Minggu-minggu gini, ngapain ya?
Kebetulan minggu ini ada sedikit waktu senggang. Tidak banyak waktunya karena ada beberapa laporan dan pekerjaan yang harus diselesaikan. Tapi, ada waktu sedikit untuk mencari hiburan. Tadinya terpikir oleh saya untuk nonton. (Padahal minggu lalu saya baru habis nonton film “Happily Never After” dengan anak saya.) Lantas terpikir Blitzmegaplex, bioskop megah yang ada di Bandung itu. Terus pikiran merembet lagi ke toko musik digital (jualan MP3 legal) yang kami kembangkan di dalam Blitz itu (Digital Beat Store). Terus baru keinget …
Oh iya ya, Blitzmegaplex harusnya sudah buka di Grand Indonesia, Jakarta. Mestinya tanggal 20 atau 21 Maret kemarin Blitz dan DB sudah buka. Saya kok lupa. Hi hi hi. Padahal dua minggu yang lalu (atau 3 minggu yang lalu?) saya sempat menengok ke sana pada tepat tengah malam. Waktu itu habis ngopi dengan mas Yockie saya diajak David Hilman ke sana. Sneak preview ceritanya.
Wah. Eudyan tenan. Ukuran bioskopnya gedhe dan asyik. Kami masuk ke cinema yang paling besarnya. Di depannya ada podium. Langsung saya ke depan sana. “Dave, ini bisa dipakai untuk main band kan?” Bisa jawabnya. Bahkan di tengah-tengah penonton sudah dipersiapkan tempat untuk meletakkan mixer. Halah! Asyik. Ngiler. Saya jalan-jalan di panggung depan itu sambil sedikit loncat-loncat. Mikirin kalau main musik rock asyik nggak ya? (Sambil di belakang layar ada gambar Jimi Hendrix lagi slebor main gitar, misalnya. Ha ha ha.) Sayang sekali saya tidak punya kamera digital untuk merekam momen itu. Lagian, mungkin nggak boleh motret ya? :p
Kebayang oleh saya buku-buku desain yang ada gambar-gambar, atau buku biografi. Padahal gambar-gambar seperti ini (gedung belum selesai, orang diskusi, dsb.) menarik untuk didokumentasikan. Under the hood? Di bawah kap mesin?
Kemudian kami juga melihat toko musik kami, DB, di sana. Tempatnya tidak terlalu besar, tapi cukuplah untuk mencoba teori gila kami. Orang Indonesia mau beli musik digital legal asal mudah dan murah. Saya akan cerita ini dan arah musik digital di lain kesempatan (atau mungkin di acara NiCE bulan Mei ini?).
Kembali ke … topik. Saya jadi ngiri ingin nonton di Blitz Jakarta. Wah, kapan ya? Ah, di Bandung juga bisa yeee. (Tapi tadi nggak jadi nonton, malah makan pizza dengan keluarga.)
Bagi rekan-rekan yang sudah ke sana (dan beli musik MP3 dari DB – ha ha ha), kasih ceritanya ke saya dong. Kalau ada kritikan ke jalur pribadi saja ya. ha ha ha. Nanti saya teruskan kepada kawan-kawan Blitz di sana.


Maret 25th, 2007 at 7:44 pm
di bandung beli musik di diskon gag pak ?
Maret 26th, 2007 at 8:46 am
rendy, rendy … diskon melulu yang dicari. he he he.
kan udah murah.
ntar saya pikirin metoda diskonnya
Maret 26th, 2007 at 3:21 pm
wah baru tau pak budi kalo ada mp3 legal di bandung, gk akan kalah apa ama mp3 ilegal yg beredar sekarang? untungnya apa ya? he2.. (pura2 gk tau)
Maret 26th, 2007 at 6:13 pm
Untuk sundafreak, pembahasan detail mengenai pertanyaan2 anda itu sebetulnya akan saya lakukan di acara NiCE 2007 nanti (awal Mei?). Atau saya akan membuat presentasi tersendiri mengenai arahan musik digital. Tapi saya jawab singkat dulu, supaya gak penasaran.
Apakah akan kalah dengan MP3 ilegal? Tentu saja. Copy meng-copy akan tetap ada, tapi saya melihatnya begini. Kalau dari 1000 ada 900 yang copy (ilegal), toh masih ada 100. Yah lumayanlah 100 daripada nggak sama sekali (dan hanya uring-uringan?) he he he. Masih mending dapat 100 lah.
Apa ada yang mau beli? Untungnya apa beli MP3 legal itu?
