Menghargai Ruang Publik

Ini cerita lain, tentang kita dan ruang publik.

Entah kenapa, bangsa kita kok tidak dapat menghargai dan menjaga ruang publik. Ketika berbicara mengenai hak, maka setiap orang merasa berhak untuk menggunakan ruang publik. Namun ketika berbicara mengenai kewajiban, semua menghilang.

Trotoar jalan hadir untuk pejalan kaki. Namun nampaknya di kotaku ini, trotoar menjadi hak dari warung. Hak pejalan kaki terampas. Tidak ada yang peduli. Ini bukan soal miskin dan kaya. Yang beruang – bukan yang binatang buas itu, akan tetapi yang memiliki uang – juga berusaha tanpa mengindahkan ruang publik. Toko (bahkan yang megah sekali pun), sekolahan, bimbingan belajar, dan berbagai usaha dijalankan tanpa memikirkan tempat parkir. Akhirnya, pelanggan parkir di pinggir jalan, mengurangi jumlah jalur lalu lintas dan menghadirkan kemacetan.

Selokan hadir. Namun ternyata dijadikan untuk membuang sampah. Dengan enaknya saya lihat orang membuang sampah ke selokan, tanpa rasa bersalah. Di tempat kami, kadang-kadang anak-anak tetangga datang untuk bermain-main di taman depan rumah kami. Ada ayunan dan rerumputan. Suatu ketika banyak sampah bekas bungkus makanan kecil berserakan. Anak-anak itu dikumpulkan oleh istri saya dan ditanya; “Kalau buang sampah dimana?” Mau tahu jawaban mereka? “Di selokan”. Halah …

Siapa yang membersihkan sampah itu? Itu urusan orang lain (namun, siapa?). Kan ada dinas. Nah lho. Lepas tangan semua. Akhirnya Tuhanlah yang turun tangan dengan menjatuhkan hujan untuk membersihkan selokan tersebut. Jika terpaksa, banjir diturunkan juga untuk membersihkan sampah itu.

Apa yang saya ceritakan di atas hanya sebagian kecil fakta yang ada di sekitar kita. Masih banyak contoh-contoh yang lain. Tak dapatkan kita membuka sedikit mata (dan hati)? Atau kita sudah tidak peka lagi (numb) terhadap hal-hal itu? Apakah kita tidak tahu? Ataukah kita lupa? Waktu kecil, saya masih ingat adanya iklan, slogan, atau apapun namanya yang terpampang (atau disiarkan di TV) untuk mengingatkan kita.

Buanglah sampah pada tempatnya!

Sekarang? Tidak ada lagi. Ada sih, pernah terdengar di acaranya Aa Gym – Gema Nusa – tapi jarang. Semua orang dianggap sudah tahu. Padahal hal seperti ini harus diajarkan. Kita sama-sama mengingatkan hal ini yuk? (Ada yang bisa buat banner atau grafik bagus tentang buang sampah pada tempatnya ini?)

Indonesia ini adalah surga di dunia, paradise on earth. Kita-kita ini, penduduknya, adalah para dewa-dewi yang duduk di surga dunia ini. Sayangnya kelakuan kita tidak mencerminkan dewa-dewi. Kita hancurkan surga kita ini. Betapa bodohnya kita ini. Mengapa tidak kita jaga tempat kita agar kita selalu hidup nyaman di surga? Ayolah. Siapkah kita menjadi dewa-dewi di kahyangan? Bagaimana kalau kita mulai dengan menghargai ruang publik kita dulu?

Tentang Budi Rahardjo

Teknologi informasi, security, musik, buku Tampilkan semua tulisan oleh Budi Rahardjo

10 Tanggapan to “Menghargai Ruang Publik”

  • Goio

    Setuju, buang sampah pada tempatnya. Yang konyol adalah bahwa aku jadi sering diomelin sama ibu karena kantong celana yang penuh dengan sampah. kok bisa? ya karena kadang-kadang sulit menemukan tempat sampah, ya untuk sementara aku kantongin dulu sampahnya … cuman, kadang-kadang kelupaan dikeluarin hihihihihi

  • feha

    tanya kenapa?

    semua memang kembali ke diri penduduknya masing2.
    seringkali kita hanya menuntut ak dari pemerintah, perusahaan swasta, dsb……tapi sebagai individu warga negara sendiri pun kita suka melupakan kewajiba kita.

    misalnya saja ketika demo menuntut pemerintah bersikap adil, yang terjadi adalah seringkali sampah dibuang sembarangan dan seolah2 jalanan menjadi milik mereka sendiri para pendemo…..apakah itu adil?

  • didats

    #1 jrit! kok sama… huahahaha…

    di sini pak, orang orangnya juga pada buang sampah sembarangan. tapi bersih.

    karena memang masalah sampah diurusin secara serius. lah, kuwait mah negara kecil. dan yg ngurusin masalah sampah orang-orang banggali (bangladesh). dan mereka jumlahnya bejubel di sini.

    kalo lagi jalan sama temen2, entah itu di indonesia ato di kuwait, aku paling cerewet masalah sampah… :P

    kalo perlu aku masukin kantongku deh sampah dari temen2ku.

  • adjie

    Coba misalnay gini deh.

    buat percobaan misalnya selama 6 bulan aja.

    Pemerintah menyediakan tempat sampah yang accessible di ruang public, dan sampahnya di handle oleh orang pegawai dinas kebersihan setiap hari, pagi dan sore.

    terus di liat, apakah tempat sampah ini di manfaatkan dengan baik oleh “kita” selama enam bulan itu.

