[Tulisan ini merupakan bahan awal dari laporan yang sedang kami susun. Saya tampilkan di sini untuk mendapatkan masukan dari rekan-rekan sekalian.]
Panduan Penelitian Open Source Software
Dokumen ini merupakan kolaborasi untuk menjabarkan panduan penelitian yang terkait dengan open source, khususnya open source software (OSS).
Latar Belakang Masalah
Mengapa penelitian open source perlu memiliki sebuah panduan? Gerakan OSS tentu saja tidak dapat dibatasi. Setiap orang berhak untuk membuat penelitian sendiri. Namun sayangnya hal ini mengakibatkan adanya duplikasi upaya sehingga penggunaan sumber daya (resources) menjadi tidak efisien. Bila sumber daya tersebut berasal dari pengembang yang bersangkutan, hal ini tidak terlalu bermasalah. Untuk sumber daya yang berasal dari sumber yang terbatas, misalnya dana penelitian yang didanai oleh pemerintah, diperlukan adanya sebuah panduan sehingga penelitian open source menjadi lebih sinergis.
Hasil evaluasi lebih lanjut menunjukkan bahwa panduan ini tidak hanya bermanfaat bagi pemerintah saja, akan tetapi juga bermanfaat bagi perusahaan. Sebagai contoh, PT Telkom juga memiliki inisiatif open source. Pada saat ini PT Telkom juga sedang mencari arahan untuk pengembangan aplikasi dengan basis open source. Diperkirakan ada juga institusi atau perusahaan lain yang juga pada situasi yang sama. Dengan kata lain, panduan penelitian OSS ini sangat dibutuhkan.
Panduan ini akan lebih bermanfaat lagi jika dikombinasikan (disinergikan) dengan kegiatan di pusat-pusat pengembangan OSS di Indonesia (misalnya Pusat OSS, LIPI, perguruan tinggi) dan di dunia pada umumnya (misalnya dengan BerliOS di Jerman). Harapannya adalah adanya sinergi dalam pengembangan OSS.
Definisi Open Source Software
OSS adalah perangkat lunak yang dikembangkan dengan source code yang terbuka. OSS identik dengan Free Software. Perlu digarisbawahi, definisi free disini bukan berarti gratis, namun free disini berarti bebas. Bebas ini dijabarkan menjadi empat buah, yaitu:
- Kebebasan menjalankan program untuk keperluan apapun.
- Kebebasan untuk mengakses source code program sehingga dapat mengetahui cara kerja program.
- Kebebasan untuk mengedarkan program.
- Kebebasan untuk memperbaiki program.
- Kebebasan untuk menjualnya tanpa harus memilikinya (?)
Penelitian Open Source Software
Yang dimaksud sebagai penelitian dalam Open Source Software adalah sesuatu hal yang baru atau perbaikan (improvement?) yang dilakukan dalam OSS atau dinilai memiliki kelayakan berdasarkan parameter yang disusun. Penelitian di dalam hal ini dapat dikatakan juga sebagai pengembangan.
Ada banyak penelitian atau pengembangan OSS, antara lain:
- Pengembangan low level: contohnya adalah pengembangan kernel, dan device driver.
- Pengembangan aplikasi: baik dalam bentuk aplikasi secara keseluruhan (complete package) atau ikut berpartisipasi dalam mengembangkan bagian dari aplikasi (participating in existing application development).
- Pengembangan sebuah paket: bisa berbentuk distribusi (distro) khusus, atau paket aplikasi.
- Pengembangan sistem untuk pengelolaan OSS: contohnya adalah aplikasi yang dapat digunakan untuk mempermudah instalasi paket atau aplikasi baru, aplikasi yang dapat digunakan untuk mengatur dan mengubah konfigurasi sistem, dan sejenisnya.
- Penelitian tentang model bisnis dari OSS ini.
- Penelitian mengenai strategi/mekanisme penyebaran OSS ini.
Motivasi Pengembang OSS
The Boston Consulting Group/OSDN Hacker Survey (URL? sumber dari Rusmanto Infolinux) mengelompokkan pengembang OSS berdasarkan motivasinya. Berikut adalah hasil surveynya:
- Learning and Fun (29%): membuat program untuk belajar (stimulasi intelektual,langkah untuk menjadi profesional).
- Hobbyists (27%): membuat program karena hobby.
- Professionals (25%): untuk kebutuhan kerja dan meningkatkan komptetensi (profesional).
- Believers (19%): percaya bahwa kode program harus terbuka (ideologi dalam pemrograman).
Catatan: Indonesia perlu melakukan survey ini sehingga hasilnya bisa dibandingkan dengan hasil dari The Boston Consulting Group.
Pola Pendanaan Pengembangan Open Source Software
Ada beberapa pola pendanaan pengembangan OSS (OSS financing scheme).
