Sudah bertahun-tahun saya berkutet dengan sampah digital (digital junk). Email saya koleksi (gmail saya sudah lebih dari 1GB – belum email saya yang lain sejak tahun 1987), URL dikoleksi, web page didownload, materi presentasi disimpan, tulisan-tulisan sendiri dan buatan orang lain juga disimpan. Akhirnya sudah bisa ditebak, mbludag. Koleksi berkas saya sudah terabytes ukurannya. Lebih mengerikan lagi adalah sebagian besar tidak pernah saya pakai lagi tapi tidak saya buang juga. Pasalnya, kalau dibuang takut nanti dibutuhkan. Toh media penyimpanan harganya turun terus. Hasilnya … tambah terus.
Hari ini saya memindahkan berkas dari satu harddisk ke harddisk lainnya untuk disimpan. Banyak berkas yang saya perhatikan harusnya sudah saya buang tapi tetap saya pertahankan. Dasar! (Soalnya untuk memilah-milah dibutuhkan waktu yang lebih lama. Simpan saja.)
Masalah dengan sampah digital ini adalah pengelolaannya. Sebagai contoh, bagaimana saya mencari berkas tertentu? Apa yang saya gunakan untuk panduan mencari? Isinya? Nama berkasnya? Rentang waktu? Atau apa? Biasanya saya gunakan semua cara. Tentu saja hasilnya bervariasi dan tidak optimal.
Masalah berikutnya adalah masalah visualisasi. Bagaimana kita melakukan visualisasi terhadap berkas yang jumlahnya sangat banyak? Metafora desktop, yaitu membuat asosiasi seperti meja kita, tidak optimal lagi. Bayangkan jika Anda harus membuka 1000 buku dan 1000 makalah di atas meja Anda. Kacau bukan? Untuk itu perlu dicari mekanisme visualisasi yang lebih baru. Ada beberapa penelitian yang mengarah ke sini, seperti penggunakan kartu rolodex dimana berkas diurut dari depan ke belakang berdasarkan tanggal. (Apakah ini yang kemudian menjelma menjadi konsep tab? Tapi tab pun tidak dapat digunakan kalau jumlahnya sudah ribuan.)
Saya buka-buka materi presentasi lama saya. Ketemu. Tahun 1998 saya membuat tulisan yang berjudul “In Search for a Personal Assistant: A quest for managing our electronic junk“. (update: Ini URL berkasnya.) Ternyata sampai sekarang, hampir 10 tahun kemudian, saya masih tetap mencari.
Tracker, Beagle + Deskbar Applet
Pakai Microsoft Windows Sharepoint Services 3.0 adja pak Budi … Gratis, lumayan membantu soal organisasi dokumen, tapi ya itu … teuteup harus beli lisensi Windows Server 2003 =p
Google Desktop Search, sayangnya hanya buat Windows
Di-DVD kan berdasarkan waktu gimana?
Gile Email G-mail bisa penuh, diisi apa aja itu pak…
information overloaded !
# maseko
Coba Beagle: http://beagle-project.org/Main_Page
Jalan di berbagai platform
Kalo problem saya adalah bagaimana membuatnya online atau near offline. Selama ini di burn ke CD-R atau DVD-R, tapi problemnya, CD-R pasti deteriorated after 2 years dan tidak online. Kudu memasukkan CDnya ke dalam drive.