    Kalau point pertama sudah jalan, tapi sampahnya masih berantakan, berarti ada yang salah, karena jaman SD dulu Ibu guru mengajarkan untuk selalu membuang sampah pada tempatnya.

    Rakyat kita kan masih pinter dan keblinger, kalau ngga mau di bilang kurang terdidik, yaa jadinya pemerintah dengan orang terdidik coba menyediakan segala fasilitas, kalau sudah ada tapi ngga jalan, memang “kita” bangsa Katro yang ndeso.

  • ivie

    masyarakatnya ga sadar kali yah… kalo sadar buat disiplin diri hrsnya dia simpen sampahnya sampe nemu tempat sampah. soal bicara ttg kewajiban.. kayanya ini yg paling susah…karena smeua org sibuk menuntut hak. hak berjualan di trotoar.. yg akhirnya pejalanan kaki jalanny di jalan raya… n akhirnya kadang bisa disenggolin motor dll. kalau kecelakaan yg disalahkan pejalan kaki yg jalan di jalanan.. lah.. tortoarnya ga bisa dipake buat pejalan kaki gimana coba?

    bukan cuma ga menghargai ruang publik.. kadang manusia juga ga mampu atau gak mau menghargai privasi org lain.. adaaaaaaaaaaaa aja yg suka ngusilin n ngintip n ingin tau privasi org lain. bagaimana kalo privasi dia yg dilanggar? dohh jadi ngelantur.

  • mathematicse

    “Buanglah sampah pada tempatnya”, saya pikir semua orang mengerti arti kalimat ini.

    Tapi, sepertinya banyak yang ga mengerti arti kata “selokan”. Dikiranya, kata “selokan” berarti tempat buang sampah, makanya kebanyakan orang membuang sampah di selokan.

    Hehe…

  • firman firdaus

    bagaimana dengan kebebasan berekspresi yang berbenturan dengan ruang publik seperti eksibisi kesenian dan penerbitan majalah mesum? saya rasa hal ini yang masih menjadi persoalan masyarakat kita.

  • indra

    JKt setiap th kebanjiran, salah satu sebab adalah begitu banyak orang menganggap sungai adalah tempat sampah……!
    Dulu saya berpikir, apakah susahnya hidup bersih- membuang sampah dg benar .
    Ternyata setelah punya rumah sendiri, saya dikenakan iuran kebersihan oleh RT/RW sebesar Rp. 100rb/bl, itupun hanya untuk sampah dapur. Bila ada sampah tambahan (puing2, dll) maka petugas kebersihan akan minta tambahan biaya.
    Barulah saya sadar, untuk memperoleh lingkungan yg bersih ternyata tidak murah.
    Untuk buang air seni saja (maaf) di terminal sekarang sudah Rp 1000,-
    Bagi buruh kasar uang segitu mending dibelikan lauk tempe – dapat 2 potong.
    Jadi perangilah kemiskinan ………!

  • rafye

    Penyediaan Ruang Publik terutama di kawasan perkotaan memang masih dilaksanakan oleh pihak pemerintah kota yang diatur dalam rencana tata ruang kota hingga tahap implementasinya. Kalo dinyatakan trotoar sebagai ruang publik berubah fungsi menjadi ruang jualan K5, maka kembali pada pertanyaan dasar “sejauh mana fungsi trotoar digunakan oleh pejalan kaki? “. Apakah dengan tersedianya trotoar maka para pejalan kaki benar2 memanfaatkannya? berapa persen sih pejalan kaki di kota ini (semarang) ? Kalo jumlah pejalan kaki hanya sedikit yang menggunakan trotoar, maka pertanyaannya mengapa orang tidak mau menggunakan trotoar untuk berjalan kaki (karena tidak mungkin trotoar buat jalan mobil/motor khan?
    Intinya : setelah diamati, ternyata Trotoar (sbg ruang publik) yang disediakan pemerintah tidak ber peri kemanusiaan.lihat saja trotoar hampir diseluruh kota, bentuknya tidak ada yang rapi, naik-turun gunung, kalo siang terik, manusia disihir menjadi “jemuran berjalan”, orang cacat disuruh “berjingkrak-jingkrak” bila berjalan, ditambah lagi lubang-lubang selokan siap menjadi “jebakan”…kesimpulannya, tidak ada manusianya yang betah menggunakan trotoar “nan elok itu”. Jadi peluang ruang publik ini di “tangkap” oleh para non pejalan kaki (K5 dan kroni2) untuk ruang berdagang.artinya Pemerintah Kota belum memberikan kewajiban ruang publik yang “humanisme” dan para pejalan kaki lebih banyak memanfaatkan haknya untuk menyenangi naik mobil2 pribadi. Jadi Trotoar sekarang buat Siapa yah?????
    Masalah Sampah…??? Cape deeeeehhhh…gampang ngatasinnya : tambahkan sila ke enam di Pancasila yaitu : “Habis manis sampah dimakan” artinya kalo merokok, puntungnya dimakan juga.supaya puntungnya bisa dimakan berarti puntungnya dibuat dari bahan permen ha..ha..ha…karena alat penghancur sampah paling hebat yang telah diciptakan tuhan adalah “perut” manusia.karena sampah dari perut manusia lebih ramah lingkungan, apalagi dimanfaatkan sbg gas.kalo gak mau makan sisa sampahnya, jangan beli kue pake bungkusnya…..gitu aja repooottt…

  • akil_mkssr

    membuang sampah pd tempatnya adalh kebiasaan sy krn tempat kerja(hotel) saya menuntut seperti itu. pada saat ingin membiasakan di kampus tempat sy kuliah justru teman2 meledek “mentang2 kerja dihotel,maunya bersih melulu”. ah cape dech

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 649 pengikut lainnya.