- Pengembangan didanai oleh pribadi-pribadi para pengembang. Banyak sekali produk OSS yang menggunakan metoda ini. Sang programmer sudah bekerja di tempat lain (kadang terkait dengan IT, kadang tidak) dan mengembangkan produk OSS tersebut di luar waktu luangnya. (Apakah kernel Linux dilakukan dengan menggunakan metoda ini?)
- Perusahaan komersil mendanai pengembangan. Contoh untuk model ini adalah MySQL, Cygwin (didanai oleh Cygnus). Perusahaan pemberi dana mendapat keuntungan dari layanan dukungan (support) untuk produk OSS tersebut.
- Perusahaan membayari programmer untuk ikut kontribusi dalam pengembangan produk OSS. Google secara berkala memberikan bantuan pendanaan untuk programmer mahasiswa yang ingin bekerja untuk membantu mengembangkan paket OSS tertentu.
- Organisasi non-profit membayar programmer untuk mengembangkan produk OSS. (Apakah Apache dilakukan dengan metoda ini?)
- Pengembangan OSS merupakan bagian dari penelitian di perguruan tinggi atau lembaga penelitian. Pendanaan diperoleh sebagai bagian dari dana penelitian, yang mungkin tidak terkait langsung dengan OSS.
- Pemerintah mendanai pengembangan OSS melalui program khusus seperti hal yang dilakukan pada beberapa negara berkembang seperti: (salah satunya RRC, India ?, Vietnam ?)
Kesulitan Pengembangan Open Source Software
Pengembangan OSS di Indonesia bisa dibilang masih sangat minim. OSS di Indonesia bisa dikatakan baru sebatas menggunakan saja tanpa melakukan memodifikasi, mengutak-ngatik, atau memperbaiki bug yang ada. OSS sulit dikembangkan di Indonesia karena alasan-alasan sebagai berikut:
- Membutuhkan kemampuan teknis yang tinggi.
- Sistem insentif (reward) yang tidak mengikuti pola pengembangan software proprietary yang ada.
- Model bisnis yang tidak mengikuti pola model bisnis software proprietary.
- Kepemilikan yang tidak jelas, sehingga cenderung berlawanan (anti-thesis) dengan pola pengembangan IPR (Intellectual Property Right) yang juga sedang digalakkan oleh pemerintah dalam penelitian yang didanai selama ini.
- Tidak tahu bagaimana caranya memulai mengembangkan OSS.
- Hegemoni produk prorietary yang sudah lebih dulu masuk ke pasar dan menjadi standar umum.
Kendala Bahasa
Bahasa ternyata masih menjadi kendala yang cukup besar dalam mengembangkan OSS. Biarpun belum ada data yang cukup akurat, namun dari diskusi yang ada di milis-milis komunitas GNU/Linux Indonesia, tercermin pengembang OSS di Indonesia masih mengalami kesulitan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Informasi berbahasa asing masih dianggap berjarak.
Untuk mengatasi kendala ini dapat ditempuh dengan dua alternatif sekaligus :
- Menerjemahkan dokumentasi-dokumentasi seputar OSS ke dalam Bahasa Indonesia.
- Mendorong pengembang OSS Indonesia untuk dapat berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Parameter Penelitian OSS yang Layak Didanai
Agar dana penelitian dapat digunakan secara efisien, perlu ada panduan mengenai penilaian penelitian OSS yang layak didanai. Untuk itu perlu dikaji paramater-parameter yang dapat digunakan sebagai panduan. Berikut ini adalah beberapa usulan parameter yang perlu diperhatikan dalam mendanai penelitian OSS.
- Tidak bisa didanai oleh pihak swasta karena belum ada business model yang jelas dan ROI (Return Of Investment) yang lama.
- Memberikan dampak bagi masyarakat luas (? masih belum spesifik).
- Memperbaiki atau meningkatkan usability dari OSS.
- Memiliki urgency tinggi karena keluarannya sangat diperlukan oleh pemerintah dan bangsa dalam waktu dekat.
- Memiliki suatu terobosan ilmiah atau teknologi yang dapat memberikan solusi alternatif yang lebih ekonomis.
- Mendukung program pemerintah (masih belum spesifik, tapi ini perlu ditekankan)
Meskipun kita telah menggunakan parameter-parameter di atas untuk memilah penelitian OSS yang layak didanai, kita masih memiliki masalah lain. Topik penelitian OSS masih dapat bervariasi dan tidak terintegrasi. Sebagai contoh, bisa jadi ada sepuluh (10) buah penelitian OSS yang memenuhi kriteria parameter di atas, namun kesepuluh aplikasi ini adalah aplikasi yang berbeda-beda sehingga tidak ada keterkaitan.
