Kemarin obrolan di keluarga tentang nama, yaitu tentang nama anak kami yang agak sedikit berbeda dengan yang lain. Ada orang – termasuk saya – yang namanya sama. Atau dengan kata lain ada nama yang kacangan. (Entah kenapa istilahnya adalah “kacangan”?)
Beberapa hari yang lalu ada kiriman email di milis Dosen ITB tentang cerita lucu terkait dengan KH Miftah Faridl. Ceritanya ada seorang ibu yang ngaku bahwa dia itu istri kedua dari KH Miftah Faridl. Gegerlah orang-orang. Selidik punya selidik, memang dia istri kedua dari orang yang namanya juga KH Miftah Faridl (ustad juga), bukan Miftah Faridl yang kami maksud. Phew … lega.
Saya kemudian juga cerita tentang nama saya, “Budi Rahardjo”, yang juga nama kacangan. Selain saya, ada juga “Budi Rahardjo” lain yang menulis buku komputer tentang pemrograman dalam Bahasa C++. Lucunya, waktu itu saya juga sedang mengajar kuliah pemrograman dengan Bahasa C++. Jadi ada mahasiswa yang kecele waktu beli buku tersebut karena disangkanya buku itu buatan saya. Saya hanya ketawa saja.
Selain itu ada lagi “Budi Rahardjo” yang gitaris. Dia ada di albumnya Erwin Gutawa, Rockestra. Yang ini juga bukan saya. Ha ha ha. Maunya sih saya, tapi bukan. hik hik hik. Jangan-jangan orang ngajakin saya main musik karena dikira saya adalah Budi Rahardjo yang itu? Waaahhh. Kayaknya saya harus lebih sering pakai nama “BR” atau “BBR”. He he he.
Oh ya, kedua Budi juga menggunakan “Rahardjo” dengan ejaan lama (dengan “dj” bukan dengan “j” saja). Jadi lebih sahih lagi kesamaannya.
Aduh … gimana ya membedakan “Budi Rahardjo” yang ini dengan “Budi Rahardjo” yang lain? Tentu saja saya tidak dapat mengklaim bahwa saya yang lebih berhak. Wong nama kacangan …


Maret 26th, 2007 at 7:43 am
serupa tapi tak sama, saya terpaksa merubah spelling dengan menggunakan ejaan baru untuk nama saya. (padahal nama itu kan sesuatu yg sakral yg diberikan oleh orang tua kita)
apa boleh buat…karena sewaktu saya lalu lalang di tanah abang saya dapati nama saya adalah merk cd alias celana dalam . (jockie sekarang Yockie hehehe:)
Jadi masih lebih beruntung anda mas…tidak nyangkut2 dengan privat property.
Maret 26th, 2007 at 8:39 am
Ha ha ha … ternyata baru tahu kenapa pakai “Y” bukan “J”. Soalnya saya bingung, ejaan sebenarnya dari nama mas Yockie ini pakai “J” atau “Y”. Kok nicknamenya pakai “J”. Sekarang baru tahu alasannya … ternyata ada hubungannya dengan kolor. Ha ha ha. Ini baru lucu … he he he. (Sori mas. Paling enak memang mentertawakan penderitaan orang lain.)
Maret 26th, 2007 at 8:50 am
Mungkin bukan nama kacangan ya pak, tapi nama pasaran…
Kalau di Inggris sana, nama John dan William banyak banget. Kalau di Indonesia, nama Jojo, Agus dan Bambang juga banyak [Dengan segala hormat pada pemilik nama].
Oh ya, satu lagi, nama Budi juga banyak (hihihi, sorry mas Bud-The Gadget)
Maret 26th, 2007 at 8:51 am
Sorry, bukan Jojo tapi Joko
Maret 26th, 2007 at 8:51 am
Sorry, bukan Jojo tapi Joko
. BTW, bapak sendiri namanya Budi ya, hihihi…
Maret 26th, 2007 at 8:54 am
yah, dari SD kita semua juga tau dengan kalimat: “Ini ibu Budi”… jadi wajar pak kalau penggunaan nama “Budi” di Indonesia ini “booming”…
untuk membedakannya dengan BR yang lain? (DR?) Budi Rahardjo, Ir., MT.?
* mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama, alamat, atau gelar (kaya undangan aja, hehehe)
Maret 26th, 2007 at 9:04 am
Gak ada lah yang namanya nama kacangan… sudah lazim aja. nama orang barat sono malah banyak yang sama. Tapi kalau soal kemampuan … apalah arti nama
Salam
Maret 26th, 2007 at 11:27 am
Edy Santoso juga nama pasaran. Akhirnya pakai nama achedy. Dengan nama itu hampir nggak ada username yg sama.
Maret 26th, 2007 at 11:43 am
sekarang mungkin kita harus menggenapkan sampai 3 kata nama2 kita atau anak2 kita (menggnjilkan kali yah.. dengan 3 sebagai angka3 )jadi nantinya tidak ada nama yang kacangan atau pasaran
atau mencampurkan 3 bahasa dalam nama2 yg baru
ada bahasa arabnya, ada jawanya, ada indonesianya, ada sangsekertanya, ada amerika… ada inggrisnya dan ada yg lain… jadi campur aduk sehingga… gak ada yg sama pastinya
atau nama dengan kata2 Indonesia
misalnya
atau mengganti salah satu huruf dari nama yang sudah pasaran
misal budi (maaf yah pak Budi pake namanya jadi sampel)
bisa diganti dengan buqi, atau bugi… dan sebagainya….
kan semakin banyak aja orang nih di dunia dan probabilitas nama yang sama itu juga semakin tinggi….
