Rileks sedikit …
Selepas subuh, kerja online; membersihkan email, menjawab email, membuat short checklist (untuk dikirimkan ke kawan), menyiapkan materi untuk kuliah security hari ini (see you guys in class), dan baca-baca dokumen (skimming only). Tentu saja ditemani oleh musik.
Musik pagi ini adalah dari Jay Graydon. Dia adalah salah satu pengarang lagu kesukaan saya. Biasanya kalau dia ngarang lagu dengan David Foster, bagus banget lagunya. Pilihan untuk mendengarkan Jay Graydon dipicu oleh lagu di radio. Lagu apa itu ya? Saya kenal banget lagu ini, tapi lupa judulnya dan siapa yang membawakannya. Hanya sepotong-sepotong liriknya saya dengar. Bertanya kepada oom Google, jawabannya adalah lagu “Nothing You Can Do About It” yang dibawakan oleh Manhattan Transfer. Lagu ini dibuat oleh Jay Graydon dan kawan-kawan. Itulah linknya mengapa pagi ini bolak balik saya nyetel lagu-lagunya Jay Graydon dari album “Airplay for the planet”.
Oh ya, sebelum lupa, saya juga penggemar gitarannya Jay Graydon. Gitarannya dia mendayu-dayu, seperti Steve Lukather-nya Toto. Ini cerita lain.
Sebetulnya tadinya mau mendengarkan lagu-lagu dari CD Iwan Fals, “50:50″ yang baru saja saya beli hari Minggu kemarin. Beli CD ini juga karena diojok-ojoki oleh mas Remy. Maklum mas Remy dan mas Yockie mengarang satu lagu di albumnya Iwan Fals ini. Sudah saya dengarkan lagunya, “Ini Bukan Mimpi”. Belum sreg, mas Remy. hik hik hik. Mungkin harus diulang beberapa kali dulu mendengarkannya supaya mak nyes.
Ini adalah album Iwan Fals pertama yang saya beli semenjak terakhir dulu beli waktu masih Oemar Bakri. Saya lihat di harddisk saya, gak ada direktori untuk Iwan Fals. Halah… Direktori Iwan Fals baru saya buat, yaitu untuk album “50:50″ ini. Entah kenapa, belum nyambung saja saya dengan lagu-lagunya Iwan Fals. Lagu Iwan Fals terlalu patriotik? Kurang melankolis? he he he … Penggemar Iwan Fals nggak boleh marah!
Kemarin, waktu menunggu transport Cititrans di SCBD – Sudirman, tergeletak koran Kompas hari Minggu. Saya baca sambil menunggu 1 jam. Isinya adalah tentang membuat lagu. Aduh. Saya tidak berlangganan Kompas dan ini koran punya publik. Tidak bisa saya ambil saja. Padahal saya ingin punya artikel-artikel seperti ini. Ya sudah, saya baca di tempat saja. Salah satu kalimat yang menarik adalah kata Pongky; dia kurang suka dengan cara Iwan Fals menyanyikan lagu karangannya, “Aku Bukan Pilihan”. Katanya kurang keras. Lah … saya malah suka dengan cara lagu itu dibawakan, begitu romantis. Aduh. Mak nyes. Percaya nggak … lagu itu bisa membuat mata saya berkaca-kaca. (Malu juga bilang gini, tapi ini sungguhan.)
Kembali ke … kerja.


April 17th, 2007 at 8:42 am
saya malah belum punya album terbarunya pak iwan fals..
mbok album di-review, pak.. hihihi..
pertamax ya?
April 17th, 2007 at 8:44 am
maksyutnya, pak budi mbok mereview album terbarunya pak iwan itu..
(mbahatemo yg gumunan, saya sibuk tauukkk!!)
April 17th, 2007 at 9:30 am
wah, selepas shubuh ngaji-ngaji dulu lah pak..hihi
April 17th, 2007 at 10:07 am
Tidak banyak penyanyi pria di Ind yg bisa bertahan puluhan tahun.
Mungkin disamping Chrisye ya..Iwan Fals ini.
Setiap hari sy naik bis kota dan pengamen2 di bis paling sering mendendangkan lagu2 Iwan Fals, mungkin lagu2nya begitu menyentuh kalangan rakyat jelata yg merupakan bagian terbesar dari masyarakat kita.
