Beberapa kawan mengeluhkan kepada saya tentang repotnya urusan penelitian di kampus tercinta saat ini. Pengeluaran dana untuk penelitian harus disertai dengan invoice yang ketat. Repotnya adalah kasus-kasus yang tidak praktis untuk menggunakan mekanisme ini. Misalnya ada penelitian yang harus masuk ke daerah, naik angkot dan ojek, makan di warung pinggir jalan, dan seterusnya. Invoice? Mungkin mereka baru dengar. Beli gorengan untuk makanan kecil di rapat pun harus menggunakan kwitansi rangkap sekian. Wuih.
Itu hanya satu cerita. Masih ada cerita lain.
Beberapa hari yang lalu saya naik travel Jakarta-Bandung, sebut saja Budi-Trans. Pagi hari itu saya datang ke tempat mereka dan di sana sudah ada seorang bapak yang berdebat dengan petugas. Pasalnya sang bapak ini memiliki karcis promosi yang tidak boleh naik dari tempat itu. Bapak ini mengatakan bahwa sehari sebelumnya dia sudah telepon ke Budi-Trans dan dikatakan boleh naik dari tempat itu. Petugas tetap ngotot bahwa si bapak ini tidak boleh naik karena aturannya begitu. Setelah cukup lama berdebat, akhirnya sang bapak ini menyerah. Sambil geram dan mengeluh (“Pagi-pagi sudah ribut untuk uang tidak seberapa. Hilang sholat saya”) dia meninggalkan tempat itu. Saya katakan kepadanya, sabar pak.
Yang saya tidak mengerti adalah kendaraan yang akan saya tumpangi waktu itu masih kosong dua tempat duduk. Artinya, jika bapak tersebut dipersilahkan naik ke kendaraan itu pun tidak ada biaya tambahan bagi perusahaan. Pelanggan puas, perusahaan pun akan memiliki citra yang baik. Sekarang, keduanya merugi. Ini semua hanya gara-gara petugas ingin mematuhi aturan seperti sebuah robot.
Sekarang banyak saya temui robot-robot di negara ini. Mereka memang orang baik, tapi merekan menjadi robot yang tidak memiliki kearifan dan jiwa kemanusiaan. Saya bukan bermaksud untuk mengajak orang untuk melanggar aturan, tapi tolong dilihat situasi dan kondisinya. Mungkin ketakutan untuk melanggar aturan ini karena kita dulu melalui masa KKN yang sangat menyebalkan sehingga sekarang pendulum bergerak ke sisi ekstrim satunya. Ikuti aturan, titik. Ah, kemana perginya manusia Indonesia yang arif?
Saya masih memiliki optimisme akan adanya kebaikan. Dalam tulisan Asimov “I, Robot” (yang sudah difilmkan itu), robotpun bisa memiliki hati. Optimis.
Dicari: Manusia!


Maret 10th, 2007 at 9:32 am
masalahnya adalah karyawan tidak ingin disalahkan oleh atasan yang dapat berakibat pada hilangnya pekerjaan.
nggak punya keahlian ya pilihannya cuma nurut atasan.
sebodoh apapun kebijakan akan dibela demi jaminan penghidupan
Maret 10th, 2007 at 10:07 am
Robot saja ingin jadi manusia beneran, sekarang banyak manusia yang benar-benar jadi robot …
Maret 10th, 2007 at 11:58 am
coba bapak itu minta “naik banding” ke bos travel tsb. kadang atasan itu yg punya wewenang khusus kan. hal sama pernah terjadi di singapura, malah terjadi di salahsatu hotel berbintang empat. Ini memang tema pendidikan utk petugas pelayan di tempat2 umum utk menempatkan pelanggan sebagai raja.
Maret 10th, 2007 at 12:03 pm
Memang Pak Budi, kadang orang dibelenggu aturan. Aturan kan dibuat untuk manusia. Tapi kadang-kadang yang terjadi adalah manusia untuk aturan. Kurang luwesnya orang menyiasati peraturan (dalam arti positif maksud saya
) bisa buruk efeknya.
