Globalisasi, sebuah kata yang ditakutkan oleh banyak orang. Budayawan (dan seniman) di negeri ini menyitir bahwa globalisasi menghilangkan budaya bangsa Indonesia.
Saya lihat memang dampak globalisasi cukup dahsyat juga, khususnya di kiota-kota besar. MTV (ataupun acara TV lain), film, kawan memang “meracuni” sisi bahasa anak-anak sekarang. Bahasa mereka sering campur aduk antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Coba saja lihat siaran TV Indonesia yang ditargetkan untuk anak muda. Aduh, please deh. He he he.
Terus terang, saya sebel dengan kondisi ini, meskipun secara tidak sadar saya pun melakukan hal ini. Saya harus akui bahwa kadang secara tidak sadar saya berpikir, menulis, dan kadang bicara (meski tidak sering) dalam bahasa Inggris. Lihat saja judul tulisan ini, “Citizen of the World“. Bukankah bisa diganti dengan kata “Menjadi Warga Dunia”, atau apalah. Pokoknya dalam Bahasa Indonesia. Entah bagi saya maknanya hilang jika tidak ditulis “citizen of the world“. Sok? Bagi saya ini bukan tambah gaya (sok), tapi justru saya merasa ini sebagai sebuah masalah (pribadi). Sayangnya nampaknya bagi anak-anak, bahasa yang campur aduk begini malah keren.
Keluhan mengenai globalisasi dan musik bisa dibaca di blognya mas Yockie. Artikel yang mana ya? Kok banyak artikelnya yang menampilkan kemasygulan beliau tentang kondisi musik Indonesia yang menjadi hilang makna (karena diterjang globalisasi?) Kenapa mas?
Di sisi lain, saya melihat bahwa globalisasi ini membuat (atau memaksa) kita untuk menjadi warga dunia. Salahkah ini? Ini tidak ada bedanya dengan kita di daerah, yang kemudian juga secara bersamaan menjadi warga negara Indonesia. Ambil contoh saya. Saya hidup di Bandung yang memiliki kultur Sunda. Saya juga warga negara Indonesia yang memiliki kultur Indonesia (whatever that means, aduh … ini bahasa Inggrisnya nongol lagi, mohon dipersorry). Salahkah saya jika saya menjadi warga Indonesia dan urang Bandung pada saat bersamaan? Jika tidak, mengapa saya / kami / kita dipersalahkan juga untuk menjadi warga Indonesia dan citizen of the world?
Aku ingin berteriak (sceam on top of my lungs) seperti ini:
I want to be part of the world.
I want to be a citizen of the world.
Am I wrong for wanting (to be part of globalization)?
[Wah. Bisa jadi lirik lagu nih. Ha ha ha.]
Sebagai orang biasa yang kurang mengerti masalah budaya, apakah memang demikian pentingnya kita mempertahankan budaya bangsa Indonesia (yang mana? apa?)? Mohon pencerahan.


April 13th, 2007 at 8:23 am
pertamakah?…
kalau saya pribadi sih, kalau memang istilahnya lebih baik menggunakan bhs inggris, yah gunakanlah. emangnya mouse buat komputer di jadikan tikus apa yah cocok? tapi kalau soal kalimat “Please deh..” nah ini kayaknya emang imbas dari globalisasi yang kena ke budaya kita.
April 13th, 2007 at 11:13 am
1. absen!
2. komen dikit: sama seperti tulisan blog saya yang ini :
java vs php
yang komplen karena bahasanya campur-campur ga karuan banyak sekali
April 13th, 2007 at 11:13 am
sudah saya jawab dirumah saya sendiri mas hahahaha
April 13th, 2007 at 11:19 am
Anda memang butuh pencerahan mas, mulai saat ini carilah teman2 budayawan disekeliling anda.
Sama seperti saya saya butuh pencerahan Tehnologi , supaya ngga gaptek kaya gini terus……(.recode / out sourching ) itu makanan apa sih mas?
April 13th, 2007 at 12:34 pm
Crita global dan lokal memang asyik jika dihadap2kan. Apalagi ditambahi dg fitrahnya plus agen2nya sekalian. Yang satu menerjang yg lainnya selalu terjengkang.
Tp ada pula crita yg lain. Misalnya, ya draft lagu citizen of the world itu. Sebelumnya, tp agak nggegirisi, antara lain ada Takdir, atau Manikebu ya?.
Malah bagi Emha, “Indonesia adalah bagian terpenting dari desa saya”. Lha kalau itu diperluas, kan bukan cuma Indonesia, tp dunia pun dianggap bagian dr desanya.
Nggaya? Mungkin. Tapi, setidaknya, itu menunjukkan ada crita lain itu.
