Berbicara Melalui Alat Musik (bagian kedua)

Lho bagian pertamanya mana? Ini memang bagian kedua dari tulisan yang tidak nyambung

Pada tulisan terdahulu, dengan berlagak, saya bercerita mengenai berbicara dengan alat musik. Hah! Jangankan dengan alat musik, berbicara dengan mulut atau tulisan saja masih belum becus. Masih banyak salah paham atau salah penulisan. Apa lagi mau bicara melalui (bukan “dengan” ya?) alat musik yang sarat dengan interpretasi pribadi.

Sebetulnya tulisan saya tersebut muncul karena tergelitik dengan Phil Collins. Apa hubungannya? Begini. Saya mengenal Phil Collins sebagai drummer dari band Genesis, sebelum menjadi vokalisnya. Tentu saja mengenal di sini hanya sebagai penggemar saja. Yang menarik bagi saya adalah gebukan dari Phil Collins. Rasanya pukulannya berbeda dari drummer yang lain, yaitu adanya sesuatu yang berbeda (melodi?). Dia tidak sekedar memukul dengan kekuatan saja akan tetapi juga ada “sesuatu”nya.

Mau contoh konkrit? Sudah beberapa hari ini – dan itulah yang menyebabkan saya menulis ini – saya bolak-balik mendengarkan lagu “I cannot belive it’s true“. Pukulan drum pada awal lagu itulah yang membuat saya memainkan lagu ini berulang-ulang. Aduh indahnya. (Gila kali saya?) Kalau Anda ikut mengendarai mobil bersama saya, pasti Anda minta diturunkan di pinggir jalan karena bosan mendengarkan bagian awal lagu itu yang saya putar keras-keras di dalam mobil. Bolak balik saya setel bagian awalnya, rewind lagi, play lagi, rewind lagi, play lagi, … Asyiknya musik digital ya … (gak kebayang jamannya kaset – ancur tuh kaset). Ha ha ha.

Ah … jadi teringat masa lalu waktu masih SMA. Dulu saya sempat kursus musik … drum. Ha ha ha. Tapi semenjak lulus SMA, saya tidak pernah main drum sungguhan dan hebatnya, saya tidak bisa memainkan drum lagi. Serius. Hilang begitu saja. Atau memang dulu nggak bisa, sekarang apa lagi. Caleuy, kata orang Sunda. Ha ha ha. Tapi dulu sempat juga tuh manggung dengan vokal group anak SMA – sempat latihan di rumahnya (alm) Harry Roesli segala. Sempat nge-band bawain Beatles. Jadi mestinya dulu pernah bisa. Ah, mungkin dulu orang gak tega aja ngasih tahu bahwa saya nggak bisa main drum. Halah … terbukalah mata.

Anyway. Kembali ke … topik. Lupakanlah berbicara melalui alat musik. Saya mau belajar “berbicara melalui blog” dulu saja. Belum apa-apa sudah salah melulu. Jadi mau belajar, belajar, dan belajar. Untuk sementara ini, “tutup mulut melalui alat musik” dulu.

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

2 Tanggapan to “Berbicara Melalui Alat Musik (bagian kedua)”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.