Maret 10th, 2007 at 3:40 pm
aturan adalah aturan mas. saya jadi ingat salah satu omongan seseorang, “kebiasaan orang indonesia itu adalah santai dari hari senin s/d jumat, dan relaks di weekend
”. hehee joke tapi mengena
aturan adalah aturan. salah satu yang hilang dinegeri ini justru adalah aturan. aturan dan disiplin.
Maret 10th, 2007 at 4:10 pm
Aturan memang perlu, tapi menurut saya bukan itu inti dari tulisan Bung Raharjo kali ini, ‘Dicari : Manusia !. Kalau manusia pukul rata sama peraturan, menjadi kaku gara-gara aturan, maka itu bukan menjadi manusia namanya. Misalnya pengelola rumah sakit, tega mengusir pasiennya karena menurut peraturan tidak mampu bayar, itu memang benar menurut peraturan, tapi menurut hati manusia ?
Menjadi pemimpin (diri sendiri dan masyarakat) kalau hanya menurut buku peraturan semua orang juga bisa, tapi tingkat kebijaksanaan seseorang lah yang membedakan kualitasnya dengan pemimpin yang lain.
Maret 10th, 2007 at 5:07 pm
Saya sangat setuju dengan pendapat Anak Sultan, aturan memang penting tapi manusia dengan segala kemampuannya untuk merasa, berpikir, bernalar, dan berperikemanusian harus bisa melihat aturan lebih bijaksana. Fleksibel…sekali lagi ini dalam artian positif loh ya, bukan “cari celah” karena mau menghindari aturan. Contoh yang bagus sekali dari Anak Sultan.
Maret 10th, 2007 at 6:19 pm
menurut hemat saya: dicari manusia beradab.
di bunderan H.I. meskipun tengah malam & sepi tidak perlu dipasang papan ‘dilarang kencing disini’ spy org tdk membuang hajat kecilnya disana.
Namun diujung selatan kota Jakarta ada sebuah telaga yang setiap 50 meter berdiri papan pengumuman ‘Dilarang keras membuang sampah’ .
Tapi jangankan sampah , wong..banyak yg masabodoh menyalurkan air mancurnya kedalam kolam disiang hari bolong sekalipun.
Sepertinya lingkungan dan ‘peradaban’ yg menentukan .(ach…saya bercermin dulu ach…jangan2 saya juga belum beradab…, pernah sih pipis dipinggir jalan…tapi cuman sekali…dan itu duluuuuu..)
Maret 10th, 2007 at 6:35 pm
kasian tuh bapak…
Maret 10th, 2007 at 11:57 pm
aturan memang harus dibuat, bukti pengeluaran, seringkali bisa ditoleransi dengan bentuk nota yang dibuat dan di sign sendiri… ( ada bukti yang akan dipertanggung jawabkan ), pelanggaran di indonesia adalah hal mentalitas yang secara umum sangat jelek.
peraturan bisa dibuat yang lebih baik atau selalu diperbaiki, sesuai situasi dan hal yang sering menjadi masalah, jadi seseorang tidak perlu ada yang melanggar dan semua lancar.
Maret 11th, 2007 at 3:20 am
Aturan dibuat dengan tujuan.
Menurut saya memang perlu “robot2″ itu, karena tanpa itu jadinya percuma ada aturan.
Yang bisa diperbaiki bukan manusianya (menjadi robot atau bukan); tapi sistemnya.
Soal invoice misalnya, bisa dibuat aturan tambahan bahwa pengeluaran dibawah Rp50 ribu tak perlu invoice. Atau peneliti bisa membawa kwitansi sendiri, dan meminta tukang ojek untuk memberikan tanda tangan.
Juga bis trans itu bisa juga dibuat aturan untuk ‘komplain’. Misalnya ditanya siapa nama petugas yang memberi tahu bahwa boleh naik di tempat itu. Juga bapak tsb bicara dengan manager/supervisornya utk menyelesaikan masalah.
