Dimana-mana, terutama di perguruan tinggi, mahasiswa dibujuk-bujuk untuk menjadi entrepreneur. Iming-iming yang diberikan adalah seorang entrepreneur itu enak, tidak perlu kerja ke orang lain, bebas, dan seterusnya. Apa benar demikian?
Jawabannya adalah ya dan tidak. Lho? Memang benar kalau sudah jalan dan sukses, bisa enak (dalam hal tertentu), tapi kalau belum berhasil … wah kerja keras (tapi ini juga bisa menyenangkan).
Pengamatan saya (yang kurang ilmiah) mengatakan bahwa entrepreneurship membutuhkan jenis orang tertentu. Orang yang dibutuhkan adalah orang yang kreatif, memiliki motiviasi yang tinggi, punya inisiatif, pantang menyerah, tahan bantingan, dan bisa bekerjasama dengan orang lain. Pokoknya urat syarafnya beda. Tidak semua orang memiliki karakter seperti ini. Ada orang yang memulai bisnis, tetapi baru jalan sebentar sudah “diganggu” oleh banyak pihak. (Ini selalu dialami.) Maka di dalam hati dia akan berkata; “Aaahhh cape deh. Mendingan kerja lagi saja. Nggak perlu ngurusin yang kayak gini. Saya tinggal datang ke kantor dan kerja sepenuh hati. Beres.” Memang benar.
Dorongan untuk menjadi entrepreneur itu memang sangat baik. Indonesia ini membutuhkan lapangan pekerjaan. Saya pernah diberitahu jumlah pengangguran di Indonesia. Belum lagi angka ini akan ditambah dengan lulusan dari sekolah dan perguruan tinggi yang bertambah setiap tahunnya. Siapa yang harus menciptakan lapangan pekerjaan ini? Pemerintah? Nggak mungkin. Kalau lapangan pekerjaan diciptakan oleh pemerintah hasilnya adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS). Yang menciptakan lapangan pekerjaan adalah para entrepreneur ini. Jadi jelas sangat dibutuhkan di Indonesia.
Hal yang ingin saya tekankan adalah entrepreneurship ini tidak untuk setiap orang. Jadi jangan semua mahasiswa dijerumuskan – ya, saya mengambil kata “dijerumuskan” ini karena memang demikian adanya – ke entrepreneurship. Kalau terjerumus dan tidak bisa kembali gimana? Seringkali yang menjerumuskan mahasiswa ini juga bukan entrepreneur, tapi orang (konsultan? dosen?) “sok tahu” yang bermodalkan majalah dan buku saja. (Maaf kalau ada yang tersentil dengan kalimat itu.)
Di sisi lain, kalau tidak pernah dicoba (dijerumuskan dengan paksa) bagaimana bisa tahu tentang entrepreneurship?
Ada berbagai cara untuk memancing entrepreneur-entrepreneur muda dari pool of talents di Indonesia ini. Salah satunya adalah kompetisi. Saya baru dapat email yang isinya “PT HM Sampoerna Tbk bekerja sama dengan Laboratorium Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Mempersembahkan Sampoerna Young Entrepreneur Challenge 2007“. Lihat web sitenya di: www.sye-challenge.com/. Ada yang lain?
Mudah-mudahan sih tidak hanya berhenti di kompetisi saja, akan tetapi terus membuka lapangan pekerjaan. Selain itu juga mungkin harus ada pendidkan untuk mengubah atau meningkatkan mental para calon entrepreneur ini. Bagaimana caranya ya?
Ada orang yang mengatakan bahwa ini harus dimulai dari kecil. Sebagai contoh, kita lihat buku pelajaran anak-anak (SD?). Coba Anda lengkapi kalimat di bawah ini, dan lengkapi kalimatnya dengan sebuah kegiatan:
Ibu ke pasar …
Apa yang dilakukan ibu di pasar? Sebagian besar akan menjawab … berbelanja. Jarang yang menjawab berdagang. Dari kalimat yang sederahana ini kita sudah dapat melihat pola pikir kita. Mungkin kita buatkan cerita-cerita atau contoh-contoh di buku pelajaran yang isinya sudah mengarah kepada entrepreneurship?
