Harian Bisnis Indonesia edisi Senin, 2 April 2007, memuat tulisan yang mengatakan bahwa pasar peranti lunak Indonesia tumbuh 16%. Hasil ini diperoleh dari wawancara dengan pak Djarot Subiantoro (yang merupakan ketua Asosiasi Peranti Lunak Telematikan Indonesia – Aspiluki).
Pertumbuhan ini didorong oleh dua bidang, yaitu perbankan syariah dan telekomunikasi. Perbankan syariah memang mulai mendapat minat dari masyarakat Indonesia. Bank berlomba-lomba untuk membuat “versi syariah” dari layanan mereka. Untuk itu mereka harus memperbaharui sistem teknologi informasinya. Beberapa waktu yang lalu memang saya pernah diminta untuk membantu mengevaluasi sistem dari sebuah bank yang ingin migrasi core banking mereka karena salah satunya adalah untuk ekspansi ke syariah. Sayangnya tawaran tersebut tidak dapat saya penuhi karena sudah sangat sibuk.
Untuk bidang telekomunikasi, pertumbuhan diperkirakan muncul dari sisi content. Saya memang melihat sisi ini memiliki potensi untuk berkembang besar, namun saya belum tahu sejauh apa efeknya terhadap belanja peranti lunak di Indonesia.
Data serupa juga diperoleh dari perusahaan IDC (International Data Corporation), yang menjadi acuan bagi banyak perusahaan. Menurut IDC, pasar teknologi informasi Indonesia pada tahun 2006 mencapai US$ 1,97 milyar. Dari jumlah itu, pasar software hanya US$ 137 juta. Sebagian besar, 78% dari total pasar itu, merupakan sisi perangkat keras (hardware). Hmm… padahal dalam kerangka BHTV, diharapkan Indonesia bisa melakukan ekspor software sebesar US$ 8 milyar. Harus kerja keras kita! Buat start-up software house yuk?
Setelah saya pikir-pikir, pasar yang disebutkan di atas adalah pasar untuk perusahaan besar ya. Akan sulit bagi sebuah software house kecil untuk masuk dan menjadi pengembang aplikasi core banking syariah dari sebuah bank ataupun content management (atau billing system) dari perusahaan telekomunikasi. Wah, ini sih hanya makanan perusahaan besar saja. Bagaimana dengan perusahaan pengembang software yang kecil? Dugaan saya ada pasar multimedia untuk mereka ini. Tentu saja ada pasar untuk software accounting dan inventory yang kecil-kecilan, yang harganya hanya antara 1 juta sampai 5 juta rupiah, tapi mosok itu terus produknya?
Yang masih belum terpikirkan oleh saya adalah efek dari adanya open source software (dan free software), yaitu software yang harganya bisa murah atau gratis. Linux menjadi salah satu contohnya. Pasar berubah menjadi ke dukungan (support) dari software. Wah, kesempatan?


April 8th, 2007 at 12:24 pm
bagaimana dengan start-up perusahaan indie games developer ?, sekedar informasi pa’ Budi Rahardjo , akan ada games developer gathering indonesia 2007 minggu 22 april 2007, kalau berkenan, boleh ikutan. daftarnya di http://kukuhtw.com/gathering
April 8th, 2007 at 7:56 pm
wah, yang saya temukan malah terbalik pak. setelah saya telusuri ke perusahaan teman-teman di bandung. banyak diantara mereka malahan menjual software e-government. hah ??!?!. aneh…. silahkan registrasikan produk-produk teman-teman bhtv http://www.it-bandung.com kami siapkan etalase untuk meng-export software indonesia pak!!.
April 9th, 2007 at 4:38 am
Pak Budi, apa ada data lebih detail lagi mengenai market software di Indonesia? Saya agak heran, kok marketnya hanya bernilai US$ 137 juta (kecil sekali). Padahal negara berpenduduk 300 juta orang lebih. Apa mungkin perusahaan2 besar (bank2, telecom2) mengimpor software dari luar negeri (in-house). Apa software import di pajak tidak? [TH]
April 9th, 2007 at 3:15 pm
Efek dari Linux adalah kita jadi bisa memberikan platform yang bebas (dari vendor lock-in, forced upgrades, dll) kepada client kita pak.
Kita (vendor) jadi bisa fokus dalam soal memberikan solusi bisnis untuk client.
Juga, platform Linux cenderung lebih reliable, sehingga kita (vendor) juga tidak terlalu pusing soal after-sales service. Customer jelas juga senang karena sistemnya up & running terus. Enak euy
April 9th, 2007 at 8:24 pm
Kayaknya market yang lebih kuat ada di pengembangan prouk yang bersifat umum. Misalnya YouTube atau Friendster.
Agustus 26th, 2007 at 6:19 pm
pasar kok tumbuh makin rame wae
http://www.234go.blogspot.com
Februari 24th, 2009 at 4:19 pm
waduh, jadi peluang untuk membuat software house kecil pak ya?
Januari 30th, 2010 at 11:50 am
kalau ingin benar2 tumbuh dan jaya di software tekuni dan fokuslah… karena kebanyakan software house di indonesia tidak berani fokus ke arah yang lebih detail. seperti halnya pada waktu masih sekolah semua dipelajari tanpa ada 1 yang di kuasai… fokus itu kuncinya…
Januari 24th, 2011 at 6:12 pm
Ass.. Ada gak yang jual software RAB Baja Ringan