Waktu ngopi bersama mas Yockie, kami sempat berdiskusi soal artis dan seniman. Apa bedanya? Mengapa? Dan seterusnya. Di diskusi mengenai “Badai Pasti Berlalu” di blog ini pun, mas Yockie juga bercerita sedikit mengenai seniman dan artis profesional (atau disebut oleh mas Yockie sebagai “teknokrat seni”). Saya kutipkan sedikit di sini:
… Yang kesebelah kiri adalah arah untuk menjadi pelaku/penopang Industri Ekonomi (saya beri istilah Teknokrat Seni), dan yang kesebelah kanan total mengabdi pada kehidupan di lingkungan masyarakatnya sendiri, bahasa gagahnya penyambung aspirasi masyarakat. Nah.. yang ini saya sebut Seniman. …
Nah. Akhir-akhir ini saya banyak bermain musik. Terus terang ketika ditanya kenapa, saya bingung. Saya bingung dengan tujuan saya bermain musik. Saya tidak mencari penghasilan dari main musik ini. Saya juga tidak mencari popularitas. (I am already well know – in my other field. GR sedikit boleh kan?) Saya tidak mencari kegiatan untuk mengisi waktu kosong. (Saya sudah terlalu sibuk.) Jadi apa?
Untuk dikatakan jadi seniman pun rasanya bukan, karena saya tidak (atau belum?) mengabdi kepada kehidupan masyarakat melalui musik ini. Memang saya melakukan pengabdian masyarakat, akan tetapi ini saya lakukan melalui jalur pendidikan dan IT, bukan musik. Musik yang saya mainkan pun mungkin masih seputar hal-hal yang cengeng. Jadi apa?
Terus terang, saya tidak tahu. Tidak punya tujuan. Aduh … Setelah ngobrol kemarin saya merasa ada pencerahan juga. Sayang juga kalau waktu untuk main musik ini hanya dihabiskan untuk sekedar main-main saja. Ingin juga bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat, jadi seniman lah.
Wah harus diskusi lagi dengan mas Yockie nih. Mas, kapan ngopi lagi. Kita ngobrol (sambil main musik, desain web, dll.) yuk? Nanti saya ajairin IT, tapi saya minta diajari musik dan bagaimana untuk menjadi seniman, ya mas.


Maret 24th, 2007 at 7:19 am
seniman IT =))
Maret 24th, 2007 at 9:31 am
Business, IT, and… Rock n Roll!
Maret 24th, 2007 at 12:14 pm
Sepertinya memang sindrom orang sibuk.
Dari orang-orang yang penuh kegiatan yang saya tahu, mereka memang banyak sekali hal-hal yang dilakukan. Tapi jika ditanya tujuannya, sering tidak bisa jawab.
Tapi yah, orang-orang akan menanggap hebat. Oh hebat ya si ini si itu sibuk sekali, dia hebat.
Maret 24th, 2007 at 12:27 pm
jangan juga kita lupa, bahwa hidup bukan sekedar hitam dan putih. khan ada juga ya.. wilayah abu2…hehe..yah…sekedar untuk menghibur diri sendiri atau paling tidak obat stress yang manjur.
Maret 24th, 2007 at 5:35 pm
kalau artis ya termasuk seniman.. tapi kalau seniman belum tentu artis.. (bisa seni rupa, seni tari, seni pahat dsb) kan gitu ya…!
Maret 24th, 2007 at 9:32 pm
Hem…keinginannya sih ga masalah, Pak.
*menurut-aku*… mengalir aja… Ur heart will lead u
*karena-seniman-kan-bekerja-dengan-hati* ^^v
o iya …*menurut-aku-lagi*…
Kenapa ga mencoba jadi seniman-tak-terdefinisi?
Maret 24th, 2007 at 11:55 pm
Mau jadi seniman atau artis profesional adalah hak masing2 orang but the most important things is bagaimana bekarya dengan hati, kejujuran dan tidak copycat.
Maret 25th, 2007 at 3:53 am
Jangan-jangan, secara tidak sadar, otak mas Budi memutuskan untuk memberontak karena jenuh mikirin masalah IT melulu… hmmm…
Maret 26th, 2007 at 11:09 am
pak budi, setahu (menurut) saya seni itu nggak hanya lewat musik, tari, lukisan atau apapun namanya. seni itu adalah suatu hal yang indah, nikmat dan patut untuk di syukuri. nah pelakunya disebut seniman(?). kalau kita bsia membuat suatu keindahan (di IT) kita juga disebut sebagai seniman (tapi apa nggak nyeleneh namanya?). karena sudah ada namanya masing-masing buat dunia IT, maka byk org menggunakan itu. jadi ingat waktu dulu msh kuliah di jogja, ada seorang teman yang digelari dengan seniman tehnik, karena kalau udah gambar bagan tehnik jago banget. kalau untuk bapak, saya nggak bsia mastikan
yang pasti di hati saya bapak adalah seorang seniman. terserah seniman apa.
Maret 26th, 2007 at 2:24 pm
Saya stuju banget dg Mas Pedhet, seni tdk hanya lewat musik , tari, lukisan.
Saya punya kenalan tukang batu. Bila dia memasang keramik- entah u/ lantai atau dinding, dia bisa mantes2in shg enak dipandang bak seorang arsitek sekolahan. Dalam hati saya berkata …ah.. tukang ini memang Ok banget. Dia tdk sekedar asal pasang lalu selesai, tapi dia mengakomodir naluri seninya dalam menjalankan profesi sbg tukang batu.
Jadi rasanya pemahaman ‘seni’ amatlah luas. Dan itu merupakan karunia-Nya.