Saya sendiri sudah terjerumus ke entrepreneurship … dan menyukainya!


April 22nd, 2007 at 8:20 am
mending dagang batere aja bos… hehehehe…
cheers.
April 22nd, 2007 at 9:05 am
Untuk seorang entrepreneur bisa sukses dia perlu tim untuk execution. Kalau semua orang jadi boss, siapa yang jadi pekerjanya
Somebody’s gotta write the code…
April 22nd, 2007 at 9:20 am
Haha…
Saya nyoba 3 kali gagal terus. Benar seperti kata panjenengan, butuh urat syaraf yang beda!
Makanya nih sekarang lagi “istirahat” ngumpulin nyawa di Jakarta
April 22nd, 2007 at 9:43 am
Bener kok pak, Entrepreneur itu sebenernya bakat, dan minat, ngga semua orang cocok jadi entrepreneur, sama halnya dengan jadi pemusik, meskipun ia bisa memainkan alat musik, belum tentu cocok jadi pemusik…
jadi bohong kalau ada tempat yang bisa mendidik jadi entrepreneur, ngga ada sama sekali, kecuali blajar sendiri, dan kondisi yang mendukung
April 22nd, 2007 at 10:01 am
kurang http nya
http://www.sye-challenge.com/
April 22nd, 2007 at 10:41 am
setuju!
memang harus punya mental yg kuat. aku lagi mengarah arah ke sana. masih dalam tahap belajar…
April 22nd, 2007 at 10:44 am
he,,,he,, butuh urat syaraf yang beda,, mungkin gathotkaca cocok tuh
, secara dia udah otot kawat balung wesi.
Memang sih, jadi enterpreuner tuh harus tahan banting, tahan godaan, dan tahan digossipin orang lain.
Karena nggak jarang enterpreuner itu kecipratan jadi selebritis juga. Mungkin pak Budi selain disebut sebagai IT selebritis juga enterprenuer selebritis, gimana?
April 22nd, 2007 at 11:11 am
semoga saya bisa menjadi salah satu dari harapan INDONESIA menjadi enterpreneur yang terjerumus kedalam kerja keras bersama urat-urat yang kuat sebagai penyangga lapangan kerja
bravo om dosen.. bravo entrepreneurship
mari kita sama-sama menjerumuskan diri kedalam kebahagiaan
*halah naon sih, ah yang penting BERGERAK kata pa menteri desain juga
April 22nd, 2007 at 12:51 pm
sebenernya yang lebih menyebalkan adalah banyak buku2 ‘motivasi’ di luar sana yang pertama, mengesankan bahwa untuk menjadi enterpreneur adalah semudah membalikkan tangan. dan gak jarang ‘enterpreneurship’ yang disarankan juga bukan enterpreneurship beneran (tidak membawa nilai lebih). kedua, buku2 ini mengesankan bahwa jadi ‘pekerja biasa’ adalah pekerjaan yang tercela. padahal bisa jadi ada orang bisa lebih sukses jadi yang dibilang ‘pekerja biasa’
ini salah besar, dan mungkin miskonsepsi yang paling meluas. jadi enterpreneur itu bukan berarti ‘tidak perlu kerja ke orang lain’. enterpreneur tetap bekerja untuk dan punya tanggung jawab ke orang lain, baik ke klien, pembeli, pelanggan atau bahkan ke pegawai sendiri. bahkan tanggung jawabnya jauh lebih tinggi daripada pegawai biasa.
kalau mau ongkang2 kaki, jangan jadi enterpreneur, tapi jadi investor. itupun bukan berarti 100% lepas dari tanggung jawab.
April 22nd, 2007 at 1:14 pm
Pengalamanku menjadi entrepreneurs selama ini terjun di 15 bidang usaha dan 14 usaha GAGAL……… Problem utama yg terjadi adalah mitra…… so mencari mitra adalah poin yg cukup penting dalam membangun sebuah usaha……
April 22nd, 2007 at 2:27 pm
Kebanyakan (AFAIK) ujung2nya jadi makelar proyek
April 22nd, 2007 at 3:00 pm
Setuju juga ama Om Pri..tanggung jawab seorang enterpreneur lebih berat dari karyawan biasa..