Kepinginnya memang punya hard disk unlimited, atau paling tidak bisa punya hierarchical file system. Mostly Recently Used ada di hard disk, sedangkan Least Recently Used masuk ke near offline storage seperti tape library. Tapi punya tape library di rumah? Hola, mimpi siang bolong deh
Saya sendiri selama ini juga kerepotan nih sama ngelola data2 sampah, mo dibuang takut nanti butuh, mo di organize => makan waktu, mau suruh anak buah khawatir soal privacy. Dgn asumsi konek i’net no problem, data2 bloated, gimana dgn penyimpanan storage di internet saja? Bayar is OK, asal terjamin privacy, security, dll. Jadi kalo ada service di Internet yg nyediakan tinggal request feature yg diinginkan ya. Tentu pinginnya bisa dikonek layaknya nongol di Apple Finder, bisa masuk lewat Terminal. Tapi pertanyaannya apa ada ya yg nyervis sampe ratusan => ribuan giga => teraan? Nanti kalau pun ada servis gitu, bandingkan lagi biayanya ketimbang burn ke DVD/CD ato beli harddisk gede sendiri #Jadi curhat deh
Aha. Welcome to the digital junk club.
(Digital Junk… cocok jadi nama rock band. teeheehee…)
Saya juga kumpulannya banyak, sampai tidak tahu apa saja yang ada. Harddisk bertumpuk, jadi terpikir untuk membuat semacam sistem rack. Peng-indeks-an berkas-berkas ini menjadi hal yang menarik, karena biasanya koleksi yang saya kumpulkan berdasarkan konteks, yang bisa mencakup beberapa subyek atau topik tertentu. Hmmm…
Mas, bisa di-share tulisannya? Jadi pengen baca… siapa tahu bisa dapat ide.
Omong-omong soal pencarian, terkadang saya merasakan ironis. Saat mencari data yang tersebar di seluruh dunia, sekejap mata bisa tampil dengan menggunakan google. Konyolnya, kadang saya kesulitan mencari file di harddisk saya sendiri
Memang google punya hardware & software yang canggih, tapi kadang-kadang ya merasa begitu itu :p
NR: Kisah Sukses Google
Hiya, maniak data, jadinya sampah digitalnya sampai bergiga-giga…
Walah…jangankan digital yang praktis sebetulnya nggak makan tempat. Yang namanya majalah tahun 70an 80an aja masih ada di rumah
Dibuang sayang he he he…..
DBS syndrome – sindroma DiBuangSayang….
Obat mujarabnya gampang saja. Forget it. he he….
Kalau butuh, saya pakai Google Desktop. So far ngebantu banget.
Bagaimana kalau disumbangin saja Pak Budi? Jadi nanti kalau butuh tinggal hubungi si Anu, si Ini dsb yang menerima sumbangan presentasi, software dan junk2 lainnya. Siapa tahu junk buat pak Budi emas buat saya he he he….
Itung-itung outsourcing….
spotlight-nya tiger sudah tidak mempan pak?
Tambahan permasalahan saya … karena ukurannya besar, banyak yang disipan dalam tape (dan sudah tidak ada readernya!), CD, DVD. Jadi tidak semuanya online, karena kalau online menghabiskan harddisk.
Kemudian formatnya juga macam-macam. Karena ingin mengirit tempat ada yang dikecilkan dengan ZIP, ada yang dengan tar.Z dan ada yang tar.gz. Repotnya lagi, yang dikecilkan itu biasanya mail-mail yang saya simpan dalam mailbox format. Jadi kalau di-search dia akan amburadul karena tidak dibaca dengan mail reader. Biasanya search dilakukan dengan … perintah grep (dan teman-temannya) di Linux
[itupun harus search direktori secara manual]
Salam kenal Pak Budi. IMHO ini masalah mapping informasi2 dari model pikiran (mind-mapping) ke file system structure, beserta semantics untuk dapat mencari lagi informasi. Saat ini para psycholog masih belum mengerti “file system” otak/pikiran kita, dan juga belum tahu algorithm apa yang digunakan otak untuk searching. Dulu system Neural Network banyak mendapat hype sebab dianggap bisa menjadi mapping model. Tapi, komplexitas Neural Networks bersifat exponsial, jadi daya processing komputer juga tidak cukup. (TH)
[...] “membuang” secara rutin segala sesuatu yang tidak berguna. Saya tidak mau laptop ini berisi sampah dijital. [...]