Maret 26th, 2007 at 11:55 am
Kalo kata orang arab mah, pake “bin” makanya pak. Nama saja seringkali banyak yang menyamai, tapi kalo dikombinasikan dengan nama orang tua, kemungkinannya menjadi semakin sedikit.
Maret 26th, 2007 at 12:42 pm
Wah… akhirnya saya ketahui kalau penulis buku komputer tentang pemrograman dalam Bahasa C++ bukan Anda Pak.
Saya mengalami hal yang sama, nama saya yang seharusnya SAHERMAN sering kali mengalami salah ketik. Terakhir memperbaharui STNK sepeda motor. Lagi-lagi orang mengetiknya SUHERMAN. Padahal nama saya tidak kacangan kayak nama yang terakhir itu. Nasibku…
Maret 26th, 2007 at 1:19 pm
nasib yg mempertemukan qt pak, halahhh mangsudnya nasib punya mana pasaran. dimana-mana ada “endah”, buat mbedain disemua id email cukup “ndah”. Untunglah nama tengahnya saya ambil dari suami saya, paolo maldini! (wuakakakkk ini mah impian ngawurr & sy ga’ mau trbangun)
Maret 26th, 2007 at 1:28 pm
kesamaan nama dengan nama artis yang sedang naik daun, buat saya sering mengganggu, karena beberapa orang mengaku fans beratnya mengimi e-mail2…,
Maret 26th, 2007 at 1:35 pm
Nama saya juga sering jadi bahan ketawaan kalo lagi kenalan di dunia yang English speaker. Mereka kaget dengan pronounciation “daddy”. Emangnya gue bapak elo…kekkee
Oleh karena itu kalo lagi meeting atau training, mending pakai nickname “DD”
Tapi asyiknya nama saya ternyata unik di Internet. Sampe sekarang kalo register Yahoo, MSN, Hotmail atau apalah, pasti belum ada yang pakai. Kalo udah ada yg pakai, biasanya ya saya juga tapi lupa password
Maret 26th, 2007 at 2:25 pm
paling enak emang pake nick name, BR kayaknya udah mewakili karakter bapak
Maret 26th, 2007 at 10:44 pm
terima kasih nak, kamu telah memberikan nama baru untukku
Maret 26th, 2007 at 11:46 pm
Biar namanya beda, ga pasaran atau kacangan lagi, tinggal ganti nama saja.
Salam kenal Pak….
Maret 26th, 2007 at 11:51 pm
Yang BR itu Doktor…
Maret 27th, 2007 at 4:25 am
Nama saya cuma satu-satunya sewaktu sekolah, dan juga di tempat saya kerja, jadinya susah kalau mau ngumpet. Mendingan punya nama yang umum, Susi misalnya, biar gampang ngeles…
“Susi, katanya kamu yang coret-coret papan tulis?”
“Lho, bukan saya, pak. Susi yang lain barangkali?”
teeheehee…
Maret 27th, 2007 at 5:33 am
mbak Ranti ini bisa aja. Tapi bener juga ya … nggak kepikir oleh saya. Tapi kan kalau mau corat-coret, ngapain pakai nama sendiri. Pakai nama samaran dong …
Maret 27th, 2007 at 9:16 am
sepertinya saya juga termasuk dalam daftar naman2 “kacangan”, coba aja, pasti semua orang punya temen ato kenalan ato bahkan namanya sendiri yg mirip (sama) dengan saya. tapi yah mau gimana lagi itu nama yg dikasih Ortu n maknanya pun ga jelek2 amat :p
Maret 27th, 2007 at 10:05 am
sebenarnya bukan nama kacangan lho, tapi nama yang mengikuti trend kalau banyak orang yang memakainya jadi ikut juga itu namanya mengikuti trend. trendy istilahnya tahun 80 an
Maret 27th, 2007 at 8:10 pm
mungkin Pak Budi sebaiknya begini kalau memperkenalkan diri :
“saya Budi Rahardjo, Phd; lulusan Kanada; dosen ITB”
he..he..he..dijamin susah dianggap kacangan namanya. Phd ama ITBnya itu loh Pak yang bikin beda
Maret 27th, 2007 at 10:22 pm
Urutan 1 – 10 dari sekitar 113,000 hasil penelusuran untuk “Budi Rahardjo”. (0.11 detik)
10 besar terkait dengan Pak “Budi Rahardjo” penulis blog ini
Mei 25th, 2007 at 4:13 pm
[...] Teknik Pemrograman Pascal yang ditulis oleh Budi Raharjo (wah, jadi inget tulisan pak Budi tentang ini), padahal Budi Raharjo sang penulis adalah Budi Raharjo dari Tim SDDN (link SDDN) bukanlah Budi [...]