Ada banyak. Salah satunya adalah mendukung teman sendiri. Saya ambil contoh. Kalau ada sobat anda membuat musik MP3, apakah anda tega untuk tidak membayar Rp 5000? (Eh kalau sahabat malah dikasih gratis ya? Salah atuh contohna. ha ha ha.) Tapi anda paham kan maksud saya. Kalau mas Yockie buat musik MP3, misalnya, mosok saya tega untuk membajak. Toh hanya 5000 perak! Kencing juga sudah 1000 perak. Dengan kontribusi 5000 perak itu saya berharap kawan kita bisa membuat lagu-lagu yang lebih baik. It’s token of appreciation. Bodo amat orang lain mau mbajak atau nggak. Yang penting saya menghargai kawan saya tadi. Toh hanya 5000 perak. (Kalau 100 rebu perak … pikir-pikir dulu kali ya? Ha ha ha. Dasar manusia.)
Begitulah … saya melihat sisi positifnya. Di satu sisi, kita dapat musik yang bagus-bagus dan murah. Di sisi lain, seniman dapat dapat juga (meskipun sedikit, tapi kalau dikalikan jumlahnya … lumayanlah). Masing-masing tidak rakus.
Ngimpi? Idealis? Mungkin. Setidaknya itu yang saya lakukan. Sebisanya.
Maret 26th, 2007 at 6:45 pm
tabik..buat pak dosen kita.Saya jadi inget ‘kang lenon kita.
“u may say im a dreamer,but im not the only one”
Maret 27th, 2007 at 12:05 am
owww, Digital Beat Store tuh punya Pak Budi toh… Saya baru tau.
Maret 27th, 2007 at 4:13 pm
better get 1 percent rather than nothing, itu kata orang-orang bule bilang.
sebenernya saya sempat nonton di blitz bandung, tapi karena sudah malam gak sempat perhatikan. apakah lagu2 yang ada dari major music records, atau indie ? kl cover album banyak juga ya ?
Maret 27th, 2007 at 5:34 pm
ngebajak musik? jika sudah menjadi musisi maka nanti kita akan sadar bahwa membajak musik itu tidak baik…
ngebajak software? jika sudah menjadi programmer, maka nanti kita baru akan sadar bahwa membajak software itu tidak baik…
semua akan sadar jika sudah menjadi korban tindak kejahatan.
April 12th, 2007 at 2:30 pm
Jadi tertarik…
Bisa dibantu buat liputan gak, mas?
saya wartawan dari salah satu majalah lifestyle di jakarta.
tolong kabarin, ya…
buat rubrik musik kayaknya seru
April 14th, 2007 at 10:52 am
Pak, saya mahasiswa elektro ITB. Semester ini saya ambil kkuliah kewirausahaan dan dapet tugas wawancara pengusaha/wirausahawan. Saya tertarik dengan usaha musik digital milik Bapak, bolehkah saya minta waktu bapak untuk wawancara?
kalau bisa secepatnya Pak.
Terimakasih Pak…
April 19th, 2007 at 9:06 pm
congrats ya udah buka di jakarta sekarang……
sekalian dong mau nanya mas, wkt itu kan cerita ttg yg di bandung…katanya pake bean bag segala. pertanyaannya, beli bean bag di mana ya mas? lagi butuh banget nih….makasi banyak ya…..
Mei 14th, 2007 at 8:19 am
nah lho… dah maen ke situs nya ngga mas…. blog nya kacau banget tuwh… aslina jadi ill-feel baca artikel masalah kursi-nya… eurgh.
http://www.blitzmegaplex.com/en/blog_detail.asp?blogid=BL200705019806069602
Agustus 22nd, 2007 at 1:14 pm
saya dukung deh pak budi buat usahanya menghindari pembajakan yang makin merajalela… saya juga kasian ama musisi2 kita.. mau makan apa coba? masa makan ati terus.. bisa laku ntar teh botol… he2… semoga bisa sukses yak pak..
Januari 22nd, 2011 at 1:43 pm
Hwaw! Salute buat mas Budiii!

Kebetulan saya lagi skripsi, trus topiknya soal pembajakan lagu lewat internet. solusi kayak gini bisa jadi saran banget, mas.
Akhirnya di Indonesia bisa beli single jugaaa…
Maju terus industri musik Indonesia!
Sukses buat Digital Beat Storenya! Saya pasti bakalan mampir, mas!!
Januari 22nd, 2011 at 2:02 pm
Sayangnya tahun terakhir ini DB terpaksa harus frozen dulu. Masalahnya adalah di sistem kita yang belum lancar dalam menangani model bisnis ini.
(
Ada lesson learned-nya. Nanti kami akan muncul kembali dengan lebih baik (dalam melayani semuanya).