Salut u/ Iwan Fals yg masih produktif s.d saat ini. Lagu dia yg paling saya suka ….. ” Mata Dewa”
April 17th, 2007 at 10:35 am
Setiap pencipta lagu mungkin hanya melihat bahwa lagu yang dia ciptakan sesuai dengan karakter vokalnya si penyanyi, dan inilah yang mas pongki lihat di karakter bang iwan. Dan mas pongki mungkin kurang memperhatikan bagaimana cara bang iwan menyanyikannya, tapi dengan tema-tema lagu bang iwan yang kebanyakan bernuansa sosial, setelah nyanyiin lagu “aku bukan pilihan” saya jadi melihat karakter “lelaki” dari bang iwan yang justru menyentuh “naluri lelaki” saya
April 17th, 2007 at 10:43 am
Melihat Iwan fals banyak memiliki penggemar baik yg biasa atau fanatik dan jumlahnya bisa dibilang luar biasa, mungkin menandakan bahwa penghuni negeri ini memang haus akan figur yang patriotik, tidak melulu melankolis.
Di warung2 kopi, di pasar, di terminal, di cafe2 lagu2nya sering diputar. Bahkan saya pernah ke restoran waralaba dari amerika yg cukup terkenal selama 3 jam disana lagu iwan diputar tanpa henti.
Kadang ‘merinding’ juga mendengarkan lagu2nya, walaupun sering saya juga mengakui ‘kurang sreg’, ‘kurang nyambung’ (seperti kata mas Budi)…
Kalau bicara melankolis, Iwan memang bukan jagonya seperti band muda sekarang (dewa, padi, radja, peter pan, Sheila, dsb).
Memang Iwan punya porsi penggemar sendiri. Lebih selektif mungkin ya… saya tidak tahu…
April 17th, 2007 at 3:01 pm
Pantes mas Bud udah ndak langganan KOMPAS atau media konvensional katanya, lha bisa baca nebeng ke ke ke ek kabuuuuuuuuuuuur
April 17th, 2007 at 7:18 pm
saya paling suka album “Kantata Takwa” Mas Boing… coba dengerin deh, skarang di release ulang cd2nya. Gitaran-nya Eddie Kemput kereeennnn… banget, syair Rendra juga best, tak perlu disebut kan keys by mas Jockie?
April 18th, 2007 at 5:38 am
wah, kalau habis subuh olahraga dulu pak, biar sehat kata bang rhoma….. kaburrrrrrrrrrrrr
April 18th, 2007 at 9:26 am
mbahatemo (dkk.), untuk mereview album terbaru ini harus saya tunda dulu, karena harus dengar berkali-kali dulu. nggak pas kalau baru sekali dengar terus langsung memberi review. okay? (tapi gak janji … ha ha ha)
April 19th, 2007 at 12:13 pm
Tul..!! buat pekerja kaya mas Bud ini (subuh kerja, siang kerja n malem juga kerja.. hehehe), Kantata Takwa atau SWAMI emang cocok.. bisa naekin adrenallin.. coba denger lagu “Rajawali” atau “Petualang”.. apalagi lewat CD Audio, TOB deh… Lagu “Kesaksian” dan “Air Mata”? wuiiih.. bikin merinding..
April 19th, 2007 at 2:59 pm
Hmmm…
Kalau mau dengar Iwan Fals untuk satu album yang utuh dan ‘art’, cuma ada satu ; album “Hijau”. IME : ****1/2.
Layak dibeli CD-nya. Jangan kasetnya, karena kualitas recordingnya juga cukup bagus (jauh bgt dibandingkan dengan album Suara Hati).
Tapi secara komersil mungkin justru ini album paling nggak laku. Soalnya nggak pernah dengar orang nyetel atau pengamen nyanyi di bis AKAP.
Album selebihnya cuma ** atau ***
Kalau Kantata atau Swami #2 itu nggak bisa dibilang sepenuhnya Iwan. Karena Mas Jabo, Mas Willy dan terutama Mas Jockie sangat dominan.
Mei 28th, 2007 at 3:01 pm
kugapai kamu di kegelapan,
jadilah kamu bintangku,
jadilah kamu samuraiku…
…ini sebuah lirik Iwan Fals di album Kantata Takwa…