Saya pernah 4 tahun usaha kayak gitu, ..Walhasil..”Hidup segan Mati tak mau” alasannya sederhana tuk dapetin DEAL dengan Klien di Jakarta susah yang bener2X murni (halal and free of riswah/sogok)..
Skrang Kyk Andry cari “Vitamin” di negeri minyak siapatahu someday siap mental tuk balik lagi jadi entrepreneurship..Makasih article-nya ‘AA Budi
April 22nd, 2007 at 6:22 pm
Saya agak kurang sepakat dengan istilah “menjerumuskan” pak, karena sangat bagus kalo kita perkenalkan entrepreneurship kepada mahasiswa plus provokasi2nya, asalkan tetap kita jelaskan bahwa menjadi seorang entrepreneur sukses jelas ada “harga” yang harus dibayar plus urat syaraf yang berbeda itu. Nah, kalo sudah dijelaskan sedemikian rupa kita bakal melihat dan menyaring mana saja pengusaha2 muda indonesia masa depan.
Untuk mas Priyadi, jangan lah terlalu apatis dengan buku2 motivasi tersebut, ambil aja sisi positifnya. Maksud dari tidak perlu kerja sama orang itu menurut saya adalah seorang entrepreneur tidak harus terikat ritual kerja sebagai karyawan dengan jam masuk dan pulang yang sudah ditentukan plus menggantungkan penuh dari gaji tetapnya sebagai karyawan.
Intinya mari kita dukung gerakan menjadi entrepreneur ini, agar bermunculan lapangan2 pekerjaan baru dan meningkatkan harga diri bangsa ini dengan kemandirian ekonomi.
April 22nd, 2007 at 6:43 pm
Apa iya “entrepreneur” itu hanya orang yang bisa bikin lapangan kerja saja?
entrepreneur itu apa sih?
April 22nd, 2007 at 7:31 pm
Hati-hati juga, jangan sampai dosen + entrepreneur , ujung-ujungnya malah lebih berminat ke bisnisnya. Saya kuliah S1, S2 di ITB juga. IMHO, dosen saya yang terlalu minat ke bisnis kurang fokus dalam mengajar dan sering tidak masuk kuliah. Apalagi melakukan penelitian, mungkin jadi tidak sempat.
Demikian juga pegawai + entrepreneur, terlalu asik berbisnis malah kerjanya jadi tidak beres atau lebih parah lagi menggunakan fasilitas kantornya untuk bisnis.
April 22nd, 2007 at 8:55 pm
Seorang enterpreneur harus siap untuk : kerja keras, tidak digaji bahkan harus ngeluarkan biaya untuk modal, perhitungan matang, sabar dan blom tentu berhasil…
April 22nd, 2007 at 10:58 pm
ada beberapa ilmu yang yang sebenarnya tidak perlu didapat dibangku kuliah namun dapat di semua ssgi kehidupan
antar lain : entrepreneur, manajemen, ilmu komputer, karena semua itu sangat dibutuhkan oleh semua orang bagaimanapun disiplin ilmunya
April 23rd, 2007 at 3:46 am
“Dimana-mana, terutama di perguruan tinggi, mahasiswa dibujuk-bujuk untuk menjadi entrepreneur. Iming-iming yang diberikan adalah seorang entrepreneur itu enak, tidak perlu kerja ke orang lain, bebas, dan seterusnya. Apa benar demikian?” jawaban saya “ya” pak… di tempat kuliah saya… memiliki mata kuliah entrepreneurship sebanyak 6 sks di tahun terakhir, pada mata kuliah tsb mahasiswa diharuskan membuat sebuah usaha / bisnis dan langsung diimplementasikan ke luar kampus, dan dipraktekkan langsung secara nyata. 2 minggu sekali kita mempresentasikan progress bisnis kita, dengan bukti otentik dari kegiatan usaha kita juga. nah dari situ mahasiswa bisa belajar membuat suatu usaha dengan kemampuan manajerial, analisis yang baik bukan sekedar berjualan saja, “kalau hanya berjualan nasi, pisang goreng, bala bala yang lulusan SD juga bisa” ya kan?? nah disini kita diharuskan merencanakan sebuah usaha dari tahap pertama analisisnya dari berbagai situasi pasar, kemampuan manajerial, kemampuan komunikasi yang baik dan juga modal kita sendiri / kelompok.
