Antara Muak Dan Berjalan Terus …

Sarapan pagi, mas Yockie melalui jalur maya menunjukkan kepada saya sebuah posting di http://daus.trala.la/?p=183. Judulnya (isinya):

Pengunjung konser Il Divo dengan harga tiket Rp4 juta tetap membeludak sementara banyak warga yang mesti mengantre puluhan meter hanya untuk membeli seliter beras seharga Rp3.500

Luar biasa. Menyesakkan dada. Diskusinya? Seru juga dan juga lebih menyesakkan dada. Inilah potret Indonesia, hilangnya sebuah kepatutan.

Harus bagaimanakah kita bersikap? Saya tidak mengatakan ini salah atau benar. Patutkah? Itu saja. Menurut saya: Tidak patut! Gak pantes!

Saya sendiri tidak tahu apa yang disebut “patut”. Apakah perlu didefinsikan dulu (dan kemudian kita larut dalam diskusi soal pendefinisiannya, bukan pada permasalahannya sendiri)? Ah, bodoh benar saya ini. Semakin lama kok semakin banyak pertanyaan.

Aku muak (dan lelah) dengan semua ini, tetapi aku harus berjalan terus. Ayo temani aku. Kita tidak boleh berhenti (untuk membuat perubahan yang) menuju kebaikan. Bukan, ini bukan untuk sok suci atau sok hebat, tapi untuk berubah bersama-sama. Jangan-jangan saya pun melakukan apa yang saya cela.

Mungkin dalam perjalanan kita ada yang terlupa, lalai, letih, lelah, capeeek deh, menyerah, fed up, give up – namanya juga manusia – maka tugas yang lain adalah untuk mengingatkan (tujuan) dan menguatkan (hati). Kalau perlu digendong, apa boleh buat … kita harus bergantian gendongan. Terseok-seokpun tidak mengapa. Yang penting ada kemajuan.

Atau, kita memilih untuk diam dan mati?

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

19 Tanggapan to “Antara Muak Dan Berjalan Terus …”

  • sigit

    HORE… PERTAMAX.. yes!!

    Comment: Memang nggak patut pak, Indonesia HARUS lebih baik dari sekarang ini, (seperti yang sudah-sudah) let’s mulai dari yang kecil dan mudah, mulai diri sendiri, dan mulai sekarang juga.

  • Rizma Adlia

    Ma shock baca komen di sana,, kayanya udah dianggep gapapa ya,, aduuhh,,,,

  • Anonim

    Kalau orang yang jalan2 ke luarnegeri(malaysia,singapura) dan beli macbook,sementara ada yang ngantri beras puluhan meter,itu apakah termasuk kepatutan,pak?Hehe.Secara biayanya jauh lebih mahal daripada tiket Il Divo:)

  • Al Jupri

    Indonesia itu memang negeri aneh. Negeri yang lebih aneh daripada negeri 1001 malam ataupun negeri 1001-dongeng.

    Yang kaya, bener2 kaya. Yang miskin, bener2 melarat.

    Jadi, sebenernya Indonesia itu kaya atau miskin sih? Dibilang miskin, faktanya ada yang buang2 duit percuma begitu. Dibilang kaya, jutaan rakyat malah masih ngantri beras. Pokoknya bingung deh.

    Kalo boleh saya katakan, Indonesia itu negeri 1000001-masalah.

  • Budi Rahardjo

    Untuk Anonim, kepatutan itu tidak diukur dengan besarnya nilai uang semata. Sebagai contoh, kalau beli mobil patut tidak? Lah kalau mobilnya digunakan untuk usaha (mengangkut pasir, barang) tentu saja patut. Beli tas seharga 700 ribu dan hanya digunakan untuk tontonan merupakan contoh yang tidak patut. Itu pemahaman saya.

    Soal iBook … ada ceritanya. Kadang orang hanya melihat yang superficial. Saya beli iBook karena harganya lebih murah daripada notebook Windows yang saya inginkan. Ha ha ha. Jadi iBook saya itu sebenernya lebih murah. Apalagi ketika iBook itu dibeli ada sebuah grand strategi untuk membawa Apple ke Indonesia (dan kemudian meminta mereka untuk membuat research center di Indonesia). Sayangnya grand strategi ini belum berhasil. (Bisa tanya ke Macnoto … eh, batnoto ding untuk hal yang ini.)