Apakah perlu dibuatkan sebuah tema atau topik untuk mengintegrasikan topik-topik penelitian OSS? Kita dapat mengatakan bahwa topik penelitian OSS yang didanai adalah yang terkait dengan e-government, pendidikan (education), kesehatan (health), pengurangan digital divide, atau topik tertentu yang sangat mendesak. Ataukah tetap ada kebebasan dalam menentukan topik penelitian? Atau bisa juga pemilihan merupakan gabungan dimana topik-topik tertentu memiliki nilai prioritas yang lebih tinggi daripada topik lain.
Penutup
…


April 10th, 2007 at 12:13 am
Pak Budi, sungguh bagus dan tepat tayangan blog mengenai OSS. Dari pengalaman saya sendiri, model bisnis untuk OSS itu sukar sekali diterapkan. Sedikit sekali perusahaan berbasis OSS yang bisa tahan lama. Red Hat sendiri sebenarnya bukan OSS tulen, melainkan bisnis yang “re-packaging” perangkat lunak OSS orang lain. XenSource adalah contoh lain. Itu-pun sebenarnya bukan OSS, karena masih mengklaim hak cipta (intelektual properti).
IMHO, agar industri OSS dapat berkembang, software2 aplikasi (yang sudah ada) harus di gunakan. Sebagai contoh, kalau pemerintah serius mengenai dukungannya atas OSS, maka instansi2 dan badan2 pemerintah (termasuk universitas2) seharusnya pindah ke StarOffice (www.openoffice.org/) dengan Linux. Mudah dan murah
Semakin banyak orang menggunakan StarOffice, semakin banyak bug yang dapat diperbaiki, dan semakin banyak extension/plug-in yang bisa di ciptakan oleh pengikut OSS di tanah air.
April 10th, 2007 at 6:27 am
OSS di Indonesia tidak ada yg mengembangkan ? Ah becanda .. kurang data mungkin he he he he Data lebih lengkap termasuk problem mengadopsi OSS dan penelitian OSS pernah saya berikan ke tim IGOS. Sudah lebih dari 2 tahun yg lalu
April 10th, 2007 at 7:22 pm
Artikel menarik tentang open source:
http://www.joelonsoftware.com/articles/StrategyLetterV.html
Setelah saya membaca ini, baru sadar apa yang membuat open source berkembang. Penyebab utamanya adalah faktor bisnis, bukan sekedar idealisme.
April 11th, 2007 at 1:51 am
Paman Wiryana, berhubung sebagian besar pengunjung di sini tidak punya “channel” ke tim IGOS, bagi-bagi dong datanya di sini, atau di situs Anda…
April 11th, 2007 at 3:14 pm
Saya sudah pernah bagi-bagi data saya. Sayangnya yang bertukar data sedikit sekali. Sengaja tidak saya publish di web, karena banyak data yang sifatnya tidak bersedia dibuka ke publik, terutama persh pengguna Open Source).
Saya membuat dokumen itu sekitar 2 tahun yang lalu.
April 12th, 2007 at 3:23 am
[...] http://rahard.wordpress.com/2007/04/09/panduan-penelitian-open-source-software/ [...]
April 12th, 2007 at 12:17 pm
Gimana kalo artikel ini di crossporting ke http://www.foss-id.web.id??
April 13th, 2007 at 9:02 am
sekarang sudah disadur di http://www.foss-id.web.id/index.php/2007/04/12/panduan-penelitian-open-source-software/
Mei 28th, 2007 at 11:34 am
apa sebenarnya tujuan atau sejarah terbentuknya oss sih? sudah seberapa banyak sih orang2 indonesia yg sudah mengambangkan oss ini
September 1st, 2007 at 3:30 pm
Bpk2 Yth.
Saya setuju dg Pak yudiwbs
Penyebab utamanya adalah faktor bisnis, bukan sekedar idealisme.
Kalo pemerintah menghendaki OSS ya tinggal sediakan softwarenya berikut manualnya dan bagikan secara gratis, nanti juga akan bisa dg sendirinya, untuk hematnya sediakan download dimana. Kalo tidak nanti diboncengi biaya macem2 akhirnya bengkak OSS tidak tercapai, rakyat tetap melarat, bodoh, dikasi gratisan aja belum tentu bisa apalagi suruh bayar
September 5th, 2007 at 12:33 pm
thanks untuk semuanya, semoga rencana bapak lancar saja, saya sangat setuju atas semua itu demi lancarnya TI di Indonesia yang semakin lama semakin meluas
September 5th, 2007 at 12:34 pm
mohon panduan itu segera di luncurkan
April 5th, 2008 at 2:54 am
waaa … ini yg bikin mahasiswa malas ngoprek linux …
terlalu ilmiah … langsung practise nya saja ( halah … )
Juni 5th, 2008 at 3:36 pm
Ah … paman IMW itu omdo doang. Kalau memang dokumen itu ada, mana buktinyaaaaa …..
Kalau ngaku2 aja punya dokumen, nenek2 juga bisa
Katanya pelaku OSS, tapi urusan dokumen disembunyiin … ini mah tidak konsisten atuh bli ….
comel oge