“Orang yang dibutuhkan adalah orang yang kreatif, memiliki motiviasi yang tinggi, punya inisiatif, pantang menyerah, tahan bantingan, dan bisa bekerjasama dengan orang lain.” ini juga betul pak, tetapi dari pengalaman saya bahwa karakter dari entrepreneurship itu lebih mudah ditularkan, ini sekedar pengalaman waktu kuliah ketika itu ada beberapa orang yang tidak termasuk kriteria diatas tetapi lebih banyak bergaul dengan anak anak yang memiliki kriteria diatas lama kelamaan dia akan memiliki kriteria diatas dan mulai menyukai entrepreneurship.
saya kira dengan konsep seperti dikampus saya cukup berhasil untuk membangun semangat entrepreneur di jiwa mahasiswa.. kami hanya diberikan teori sedikit dan itu juga banyak studi kasus, disitu juga mahasiswa diharuskan memiliki role model seorang entrepreneur (ada juga yang milih pak budi sebagai role model lho)… nah ketika diluar seluruh mata kuliah yang sudah didapat harus dipergunakan untuk membangun bisnis tersebut. banyak dari hasil kelompok kuliah entrepreneurship tersebut masih menjalankan bisnisnya maupun kuliahnya sudah lulus, atau yang sudah wisudapun masih semangat mengembangkan bisnisnya dengan teman teman kelompok kuliahnya dulu.
selain mata kuliah tersebut… dikampus saya juga memiliki “pusat pengembangan bisnis dan wirausaha dalam bidang telekomunikasi dan informatika” atau CBED-STMB.. bapak bisa click situsnya di http://www.cbed-stmb.com/about.html, disitu setiap tahunnya mengadakan lomba kontes bisnis baru, atau pengembangan bisnis sekalipun, bisa diikuti oleh kampus lain atau bukan mahasiswa sekalipun. dengan hadiah yang sangat menggiurkan, dan diberikan modal investasi untuk bisnis kita tersebut sehingga pemenang bisa mengembangkan bisnisnya dan otomatis memberikan lapangan pekerjaan baru. sayang tahun kemaren saya tidak menang hihihi T_T .
salam kenal pak budi raharjo…… saya kuliah di STMB Telkom bandung.
mencoba menjadi raja diperusahaan sendiri daripada menjadi budak diperusahaan orang lain. tetapi memang tidak tiap orang bisa jadi raja(lha ntar konsumennya sapa???)he he he……
April 23rd, 2007 at 6:59 am
memang (sangat) tidak tepat kalau jadi entrepreneur itu dibilang kerjanya lebih ringan, lebih berat malah. ‘keunggulan’ jadi entrepreneur adalah masalah fleksibilitas waktu, kontrol penuh terhadap diri sendiri dan bisa mempekerjakan orang. masalah rezeki mah tergantung pelaku, jadi entrepreneur malah bisa lebih deg2an, disaat seperti ini urat khusus tadi diperlukan. deg2an bukan hanya di awal pembangunan imperium bisnis, bahkan sampai sudah suksespun tetap deg2an karena tantangan tetap ada, disaat seperti inilah urat khusus tadi bekerja.
jadi ‘pekerja biasa’ bukan hal yang salah, cuma jika mampu memberdayakan diri menjadi entrepreneur rasanya itu jauh lebih baik karena bisa membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
April 23rd, 2007 at 8:56 am
“Ada orang yang memulai bisnis, tetapi baru jalan sebentar sudah “diganggu” oleh banyak pihak. (Ini selalu dialami.)”
ha.. tepat! (pengalaman) hehehehehe….
April 23rd, 2007 at 9:07 am
Lucunya, banyak dosen ngajarin entrepreneuring tapi ybs sendiri juga ndak pernah jadi entrepreneur.