Crita itu tentang ruangan — yg betapa pun sempitnya — masih memungkinkan untuk “berkelit”. Mnurut crita itu, semakin banyak yg berkelit, makin ok. Pasalnya, ruangan akan semakin lebar.
Di ruangan itu, di ruang musik, mungkin ada Tika, Ubiet, Iwan Hassan, Gilang dg world musicnya dll. Kalau diibaratkan petinju, mungkin mereka hanya lari2 doang, nggak mukul.
Tapi, itulah crita lain itu. Justru krn nggak frontal, ruangannya semakin lebar.
April 13th, 2007 at 2:30 pm
internet merupakan salah satu biang kerok dari globalisasi kehidupan…dan kita kita makhluk blogger merupakan pemeran utamanya…;p
April 13th, 2007 at 2:51 pm
Saya koq senang sekali kalau mendengar orang berbahasa Indonesia rapih tidak campur-campur dengan bahasa asing dan ketika dia berbicara bahasa asing, juga bagus sekali bahasa asingnya.
Mungkin seperit orang bilang, kalau ilmu-nya sudah tinggi tidak perlu mengeluarkan ilmu sembarangan, karena sudah terkendali sekali.
Tidak saja bahasa Indonesia, penutur bahasa Inggris-pun mengalami masalah penyerapan istilah asing itu. Ingat istilah Gesselschaft, Umwelt, Gestalt yang diadopsi dari bahasa Jerman, dan amok yang diadopsi dari bahasa Melayu, atau vis a vis, dari bahasa Latin.
April 13th, 2007 at 3:30 pm
Apa itu budaya apa itu bahasa?
harus dijawab dulu sebelum neko-neko kesana kemari mbahas yang nggak karuan muter-muter tapi sebenernya yang muter-muter itu gk tahu lagi muterin apa. Orbit puteran tiap budaya selalu berubah. Inget kita hidup dari jaman apa dan sekarang jaman apa?
Ini cuma ilustrasi lho saya bukan ahli sejarah. Dulu di jaman Majapahit orang ngomong pake basa jawa kuno (iya gitu?) lama-lama basa jawa lemes, jadi kasar, (emang bener kan?). Trus lama-lama di tahun 2007 orang keturunan Majapahit yang sudah makan bangku kuliah dan mengenal internet ngomong pake basa blasteran indo-baratlah, inggris-melayu, sunda-jerman, atau apapun itu menurut saya lumrah saja.
Menurut saya bukan bahasanya tapi orang yang membawa bahasa tersebut. Klo orangnya emang memiliki EQ (Emotional Quotient) yang bagus, pake bahasa campur aduk sekalipun orang akan senang menerimanya. Contoh Tukul, dia ngomong belepotan juga orang appreciate nerimanya dengan senang hati (malah itu lho yang dijual Tukul). Klo dari sononya orangnya emang udah nyolot, gak bisa menghargai orang lain, ya ngomong pake basa sendiripun bisa jadi sombong.
Bener to??
Gak usah ngomong-ngomong budaya barat budaya timur deh. Saya sebagai orang awam yang ga ngerti mengenai budaya juga bingung yang disebut timur mana yang disebut barat mana? Katanya budaya Timur sopan lemah lembut loh jinawi, sumringah murah senyum bersahabat, tapi toh diseluruh dunia mana ada orang tua yang merkosa anaknya sendiri, orang makan orang, mlonco murid ampe mati, ya di budaya timur Indonesiaku tersayang ini.
Huge question?????
April 13th, 2007 at 4:28 pm
Rasanya tdk usahlah memilah-milah antara budaya timur dan barat, adopsi saja yg baik, yg buruk tentunya ditinggal.
April 13th, 2007 at 8:54 pm
terkadang “kekuatan makna” lebih pada Bahasa Inggris dibanding Bahasa Indonesia…tapi ini bukan berarti saya tidak cinta Bahasa dan Budaya Indonesia lho…
Saya cuma cemas dengan serangan budaya Hedonis yang sangat gencar terutama melalui media TV dengan sinetron2 remaja-nya. Dari situ seakan remaja diajarkan (klo boleh saya bilang “digiring”) agar masa remajanya digunakan hanya untuk hura-hura,
April 13th, 2007 at 9:10 pm
Kalau ada yg bermimpi semua orang di dunia harus berpakaian gaya arab, menghilangkan nilai2 lokal yg dianggap kurang “Islami”, dan mengganti kata “aku dan kamu” dengan “ana wa antum” kira2 termasuk globalisasi juga nggak?
April 13th, 2007 at 11:08 pm
Btw, globalisasi itu apa ya? Ah dasar saya ini ya, gitu aja kok ditanyain!
April 14th, 2007 at 12:05 pm
wow keren artikelnya….coba buka link yang satu ini …. pasti ilmu teman-teman jadi tambah banyak….
http://ikatama.wordpress.com
so jangan tunda-tunda lagi…. tambah ilmu teman-teman melalui link tersebut….
