Begini. Saya dan kawan-kawan sering memainkan dan menonton musik yang bukan musik asli buatan kami sendiri. Misalnya saya senang dengan band Stupa yang pandai memainkan lagu-lagu Whitesnake, Def Leppard, dan sejenisnya. Band seperti ini disebut cover band. [Foto Stupa oleh mas Purnomo]
Banyak orang yang mencibirkan bibirnya mendengar cover band. Tuduhan nggak kreatif, nggak original, dan sejenisnya muncul. Hmm…
Saya teringat Paul Shaffer, band leader dari acara Late Show with David Letterman. Paul ini sangat hebat sekali bermain musik. Apalagi kalau dia sudah memainkan organnya (Hammond?). Asyik sekali. Dia pernah menjadi host di acara “cover bands“, dimana dia akan berkata:
Just because you’re in a cover band, it doesn’t mean you’re not a star.
Hore…
Selain itu ada juga kutipan seperti ini
Good artists copy
Great artists steal
Nah lho. Bagaimana dengan itu? Coba cari tahu siapa yang mengatakan pendapat itu. Sungguh mengejutkan. Ternyata originalitas itu terlalu dibesar-besarkan? Originality is so overrated.
Bagaimana pendapat Anda?


April 21st, 2007 at 1:58 am
kalau sekedar cover band sih saya kira wajar aja mas, itu juga kan wujud apresiasi dari sang cover band untuk musisi aslinya..bukti bahwa musik mereka memang bagus dan dihargai oleh orang lain gitu..
saya dulu pernah punya cover band yang cuma menyanyikan lagu2 mas iwan fals (walaupun diejek kanan kiri karena katanya “masih anak kemarin sore kok ngomongin kritik sosial”..hehehee tapi saya gk peduli yang penting saya happy dan bisa nyanyi!!
“Originality is so overrated”..saya setuju dengan itu karena jaman skarang keaslian sudah dibesar2kan dan cenderung menjadi palsu karena sudah “dibeli” oleh duit…LHo asli kok palsu piye to???
April 21st, 2007 at 4:34 am
Saya pikir tidak masalah ya mas, tapi akan lebih kreatif kalau lagunya Whitesnake itu di aransemen ulang, tambahin gamelan sunda misalnya. Lalu kalau orang nanya itu lagu apa? jawab aja lagu Ularputih.
April 21st, 2007 at 6:29 am
Tapi kadang (atau malah seringkali) aransemen ulang lebih buruk dari aslinya, mas Yockie. Ada ding yang bisa lebih bagus. Tapi kebanyakan malah mencari-cari. Kalau saya sebutkan nanti ada yang tersinggung.
Kalau lagu “Ini Bukan Mimpi” diaransemen ulang boleh gak?
he he he. Soalnya yang dibawakan oleh Iwan Fals kok jadi kompleks. Sekalian untuk mas Remy, kalau baca tulisan ini, saya sudah dengarkan lagu ini. Pertama kurang sreg. Setelah 10 kali putar, baru kerasa enaknya dan malah diputar teruuus. Sepertinya sudah diputar 20 kali lebih. Tapi pianonya mas Yockie kok kayak Richard Clayderman. he he he. Guyon lho mas. Lagunya mulai mantep di hati. Betulan lho mas. Ini bukan sandiwara. Ini kenyataan …
ha ha ha.
April 21st, 2007 at 7:21 am
Buat saya ekspresi memainkan musik berbeda domain dengan ekspresi mencipta lagu. Masing-masing duduk manis di wilayah dan perannya masing-masing. Karena pendapat ini menurut saya interprestasi & permainan musik saat menjadi cover version tetap indah asal kita bisa menghayati dan menikmati penampilan kita.
Tapi terusterang saya terganggu jika cover version tampak sangat berusaha ‘semirip aslinya’ wah malah ngga asik… tidak ada ruang interprestasi.
