linux is the best
Juni 9th, 2008 at 12:58 pm
Kalo komputer udah online, tinggal jalanin synaptic. Langsung deh…
“Mission Complete”
Justru ribetnya di linux itu driver buat hardware yang closed source.
Maret 4th, 2009 at 12:36 pm
ini sebabnya win bajakan msh banyak beredar… sepertinya kita ga bisa keluar (atau ga mau) dari kungkungan windows… hiks…
Mei 18th, 2009 at 6:07 pm
Yang dah pada ngerti jangan cuma ributnya doang dunk! Yang penting sekarang BAGAIMANA SOLUSINYA, biar yang oon2 kaya saya tapi pengen bisa ga tambah mumet…
Juni 15th, 2009 at 11:21 pm
Memang linux sangatlah kompleks, tapi itulah yang membuat saya belajar bagaimana mengatasi masalah sampai dalam keaadaan rumit sekalipun dan akhirnya kebiasaan saya yang mau langsung jadi, mau enak, dll akhirnya berubah mnjadi harus betul2 sabar sampai masalah2 yang ada bisa teratasi,. Untuk mendapatkan system yang powerfull memang harus dibutuhkan proses yang tidak mudah. Saya rasa jika nanti semua distro2 linux sudah komersial tidak akan ada lagi kesusahan dalam pemaketan sampai pemetaan aplikasi yang diinginkan karena semuanya bisa terorganisir dengan rapi layaknya SO2 komersial lainnya (U know that). Tetapi sampai sekarang para develop2 distro linux belum punya paradigma seperti itu, dan ingat pengembang2 tsb belum teroganisir jadi banyak paradigma, banyak pemikiran2 yang egois, walaupun sudah ada diskusi untuk penyeragaman tapi pasti masih ada juga pemberontak2 yang egois. Ibaratnya loe mau gratis tapi ngomel2nya bukan main.
Agustus 21st, 2009 at 10:48 am
Ada solusinya untuk setiap distro harus sepakat menyiapkan manual kayak help file di windows. Dengan adanya manual pengguna dapat mudah memakai linux dan mudah beralih dari windows
Oktober 19th, 2009 at 10:42 am
[...] ditemukan solusi yang pamungkas dalam memasang aplikasi di Linux. (Maksudnya yang mudah gitu.) Selengkapnya Categories: Linux Tag:Aplikasi linux Komentar (0) Lacak Balik (0) Tinggalkan komentar [...]
November 27th, 2009 at 1:38 am
kalau standarnya root/etc sepertinya lebih baik dech. ini cuma usul
Juni 12th, 2010 at 2:03 pm
kata siapa linux susah……….malah bisa buat belajar bro……..kalo nggak mau nyoba ya susah……..ayo hijrah ke ohm linux……….