Berbicara dengan alat musik

Terus terang tadinya saya bermain musik hanya sebagai pengiring lagu. Maksudnya begini. Ketika memainkan sebuah lagu, fokus utama saya adalah kepada kata-kata atau vokalnya. Musik hanya sebagai pengiring. Artinya kalau ada chord C, ya mainkan chord C saja. Sebagai pemandu lagu saja. Jadi tidak penting apa chord C itu mau dipetik atau digenjreng. Yang penting C dan nggak “fales“. Titik.

Akhir-akhir ini saya berpikir lain, yaitu bahwa alat musik pun bisa berkata-kata. Tentu saja ini bukan hal yang baru dan sebetulnya saya pun tahu akan hal ini. Hanya saja saya baru ngeh atau memasukkan ini ke kati.

Mengapa sebuah not terdengar atau tidak menjadi penting. Demikian pula cara memainkan not-not tersebut (misalnya dengan gitar bisa dipetik, bend, slide, tap, dan lain-lain) juga punya peranan. Saya pikir itulah sebabnya orang tertarik dengan Eric Clapton, yang petikan gitarannya tidak secepat petikan anak-anak muda sekarang tapi tetap mantap terdengarnya. Mungkin itulah sebabnya saya suka dengan gitaran Roine Stolt (dari The Flower Kings atau Transatlantic), yang melodious (hah! apa ada kata ini?).

Pikir-pikir … sebenarnya saya juga pernah mencoba “berbicara” dengan alat musik, yaitu ketika saya mengarang dan memainkan lagu “Close to you”. Silahkan simak apa yang ingin saya katakan dalam lagu ini. Di lain tulisan nanti saya ceritakan latar belakang lagu ini.

Lagu bisa di download di web site saya (take 1 dan take 3) atau dari rahard.multiply.com. (Kalau bisa coba yang multiply dulu untuk mengurangi beban kepada web site saya.) Ada dua versi di sana, yaitu versi yang menggunakan berbagai alat musik bagus (Kurzweil, dll.) dan yang menggunakan keyboard Roland yang kecil (dan 1 sound modul kecil). Lagi-lagi, kualitasnya agak kurang baik karena direkam dengan walkman di tahun 1988. (Wah hampir 20 tahun yang lalu!) Tapi lumayanlah. Eh, siapa tahu lagunya bisa diperbaiki oleh mas Yockie … ha ha ha.

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

6 Tanggapan to “Berbicara dengan alat musik”

  • BARRY

    Lumayan.. sekarang tinggal ke Starbucks untuk minta dikasih label :)

  • to_jsop

    saya sudah download tuh mas , komentar saya:

    1.lets say tempo:120 drop to:100 (atau dicari pake feeling aja)
    2.mute rythm seq (drum cs)
    3.rumusan mbah f.zappa:

    misal melody per alinea terdiri dari 8 bar dng format 4/4 , maka coba dirubah
    8 bar dng format tempo terdiri dari 2/4 + 3/4 + 5/8 dslb (ini semua feeling aproach’ mas)
    lalu gunakan media wave spt sound-sound futuristk sbg pengganti tugas drum cs.

    Musik bukan dogma atau punya aturan-aturan seperti UUD’45.
    Hakim agungnya rasa dan telinga kita mas…..kalau ngga enak ya…biar dibilang ‘ini yang main lulusan dari: bla..bla..bla lho’, yaaa tetep aja kaga enak…selesai heheehe:)

    nah..baru sampai sini saja anda sudah terdengar seperti teknokrat IT yang sedang menjelajah alam semesta.
    Selanjutnya explore sendiri mas..anda kan dosen, pasti lebih wuiiiihhhh…….:)

  • double A

    Kalau udah pakarnya yang ngomong, Pak Budi pasti manut, hehehhehe….

    Saya sih melongo-melongo aja baca uraiannya Mas Yockie, lha wong saya ngga’ mudheng sama sekali !

  • Alief

    woro-woro: Dicari, pria bernama mas Yockie untuk ngedit lagu :)

  • leeloos

    Berbicara dengan alat musik sama gak artinya dengan Berbicara lewat alat musik ..?

    Saya seneng juga alat musik, kalo punya piano sheet boleh donk berbagi ^_^

  • to_jsop

    mungkin mirip-mirip ‘menikah dan dinikahi’ , gak nyambung ya mbak…hehe maaf.:)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.