April 21st, 2007 at 10:52 am
Justru dengan adanya cover band, lagu-lagu dan nama grup band “original” akan tetap hidup, dikenang dan dinikmati secara terus menerus sepanjang masa. Teknik bermain musik bagi cover band akan terus terasah karena mengerti bagaimana memainkan nada. Nah, kalo lagu ciptaan sendiri kadang, bagi grup band yang baru, pada ngawur dan dangkal dalam bermain musik karena “semau gue” *no offense*. Menjadi cover band bukan berarti tidak bisa menjadi bintang, karena sekarang pun penyanyi dan pemain musik ketika mengikuti perlombaan atau festival harus menyanyikan dan memainkan lagu-lagu band lain yang sudah tenar duluan.
April 21st, 2007 at 2:02 pm
artinya,tresno jalaran waton kulino
gak ada lagu yg gak enak,semua lagu jadi enak kalo dibiasain(selera akan muncul). Tapi ada lagu yg berselera berjangka pendek,karena tujuan memang untuk jangka pendek.relatif kan?
April 21st, 2007 at 11:00 pm
Good artists copy
Great artists steal
but
Great managers hire both
April 23rd, 2007 at 1:39 pm
Bagi sy orisinalitas di dunia dengaran, kalo bukan muskil, setidaknya kok sesuatu yg susah sekali ya di jaman ini. Di blog-nya mas “AMD” pernah juga diperbincangkan soal ini. Menarik sih. Tp selalu kembali ke soal yg itu2 itu: plagiat, nyontek, kebetulan mirip, keterpengaruhan dll.
Berbagai cap2 spt itu tentunya belum2 sudah membuat jengah banyak pihak. Biasanya, konsumen jadi tersinggung, apalagi artisnya. Untuk itu, di blognya mas AMD itu, sy pernah menawarkan cara pandang yg bisa dibilang gampang2an, tapi mungkin bisa menjadikan perbincangan kita tentang dengaran (apapun) menjadi lebih enak.
Sy mengilustrasikan ada yg namanya belantara dengaran. Di belantara itu ada berjibun lagu. Si seniman, lewat lagunya, sebenarnya ia sedang mengekspresikan pengalamannya di belantara itu. Krn namanya saja belantara, wajar jika ekspresinya (lagunya) bisa saja nabrak isi belantara itu. Entah itu pohon besar, ranting, daun, akar serabut dll.
Nah nabrak2 pohon besar, ranting, daun dll itu biasanya kemudian dianggap sebagai coverband, plagiat, nyontek, terpengaruh dll.
Padahal, nabrak2 itu semestinya wajar2 saja. Wong namanya belantara. Malah menjadi tak wajar dan mencurigakan, apalgi di jaman spt sekarang ini, jika ada klaim suatu dengaran (lagu) tak menabrak apapun, asli, orisinil.
Malah bagi sy, apa yg ditabrak sang seniman (lewat lagunya) di belantara itu semestinya diinformasikan ke publik. Sekiranya publik ingin tahu lebih lanjut tentang sesuatu yg ditabrak seniman itu menjadi dimungkinkan. Dengan demikian, lewat lagu si seniman bisa mengajak publik berwisata menyusuri belantara itu.
Tapi jelas, wisata itu tak akan enak dilakukan jika dipenuhi dengan lontaran cap2 plagiat, nyontek, mirip2, keterpengaruhan dll yang dianggap dosa besar tak berampun. Padahal, semestinya cap2 itu tak laik lagi ya, karena namanya saja belantara.
Oktober 25th, 2007 at 1:05 pm
Nyontek tetap nyontek mas…ya ga boleh atuh!
Seperti kenaikan harga…ga boleh tapi kl penyesuaian harga boleh, memerangi negara antah berantah ga boleh…kl menegakkan demokrasi boleh…peace
Seorang rekan bilang yg boleh itu ATM: Amati, Tiru, Modifikasi…tp tetep yg paling praktis ya…: Aksi Tiru Meniru
Oktober 25th, 2007 at 1:13 pm
Setuju mas Cahyo…
Makanya Jepang dl maju krn meniru & modifikasi teknologi Amerika & Eropa. China jg sekarang bisa jd negara idustri karena mulanya meniru & memodifikasi.
Klo semuanya mau dibuat original…produksi Indonesia ga akan ada yg hi-tech donk…