Birokrasi memang selalu memakan korban. Karena itu perlu terus disempurnakan. Karena itu juga cara membuat birokrasi ini ada sains-nya. Jadi masalah birokrasi bukan masalah moral saja, tapi juga masalah sains yang rasional.
Maret 11th, 2007 at 1:07 pm
Pak Budi, saya manusia neh…beneran..!, sumpah..!! Demi Allah..!! saya bukan binatang, setan atau malaikat..
Maret 11th, 2007 at 3:28 pm
Untuk masalah pertama,
pastikan membeli makanan/barang yang ada notanya
Kedua, emang susahnya aturan itu di tegakkan salah menurut hati, tidak di tegakkan salah menurut aturan
Oh ya
SAya manusia beneran bukan fikitif, silahkan cek di google kalo gak percaya
Maret 11th, 2007 at 5:55 pm
itu bisa dikatakan idealisme ataupun prinsip…., kadang hidup dengan aturan memuat hidup kita bertambah teratur.. karena dengan melakukan flesibilitas bisa membuat kegiatan-kegiatan kita menjadi tidak teratur saking kita bisa manupulasi dan sbgnya…bapak sendiri termasuk orang yang bagaimana?
Maret 12th, 2007 at 11:06 am
hmm.. pak Budi kayaknya cocok jadi pengusaha travel
Budi-trans cocoq juga tuw pak, pasti banyak yg maw naik travelnya pak Budi
)
Maret 12th, 2007 at 12:04 pm
mesti dibeliin sony satu-satu pak budi , kayak yang diiklan itu tuh semua orang kan robot kecuali yang make sony
Maret 12th, 2007 at 12:43 pm
betul pak, ditempat saya pengeluaran lab diperketat, bahkan untuk beli barang seribu dua ribu kita harus buat kwitansi sendiri yang tulisannya atas nama (sebut saja) Rektor Universitas ultraman. kebayang kan pak susahnya, seolah kita itu kerja gak dikasi kepercayaan sedikit pun
yang lebih parah lagi, sebenarnya uang itu kas lab, jadi kita buat kegiatan, dapet pendapatan dan kita puter terus sendiri, sementara kampus gak pernah (ya….jarang buanget) kasi uang bahkan sekedar untuk maintenance lab.
Maret 12th, 2007 at 1:48 pm
Kang Budi musti mulai nonton serial Startrek : Next Generation (atau Voyager dan Deep Space Nine juga boleh).
Banyak wacana bagus tentang aturan, kepemimpinan, fleksibilitas, filosofi manusia vs borg, dll dll.
*energi alam semesta tetap, entropi selalu bertambah*
>hukum termodinamika ke-nol
Maret 13th, 2007 at 4:20 pm
maaf pak… menurut saya peraturan itu dibuat demi kemanusiaan. supaya semuanya teratur. kadang cara tdk perlu diliat. (karna biasanya bnyk makan korban) tapi yg perlu diliat itu adalah tujuannya. salam.
Maret 13th, 2007 at 4:57 pm
padahal aturan itu kan dimaksudkan untuk mempermudah manusia ya?
namanya jg aturan bikinan manusia…
kalo ngga sesuai.. besok2 paling dirombak lagi
btw. kasihan tuh bapak ya
Maret 20th, 2007 at 5:23 am
ya.. tapi menurut saya sih.. memang aturan ya aturan.. udah jelas2 peraturannya A.. masak mau dibelokkin jadi B.. nanti kalo kebiasaan justru gag baik..
eniwei, seandainya bapak itu udah bener2 nelpon.. seharusnya dia simpen nama petugas yg ditelpon itu.. hehe.. jadi bisa ditagih pas hari H nya..
Juni 14th, 2011 at 2:55 pm
Pantesan ada beberapa situs yg menanyakan “Are you Human?” hanya untuk memasukkan captcha. *nggak nyambung ya?