    Soal jalan-jalan. Ini lagi ada ceritanya. Saya cerita lama dulu deh. Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih sangat aktif di kampus, saya sering membawa pegawai di kantor saya (termasuk office boy) untuk makan di tempat yang agak wah (restoran yang besar atau di hotel). Tujuannya bukan untuk foya-foya, tetapi saya ingin mengajarkan mereka “how to serve” – bagaimana melayani. Ini tidak sekali tentunya. Setelah mengetahui hal itu, office boy saya lebih baik dalam melayani tamu-tamu kami. Biar dia hanya seorang office boy, namun dia menjadi seorang yang “berpendidikan” (educated). Ketika di luar kerja, maka kami bisa menjadi kawan. Tetapi di tempat kerja dia bisa menunjukkan respect kepada saya dan tamu saya – dan bukan dalam bentuk yang terpaksa atau feodal. Sekarang dia tahu “how to serve”.

    Nah, jalan-jalan ke luar negeri (apa lagi membawa team) itu juga merupakan salah satu bentuk pendidikan. Well, you can ask the persons involved. Ini bukan alasan yang mengada-ada. Silahkan tanya how we plan the trip (melalui jalur yang termurah, makan yang murah – prata breakfast + teh tarik, penginapan yang murah – kamar apt kecil, dan seterusnya, he he he). We can afford luxury, but that’s not the point. Ini untuk mengajarkan kepada kita semua agar untuk tetap ingat untuk berusaha (dan tidak disilaukan oleh uang semata).

    Ada alasan mengapa Singapura dan Malysia (dan bukan Australia, misalnya). Ah, tapi itu sudah di luar topik. Lain kali saya ceritanya.

    Jadi anonim, kepatutan itu bukan diukur dari nilai uangnya semata akan tetapi juga dengan konteksnya. Sudah kepanjangan, gak bakalan dibaca. ha ha ha

  • Obyektif

    #5 Banyak sekali alasannya (pembenaran).

    Biarkanlah setiap orang menikmati hasil jerih payah mereka. Tidak perlu dipermasalahkan. Itu hak mereka untuk menikmatinya.

    Bekerjalah lebih keras …
    Belajarnya lebih giat …
    Cari peluang …
    Jangan mengeluh …
    Jangan iri …

    Kesuksesan orang lain bukanlah sesuatu yang buruk. Kesuksesan orang lain adalah hal yang patut kita contoh.

  • Budi Rahardjo

    Cerita [sungguhan lho] untuk obyektif (#6)

    Ada seorang tetangga yang air di rumahnya berlimpah-limpah. Suatu hari dia mencuci mobilnya, airnya dibiarkan mengalir ketika dia sedang menyabuni mobilnya. Sementara itu tetangganya harus ngantri sumur (menimba, dan kemudian membawa dalam ember ke tempat masing-masing) karena waktu itu sedang sulit air. Kebayang kekesalan sang tetangga melihat hal ini.

    Ketika sang tetangga ini ditegur… jawabannya adalah: “Suka-suka gue. Ini air gue. Mau gue pake nyuci mobil, mau gue kocorin sampe habis kek, itu urusan gue. Lu beli air sendiri sono.”

    Mau tahu apa yang ada di ubun-ubun tetangganya?

  • Rizma Adlia

    bener,, kalo udah mau sok bilang “jaman gene pake munafik,,” bisa abis moral manusia,,

    ga ada hubungan sama usaha keras atau keberuntungan atau warisan,, tapi masalah hati,,

  • Obyektif

    #7 Membuang-buang air itu jelas tindakan yang tidak bijaksana.

    Kalau dilihat dari cara dia menjawab teguran, itu jelas hal yang kurang patut.

    Menurut saya sih, esensinya berbeda dengan hal pembelian tiket “Il Divo” yang diributkan itu (http://daus.trala.la/?p=183).

    Apakah membeli tiket suatu pertunjukan musik yang mahal itu sama dengan tindakan membuang air sembarangan?

    Tentunya tidak kan.