April 14th, 2007 at 2:44 pm
“Primordialisme” ,
Sebuah memory kolektif (perasaan kebersamaan)
Hal tsb tak perlu dikembangakn tapi juga tak perlu dihilangkan. Cukup dihargai saja spt apa adanya.
Yang perlu dikembangkan adalah kesadaran akal sehat kolektif (pendapat umum tentang kebenaran) sehingga akal sehat/logika/filsafat mempunyai konsep untuk mendekati kebenaran secara dewasa.
Kalau kita hanya sekedar bertahan dengan memory kolektif, kita menjadi konvensional.
Negara ini budayanya bhineka/beragam , ada yang mengaku saya orang batak tapi juga orang Indonesia. Saya orang Sunda tapi juga orang Indonesia , ini sebuah primordial .
Tetapi untuk menjadi untuk orang Indonesiapun itu juga sebuah primordial.
Bagaimana meningkatkan mutu & akal sehat selain antar primordial itu sendiri saling berinteraksi menuju peningkatan akal sehat kolektif , itu yang terpenting .
Juga harus “dipersatukan” masa lampau” dan “masa depan”.
Jadi hari ini ruang gerak pikiran kita adalah masa lampau sampai masa depan.
Kemaren adalah esok dan hari ini, sebab masa lampau bukan hanya sejauh sejarah,tapi sejauh mitologi , sejauh tingkatan primordial dapat mengijinkan.
Untuk hari esok adalah , sejauh mana kita bisa dikembangkan.
Karena hari ini penuh dengan kebodohan2 yang dilindungi bahkan didokumentasikan.
April 15th, 2007 at 11:56 am
saya lulus sekolah di elektro ….
saya binggung dengan kondisi yg terus dan akan terus berkembang di Indonesia …..
saya sering baca koran yg mbahas politik, ekonomi, hukum, olah raga, sosial budaya dan keamanan dan lain lain … wes pokoke MBRUWET kabeh …..
lalu hari ini saya berfikir lain … sepertinya saya tipe orang yg suka BERKOAR … bicara yang tidak menjadi keahlian saya semula yaitu elektro (sesuai dengan bidang saya) … sangking terlalu seringnya mbahas hal2 yg bersifat KE – NEGARA – AN …. saya jadi lupa beda
Vcc sama Vdd dan mungkin semuanya saya hubungkan dengan Ground ….. jadi MBLEDAK bangsa ini …..
saya sekarang mencoba membaca bidang elektro saya … saya bukak IEEE dan baru sadar kalo cuman segelintir orang bangsa ini yang bisa nulis dengan BENER (bener bener kontribusi, maksudnya) di bidang elektro di IEEE … padahal banyak yang pinter ……
kemudian saya sadar (mencoba sadar) ….. kalo saya di biaya i negara ini selama 4 tahun (S1) dengan subsidinya (hasil utang kali) untuk KONTRIBUSI di elektro bukan untuk di bidang laen ……. (mungkin salah pendapat saya ini) ….
saya sekarang bertanya ke diri saya sendiri
Pakah yang bisa saya perbuat untuk diri saya sendiri dan orang lain dengan bidang saya ….. untuk bidang yg lain biar orang yang ngurus …..
yuk kita kembangin ELEKTRO INDONESIA … kalo ikut IEEE ikut satu society aja jangan terlalu banyak entar dana DIPA gak kuat bayar … yang penting hasil nya bagus bagsu bagus ……
salam …………..
April 15th, 2007 at 2:47 pm
Untuk ivan berger, asyik juga kalau langganan IEEE dibayarin DIPA. Lah saya member IEEE (dan ikutan Computer Societity) harus bayar sendiri euy. Saya sendiri sudah berat kalau mau ikut kontribusi ke IEEE, tapi masih sempat ikut kontribusi ke IETF – Internet Engineering Task Force. (Boleh di search IETF dan Budi Rahardjo, he he he.)
Lainnya hanya sempat mengembangkan penelitian yang sifatnya aplikatif. Sayangnya yang begini nggak bisa masuk journal.
Selain itu masih banyak yang bisa dikontribusikan. Saya lagi mau tetap mendalami bidang security. Oh ya, setiap mahasiswa saya wajib membuat karya tulis di bidang security. (Lihat di http://budi.insan.co.id di bagian courses > security > daftar tugas mahasiswa.) Sudah ratusan karya tulis mahasiswa saya di bidang security. Karya-karya tersebut bisa langsung diambil (download). Menarikkan? Tapi yang begin susah untuk menjadi kum. he he he. Saya udah nggak tertarik lagi untuk urusan administratif. hi hi hi.
Mei 13th, 2007 at 12:12 am
Aku malah mengusulkan Indonesia untuk menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa bisnis dan pendidikan seperti Singapore dan India.