Ngajarin berenang tapi belum pernah nyemplung.
Kumaha atuh …
BTW, saya ingat kata-katanya Stan Shih (orang IT sejati mestinya nyaho siapa dia); “lebih baik menjadi kepala ayam daripada buntut gajah”.
April 23rd, 2007 at 11:23 am
Maklum Pak, TONG KOSONG NYARING BUNYINYA
banyak yang berceloteh soal enterpreneurship tp dia sendiri bukan pengusaha
, cuman teori aja.
April 23rd, 2007 at 1:31 pm
Menjadi entrepreneur atau menjadi “karyawan” itu mesti dijalani dgn sepenuh hati dan keinginan yang “over ” klo bisa sampe “meledak”, jadi entrepreneur harus tau tujuan dan mengerti benar bidang bisnis yang dijalani, kalo dipaksakan hasilnya malah banyak makan ati, sehingga diperlukan pembelajaran2 terutama pengalaman untuk bisa terjun ke bisnis tersebut secara matang. Tidak bisa dipungkiri seorang entrepreneur yang sukses pasti tidak berdiri sendiri, faktor lingkungan dan mentor pun cukup memiliki andil yang sangat besar dalam menuntun entrepreneur menemui “kejayaannya”.
Saya juga termasuk mahasiswi yang “dijerumuskan” oleh dosen saya (beliau memang seorang entrepreneur sejati bahkan mengajar pun karena dia cuma pengen sharing ilmunya meskipun ga dibayar, n ’tis is the fact) untuk bisa survive membangun kolom asset setelah lulus nanti dan tidak hanya bergantung pd fotokopian ijazah yang akan disebarkan ke perusahaan2.
Pak Budi kalo ada lahan kerjaan untuk membantu bapak di bidang apapun saya mau belajar dan bersedia tidak dibayar secara materil, cukup dibayar dengan pengalaman saja…….Saya pasti mau berusaha keras!!!!!!!!
April 23rd, 2007 at 4:56 pm
jadi enterpreuner ada beberapa kunci (yang saya dengar)..
1. modal
2. network
3. kesempatan
4. kemauan
kalau gak ada salah satunya pasti gak bisa. jadi karyawan bisa dipakai untuk mengumpulkan modal, network dan meningkatkan kemauan sampai mendapatkan saat yang tepat untuk memulainya (kesempatan). ini yang kita cari…
salam dari karyawan
April 24th, 2007 at 12:25 pm
Melihat komentar beberapa rekan
“…dosen saya yang terlalu minat ke bisnis kurang fokus dalam mengajar dan sering tidak masuk kuliah. Apalagi melakukan penelitian, mungkin jadi tidak sempat…”
“…raja diperusahaan sendiri daripada menjadi budak diperusahaan orang lain..”
Sebenarnya menjadi karyawan sama sekali bukan sesuatu yg hina. Banyak wacana yg sangat mendewa2kan Entrepreneurship dan menyudutkan karyawan-biasa, yg membuat orang merasa tidak nyaman dengan posisinya sebagai karyawan. Menjadi karyawan yg memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan, merupakan sesuatu yg sangat baik, dan dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan kita. Toh yg namanya pekerjaan kan sama dengan ibadah, kerjakan tugas dan tanggung jawab sebaik2nya, berarti kita mengerjakan ibadah dengan baik.
Sebagai tambahan selain menjadi “Makelar Proyek” seperti di no 11 kadang2 ajakan menjadi Entrepreur ujung2nya untuk ikutan sebagai downline di bisnis MLM.
April 24th, 2007 at 1:54 pm
setuju, banyak orang yg berpikir bahwa setiap orang “harus” menjadi entrepreneur sebagai derajat manusia paling tinggi. Padahal entrepreneur itu bukan untuk semua orang
April 25th, 2007 at 9:37 am
#bank al
setuju bgt!
Mei 13th, 2007 at 12:08 am
Salut abis buat para entrepreneur. Mereka adalah orang yang spesial.
