Hari Selasa (20 Maret 2007), saya kembali ke kampus setelah beberapa hari berada di luar kota dan di luar negeri. Hari ini merupakan hari yang cukup panjang untuk saya.
Hari dimulai dengan mengajar kuliah security (yang merupakan gabungan dua kelas EC5010 – diambil oleh mahasiswa S1 yang ingin mengumpulkan kredit untuk S2 – dan EC 7010 – yang merupakan kelas untuk mahasiswa S2).
Seperti sudah diduga, kelas mbludag. Apalagi ditambah dengan mahasiswa dari program S2 Diknas. Jumlah pesertanya di atas 100 orang. Ingat lho, ini kuliah S2!
Mulai minggu lalu, kelas saya pindahkan ke ruangan yang lebih besar tetapi ternyata masih kurang juga. Lihat saja gambar di samping ini. Ada mahasiswa yang harus maju merangsek ke depan. Bisa Anda bayangkan kelas sebelumnya yang ukurannya hanya setengah dari kelas ini. (Tahun-tahun sebelumnya ada juga yang sampai duduk di bawah.) Memang sulit sekali mendapat kelas dengan ukuran besar di kampus ini. Hal lain yang sampai sekarang saya belum menemukan solusinya adalah jika kami ingin menggunakan lab komputer untuk praktek. Belum ada lab komputer yang dapat mendukung 100 orang!
Biar dengan fasilitas yang pas-pasan kami tetap belajar dengan gembira. Lihat tuh, mahasiswanya tertawa semua. Eh, mungkin tertawa ketika akan difoto saja ya? Setelah itu kembali … kusam pusing. Ha ha ha.
Setelah selesai mengajar (jam 11 pagi), saya sempatkan pergi ke Galeri Soemardja, yang ada di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Di sana ada diskusi tentang “Desain Berkelanjutan di Indonesia” (Sustainable Development in Indonesia). Saya tertarik untuk mendengarkan apa isinya. Sayangnya acaranya dimulai pas bersamaan dengan waktu kuliah saja. Jadi saya hanya bisa melihat bagian akhirnya saja. Itupun hanya 5 menit karena saya ditunggu untuk rapat di Pusat Mikroelektronika yang berada di sisi lain dari kampus. Tak apalah. Yang penting lihat sedikit. Oh ya, salah satu pembicaranya – bu Dwinita Larasati – juga blogger juga. Ha ha ha.
Sesampainya di sana, acara sudah berada pada sesi tanya jawab. Saya berdiri di belakang saja mencoba mendengarkan. Pertanyaan berkisar seputar penggunaan bamboo untuk desain (rumah?). Sayangnya akustik dan sound system ruangan tidak terlalu mendukung sehingga saya harus konsentrasi mendengarkan apa yang dibicarakan (ditanyakan). Mengapa gedung-gedung di Indonesia akustiknya payah ya? (Tentang ini akan saya tuliskan secara terpisah.)
Baru saya mau beranjak pergi, pak Dudy Wiyancoko yang menjadi moderator menyebut nama saya. Welah. Tadinya mau incognito jadi ketahuan. Hi hi hi. Tak lama kemudian saya harus sudah pergi ke rapat berikutnya.
Setiap hari Selasa kami di Pusat Mikroelektronika mengadakan pertemuan (dan makan siang – itu yang penting!). Kali ini kebetulan kami kedatangan reviewer program Rusnas yang sedang dijalankan di Pusat Mikroelektronika. Setiap bidang memberikan presentasi kemajuan dari penelitiannya yang hebat-hebat! Kalau tidak percaya silahkan datang atau tanya kepada reviewer. Ini adalah contoh pelaksanaan penelitian yang serius. Semua orang yang pernah datang ke tempat kami pasti terheran-heran dengan kemajuan dan hasil penelitian-penelitian kami.
Mengapa kami begitu serius dalam meneliti dan menghasilkan produk? Jawabannya adalah karena ada self-interest! Ini memang semangat kapitalis. Ada kepentingan pribadi agar penelitian berhasil karena bisa menghasilkan produk atau layanan yang bisa kami jual di luar, baik dijual sendiri atau melalui partner (perusahaan lain, start-up, dan sejenisnya). Jika penelitian gagal, kami hanya mendapatkan dana untuk penelitian saja. Rugi! Penelitian dan pengembangan harus berhasil! Tidak boleh hanya sekedar jadi laporan penelitian saja (yang banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti di Indonesia – maaf kalau ada yang tersinggung).
Saya kebetulan terlibat dalam penelitian open source software (baru 2 atau 3 bulanan).
Pulang sore hari … capek, tapi tetap semangat. It was a great day!


Maret 21st, 2007 at 9:04 am
[ BR: ...... Mengapa gedung-gedung di Indonesia akustiknya payah ya? ......]
He-he-he…. lha wong acoustician nya masih difungsikan sebagai “pemadam kebakaran” Pak (alias, dipanggil kalau sdh ada masalah)….., belum embedded ke dalam desain (interior)…. Sdh ada bbrp sih yg mulai melibatkan sejak awal, but belum signifikan…..:)…., Konsep desain interior di Indonesia masih lebih berat ke sisi Visual (dan thermal), ……:)….. cheers…
Maret 21st, 2007 at 4:19 pm
“Penelitian dan pengembangan harus berhasil! Tidak boleh hanya sekedar jadi laporan penelitian saja (yang banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti di Indonesia – maaf kalau ada yang tersinggung).”
Menarik sekali. Pak, apakah fenomena ini memang umum terjadi di Indonesia? Saya sangat tertarik akan hal ini.
Maret 22nd, 2007 at 6:01 am
Kapan2 kalau ada kesempatan pingin juga jadi muridnya pak budi nih…
Maret 22nd, 2007 at 9:17 am
Soal yang penelitian itu, pak… Apa ada publikasi yang memuat hasil penelitiannya? Dan dimana bisa dilihat? Apa hanya ada di Pusat Mikroelektronika saja? Kok sepertinya kurang praktis…
Maret 22nd, 2007 at 2:36 pm
Tetap semangat Pak Budi. Namun tetap jaga kesehatan dengan istirahat dan makan teratur. Jangan sampai sakit karena kelelahan lagi pak…
Maret 26th, 2007 at 4:49 pm
Tempat kuliah nampaknya masih tetap sama seperti waktu lalu, yaitu di basement. Kita belum mendapat tempat untuk praktek. Maklum, tidak mudah mencari tempat dengan komputer untuk 100 orang! Apalagi dengan akses internet.
Untuk itu kelas kami masih seperti yang lalu yaitu dengan cara di kelas dulu.