  • iffata

    Ah, bodoh benar saya ini. Semakin lama kok semakin banyak pertanyaan.

    Wah. Selama ini saya kira semakin bertambah ilmu seseorang akan semakin bertambah pulalah pertanyaan yang timbul di akal dan hatinya. (Tak selalu seketika dilontarkan, memang, karena kadang pertanyaan itu ditujukan ke dalam, atau sedang butuh diendapkan.)

  • dewo

    Sebaiknya memang kita hidup sederhana walau pun berkelebihan. Kalau ada kelebihan lebih baik diberikan kepada yg kekurangan.

    (** Halah kok jadi khotbah sih? **)

  • arya

    Beberapa th yg lalu pernah ada petinggi negara yg bicara ” tdk ada larangan u/ jadi orang kaya dinegeri ini”.
    Memang benar sih ….. tapi dilapangan banyak kejanggalan bgm pegawai BUMN ato PNS bisa membeli rumah seharga sekian milyar, sementara mereka tdk ada usaha lain. Mereka merasa sah2 saja.
    Ini memang masalah hati nurani …………… bgm mungkin mengaku beragama siang-malam tapi menghianati pesan2 moral agamanya tanpa pernah merasa bersalah.
    KIta sendiri ….???

  • hardy

    Ah, sulit sekali melepaskan diri dari genggaman Marx dan Gramsci

  • Rizma Adlia

    @arya

    iya, masalah hati nurani,,
    kalo mau yang dipaksain semua harus aga ada yang kaya,, kita jadi negara sosialis,, semua sama rata,,
    tapi maksudnya kan bukan gitu,, biar masih inget,, masih ada orang susah,, biar anak anak dari kecil belajar,, ada orang yang perlu dibantu,,

  • aries

    Benar, MUAK saya dengan pengunjung konser Il Divo dengan tiket 4 juta itu. MUAK saya kenapa mereka mau membayar event organiser yang mengadakan acara tersebut, MUAK mereka mau membayar kuli2 yang menyiapkan panggung untuk pertunjukan itu, MUAK mereka mau membayar orang2x yang menangani sound system & lightning pertunjukan itu, MUAK mereka mau membayar security pertunjukan itu, MUAK orang-orang ini memboroskan uangnya sehingga membuka lapangan kerja untuk orang lain. TIDAK PANTAS !!! SUNGGUH TIDAK PANTAS !!!

  • firman firdaus

    terima kasih sudah ikut mengingatkan soal ini kepada khalayak yang lebih luas pak BR. butuh lebih dari sekadar logika atau ukuran-ukuran yang “nyata” untuk bisa memahami fenomena ini. nurani yang bisa menilainya.

    Salam.

  • leo

    tenang pak, saya ada di belakang bapak
    soal hati dan logika itu susah nyambungnya ya.
    dan bicara kepatutan itu soal hati. kalo diturunkan dengan definisi (logika), saya agak kesulitan pak. saya berharap bapak bisa menemukannya dengan bahasa logika sehingga hal hati tersebut bisa dikomunikasikan dengan batasan2 yang jelas..

  • Val

    IL DIVO TELAH MEMBUAT NAMA INDONESIA MENJADI POSITIF, DAN MEREKA MENGATAKANNYA PADA DUNIA

    APA ANDA YANG MERASA PINTAR BISA MELAKUKAN ITU?, PADAHAL ANDA ORANG INDONESIA TAPI TIDAK BISA MEMBAWA NAMA BAIK INDONESIA, KENAPA HARUS IL DIVO YANG MELAKUKANNYA ? PADAHAL MEREKA BUKAN ORANG INDONESIA?

    FOR MORE INFO

    http://WWW.ILDIVO.COM/CARI SENDIRI

  • Lila

    Yang tidak punya hati nurani adalah mereka yang tidak bisa membawa nama baik negaranya sendiri

    MALU TUH………..

    Sepertinya kita perlu bantuan IL DIVO buat memajukan INDONESIA

    Dan orang2 yang banyak mengeluh silakan tidur aja terus mimpi kaya , kalo mau maju silakan usaha, jangan nonton orang kaya nanti sakit sendiri karna terlalu iri

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.