Mei 23rd, 2007 at 9:02 pm
entrepreneur adalah kebebasan.. hidup koq pgnya jd budak!!! jika ingin protes bs tlp 024 70232414..
btw jika da yg pgn bisnis hub aq y.. tks…
(anda pasti bertanya knp saya memberi no tlp sy??
jwb..”krn sy akan mjd orng sukses,knp sy harus malu??”
Mei 26th, 2007 at 1:45 pm
setuju….
Oktober 8th, 2007 at 12:31 pm
jadi enpenur? its could be a fastest way to glory, but its not easy people.YUP!!! memutuskan untuk involve lansung dalam dunia bisnis mungkin sama seperti kita memanjat tebing,ato mendaki gunung. ada 2 tipe. mungkin ada yang bilang kita harus slow merangkak dari bawah laiknya mendaki gunung yang landai. kita maju perlahan,naik sedikit demi sedikit.tapi jika jatuh kita takan terlalu kebawah. tipe berikutnya MEMANJAT TEBING. kita naik dengan cepat tapi membutuhkan banyak kekuatan dan ketahanan.tapi jika jatuh, mungkin kita akan jatuh lebih kebawah dari tipe pertama.terserah mau pilih yang mana jalan anda. yang penting FREEDOM 4EVER………………………!!!!!!
Februari 9th, 2008 at 1:56 am
Kewirausahaan itu membiasakan diri melatih mental untuk bisa mandiri. Itu pilihan hidup. Ada yang ingin jadi ‘high paid worker’ , boleh. Ada yang ingin jd entrepreneur. Bukan ngebelain , tp telah terbukti bhw UMKM ‘tahan banting’ krisis ekonomi, Walaupun bukan semua.
Entrepreneurship itu prinsipnya mengalokasikan kekuatan utk memikirkan pengelolaan asset kita sendiri.
Sayangkan , udah stress, kreatif, cerdas abis-abisan ngasih ide tapi untuk ‘asset orang’ padahal berpotensi untuk mengembangkan aset sendiri. Kecuali ya tadi jadi ‘high paid worker’.
Cuman kalo mo jadi high paid worker gak enteng : mesti punya modal skill memadai , certified(lbih baik) dan punya strategi dalam mencari ‘dream work’ anda.
Ilmu pemasaran sering dianggap enteng sama orang. Padahal kl dia memutuskan untuk berwirausaha itu adalah krusial selain penguasaan teknik bidang yg digeluti.
Dan kegagalan : bahkan itu prasyarat !
Kl masih ragu ‘pindah kuadran’ silahkan ‘amphibi’ saja. Kerja + usaha kecil2an dulu.Sambil latihan. Karena maaf cakap : bila kita pegawai lalu mengandalkan pensiun sama saja kita merencanakan kemiskinan (penghasilan drastis berkurang-gaya hidup gak mungkin berubah total).Kecuali perusahaan punya program pensiun manfaat besar yg notabene jarang.
Kenaikan penganggur lulusan PT dari 2006 ke 2007 naik drastis. Ada gak solusi terbaiknya ?
Gak ada yang salah antara keduanya. Dan gak adil menyebut satu lebih baik dari yang lain.Lebih baik menghormati satu sama yang lain.
Mei 6th, 2008 at 6:09 pm
1. kapital –> banyak tersedia asal tahu caranya. tanpa kapital jangan coba2 buat bisnis malu sama pegawai!!!!! pengalaman gabung orang yang baru buka bisnis ancuuuur
2. mesin bisnis yang berbahan bakar kapital dan harus menghasilkan –> ini yang paling sulit. bagaimana membangun sistem dalam bisnis sehingga tidak one man action…
Maret 13th, 2009 at 4:44 pm
Menurut saya, sifat enterpreneur itu baik, dan harus dimiliki oleh pemuda2 Indonesia. Ada yg komentar MLM itu buruk, pdhal dia hanya ikut2an saja, karena mengharap cepat kaya dng cara gampang. Tujuan dari menjadi enterpreuner adalah menjadi “mandiri secara finansial”, dan membangun asset utk bekal di hari tua. Justru sifat wirausaha itu harus kita tularkan pada rekan dan lingkungan. Saya lebih suka dng istilah lebih baik memberi “kail” daripada memberi “ikan”….Bravo enterpreuner..