Di episode yang lain, seorang ayah merasa gundah melihat pendidikan di Indonesia. Ceritanya anaknya mendapati kawan-kawannya punya bocoran soal ujian. (Ceritanya ini tentang UAN, tapi bisa juga untuk ujian yang lain.) Bagaimana seharusnya bersikap? Kalau sang anak ikut mencoba mendapatkan bocoran soal, dia curang. Namun kalau dia tidak ikutan, maka dia akan dicurangi (dan disalahkan kalau gagal).
Ya, anak saya pernah juga mengalami hal yang sama di sekolahnya dulu. Dia mendapati kawannya ramai-ramai mencari bocoran soal. Apa yang kami lakukan? Kami katakan bahwa dia tidak usah ikutan yang seperti itu. Biar saja. Toh kita tahu mana anak yang curang dan mana yang tidak. Kalaupun kita tidak tahu Allah pun tahu. Biarkan saja. Untungnya anak saya orangnya cuek juga (dalam artian yang postif). Jadi dia tidak terpengaruh dengan keberadaan bocoran soal itu. Alhamdulillah lulus juga, dan bahkan dengan nilai baik.
Beberapa waktu yang lalu saya diajak untuk ikutan proyek yang ada kick-back-nya. Nilainya memang besar, tapi kick-back-nya itu yang saya tidak tertarik. Dengan halus, saya tolak. Yang beginian mungkin lazim atau biasa bagi orang, tapi tidak biasa bagi kami. Susah tanggung jawabnya. Mendingan dapat kerjaan yang lebih kecil nilai finansialnya tapi hidup lebih tenang. (Mungkin ini aliran orang bodo?)
Untuk menjadi bener memang tidak mudah dan membutuhkan keteguhan hati. Ini harus diajarkan semenjak kecil. Jika dari kecil sudah diajari untuk curang, akan susah memperbaikinya di kemudian hari. Bukankah hal-hal semacam ini yang seharusnya diajarkan di sekolah? Pendidikan kita kehilangan sense of purpose. (Maaf, pake bahasa Inggris lagi.) Yang dikejar adalah nilai, nilai, dan nilai.


April 21st, 2007 at 2:15 am
Iya, orang2 itu bakal sampai kapan seperti itu. Apakah ketika mereka SPMB/UMPTN masih bakal seperti itu (nyaris tidak mungkin). Mereka kadang2 lupa sebenarnya Ujian hanya sekedar alat ukur apa yg telah dikuasai selama beberapa tahun di bangku sekolah.
Kadang2 usaha untuk mencari bocoran sama bahkan lebih dibanding belajar dengan sungguh2, yg jelas lebih bermanfaat dikemudian hari.
Kalau untuk kasus anak Pa Budi, misalkan threshold ketidaklulusan dibuat berdasarkan Distribusi Normal, sementara banyak kawan2nya yg memiliki bocoran ujian, itu baru gawat. Untung juga selama ini thresholdnya fixed.
April 21st, 2007 at 9:31 am
Orang kadang lupa belajar itu untuk hidup bukan untuk nilai.
“Non scholae, sed vitae discimus”.
Mengutip sebuah adagium dalam bahasa Latin yang kurang lebih dapat diartikan : Belajar di sekolah bukan sekadar untuk mengejar nilai tetapi belajar untuk persiapan menghadapi hidup.
April 21st, 2007 at 12:01 pm
Ikut komen Om Bud…
.
Justru disini nih IT bisa ikut berperan. Pertama, buat “bank soal” yang akan di ujikan di server propinsi/kabupaten/kecamatan. Lalu berikan pertanyaan random/acak per 10 soal per siswa misalnya. Siswa tinggal jawab di meja komputernya masing-masing. Yang susah justru dari tingkat pembiayaannya untuk pengadaan fasilitas
April 22nd, 2007 at 6:07 am
Mungkin saya juga termasuk aliran bodo kali ya??
. Tapi setuju dengan pak Budi, ketenangan batin memang penting sekali. Biarpun hidup pas-pasan, yang penting hati ini bahagia, kaya hati dan masih bermanfaat bagi orang lain.
Btw, beda nggak ya menjadi bener sama menjadi baik itu?? karena menurut hemat saya juga ada perbedaan nilai rasa di sana
April 22nd, 2007 at 6:17 am
Mau susah kok bener?
April 23rd, 2007 at 9:14 am
Arghh disebut aliran bodo (perasaan percuma sekola). Memang batin tenang… tapi kadang kesel juga di ledek trus ama aliran pintar.
sabar2 orang sabar sering dongkol.
April 23rd, 2007 at 5:06 pm
soal kickback di dunia migas sungguh sangat jamak Pak Budi. apalagi kl urusan sama oil company plat merah. memang bikin frustasi liat duit segitu banyak (kadang lbh banyak drpd jatah utk yg ngerjain) lari begitu saja ke org yg nggak ngerjain apa-apa
April 23rd, 2007 at 7:17 pm
Wah kegundahan pak Budi adalah kegundahan saya juga sebagai ibu dan single parents…. Terutama soal pendidikan…Bingung ngajarin anak musti aliran apa
Aliran sesat ata aliran jujur. Diajar jujur, tapi dicurangi orang. Apa hidup sudah seperti ‘prisoner dilemma’? He he…
April 24th, 2007 at 1:11 pm
@9
ada hadis Nabi SAW yg isinya kurang lebih begini: Jika engkau melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangan (maksudnya dgn kekuasaan), bila tidak mampu, maka ubahlah dengan mulut/lisan, bila tidak mampu, maka ubahlah dalam hati dan itulah selemah-lemahnya iman.
Mungkin kalau saya pribadi cenderung yang tingkat imannya yang paling lemah, yaitu dalam hati, maksudnya sekurang-kurangnya saya tidak seperti itu (maksudnya aliran sesat itu)
April 25th, 2007 at 9:36 am
Mungkin kita sebagai orang tua kadang2 lupa bahwa anak adalah “strategic human investment” (baca: titipan Allah) yang membawa masing 50% gen ayah dan bundanya. CMMIIW, Return yang baik akan kita rasakan bila bisa menyeimbangkan equity dan profit (jasmani dan rohani) untuk rentang waktu yang optimal (25-35 tahun?). IMHO, paling pas kalau kita sudah jadi kakek/nenek, alangkah bahagia dan bangganya kalau punya anak dan cucu yang setia pada nilai2 keluhuran manusia serta menjadi “Rahmatan Lil Keluarga/Tetangga/Desa bahkan Negara”. Quote : “Do not follow where the path may lead. Go instead where there is no path and leave a trail” – Harold R. McAlindon
Mei 10th, 2007 at 3:03 pm
Makanya saya paling nggak setuju kalau kepintaran seseorang diukur semata-mata hanya lewat “rapot’. Apalagi kalau kita mau kerja atau masuk ke sekolah yang lebih tinggi, nilai rapot nggak jadi jaminan deh. Kalau mau, test aja langsung di tempat, jadi akan ketahuan, dia tulalit atau nggak.
Pengalaman saya dulu, waktu lulus SMA (kebetulan SMA Katolik favorit, yg terkenal super steng), nilai dlm ijasah unt bhs inggris = 5, sementara punya sobat yang nilainya 8. Waktu sama2 kuliah, saya bisa rangking 4 sementara dia nyaris DO. Gimana tuh kalau begitu ???