On a Sunday Morning

This Sunday morning was really beautiful. I wanted to go out but had no company. My wife was not feeling well (she has a sore throat). My son was still sleeping. He was also sick (coughing and the like). My daughter is in a different country. Usually, I walk around our place with my wife. We live in up on a hill, a little off the city. We can see part of Bandung from our place.

So I ended up in front of my computer, doing some work. I have to prepare something for my presentation tomorrow. Of course, I did some blogwalking, looking and reading some blogs.

I couldn’t resist to go out. My wife asked me to buy lunch. Aha, that’s the ticket. So I went to a cafe higher up, “de Tuik”. I ordered some food and started to read a book. I am currently reading “The Long Tail”. Here’s a picture of the book and a cup of bajigur (a traditional Sundaneese drink). Ha … this time it was not Starbucks. (Bagi yang sering komentar saya kebanyakan Starbucks, lihat ini. he he he. Saya suka yang tradisional juga kok.) Traditional stuff is so great. Look at the wall, it’s made of “bilik” (bamboo).

The place was so serene. Alone. I could see Bandung from here. It looked quiet. It was so deceiving. I know that many tourists were still flocking Bandung’s Factory Outlets at that time. But here, it was so nice and quiet. Ah, I wish I brought my notebook so I could put my thoughts down here. There were some (wild) ideas floating in my mind. They’re gone now. No problem. If they – those ideas – are really that good, they will show up again.

Food is ready. It’s time to go home …

[Catatan: biasanya saya menuliskan tulisan dalam Bahasa Inggris di blog saya yang gbt.blogspot.com, tapi kali ini saya melanggar kebiasaan saya itu. Kebiasaan sekali-kali harus dilanggar. Ha ha ha. Bukannya saya bermaksud sok-sokan dengan Bahasa Inggris, tapi kadang-kadang perasaan muncul dalam bahasa yang campur aduk. Kali ini, entah kenapa, perasaan saya tersebut muncul dalam Bahasa Inggris. Saya pikir mungkin karena suasana yang saya alami tersebut seperti pernah saya lalui - dejavu? - ketika tinggal di Kanada dulu. Ah, ini cerita lain kali saja.]

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

15 Tanggapan to “On a Sunday Morning”

  • yudhipras

    itu yang ditatakan apaan pak ? gorengan ? atau semacam asinan ?hihihihi

    –yudhi.prasetyo

  • agamaku

    Nice story. What is the box before the book? Just curious.

    Regards,

  • Budi Rahardjo

    Yang di tatakan, itu kripik.
    Box dekat buku: kotak kacamata baca. Sudah seharusnya saya pakai kacamata untuk baca, tapi masih selalu menghindar. Jadi kacamata saya bawa-bawa dalam kotak. Kalau diperlukan baru kacamata keluar dari kotaknya. he he he.

  • yudhipras

    Kalau diperlukan baru kacamata keluar dari kotaknya. he he he.

    biar ga keliatan …. *uhuk uhuk yah pak? * hihihihi.canda pak :P

  • imcw

    semoga keluarga pak budi segera sembuh dan bisa jalan jalan bersama lagi…;)

  • ririsatria

    Buku “The Long Tail” dan kopi di Starbucks … he he … dua kesamaan kita Pak …

    Sudah selesai baca buku tsb Pak ? Pak Budi setuju nggak dengan premis yang diajukan si Chris Anderson di buku itu mengenai “the silent majority in the marketplace” ?

    Wishing you all the best, Pak !

  • ranti

    Ngomong-ngomong soal buku, sepertinya mas Budi sudah pernah baca the Cluetrain Manifesto yg ditulis oleh Chris Locke, Doc Searls dan David Weinberger? Kalau belum (sekalian share dg teman-teman lainnya): http://www.cluetrain.com/.

    Scroll down ke bagian akhir halaman untuk download e-book secara gratis.

    Bagian “95-theses” cukup menarik:
    http://www.cluetrain.com/book/95-theses.html

    Dibuat sekitar 7 tahun yg lalu, tapi tetap menarik.

  • dhany

    lumayan… dapet dongeng bangun tidur..

  • Budi Rahardjo

    Untuk ririsatria, saya setuju dengan tulisan Chris Anderson itu karena ternyata basis itulah mengapa saya membuka toko musik digital pertama di Indonesia (Digital Beat Store) yang ada di Bandung (di dalam Blitzmegaplex, Parijs van Java) dan di Jakarta (di dalam Blitzmegaplex, Grand Indonesia). Setelah membuka toko tersebut baru saya tahu teorinya. Ternyata memang klop!

  • ririsatria

    Pak Budi … Apakah market place dalam teori Chris Anderson yang berupa head itu mirip dengan teori ekonomi klasik, yaitu economies of scale, karena prinsipnya limited range of products but high popularity, sedangkan yang long tail itu mirip dengan economies of scope, unlimited range o products but low popularity … atau mungkin kita sudah nggak bisa pakai paradigma ekonomi klasik untuk memotret kondisi ini kali ya ? kayaknya begitu ya Pak ..

    Di buku tsb ada asumsi “when everything becomes available to everyone, and almost unlimited choice exists”, … jangan2 ini sama dengan paradigma pasar sempurna versi orang ekonomi, sesuatu yang exist dalam teori, tapi sulit terjadi dalam dunia nyata …

    Anyway, saya jadi tertarik nih lihat2 business model Digital Beat nih Pak … he he he .. boleh belajar kan Pak ?

    Untuk ranti (is this Om Benny Ranti ??) : terima kasih atas link cluetrain-nya … sangat menarik …

    Salam sukses selalu …

  • Hardjono

    Pak Budi, we call that a “Sunday Escape” :) Yes, you gotta take some of those to keep sane. Saya juga biasanya ngopi, baca koran atau magazine kalau minggu pagi. Terakhir ini lebih sering blogwalking aja dech…

  • Budi Rahardjo

    Untuk ririsatria, diskusinya bisa panjang nih. Ada banyak hal yang bisa diperoleh dari buku itu. Sebagai contoh, prinsip dasar dari ekonomi adalah “scarcity” (keterbatasan). Bayangkan kalau prinsip dasar ini berubah menjadi “abundance” (banyak, tersedia dimana-mana) … apa nggak pusing tuh. He he he. Ok deh nanti kita bahas sedikit demi sedikit mengenai hal-hal “under the hood” dari start-up2 saya.

    Kalau “ranti” di sini bukan Om (Benny Ranti), tapi mBak (Ranti Junus). ha ha ha. Buset deh. Talk about confusing names.

  • andriansah

    Toko musik digital?
    bisa saya contoh tidak? hmmmm

  • dobby fachrizal

    knapa kita lbh mudah ngerti org indon nulis inggris ya? knapa pak?

  • Budi Rahardjo

    untuk dobby fachrizal … kenapa ya? nggak tahu. tapi saya punya cerita lucu.

    ketika itu kami sedang kursus bahasa inggris sebelum diterbangkan ke kanada. gurunya adalah asli orang kanada. nah di dalam kelas harus berbicara bahasa inggris. pada suatu hari, semua ribut di kelas … pakai bahasa inggris. si gurunya marah karena aturannya pakai bahasa inggris.

    what language are you speaking?
    english! (jawab murid-murid sambil bengong)

    he he he. ternyata bahasa inggrisnya orang indonesia dikenali oleh orang indonesia, tapi tidak orang yang aslinya berbahasa inggris. :D

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.